Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 86 – Perondaan Pertama Pasukan Khusus

Pada waktu yang lain, Ki Wira Sentanu kembali menemui Ki Suralaga. Tidak ada basa-basi tapi mereka memilih tempat yang cukup jauh dari lalu lalang prajurit atau kemungkinan pemimpin lain melintas.

Ki Wira Sentanu berkata, “Aku bukan berubah pikiran tapi agaknya kita perlu berusaha memotong hubungan dengan berusaha mencari cara membayangi orang-orang Sedayu. Kita harus berhenti melihat ini sebagai urusan Sedayu saja.”

Tatap mata sekilas Ki Panji Suralaga tetap dingin. “Apakah perubahan itu digantikan dengan cara menyusupkan orang di dalam barak?”

Ki Wira Sentanu menjawab, “Ada banyak anak muda yang ingin menjadi prajurit. Ada lurah muda yang akan dikirim ke barak Tanah Perdikan.”

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Apakah Ki Panji mempunyai bawahan yang sekiranya bisa disertakan dalam pelatihan di barak? Jika kita mengambil dari prajurit baru, itu pasti membutuhkan waktu sangat lama dan benar-benar sulit karena pengaruh Sedayu dan pengawasan Pangeran Purbaya.”

Ki Panji Suralaga mendongak tapi matanya terpejam. “Ini tentang arah Mataram.”

Suara Ki Wira Sentanu lebih tenang seolah sedang merunut bagian hidup dari awal memasuki gerbang Keraton. “Selama ini kita hanya mengikuti arus. Menjalankan perintah. Mengamati jalan pikiran Sinuhun dan Pangeran Purbaya serta beberapa orang lainnya.

Dia menarik napas sebentar. “Kita duduk, membuat jalan dan alur bagian sementara semua keputusan berada hanya pada satu orang.”

“Sinuhun,” sahut Ki Suralaga singkat.

Ki Wira Sentanu mengangguk. “Dan selama pola pikir beliau tidak berubah, maka semua yang kita lakukan tidak akan lebih dari sekadar riak kecil.”

Angin sore berdesir di antara daun-daun pekarangan sebuah rumah besar yang berada di sebelah barat alun-alun.

“Sebenarnya pun kita tidak perlu orang lagi untuk menyusupkan atau apa pun yang menjadi maksud Kakang,” kata Ki Suralaga. “Kiat berdua sudah berada di sini, di sekitar Sinuhun. Bahkan Kakang jauh lebih banyak mempunyai waktu daripada Pangeran Purbaya sendiri.”

Ki Wira Sentanu mengangguk, kemudian ucapnya, “Aku tidak ingin kita bernasib sama dengan Raden Atmandaru atau Pangeran Puger di masa lalu.”

Sorot mata Ki Suralaga berubah lebih tajam. “Apakah ada peluang dan kemungkinan hasil yang berarti?”

“Perlahan, apakah itu bisa kita lakukan?” Ki Wira Sentanu seakan ingin memantapkan rencana.

Ki Panji Suralaga tidak langsung menjawab. “Selama tidak ada orang yang berdiri terlalu dekat di samping beliau.”

Ki Wira Sentanu menarik napas dalam-dalam. “Jika kembali pada keadaan itu, maka kita hanya bertemu tiga nama saja.”

“Tiga nama dengan keadaan bahwa satu orang segera menepi dengan sendirinya.”

“Satu nama lagi perutar-putar tanpa mampu kita sentuh,” ucap lirih Ki Wira Sentanu.

“Agung Sedayu.”

Ki Wira Sentanu merenung sejenak. Pikirannya sedang melingkari dinding pembatas yang mengitari Sunan Agung.

Pangeran Purbaya adalah orang yang dapat diajak bicara, sedikit terbuka mengenai rencana maupun gambaran mengenai masa depan Mataram. Dikenal luas dan mempunyai banyak orang yang bukan prajurit tapi patuh padanya.

Ki Patih Mandaraka. Mengingat usia dan kesehatan yang sudah tidak terlalu mampu mengiringi kewajiban, maka Ki Wira Sentanu mengeluarkannya dari kelompok orang yang harus diperhatikan.

