Padepokan Witasem
bulan telanjang, sang maharani, novel indonesia, prosa liris, novel silat indonesia, cerita silat jawa
Bab 2 Nir Wuk Tanpa Jalu

Nir Wuk Tanpa Jalu 1

Aku ditempatkan di dalam bilik yang secara khusus disediakan untukku selama tiga hari tiga malam. Ibuku telah mengatakan hal itu ketika kereta kami melewati gerbang kota.

Sejak aku melihat gerbang, dari kedalaman jiwaku, aku berharap ayahku – Rakai Panangkaran – telah menunggu di beranda istana, atau setidaknya mengajakku bicara ketika aku berada di dalam wilayah kekuasaannya. Namun, itu tidak terjadi.

Aku duduk di atas lantai batu bersilang kaki. Aku memandang sekelilingku. Semuanya gelap dan pekat. Namun aku tahu bahwa ruangan ini berluas sedang dan sangat gelap. Aku telah membuat perkiraan mengenai jarak antar sudut. Bilik ini tidak mempunyai lubang sehingga cahaya tidak dapat menyusup ke dalam. Aku telah terbiasa dengan suasana gelap semenjak kecil di Kalingan. Aku telah berteman dengan dengan segala kepekatan dan kesunyian. Aku dapat membiasakan diri dengan pandangan yang terbatas.

Pada sisi lain, aku tidak dapat melihat rongga bagi jalan udara. Ajaib! Aku tidak merasakan pengap. Aku tidak tersiksa oleh hawa dingin maupun panas. Aku tidak dapat menemui atau mengajak seseorang untuk  bicara. Para pelayan tidak pernah mengucap kata ketika mengirim makanan, membersihkan tubuhku atau membantuku mengenakan pakaian. Walau aku memperlihatkan sikap tenang dan mengucapkan kata-kata sopan, para pelayan hanya membalas dengan senyuman. Untuk selanjutnya, aku berusaha diam dan hanya mengamati gerak-gerik mereka. Tentu ini adalah kesengajaan, aku menduga seperti itu. Bahkan, ibuku juga tidak pernah datang meski sekejap. Maka bulatlah kesimpulanku : aku dikurung dengan sebuah tujuan.

Yang aku tahu adalah aku memasuki ruang ini ketika matahari nyaris sejengkal berada tepat di atas kepala. Kemudian waktu tidak lagi menjadi jelas bagiku. Semuanya sama. Yang membedakan hanyalah para  pelayan yang bergiliran merawatku. Tentu itu adalah pekerjaan yang telah ditetapkan waktunya. Mungkin mereka berjumlah belasan orang karena aku akan melihat wajah yang sama setelah waktu merentang cukup lama.

Mungkin saat ini adalah malam pertama.

Aku mendengar desah napas, aku mendengar detak kaki yang berjalan tetapi menapak begitu lembut di atas permukaan lantai. Aku merasa seseorang sedang berbicara padaku. Namun, aku tidak dapat mengerti yang diucapkannya. Lebih terdengar seperti orang yang bergumam dengan kalimat-kalimat panjang. Ah, ada yang aneh. Ya, menurutku cukup aneh bila seseorang bicara dengan suara yang terdengar seperti tembang yang melenggang, mengarungi suasana kelam di dalam ruangan. Di dalam gelap, aku tidak dapat melihat banyak benda. Ini seperti waktu berendam di Kalingan pada purnama ketujuh ketika bulan terlihat telanjang.

“Sajian malam akan disiapkan untukmu.”

Aku berusaha mempertajam pendengaran dengan hati bertanya, apakah memang ada seseorang yang berbicara padaku? Suara itu terdengar sangat jelas. Aku mengingat kembali peristiwa di badan sungai yang membelah Kalingan. Dan, oh bukan, ini bukan suara dari perempuan berdada besar yang telanjang di hadapanku. Namun, aku dapat merasakan getar cinta berayun lembut dan sedang berusaha menggapaiku. Aku tidak sedang berpikir ganjil atau membesarkan prasangka. Aku dapat mengetahui keadaan hati seseorang ketika ia sedang bicara padaku.

