Padepokan Witasem
Cerita Wayang

Petruk Menagih Janji 3

Dua lemparan tombak dari gerbang istana, di tengah-alun-alun yang ditumbuhi pohon beringin pada empat penjurunya, Prabu Baladewa melemparkan tubuh Petruk seperti seonggok karung berisi jagung yang tidak berharga.

Arya Sengkuni yang berjabatan sebagai patih mendatangi Prabu Baladewa. Patih ganteng sedunia ini menyeret langkah diiringi bala Kurawa yang setia menunggu di luar istana.

“Kanjeng Prabu,” kata Patih Sengkuni dengan senyum khas yang penuh pesona, “apa yang terjadi di dalam istana? Saya melihat api menyambar dari sinar mata Kanjeng Prabu.”

Prabu Baladewa, yang berdiri dengan tampilan gagah sebagaimana seorang ksatria, menjawab, “Kerajaan Hastina akan memasuki zaman baru.”

Kerut Patih Sengkuni berlipat-lipat. Berita gembira tetapi mengapa raut wajahnya dibakar marah? Namun wong ganteng ini tidak mengungkap pertanyaan yang muncul dalam hatinya.

“Kemudian suasana menjadi keruh,” lanjut Prabu Baladewa.

“Oh ya? Lalu..lalu..?” sahut menyahut bala Kurawa melepas tanya seperti decit suara burung pipit.

“Petruk dengan kurang ajar tiba-tiba menagih janji,” geram Prabu Baladewa. “Katanya, dulu Dewi Prantawati telah dijodohkan dengannya. Lha, sekarang, bagaimana pikiran Kakang Patih atas permasalahan Petruk? Kan gendeng jika mendadak nongol lalu menagih janji tanpa bukti dan saksi!”

Patih Sengkuni tak menahan rasa geram. Perintahnya pada bala Kurawa, “Seret Petruk keluar dari wilayah ini. Bila kata-kata kalian tidak didengarnya, maka jangan gunakan lagi bahasa manusia padanya. Masukkan ke dalam karung, lalu buang jauh-jauh. Bila masih meronta, bunuh saja! Jangan beri dadu!”

Dursasana bergegas melaksanakan itu bersama saudara-saudaranya yang muda usia.

Sewaktu Petruk terguling-guling di tanah, mendadak Raden Antareja dan Raden Gatutkaca muncul di alun-alun lantas mendatanginya.

Dengan punggung masih melekat di permukaan tanah, Petruk bertanya, “Kalian ada perlu apa di tempat ini?”

Dua putra Bima atau Wrekodara bertukar pandang, kemudian Gatutkaca menjawab, “Kami sedang sambang Kiai Semar di Karangdempel. Bukankah sesuatu yang wajar apabila golongan muda mendatangi Kiai Semar untuk pencerahan? Dan kepergian kami diketahui oleh ayah.”

Antareja memandang Petruk dengan sebangsal pertanyaan. Batinnya, apakah ini tujuan Kiai Semar memerintahkan kami datang ke kotaraja?

Gatutkaca melanjutkan ucapannya, “Namun kami tidak dapat tinggal lebih lama di Karangdempel. Kiai Semar mengatakan bahwa Paman sedang berusaha menemui Prabu Kresna untuk menagih janji. Beliau mengatakan itu pada kami dengan rundung muram pada wajahnya. Maka kami berdua segera pergi ke ibukota.”

“Apakah Kiai Semar juga mengatakan kekhawatiran?”

Antareja menggeleng, kemudian katanya, “Meski tidak berkata sedikit pun tentang kekhawatiran, tetapi setidaknya beliau pasti mempunyai wangsit yang tidak mengenakkan.”

“Dan disinilah kami sekarang menyaksikan Paman Petruk dikuya-kuya.”

Petruk bangkit agar dapat menegakkan punggung, sambil bersimpuh ia katakana, “Terima kasih Raden berdua. Terima kasih.” Sejenak ia  menatap lekat wajah dua orang muda yang berada di depannya. Petruk melihat dua paras wajah yang sungguh-sungguh menampakkan kepolosan. Lalu Petruk berkisah, “Prabu Kresna tidak berkenan memberi izin padaku agar dapat menikahi anaknya. Beliau justru mengikatkan Dewi Prantawati pada Raden Lesmana. Itu sungguh menggelikan. Kalian dapat menilai, betapa Prabu Kresna rela menjerumuskan diri pada permainan dadu yang diajukan Prabu Baladewa.”

“Dadu? Apa hubungannya dengan Paman Sengkuni? Kok ujug-ujug ada disebut dadu? Piye ini, Paman?” Raden Antareja menggumam tanya.

“Raden, saya adalah seorang yang tidak berharta, tak berpangkat dan berkedudukan. Hanya seorang yang berasal dari padesan di kaki gunung. Sementara Raden Lesmana? Tak perlu saya jlentrehkan yang dimilikinya. Bukankah ini yang dinamakan perjudian karena penglihatan? Saya tidak bicara keburukan atau kelemahan Raden Lesmana, tetapi pertimbangan pokok dari Prabu Kresna adalah segala yang ada pada Raden Lesmana. Mertua matrek, istilah anak muda sekarang.”

“Bangkitlah, Paman. Saya dan Kakang Gatutkaca akan membicarakan persoalan ini dengan Kanjeng Prabu Kresna.”

“Petruk!” Patih Sengkuni berkata lantang dengan sikap yang gagah. “Pergilah jauh sejauh angin ketika  menebarkan bau tubuhmu.” Sekumpulan anak ayam, eh, bala Kurawa maksudnya, pun mengeluarkan kata-kata senada dengan kalimat wong ganteng itu.

Patih Sengkuni lalu menambahkan ketika ia berada lebih dekat dengan Petruk, “Dan aku minta sgera lupakan Dewi Prantawati. Ia akan menjadi istri Raden Lesmana. Nah, daripada engkau larut dalam kenangan atau bayangan semu, maka menikahlah dengan gadis padesan sesuka hatimu atau lupakan masa lalumu.”

“Lhadalah, ini ada lagi ksatria timpang yang bicara bukan-bukan!” Petruk bangkit kejantanannya. Tegak berdiri dengan dada membusung. “Mengapa sang ayam cemani tidak diberi kesempatan memilih? Wong edan, tentu engkau paham dan pastinya paham.”

“Kowe iki ngomong opo toh, Truk?”

Ealah, Jum. Kebacut tenan. Sengkuni, Dewi Prantawati tentu lebih memilih hidup bersamaku yang tidak menjanjikan angan tetapi kenyataan dan kesejatian hidup.”

“Ngimpi!” seru Dursasana.

Related posts

Petruk Nagih Janji 4

kibanjarasman

Petruk Menagih Janji 2

kibanjarasman

Petruk Menagih Janji 1

kibanjarasman

Leave a Comment