Agung Sedayu. Hubungan dekat dan mempunyai sejarah panjang dengan Mataram. Menjauhkan Sedayu dari Tanah Perdikan sudah dicoba olehnya. Tapi untuk memutus hubungan saja, Ki Wira Sentanu kesulitan membayangi orang-orang yang bergerak di bawah kendalo tumenggung itu. Seandainya Tanah Perdikan dapat dipisahkan dari kotaraja, Mataram tidak hanya kehilangan satu regu yang mempunyai kemampuan menggetarkan tapi juga perancang yang tangguh.

Tapi, memisahkan Mataram dari Tanah Perdikan, bagaimana caranya?

“Agung Sedayu bukan sekadar panglima di Tanah Perdikan.  Bukan pula sekadar orang kepercayaan Ki Patih,” lirh Ki Wira Sentanu berucap. “Dia juga penghubung sekaligus penyanggah dua wilayah yang bersatu dengan cara yang unik.”

“Bila Sedayu menempati dua fungsi itu, selain memutus hubungan, tentu melemahkannya adalah cara yang dapat kita gunakan selanjutnya,” timpal Ki Suralaga. “Kita pernah membahas itu dengan menggunakan lidah tolol Ki Wedoro Anom.”

“Ya, tapi mendorong Pangeran Purbaya agar mengikuti kehendak orang itu?” Nada suara jelas menggantung antara pertanyaan atau pernyataan yang membutuhkan kepastian.

“Selama Ki Patih masih bernapas, selama itu pula Agung Sedayu tidak dapat tersentuh, digoyang, apalagi dijatuhkan,” kata Ki Suralaga kemudian memijat dahinya.

“Jika barak Tanah Perdikan berkembang seperti kehendak Sinuhun, kepercayaan itu sudah jelas tidak mudah terkikis dengan omongan tanpa bukti,” ucap Ki Wira Sentanu lalu bergeser setapak. “Bahkan selanjutnya mungkin sudah tidak akan ada gesekan, tidak ada penolakan atau sanggahan. Lebih buruk lagi, tidak ada pangeran yang cukup kuat untuk mengimbangi Sedayu.”

Ki Suralaga benar-benar diam karena selain Pangeran Purbaya, seluruhnya belum sepadan dengan senapati Mataram itu.

Percakapan mereka tidak lagi berkisar pada pribadi Sedayu, tapi kehendak dan keinginan Sinuhun yang sekiranya dapat diubah, yang sesuai dengan kehendak mereka berdua.

Mereka berbicara tentang kebiasaan dan cita-cita Sinuhun. Menguji kelemahan dan kelebihan, menentukan celah masuk dan seterusnya.

“Jadi, kita tetap bergantung hasil rangga yang sakit itu?” tanya Ki Suralaga dengan nada yang tidak enak didengar.

Ki Wira Sentanu tidak ragu. “Tanah Perdikan sudah jelas mempunyai batas dan wewenang yang tidak mudah diterobos Mataram. Sejujurnya, Ki Gede dan Sinuhun adalah dua orang mempunyai kekuasaan tertinggi. Tanah Perdikan bukan wilayah yang tiba-tiba menyerahkan diri karena takluk pada kekuatan, tapi kemauan mereka sendiri. Sementara pada bagian lain, Menoreh mempunyai kemampuan sendiri untuk menghimpun kekuatan dan kekayaan. Jika Menoreh setara, dalam permisalan, bukankah cukup mudah untuk melepaskan ikatan dengan Mataram?”

“Maka Sedayu harus dijauhkan atau dijatuhkan,” ucap dingin Ki Suralaga.

“Kita tidak hanya bergantung pada usaha Ki Wedoro Anom, tapi juga berharap agar Ki Patih menemui jalan lain, secepatnya.” Suara Ki Wira Sentanu tiba-tiba berubah. Dia tidak lagi bersikap wajar sebagai pelayan tapi seseorang yang berkembang dari dunia yang berbeda. Gaya bicara dan wawasannya sepertinya tidak cukup pantas dikatakan bahwa dirinya adalah pelayan dalam. Ucapan yang tidak lagi menjelaskan keinginan, tapi muncul dari kesabaran dan dan pemikiran matang.

“Dan kalau tidak bisa?” tanya Ki Suralaga lagi.

Sejenak, Ki Wira Sentanu seolah sedang membuka catatan yang ada di dalam pikirannya. Hanya sekejap.

“Kalau tidak bisa…” katanya pelan, “maka harus ada rencana cadangan.”

