Dilihat 66 kali
Namun begitu, perasaan ragu dan penasaran mengenai lawan berjubah yang mempunyai bentuk sulit dinalar itu telah sirna. Maka Wong Awulung dan Gita Nervati pun dapat memusatkan kembali perhatian masing-masing pada kemampuan sehingga pertempuran menjadi lebih sengit dan berat.
Dua punggawa Medang ini sudah menjauhkan pikiran untuk mengalahkan lawan. Mereka belum menemukan kelemahan pasukan gaib berjubah itu. Sehingga Wong Awulung memberi tanda bagi Gita Nervati bahwa mereka cukup untuk dapat menahan lawan saja.
Enam bayangan hitam bergerak melingkar. Kabut putih mengalir rendah di atas rumput.
Tetapi Wong Awulung dan Gita Nervati tidak lagi gugup dan kebingungan. Bahkan mereka justru merendahkan kaki dengan sikap lebih tenang.
Dalam waktu itu, harimau putih seolah mengetahui perubahan pada olah tempur dua orang Medang itu. Binatang ini tidak lagi meraung brutal dan liar. Sikapnya tidak lagi memperlihatkan ancaman atau kecenderungan mempertahankan diri.
Wong Awulung mempelajari suasana sekilas sambil menarik tombak pendeknya dari selongsong. Itu senjata yang membingungkan karena banyak bertaburan batu hias pada dua sisi tajam ujung tombak.
Dengan satu lompatan panjang, Wong Awulung menyerang dengan gerakan yang mengejutkan. Tombaknya tidak menusuk atau menikam, tapi berputar-putar mengarah pada pangkal pedang lawan yang erat melekat pada tulang tangan yang terlihat jelas. Wong Awulung rupanya ingin membuat lawannya kehilangan senjata, maka tombaknya berputar semakin kuat dan sangat hebat. Kabut putih di bawah bayangan itu tampak bergulung-gulung, merambat naik sampai pinggang lalu ambyar. Walau tekanan itu sangat kuat dan kabut putih semakin kerap tercerai-berai, tapi kelompok bayangan berjubah itu tidak tampak kehilangan kendali.
Jangan Lewatkan Pertarungan Antarpendekar zaman Majapahit di SINI
Mereka tetap bertempur dengan tenang. Bahkan sekali-kali ada satu dari mereka yang memutar tubuh sangat cepat hingga tampak seperti asap hitam yang membubung naik dan berputar-putar.
Ini perkelahian yang makin sulit dimengerti.
Ternyata perubahan tata gerak Wong Awulung segera ditiru oleh Gita Nervati. Panglima wanita ini menapak jalan perubahan yang dirintis oleh Wong Awulung dan agaknya dia cukup berhasil.
Bila sebelumnya, enam bayangan itu dapat bertukar tempat untuk membuat tekanan besar pada dua prajurit Medang, maka susunan itu telah berubah sepenuhnya.
Harimau putih, Wong Awulung dan Gita Nervati masing-masing mengikat dua bayangan dalam perkelahian. Dan itu rupanya sangat menyulitkan enam lawannya untuk tetap mengurung mereka dan terpisah dari harimau putih.
Wong Awulung dan Gita Nervati justru dapat bertukar tempat untuk meloloskan diri dari tekanan atau untuk melepaskan serangan balik. Mereka melakukan yang mereka inginkan, kali ini, dengan lebih bebas.
Sekalipun pasukan gaib itu menyerang serentak dari segala penjuru, dua prajurit Medang itu selalu dapat bertarung dengan cair. Hanya dua hal yang tidak mereka lakukan: membenturkan senjata dengan senjata lawan serta menyerang untuk melukai.
Benar, bagaimana mereka dapat melukai lembaran asap berlapis-lapis? Tapi kenyataan lain yang harus mereka terima adalah kekuatan pasukan bayangan itu seakan tidak ada habisnya. Pertarungan berlangsung cukup lama tapi keseimbangan masih terjaga walau mereka saling tarik dan saling tekan.
“Paman dapat bergerak mundur sekarang,” tiba-tiba suara perempuan yang sangat dikenal Wong Awulung menyusup masuk ke pendengaran senapati Medang itu.
Gita Nervati mengangguk-angguk sendiri lalu mengubah tata geraknya menjadi semacam jalan untuk membuka jalan mundur.
Wong Awulung melihat itu lalu keningnya berkerut.
“Apakah gadis itu juga mendengar perintah serupa dengannya?” dia bertanya dalam hati. Lalu pandangannya beralih pada harimau putih yang, bahkan, mengagetkan dirinya! Harimau putih itu sudah tidak lagi berada di gelanggang perkelahian!
Namun begitu, Wong Awulung tidak ingin bertanya atau mencari tahu dalam pikirannya. Dia melesat ke samping kiri, memotong kabut putih lalu mengibaskan satu bayangan yang ada di dekatnya.
Dalam saat yang hampir bersamaan, Gita Nervati juga bergerak cepat ke arah berlawanan. Panglima perempuan itu seperti sengaja membuka garis-garis pertempuran yang sebelumnya rapat dan menekan.
Enam bayangan berjubah compang-camping itu segera berubah arah. Mereka tidak lagi menyerang bersama-sama. Susunan mereka seakan terpecah. Dua bayangan mengejar Wong Awulung, tiga lainnya mengalir seperti asap hitam memburu Gita Nervati, sedangkan satu bayangan terakhir berada di tengah gelanggang kosong seperti menjaga sesuatu yang tidak terlihat.
