Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 62 – Masa Lalu yang Mencekam Terungkit di Rumah Agung Sedayu

“Marilah, kita masuk ke dalam,” ajak Agung Sedayu pada Ki Jayaraga dan Glagah Putih.

Ki Jayaraga cekatan menyalakan dua lampu minyak lalu menempatkan pada dua sisi yang berlawanan. Mereka duduk melingkar di atas tikar pandan. Satu kendi dan beberapa mangkok tanah tampak pula di tengah lingkaran.

Sukra dan Sayoga tampak kemudian bergabung dengan mereka setelah pekerjaan terselesaikan.

Agung Sedayu kemudian berkata, ”Ki Seruni adalah utusan dari Jati Anom yang datang ke rumah ini dengan kabar yang cukup mengejutkan. Saya pikir kita semua telah paham kenyataan kitab Kyai Gringsing yang dicuri beberapa waktu yang telah lama berlalu.”

Orang-orang menahan napas sejenak. Ki Jayaraga mengangguk-angguk tenang.

“Kemarin, kitab itu tiba-tiba muncul di depan Paman Widura,” ucap Agung Sedayu lalu berhenti sehingga kalimat itu seakan sengaja digantung di udara.

Sukra sepintas melirik tajam pada Agung Sedayu. Dia sama sekali tidak berharap kabar selain kejelasan di balik keputusan yang mengguncangkan dirinya berhari-hari. Sayoga  mengetahui keadaan itu lalu menyentuh lutut Sukra yang bersila di sampingnya.

Agung Sedayu lantas meneruskan ucapan, “Yang akhirnya menjadi sebab kecurigaan adalah ada dua orang yang mengenali orang yang menunjukkan itu di depan Paman Widura. Orang itu, hampir diyakini sebagai orang dekat Raden Atmandaru.”

Setelah mengatur napas sejenak, Agung Sedayu lantas mengurai keterangan dari Ki Seruni yang disarikan dari keterangan beberapa orang seperti Sabungsari, Ki Lurah Panuju dan sejumlah cantrik perguruan.

Sayoga dan Sukra hanya dapat menarik napas panjang. Wajah mereka menjadi sedikit tegang karena tahu bahwa itu baru permulaan.

Glagah Putih yang duduk tidak jauh dari mereka tampak sedikit condong ke depan. Dia memandang kakak spupunya itu dengan mata menyipit. Dalam benaknya, dia mengenang orang yang berkuda bersebelahan dengan Ki Wedoro Anom lalu mengambil jalur ke utara. Apakah orang itu termasuk orang dekat Raden Atmandaru? Namun demikian, Glagah Putih lebih memilih menahan diri.

Sementara itu Ki Jayaraga tetap tampak tenang jika tidak dapat dikatakan hampir tidak berubah. Orang tua itu mengelus janggut tipisnya sambil mengangguk perlahan. Tatapan matanya cukup dalam seakan sedang mengurai benang kusut yang tercecer di Tanah Perdikan.

Beberapa saat lamanya ruangan itu didera keheningan yang akhirnya menjadikan waktu terasa berjalan lambat.

Agung Sedayu memandang satu per satu wajah orang yang duduk melingkar di hadapannya. Dia seolah dapat merasakan kegelisahan yang merayap di antara mereka.

“Mari kita letakkan barang sejenak persoalan ini,” katanya kemudian dengan nada yang tetap tenang, “tiba-tiba seseorang muncul sambil mengatakan seakan dirinya adalah  penerus sah Perguruan Orang Bercambuk. Kita dapat membantahnya dengan menyebarkan berita bahwa orang itu bukan murid Kyai Gringsing. Tapi saya yakin kita semua tidak sepakat bila menempuh jalan itu.”

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.

“Yang pasti adalah kitab itu tidak jauh dari Tanah Perdikan dan Mataram. Bahkan mungkin dia sudah berada di Tanah Perdikan untuk saat ini.”

Terdengar Glagah Putih menghela napas. Setelah memandang Ki Jayaraga dan Agung Sedayu, dia berkata, “Mungkin memang begitu, Kakang.”

Agung Sedayu mengerutkan kening.

“Ketika saya mengikuti Ki Wedoro Anom, ternyata ada perkembangan yang mungkin cukup penting untuk Kakang ketahui,” kata Glagah Putih. “Sejak bermalam di timur Kali Progo sampai di simpang tiga pohon gayam, Ki Wedoro Anom sempat bercakap-cakap dengan seseorang. Setelah itu mereka berpisah dengan wajar. Ki Wedoro Anom tetap menuju ke barat, sedangkan orang itu berbelok ke arah utara.”

Baik Agung Sedayu maupun Ki Jayaraga tidak menyela. Mereka tetap mendengarkan dengan tenang.

“Ki Wedoro Anom,” Glagah Putih melanjutkan setelah menghembuskan napas agak panjang, “ternyata tidak menuju barak pasukan khusus atau kediaman Ki Gede. Dia terus bergerak hingga masuk ke Dusun Benda, lalu berhenti di sebuah rumah yang letaknya memungkinkannya untuk mencapai barak pasukan atau pedukuhan induk dalam waktu singkat.”

Agung Sedayu menegakkan punggung, sementara Ki Jayaraga sama sekali tidak bergerak.

