“Ketika sejumlah prajurit Jati Anom datang untuk berlatih bersama di padepokan serta keperluan yang lain,” jawab tegas petugas sandi. “Benturan tidak berlangsung lama, Pangeran. Setelah cantrik padepokan dan prajurit berdatangan lalu mempersempit ruang geraknya, dia keluar dari halaman. Dari letak perguruan, Ki Untara menyebut kemungkinan orang itu bergerak ke barat.”
Dari perguruan bergerak ke barat lalu berpapasan dengan Ki Panuju dan Sabungsari—dua lurah Mataram yang ternyata masih ingat wajahnya. Apakah dia menuju ke tempat lama? Pangeran Purbaya bertanya pada pikirannya sendiri.
Putra Panembahan Senapati ini kemudian menggeser langkah perlahan, mendekati pintu seakan memastikan suara orang-orang di luar yang terdengar samar tetap berjarak cukup dengannya.
“Anda mengatakan orang itu datang lalu meminta Ki Widura mundur,” ulang Pangeran Purbaya. “Apakah Ki Untara menyebut pula alasan orang itu?”
Petugas sandi menelan ludah, lalu mengangguk dalam –dalam. Katanya, “Dari laporan Ki Widura pada Ki Untara, orang itu mengeluarkan sebuah gulungan atau sesuatu yang penuh tulisan sambil menyebut nama, kitab Kyai Gringsing.”
Pangeran Purbaya berhenti kemudian memandang lekat wajah petugas sandi yang ada di depannya. “Apakah dia membawa kitab itu?” tanya Pangeran Purbaya.
“Cukup terang benderang, Pangeran. Dia tidak menutup atau sekedar melambaikan pada Ki Widura tapi benar-benar memperlihatkan secara utuh,” jelas petugas sandi.
Pangeran Purbaya menautkan dua tangan di belakang punggung. Kitab Kyai Gringsing, dia mengulang dalam hati.
“Adakah hal lain yang mungkin akan ditambahkan?” tanya Pangeran Purbaya.
Petugas sandi mengangguk cepat. “Ki Widura mengatakan pada orang itu agar mencari Agung Sedayu yang belum lama meninggalkan halaman perguruan. Seperti itulah Ki Untara memberi pesan pada saya untuk dihaturkan pada Pangeran.”
Pangeran Purbaya memicingkan mata, memandang petugas sandi itu sekali lagi kemudian berkata, “Saya terima laporan Anda.”
Sebelum memberi izin pergi bagi petugas sandi tersebut, Pangeran Purbaya mengatakan, “Nanti berhentilah di bangsal pelayan. Katakan pada penjaga, saya meminta Ki Wira Sentanu segera datang ke tempat ini.”
“Saya, Pangeran.” Petugas sandi itu bergeser mundur lalu menuju bangsal pelayan sesuai perintah Pangeran Purbaya.
Pangeran Purbaya masih berdiri di dekat meja peta ketika langkah kaki petugas sandi itu telah menghilang dari lorong dalam.
“Ki Wira Sentanu,” ucap lirih Pangeran Purbaya tanpa menoleh saat mendengar desir halus langkah pelayan dalam yang datang dari pintu kecil di belakang meja
“Saya, Pangeran,” kata Ki Wira Sentanu dengan tubuh sedikit merendah.
Pangeran Purbaya meminta Ki Wira Sentanu mendekat, kemudian memberinya perintah lalu mengatakan beberapa hal padanya: menerangkan ciri-ciri yang menjadi sasaran, datang ke beberapa tempat yang pertukaran laporan rahasia para petugas sandi dan dua atau tiga pesan lainnya.
Untuk sesaat, Pangeran Purbaya menatap tajam pada Ki Wira Sentanu. Lalu bertanya, “Apakah ada kesulitan?”
Ki Wira Sentanu menggeleng. “Saya menunggu izin, Pangeran.”
Setelah menarik sedikit napas pendek, Pangeran Purbaya mengangguk.
Pada hari yang sama, usai menerangkan sedikit keadaan barak pasukan khusus di hadapan Pangeran Purbaya, Ki Wedoro Anom berkeliling di sekitar kotaraja Tidak banyak yang dilakukannya. Dia hanya menengok sebentar di gugus bangunan tempatnya bekerja sebelum dipindahkan ke Menoreh. Beberapa orang bertukar kata dengannya.
Percakapan itu ringan saja, sekadar menanyakan kabar dan beberapa perubahan kecil yang terjadi sejak dia meninggalkan kotaraja. Ki Wedoro Anom menjawab seperlunya karena memang dia datang hanya untuk menengok masa lalu.
Ketika ia melangkah keluar dari gugus bangunan itu, matahari telah turun lebih rendah.
Sinar sore menembus di sela barisan pohon tinggi yang tumbuh tidak teratur di tepi jalan dan seakan menjadi pembatas hutan-hutan yang bertebaran sepanjang arah ke Kali Progo.
