Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur
Bab 3 Pendadaran

Pendadaran 4

Selesai membenahi dirinya, Ki Demang keluar menemui Ki Samarta. Sambil bertukar salam, Ki Demang menyilahkan tamunya untuk menikmati wedang jahe bercampur gula merah.

”Bagaimana usahamu hari ini? Apakah masakan Ki Samarta tidak membuat pengunjung menjadi kecewa?”

”Semoga Sang Pencipta masih mengayomi saya, dan semoga seperti itu bagi Ki Demang sekeluarga.”

”Kita semua seharusnya memang tidak meninggalkan Sang Pencipta dalam banyak keadaan,” kata Ki Demang Juru Manyuran. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia bertanya, ”Apakah kedai Ki Samarta pernah mendapat kunjungan lima orang tanah seberang?”

Ki Samarta sedikit mengerutkan kening. Namun kemudian ia tersenyum, ada sedikit kebanggaan terhadap kecekatan pengawal kademangan.

”Begitu cepat para pengawal kademangan mengetahui kehadiran orang-orang asing di kedai tadi. Ki Demang agaknya sungguh-sungguh meningkatkan kemampuan pengawal kademangan. Dengan begitu pantaslah banyak orang datang untuk berdagang karena Ki Demang memang dapat memberi rasa aman bagi para pedagang,” ia berdesis dalam hati.

”Benar Ki Demang,” kata Ki Samarta seraya membetulkan duduknya kemudian, ”mereka mendengar tentang kebutuhan kademangan. Agaknya mereka akan mencoba bertemu Ki Demang untuk berbincang tentang itu.” Sejenak ia menarik napas, lalu melanjutkan, ”Saya memberi kesanggupan akan mengantar mereka bertemu Ki Demang.”

”Kapan?”

”Besok siang, Ki Demang. Lagipula saya tidak melihat perilaku buruk selama mereka singgah di kedai. Yang membuat saya tertarik adalah mereka bukan orang miskin. Kantung kulit yang mereka bawa berisi belasan keping emas. Tanpa mereka tahu, saya sengaja mencoba melihatnya dan ternyata perkiraan saya benar.” Ki Smarta tersenyum penuh arti.

”Besok siang,” Ki Demang bergumam mengulang. Sejurus ia termenung dan tatap matanya menerawang menembus gelap malam. ”Baiklah, Ki Samarta. Besok siang aku akan menunggu mereka. Sementara aku tugaskan perangkat kademangan yang lain untuk menggantikanku mengawasi perbaikan parit di Pedukuhan Bumiayu.”

Mereka lantas berbincang mengenai keadaan di sekitar kedai dan pasar. Ki Demang tidak mengalihkan pembicaraan tentang lima orang dari tanah seberang. Namun demikian, Ki Demang sempat bertanya nama-nama orang itu. Selepas bintang bergeser tempat lebih jauh dan mendung berarak menutup kademangan, Ki Samarta pun minta diri. Ia melangkah cepat menjauhi rumah Ki Demang dengan dada tegak. Terbayang olehnya penilaian lebih dari orang-orang sekitarnya.

Sepeninggal pemilik kedai, Siwagati bergegas mengemasi mangkok dan sisa-sisa hidangan.

Dalam waktu itu, Siwagati dengan usianya yang masak sedikit menaruh curiga dengan kedatangan Ki Samarta. Ketika mendengar kehadiran orang-orang asing yang ingin bekerja untuk ayahnya, ia seperti merasa ada dorongan untuk menjajagi kemampuan lima orang itu. Anak perempuan Ki Juru Manyuran ini sedikit banyak telah mempelajari olah kanuragan dari Ki Sarwa Jala, pemimpin Padepokan Wringin Pitu.

Siwagati memberanikan diri bertanya, ”Ayah, akankah ayah  mengambil orang-orang asing sebagai guru bagi pengawal kademangan?”

Ki Juru menarik napas dalam-dalam. Ia mengatur diri sebelum membuka bibirnya. ”Ayah akan berbicara dahulu dengan gurumu. Pengalaman luas dari gurumu akan menjadi keterangan tambahan bagiku. Sedikitnya ada angan tentang apa yang akan aku putuskan. Tetapi kau harus mengerti jika keputusanku pastinya akan mengikat kademangan ini dalam masa yang panjang.” Ki Demang tajam menatap wajah anaknya lalu katanya lagi, ”Kau dapat ikut serta menemui mereka besok siang. Dan beritahukan pada Ki Sarwa Jala supaya besok dapat menemaniku di pendapa ini.”

”Baik, Ayah. Aku pun tidak ingin Ayah keliru menetapkan urusan ini, lagipula Kakang Sumba Sena belum pulang.” Siwagati menguatkan hati ayahnya.

Malam itu di dalam bilik, Siwagati memandangi pakaian panjangnya. ”Guru harus memberiku izin untuk menjajagi ketangguhan ilmu orang-orang asing itu. Tidak perlu ada perang tanding karena sekedar penjajagan.” Ia menarik napas dalam-dalam lalu merebahkan tubuh.

Dalam waktu yang sama, Ki Juru Manyuran bercakap pelan dengan istrinya.

”Besok siang Siwagati akan menjajal ketangguhan ilmu orang-orang asing itu.”

Nyi Juru Manyuran berdebar mendengarnya. Ia gelisah dengan tabiat anak perempuannya yang sering bersinggungan dengan bahaya.