Sejenak, Agung Sedayu merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang ditahan oleh keadaan ketika mereka sedang berada di Kali Opak tapi tetap berlanjut hingga simpang tiga.

Glagah Putih melanjutkan, seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri. Dengan hati-hati, suaranya hampir seperti bergumam, “Apakah mungkin orang yang menuju ke utara itulah yang mendatangi Perguruan Orang Bercambuk di Jati Anom?”

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Pikiran Glagah Putih membuka cabang baru, apakah orang itu pernah berhubungan langsung dengan gerakan makar Raden Atmandaru? Dia belum dapat menduga secara pasti. Meski begitu, Glagah Putih dapat menahan diri agar tidak melampaui keputusan yang mungkin akan dibuat oleh Agung Sedayu

Ki Jayaraga mengangguk-angguk pelan, lalu bertanya, “Apakah jalur dari rumah itu tergolong lengang atau sepi?”

Kemudian dia berpaling pada Agung Sedayu, katanya, “Sepertinya, saya pernah berada di sekitar tempat yang disebut oleh Glagah Putih. Memang di sana, ada jalur kecil yang mengarah ke arah barak pasukan dan ke pedukuhan induk tanpa menarik perhatian banyak orang. Itu sebuah jalan yang agaknya tampak biasa saja.”

Glagah Putih menjawab tenang, “Benar, Guru.”

Kini semua orang memandang lekat kepadanya.

Bahkan Sukra langsung menegakkan tubuh lalu berkata lirih, “Oh, pantaslah jika begitu.” Tapi dia menahan pendapatnya pada kalimat itu saja.

Agung Sedayu menoleh padanya tanpa pertanyaan, hanya sinar matanya yang memandang Sukra penuh arti.

Meski demikian, Sukra bersikap seolah tidak ada gejolak dalam pikirannya. Mungkin dia masih merasa gemas dengan pemimpin pasukan khusus itu.

Sayoga yang agak tegang mengikuti pembicaraan tiba-tiba berkata lirih, “Utara, apakah orang itu menuju Gunung Kendil atau hanya melintas saja”

Tidak ada orang yang menyahui perkataan Sayoga karena mereka juga mendapatkan gambaran yang sama.

Ruangan kembali senyap.

Agung Sedayu menyusun ulang peristiwa demi peristiwa yang diucapkan Glagah Putih lalu menatap lekat wajah adik sepupunya itu. Dia pun bertanya, “Apakah ada hal lain yang mungkin terlewat dari keteranganmu itu?”

Glagah Putih lalu berkata dengan nada yang lebih berhati-hati. “Di Kali Opak, saya sempat curiga bahwa saya bukan satu-satunya orang yang membayangi Ki Wedoro Anom. Dari arah kotaraja, ada seseorang yang agaknya juga sedang melakukan pengamatan. Bahkan, kami sempat berbenturan cukup keras saat itu.”

Glagah Putih memandang Agung Sedayu lalu menggerakkan tangan seolah bertanya, apakah keterangannya dapat dilanjutkan?

Agung Sedayu mengangguk.

Sambil menggerak-gerakkan tangan sekali-kali, Glagah Putih menggambarkan perkelahian singkatnya dengan orang yang dicurigainya juga sebagai pembayang Ki Wedoro Anom.

“Dia melompat ke samping tapi lengannya bergerak seperti ini,” ucap Glagah Putih sambil mengayunkan lengan.

Sukra dan Sayoga memperhatikan Glagah Putih dengan mata berbinar-binar. Gerakan yang aneh dan agaknya memang sulit dilakukan tanpa kehilangan keseimbangan, pikiran mereka mungkin seperti itu.

Namun bagi Agung Sedayu, keterangan Glagah Putih seakan menjadi pengantar baginya mengingat masa lalu, pada sebuah pertarungan dahsyat saat Kyai Gringsing masih mendampinginya.

Ki Jayaraga justru lebih sering memejamkan mata seperti sedang bertanya dalam hati, “Aku pernah melihat tapi itu pada masa sangat jauh dari sekarang. Mungkinkah ilmu langkah itu memang muncul kembali saat ini?”

Glagah Putih tidak terlihat segera menutup keterangannya. Dia justru teringat sesuatu yang baru saja muncul kembali dalam ingatannya.

“Ada hal baru yang teringat,” katanya kemudian. “Tetapi saya tidak dapat memastikan apakah hal itu berkaitan atau tidak.”

Agung Sedayu mengangguk pendek. “Katakan saja.”

Glagah Putih sedikit menggeser duduknya. “Orang itu juga bermalam di tepi Kali Progo dan berada di perahu yang sama dengan Ki Seruni. Saya melihatnya lagi ketika memasuki keda yang terletak di samping jalur utama yang terhubung ke Kali Progo. Mengenai kebersamaannya dengan Ki Seruni, saya tidak melihat mereka berbicara atau berhubungan secara khusus. Bahkan bisa saja mereka hanya berada di perahu yang sama karena keadaan di Kali Progo saat itu.”

Sukra dan Sayoga saling berpandangan sekilas.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 2 – Pandan Wangi Gugat

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 27 – Keheningan Maut

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 57 – Kepercayaan Tinggi Pangeran Purbaya untuk Pelayan Dalam

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.