Ki Wedoro Anom berkuda perlahan seperti ada kesengajaan untuk menikmati perjalanan. Pertemuannya dengan Pangeran Purbaya berlangsung lancar dan tanpa hambatan seperti saat sebelumnya ketika dia datang untuk melaporkan kematian Ki Gede. Kepalanya tegak dengan pandang mata pada satu titik. Kesan kuat yang tampak darinya adalah keyakinan bahwa dirinya sedang menuju batas yang diidamkan selama ini.
Keberhasilannya di Dusun Benda bukan sekadar kemenangan atas pasukan berkuda Raden Atmandaru. Bahkan, lebih dari itu, menurutnya. Kepercayaan bebahu dusun dan orang-orang yang berada di dalamnya pun memperlihatkan peningkatan yang sangat baik, menurutnya. Sejauh itu, setelah pemberontakan Raden Atmandaru dapat dipadamkan, Dusun Benda pun menjadi wilayah aman sehingga penduduknya pun menjalani hidup dengan tenang. Itu karena usaha kerasnya, demikianlah menurut Ki Wedoro Anom,
Sesuai arahan Ki Lurah Sanggbaya dan permintaan Ki Demang Brumbung, Glagah Putih masih membayangi pergerakan Ki Wedoro Anom tanpa membuat kecurigaan bagi rangga yang sebenarnya juga berkemampuan tinggi itu. Sepupu Agung Sedayu cukup mampu memanfaatkan ruang dan keadaan untuk menyamarkan keberadaannya sehingga Ki Wedoro Anom pun ragu dengan perasaannya sendiri.
Sekali-kali Ki Wedoro Anom menengok belakang untuk memastikan bahwa dirinya tidak diikuti seseorang, tapi setiap kali itu pula Glagah Putih mampu menghilang. Ketika orang itu mencoba menghilangkan jejak di beberapa kerumunan, Glagah Putih masih dapat menjangkau pergerakannya.
“Mungkin aku terbawa oleh perasaanku sendiri,” pikir Ki Wedoro Anom setelah berulang kali usahanya memancing pembayang itu mengalami kegagalan. Meski demikian, dia mencoba menduga hingga nalarnya pun mengurutkan waktu dan peristiwa.
Dia keluar dari Dusun Benda pun tidak ada yang mengikuti. Pada pemimpin di barak pasukan khusus juga tidak pernah terlihat mengadakan kegiatan di Dusun Benda.
“Ki Lurah Sora Sareh? Aku sudah membungkamnya. Keputusan yang salah jika memintanya mengikutiku sepanjang hari,” ucap hati Ki Wedoro Anom dengan nada bangga sambil tersenyum pada dirinya sendiri.
Kemampuan sandi Ki Lurah Sora Sareh memang bukan yang terbaik di kalangan pemimpin barak. Senapati itu tidak dapat dibandingkan dengan Ki Prana Aji dalam persandian atau dalam hal membayangi seseorang.
Hingga akhirnya Ki Wedoro Anom tiba di sebelah barat Kali Opak.
Dia menebar pandangan ketika kudanya menginjak puncak tebing pendek.
Dalam waktu yang bersamaan, seseorang berkuda sedikit lebih cepat dari arah kotaraja. Orang ini terkesan buru-buru saat menyapu pinggiran kotaraja. Kuda berderap sangat cepat seperti angin yang melintasi padang rumput tanpa halangan. Barulah dia memperlambat laju kuda ketika jalan yang mengarah ke barat mulai sedikit bergelombang dan sempit. Tentu saja dia tidak ingin mengundang kecurigaan para penjaga batas kotaraja jika tetap memacu kuda saat jalanan sedikit lebih padat dengan pejalan kaki dan gerobak.
Ki Hariman sudah mempertimbangkan bahwa dia harus secepatnya tiba di tanah Perdikan Menoreh. Bermalam di tepi Kali Progo menjadi kepastian tapi setidaknya dia dapat menyeberangi sungai itu pada awal hari.

Senja terasa turun lebih cepat ketika dia tiba di sekitar Kali Opak. Sebelum menuruni tebing pendek, Ki Hariman mengamati suasana di sekitarnya: terlihat beberapa orang yang datang dari arah barat dan sebagian dari arah yang sama dengannya. Beberapa pejalan kaki dari barat tampak berjalan santai menyeberangi sungai. Dua orang mendorong gerobak kecil berisi hasil kebun di sisi barat. Seorang perempuan memanggul keranjang bambu. Tidak ada sesuatu yang terlalu menonjol. Di antara orang-orang itu ada seorang lelaki yang menuntun kuda. Pakaiannya sederhana seperti petani yang baru pulang dari ladang. Tidak ada sesuatu yang istimewa yan gmelekat pada diri orang itu.
Secara keseluruhan, orang-orang itu tidak memperlihatkan gelagat sebagai orang yang pantas dicurigai.
“Aku melintas sisi luar kotaraja jadi seharusnya tidak ada orang yang mengikutiku dari Jati Anom. Prajurit Untara mungkin sudah kehilangan jejak saat memasuki Sangkal Putung,” kata Ki Hariman dalam hati.