Tetapi dua prajurit Medang itu rupanya sedang menerapkan siasat perang yang lain. Mereka tidak lagi berusaha merebut kendali tapi bertahan sebelum benar-benar dapat mundur dari arena.
Mereka bergerak meloncat-loncat cepat ke segala arah. Kecepatan yang mengagumkan karena penampakkan mereka juga hampir seperti lawan mereka yang berupa bayangan saja.
Sekali ke kiri. Kanan lalu melompat jauh ke belakang. Seketika saling bertukar tempat.
Kadang mereka justru berlari mendekati bayangan lawan sebelum melenting mundur dengan gerak aneh yang sulit dipahami. Kabut putih terseret-seret oleh putaran kaki mereka hingga seluruh tanah lapang tampak dipenuhi pusaran tipis seperti asap dingin.
Bayangan-bayangan hitam itu mulai kehilangan pusat serangan. Seperti sedang mengalami gangguan untuk menyusun formasi serang atau pengepungan.
Keadaan itu bukan tidak disadari oleh Wong Awulung dan Gita Nervati yang semula mengira usaha mereka berhasil.
Beberapa kali salah satu bayangan bergerak terlalu jauh lalu harus kembali memutar kemudian berhenti, bergerak sesaat dan berhenti lagi. Semacam ada kehendak yang mengacaukan mereka dari sebuah tempat yang pasti tidak berada di sekitar gelanggang.
Lalu, mendadak semuanya lenyap.
Tidak ada desir rumput. Tidak ada derak ranting. Tidak ada geram harimau putih. Tidak ada makhluk berjubah yang melayang-layang seperti daun dari asap.
Kabut putih yang tadi bergulung-gulung perlahan turun kembali, meresap ke dalam tanah seperti butiran hujan ketika tiba di permukaan tanah yang kering kerontang.
Wong Awulung menghentikan langkahnya. Begitu pun Gita Nervati yang berdiri beberapa tombak darinya. Rambut panjang perempuan itu berkibar perlahan tertiup angin malam.
Mereka saling berpandangan.
Enam bayangan berjubah itu lenyap seperti tidak pernah ada. Yang tersisa dua orang itu saja, hanya dua prajurit Medang di tengah tanah lapang lembab yang dipenuhi kabut tipis.
Kening Wong Awulung perlahan berkerut.
“Aneh…” desisnya lirih.
Tiba-tiba…
“Cukup, Paman berdua dapat kembali ke Medang malam ini,” ucap seorang perempuan yang tidak tampak wujudnya.
“Sang Hyang,” sahut Wong Awulung. “Apakah Anda yang membantu kami menghalau mereka? Lalu, harimau putih itu, apakah binatang atau sesuatu yang belum kami pahami?”
Tidak terdengar jawaban, hanya angin dan udara dingin saja yang tinggal di tempat itu bersama mereka berdua.
Dalam waktu itu, Gita Nervati memandang Wong Awulung dengan rasa tidak percaya lalu tersenyum. Mungkin baru Wong Awulung saja yang berani bertanya seterang itu pada Dyah Murti meski yang ditanya mungkin sudah pergi meninggalkan mereka.
Sedangkan pada tempatnya berdiri, Wong Awulung sedang memikirkan tujuan pasukan berjubah tadi. Apakah mereka menyerang untuk membunuh mereka berdua? Atau sekadar sebuah pesan tertentu untuk disampaikan pada orang tertentu pula?
Sedangkan Gita Nervati seperti sedang menyadari sesuatu yang selama ini cukup rapi terlindung di depan matanya: kemampuan Dyah Murti yang tidak dapat dipercaya jika tidak terlibat langsung di dalamnya.
Sejenak kemudian, dua orang kepercayaan Dyah Murti itu pun meninggalkan tempat. Sambil sekali-kali menengok ke belakang—melihat dari kejauhan, pikiran mereka tetap dihuni pertanyaan yang enggan untuk pergi: jika itu pasukan bersenjata, siapa yang memerintahkan dan memimpin mereka? Dari mana asal mereka?
Wong Awulung dan Gita Nervati tak lagi bercakap sepanjang perjalanan kembali ke Medang. Hutan yang sebelumnya terasa menyesakkan perlahan kembali menjadi hutan biasa. Kabut putih telah lenyap, hanya embun yang menggantung pada pucuk-pucuk ilalang dan dedaunan.
Kuda mereka berderap tetap dan hanya berhenti ketika Wong Awulung dan Gita Nervati ingin memastikan tidak ada lagi gerakan ganjil yang mengikuti dari balik pepohonan.
Ketika meninggalkan rimba dan memasuki jalan yang lebih terbuka, langit di ufuk timur mulai memperlihatkan semburat pucat menjelang fajar. Angin membawa hawa dingin dari sawah dan tanah basah sebagai tanda mereka makin mendekati ibukota Medang.
Pertanyaan-pertanyaan kembali melintasi jalan pikiran masing-masing orang. Hanya saja, sekali lagi, mereka masih menyimpannya karena alasan: pertempuran ganjil itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Hanya satu persamaan dalam pikiran mereka: Dyah Murti.
Menjelang cahaya pagi benar-benar menyentuh tanah Kotaraja, meeka berdua telah melihat atap rumah dari sela pepohonan pembatas sawah dengan permukiman. Asap tipis mulai mengepul dari beberapa dapur penduduk yang lebih dahulu bangun. Kehidupan perlahan bergerak seperti hari-hari sebelumnya.
Mungkin dari sejumlah orang yang bangun pada dini hari itu, hanya Wong Awulung dan Gita Nervati yang membawa pulang beban berbeda.