”Apakah ia mengatakan itu, Kakang?”

”Tidak. Aku tahu dari tatap matanya.”

”Dan Kakang akan membiarkannya?”

”Aku mengerti watak anak perempuanmu, Nyi. Ia dapat merajuk dan mungkin saja akan menguji kemampuannya dengan para pengawal. Bukankah larangan itu akan menyurutkan kemajuan yang sudah dicapai?”

Nyi Demang menutup wajah dengan kepala tertunduk.

”Besok Ki Sarwa Jala akan datang. Sepertinya kita akan sedikit tenang jika beliau hadir, dengan begitu, Siwagati dapat dipastikan berada di dalam perlindungannya.”

”Tetapi…” ucap Nyi Demang dengan bibir bergetar, ”sebaiknya Ki Demang juga meminta pengawal kademangan untuk bersiap. Saya ada pikiran buruk, orang-orang asing itu berubah pendirian.”

”Aku kira mereka akan tetap pada pendirian semula. Mereka menemuiku untuk bekerja.”

Nyi Demang merasakan sedikit kesejukan mendengar alasan kedatangan orang-orang yang akan menjadi tamunya. Meski demikian, ia meminta suaminya untuk tetap berhati-hati.

Keesokan paginya, di dalam kedai Ki Samarta telah duduk lima orang asing melingkari meja. Kesungguhan mereka terlihat jelas dari raut wajah dan bahasa tubuh mereka. Mereka ingin memberi kesan baik pada pertemuan pertama dengan Ki Juru Manyuran, pemimpin Kademangan Grajegan. Pakaian mereka tampak bersih dan berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka mengenakan pakaian seperti yang biasa dipakai di negeri mereka. Kain bersulam warna emas dan merah menghiasi pakaian mereka. Dalam waktu sepemakan sirih mereka berbicara dengan Ki Samarta seusai makan pagi.

”Bekerjalah sendiri. Aku akan kembali ke sini setelah kunjunganku di rumah Ki Demang,” kata Ki Samarta sambil menitip beberapa pesan kepada pelayan kedai. Sejenak kemudian mereka berlima keluar dari kedai menuju rumah Ki Demang.

Hari itu pasar mulai ramai dengan kerumunan orang, sehingga kehadiran orang-orang asing itu memukau perhatian dengan pakaian dan senjata yang disandang. Berulang-ulang Ki Samarta menjelaskan pada orang yang bertanya bila orang-orang yang bersamanya itu adalah tamu Ki Demang.

Beberapa orang merasa bangga dan takjub pada pemimpin mereka.

”Aku tidak mengira jika kemajuan kademangan ini telah mengundang orang-orang seberang pulau datang di dusun ini. Aku mendengar mereka datang dari negeri yang jauhnya berbulan-bulan berlayar.” Ia berdecak kagum dan memuji Ki Demang dalam hatinya.

”Ki Demang dan anaknya ternyata sungguh-sungguh memikirkan rakyatnya,” kata lelaki yang berdiri di sebelahnya.

Seorang lagi menyahut, ”Kita mungkin akan menyamai Pajang. Kita harus bekerja lebih giat.”

Kedua teman bicaranya menganggukkan kepala. Mereka menyapa ramah Ki Samarta yang melintas di depan mereka. Sepanjang jalan menuju rumah Ki Demang, kelima orang itu tiada henti membalas senyum dan sapa setiap orang yang berpapasan.

”Aku lelah dengan sandiwara ini,” Toa Sien Ting bersungut–sungut.

”Benar-benar aku merasakan hari ini dalam topeng boneka,” geram Liem Go Song dengan tangan terkepal.

”Redakan gejolak kalian. Kita sedang merancang landasan di tanah ini,” desah Tung Fat Ce. Toa Sien Ting mendengus panjang, sedangkan Liem Go Song menumpahkan kekesalannya dengan meninju angin. Feng Kong Li menutup mulutnya menyembunyikan tawa saat melihat raut wajah Toa Sien Ting yang mengingatkannya pada sebuah boneka kayu yang sering ditampilkan di negerinya sebagai penghibur.

Akhirnya mereka tiba di depan regol halaman rumah Ki Juru Manyuran lebih awal. Ki Sarwa Jala agaknya telah datang terlebih dahulu, Ki Juru Manyuran telah menunggunya saat fajar mulai merekah.

”Ki Demang sebaiknya melihat persoalan ini secara keseluruhan. Mungkin saja penguasaan pengawal menjadi lebih tinggi, tetapi Ki Demang patut memikirkan dari segi yang lain. Pengawal-pengawal ini tentu saja tidak dapat menunggu hasil panen. Apalagi jika mereka harus meninggalkan keluarganya untuk masa yang sedikit panjang,” kata Ki Sarwa Jala. Tatap mata yang jernih dan putih rambutnya menambah ke-gagahan tersendiri bagi setiap orang yang memandang.

”Selain itu Ki Demang juga harus memperhatikan segala keperluan yang dibutuhkan oleh Ki Wisanggeni di barak. Dengan orang-orang yang datang dan pergi, sudah tentu Ki Wisanggeni akan terus menerus sibuk dengan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan ia bertanggung jawab terhadap kemampuan para pengawal,” sambung Ki Sarwa Jala.

Related posts

Pendadaran 5

kibanjarasman

Pendadaran 3

kibanjarasman

Pendadaran 2

kibanjarasman

Pendadaran 1

kibanjarasman

Leave a Comment