Benar yang dikatakannya mengenai sajian malam.

Sekejap waktu yang berlalu, pintu bilik terbuka lebar dari sebelah luar. Aku mendengar banyak langkah kaki berderap cepat. Mungkin mereka adalah pelayan yang tangkas dan cekatan, pikirku. Dalam waktu itu, pemilik suara, yang memberitakan padaku tentang makan malam, terdengar melantunkan tembang dalam bahasa yang tidak aku pahami.

“Berapa orang yang memasuki ruangan ini?” aku bertanya pada orang-orang yang baru datang sambil memejamkan mata.

“Lima orang, kami semua ada lima orang, Tuan Putri.”

“Tuan Putri? Siapakah yang kalian maksud?”

“Anda, Tuan Putri.”

“Panggil dengan namaku, Dyah Murti. Jangan ada tambahan sebutan atau nama baru yang tidak aku kehendaki.”

“Kami dengar, Dyah Murti.”

“Bagus.”

Mereka menyebut nama makanan yang dihidangkan untukku, aku tidak tertarik.

Mereka menyalakan api, aku tidak tergoda untuk membuka mata.

Mereka meminta diri untuk kembali ke tempat asal, aku tidak memberi tanggapan.

Bau wangi makanan sampai di depan penciumanku, aku tidak peduli.

Bau harum minuman tiba di gerbang pernapasaanku, aku tidak ingin beranjak.

Aku ingin melepaskan diriku yang ingin berkelana di dunia lain, dunia yang berbeda dengan pandangan  kebanyakan orang. Namun aku tidak sedang melamunkan masa-masa yang akan datang padaku. Menurut  kakekku dan Mpu Pali, bayangan masa depan adalah sesuatu yang tidak penting untuk dipikirkan. Masa depan bukan untuk dilamunkan, tidak pula untuk dibayangkan dan tidak perlu memunculkan ketakutan padanya.

Beliau berdua berkata, “Membayangkan masa depan agar sesuai dengan gambaran adalah sikap yang hanya dimiliki oleh orang yang membiarkan perasaannya menjadi liar. Sedangkan, perasaan akan menjadi buas apabila seseorang melepaskan kendali dengan merelakannya berjalan bebas.” Sungguh, aku tidak mengerti yang beliau berdua ucapkan. Atau mungkin, aku tidak peduli? Aku hanya tahu bahwa perkataan itu disampaikan padaku ketika usiaku belum genap delapan tahun.

Aku masih menutup mata ketika merasa seperti ada sepasang mata sedang menatap ke arahku. Apakah itu tatapan mata yang tajam atau tatap mata yang terangsang? Aku tidak tahu. Yang aku rasakan, bahwa suasana di dalam bilik sangat berbeda dengan suasana pagi sebelumnya, hari ketika sejumlah orang busuk sedang berusaha menelanjangiku dengan mata jalang.

“Siapakah engkau?” suara gaib itu bertanya.

Apakah sedang menanyaiku? Aku lebih baik diam.

“Siapakah engkau?” Suara gaib itu mengulang pertanyaan.

Mungkinkah ia sedang menanyaiku? Aku lebih baik diam.

“Aku adalah seorang utusan,” suara gaib itu menerangkan sedikit dari jati dirinya.

“Aku tidak bertanya atau menyuruhmu menjelaskan tentang siapa engkau sebenarnya.” Tiba-tiba saja terjadi ketika aku ucapkan kata-kata tanpa perlu menggerakkan bibir.

 

Bab Sebelumnya Bulan Telanjang

Related posts

Nir Wuk Tanpa Jalu 2

kibanjarasman

1 comment

Merebut Mataram 51 - Padepokan Witasem 17/10/2021 at 08:49

[…] Ya, menurutku cukup aneh bila seseorang bicara dengan suara yang terdengar seperti tembang yang melenggang, mengarungi suasana kelam di dalam ruangan. Di dalam gelap, aku tidak dapat melihat banyak benda. Ini seperti waktu berendam di Kalingan pada purnama ketujuh ketika bulan terlihat telanjang. Nir Wuk Tanpa Jalu 1 […]

Reply

Leave a Comment