Di kejauhan, suara kentongan terdengar tumapang tindih dengan teriakan pedagang keliling.

Ki Wira Sentanu memejamkan mata sejenak tapi bukan untuk mendengar suara-suara yang iba di pendengarannya.

“Cukup sulit dan memaksa bersabar lebih lama lagi,” katanya.

Ki Panji Suralaga menenggelamkan wajah.

“Aku pikir kita masih harus mengumpulkan beberapa keterangan yang dapat dijadikan bahan,” lanjut Ki Wira Sentanu. “Jumlah prajurit yang tergabung di barak pasukan khusus dan lurah muda  yang akan diberangkatkan ke sana. Kita membutuhan banyak hal, tidak hanya dua itu.”

“Lalu?”

Ki Wira Sentanu berpaling pada saudara seperguruannya itu. “Apakah kau berpikir untuk mengangkat senjata?”

Ki Panji Suralaga memberi jawaban dengan cara menggeleng.

“Baik Sinuhun dan Pangeran Purbaya belum terbuka membicarakan penempatan lurah-lurah muda setelah dilepaskan oleh barak Sedayu,” ucap cepat ki Wira Sentanu. “Seandainya kita dapat mengetahui wilayah atau daerah yang dijadikan tujuan meski sementara, kita ada waktu untuk mencari orang yang dapat mengaburkan kemauan lurah-lurah muda itu.”

Ki Panji Suralaga mengangguk lagi. “Kemauan yang tipis tanpa kepercayaan diri, gelar pecah, prajurit terdesak.”

“Kehendak pun akan mengikuti dengan kehancuran,” sambung Ki Wira Sentanu.

Perbincangan mereka telah membuka satu kemungkinan walau belum menemukan jalan.

Ki Suralaga menatap sebuah punggung bukit, kemudian berkata, “Kita mulai dari tempat masing-masing.”

Cara baru yang belum dapat dikatakan sebagai bagian rencana cadangan serasa membuat jalan semakin berat tapi tujuan semakin dekat.

Sulit dan berbahaya.

Barak Pasukan Khusus – Perondaan ke Gunung Kendil

Udara pagi di lereng yang mengarah ke Gunung Kendil terasa lebih kering dari biasanya. Kabut masih mengapung tipis di udara ketika rombongan kecil pasukan khusus bergerak dalam barisan.

Di depan, Ki Prana Aji memimpin tatap mata lurus. Tidak ada kenangan pertempuran sebelumnya di dalam pikirannya. Berjalan di sampingnya adalah Ki Demang Brumbung.

Mereka tidak banyak bicara sejak meninggalkan barak.

Perintah Agung Sedayu telah diterima oleh Ki Rangga Sanggabaya dengan satu permintaan khusus; tidak melibatkan pengawal Tanah Perdikan. Dan itu sudah disampaikan pula pada Ki Gede Menoreh. Meski demikian, Ki Sanggabaya tetap melonggarkan perintah dengan mengizinkan Pandan Wangi serta dua pengawal yang terlatih di dalam barisan.

Ki Sanggabaya sadar bahwa seandainya dirinya adalah Agung Sedayu, maka Pandan Wangi atau Prastawa pasti tetap dilibatkan langsung.

“Pasukan khusus Mataram adalah darah dan daging bagi Tanah Perdikan. Sedangkan Tanah Perdikan sendiri adalah seluruh tulang dan urat saraf barak pasukan,” ucap Sedayu pada Ki Sanggabaya sesaat setelah mereka diwisuda untuk kenaikan pangkat beberapa waktu lalu di kotaraja.

Atas pertimbangan itulah, Ki Sanggabaya membuat keputusan yang ternyata disambut baik oleh senapati pasukan khusus lainnya seperti Ki Lurah Sora Sareh dan Ki Semangkak.

Beberapa orang di belakang mereka sesekali bertukar pandang. Dalam pikiran mereka banyak bertebaran pendapat tapi seluruhnya sudah mengetahui keberadaan orang asing di lereng Kendil.

Iring-iringan itu kemudian melihat asap tipis tampak membumbung di atas bekas lahan yang pernah digunakan Raden Atmandaru. Kini tempat itu tidak lagi kosong. Sejumlah bangunan sederhana berdiri dengan orang-orang yang bergerak di sekitarnya.

“Berhenti,” kata Ki Prana Jaya sambil mengangkat tongkat pendek.

