Padepokan Witasem
Cerita Wayang

Petruk Menagih Janji 2

“Tetapi waktu akan membuat cinta menjadi berkarat. Waktu akan membuatnya terlupa. Prabu Kresna pun tak hanya berpikir tentang perjodohan ini saja selama hidupnya,” batin Petruk sebelum memutuskan pergi menemui Prabu Kresna Basudewa.

“Jadi, Prabu,” kata Petruk penuh hormat di hadapan Kresna. “Saya merasa wajib datang ke sini untuk beroleh kabar tentang perkembangan anak ayam cemani yang pernah Jenengan janjikan. Namun, mohon dimengerti, bahwa saya tidak semata-mata untuk mencari jawaban.”

Prabu Kresna tidak menjawab. Hatinya bimbang. Perasaannya resah. Begitu gundah gulana dan gelisah. Di satu sisi, sebagai ayah, ia tidak tega putrinya menjadi istri Raden Lesmana Mandrakumara yang bodoh dan manja, hanya saja ia kadung menyetujui lamaran Prabu Baladewa. Di sisi lain, Petruk adalah rakyat jelata yang tidak jelita. Lalu bagaimana dengan harga diri dan martabatnya sebagai raja? Ini yang memusingkan Prabu Kresna. Piye iki, Cah? Petruk bukan keturunan atau golongan bangsawan atau brahmana. Kadang ia berharap Petruk telah lupa dengan perjanjian itu. Tetapi sekarang Petruk duduk lebih rendah di hadapannya. Kresna benar-benar mumet!

Karena bimbang

Waktu berasa bergulir lambat

Membelenggu perjalanan cinta Petruk dan ayam cemani

Berjuta cerita terpahat dalam hatinya

Menyertakan masalah

Apakah engkau mengerti?

Aku mumet, Jum. Asli

Prabu Kresna ingin menjawab. Namun ia bimbang, ragu dan juga harus waspada dengan kemungkinan yang dapat meletus.

Menimbang.

Memperhatikan.

Memutuskan.

Prabu Kresna menjawab, “Kakang Petruk. Tanpa mengurangi rasa hormat atau mengundang rasa malu pada Jenengan, saya harus memberi jawaban untuk permasalahan itu. Kakang, begini…”

Prabu Kresna bergetar hati. Tak tega namun harus. Ingin tetapi tak tega.

“… saya senang dan gembira dengan kedatangan Kanda Petruk. Jenengan telah meluangkan waktu dan mengingatkan saya tentang masa lalu yang menyenangkan. Kanda, harap tidak bersusah hati atau menjadi gelisah lalu berpikir buruk tentang diri saya.”

Sik to, Jenengan Prabu. Jenengan berasa mbulet berkata-kata. Ada apa denganmu, Cinta?”

“Kanda Petruk, sebenarnya saya tidak mempunyai daya untuk mengatakan sesuatu yang membuat Jenengan menjadi tidak lega. Tetapi, anak ayam cemani yang telah dewasa, sekarang ini sudah dalam pintu rumah orang lain. Dewi Prantawati tengah dinantikan Raden Lesmana Mandrakumara.”

“Lho kok iso? Sik sik..Piye iki, piye?” Petruk terkejut. Tidak terduga dan sulit dipercaya, pikir Petruk. Bagaimana Prabu Kresna Basudewa dapat mengingkari janji? Mungkinkah ia lupa kemudian teringat perjodohan di masa lalu, lalu sulit untuk membetulkan putusannya? Apakah kebijaksanaan itu dapat berubah-ubah setiap waktu?

“Kanda Prabu,” ucap Petruk bernada rendah, “sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang, terutama Jenengan Prabu, untuk menganggap janji itu tidak pernah ada. Hamba tidak berkata Jenengan Prabu mengingkari janji. Jenengan Prabu adalah raja. Seseorang yang setiap kata adalah perintah sepenuhnya bagi yang mendengarkan.”

Prabu Baladewa berdiri dengan gusar, tersinggung karena Petruk yang bukan brahmana, ksatria ataupun bangsawan telah lancing menasehati Kresna.

“Petruk! Ucapanmu melampaui batasan. Lihat, engkau ini siapa?” geram Baladewa.

Petruk menoleh pada Prabu Baladewa dengan tatap mata berkilat, tetapi ia dapat menahan diri. Kemudian Petruk berkata, “Kakang Prabu Baladewa, Jenengan berkedudukan sama dengan hamba. Kita adalah tamu di kerajaan ini. Meski Kakang Prabu adalah raja seperti Prabu Kresna, sepatutnyalah seorang tamu tidak meluapkan marah di depan tuan ruman.”

“Tidak tahu diri!’ teriak Prabu Baladewa yang tersinggung berat oleh ucapan Peteruk yang tegas menempatkannya sejajar dengannya.

Prabu Baladewa melompat lalu mencengkeram leher baju Petruk. “Kita keluar suapaya aku dapat mengghajarmu tanpa sungkan dengan tuan rumah.”

Prabu Kresna terombang-ambing oleh perasaan. Ia merasa seperti berdayung seorang diri menuju tengah lautan lepas. Tanpa kawan dan tak berbekal layar. Hati Kresna semakin kuncup dan layu sebelum berkembang. “Duh! Oalah Ngger, ngidam opo aku isuk mau?” Tak kuasa ia menahan amarah Baladewa. Tak sanggup ia menyelamatkan Petruk dari amukan Baladewa.

“Arya Setyaki, ambil tindakan tegas untuk setiap orang yang membuat onar di Dwarawati!” perintah Prabu Kresna.

“Hamba, Kanjeng Ndara.” Arya Setyaki bergegas keluar dari ruangan.

Pertemuan dibubarkan.

Prabu Kresna semakin mumet lalu meninggalkan ruangan, pergi menuju kedaton

Related posts

Petruk Nagih Janji 5

kibanjarasman

Petruk Nagih Janji 4

kibanjarasman

Petruk Menagih Janji 3

kibanjarasman

Petruk Menagih Janji 1

kibanjarasman

Leave a Comment