Rombongan berhenti tanpa suara gaduh. Para prajurit mengatur napas dengan keadaan siaga serta perasaan yang lebih tajam.

Dua pengamat datang dari arah samping dan depan. Mereka melaporkan beberapa keadaan dengan suara pelan.

“Tidak ada tanda-tanda mereka mengetahui kedatangan kita,” ucap seseorang pengamat.

Ki Demang Brumbung mengangguk kecil.

Ki Prana Aji memandang arah perkemahan. “Kita belum tahu tujuan mereka. Mari kita abaikan itu semua dan perhatian penuh pada perintah Ki Tumenggung serta keadaan.”

Perintah itu menyebar cepat di antara mereka.

Iring-iringan bergerak lagi dari jalur selatan yang banyak terdapat cekungan-cekungan yang menjadi jalan air saar musim hujan.

Dari depan perkemahan, pasukan khusus dapat menilai bahwa orang-orang asing itu mulai berani memberi batas dengan menancapkan bambu sebagai pagar.

Dari permukiman, beberapa wajah menatap tajam dengan wajah tegang pada arah kedatangan peronda pasukan khusus.

Ki Prana Aji dan Ki Demang Brumbung melangkah maju hingga batas pintu pagar.

Tak lama kemudian, dua orang dari kelompok di Kendil berjalan mendekat. Sikap mereka waspada.

Jarak di antara kedua pihak berhenti pada batas dua atau tiga langkah.

“Siapakah Ki Sanak semua ini? Ada maksud apakah datang berkelompok dengan membawa senjata?” tanya salah seorang dari mereka.

Ki Prana Aji menjawab dari tempatnya berdiri.

“Kami adalah pasukan khusus dari Tanah Perdikan,” katanya tenang. “Kami datang bertanya beberapa hal pada Ki Sanak sekalian.

Orang dari perkemahan itu mengerutkan kening.

“Kalian berada di wilayah Tanah Perdikan Menoreh,” lanjut Ki Prana Aji. “Ki Gede mengaakan kalian datang tanpa permisi, membuka lahan tanpa izin. Kami ingin memastikan bahwa paugeran tetap berlaku.”

Sejenak hening.

“Paugeran?” ulang orang itu.

“Kalian boleh berada di sini, menggunakan kayu dan air,” kata Ki Prana Aji dengan nada datar. “Namun kalian harus datang dan menyatakan diri pada Ki Gede Menoreh sebagai penguasa Tanah Perdikan. Tanpa itu, keberadaan kalian dapat dianggap melanggar.”

Nada suaranya yang tegas dan tidak membuka kesempatan untuk ditawar.

Sejumlah orang kemudian datang lalu memandangi iring-iringan yang di dalamnya ada Pandan Wangi. Tapi putri Ki Gede Menoreh itu tidak tampil mencolok dan juga tidak memperlihatkan diri.

Salah seorang dari mereka akhirnya berkata, “Kami tidak berniat membuat masalah.”

“Kalau begitu,” sahut Ki Demang Brumbung “tidak ada alasan untuk menghindari paugeran.”

Salah seorang dari mereka yang datang belakangan kemudian berkata, “Namaku Ki Wiraditan. Melihat sikap Ki Sanak semuanya, saya beri jawaban di sini bahwa kami akan mempertimbangkan.”

Ki Prana Aji mengangguk. “Kami akan menunggu kabar baik.”

Tidak ada tambahan kata.

Pandan Wangi melihat dan mendengar jelas seluruh percakapan di antara orang-orang yang berada di depan. Dia juga mengangguk.

Ki Prana Aji memberi perintah kembali ke barak.

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi.

Dari tempat yang cukup jauh dan tersembunyi, Ki Wedoro Anom memandang pergerakan pasukan khusus itu dengan mata yang penuh arti. Jika dia merasa lega, sikap pasukan khusus adalah cermin dari keputusan yang lunak. Semestinya tidak boleh dilakukan oleh sekelompok prajurit yang dipimpin seorang tumenggung. Jika dia merasa cemas, karena benturan tidak terjadi seperti harapannya.

Selang waktu berikutnya, Ki Wedoro Anom mundur, lalu mengarahkan langkah menuju Dusun Benda.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 43 – Agung Sedayu: Kebenaran yang Datang Terlambat

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 22 – Dia Menantang Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 79 – Penjegalan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.