Di tengah meredupnya cahaya Kesultanan Demak setelah wafatnya Raden Patah, bara perebutan takhta mulai menyala di antara para bangsawan dan adipati. Sebagian kalangan menilai bahwa Arya Penangsang adalah pewaris sah Demak, sementara Raden Trenggana dianggap memperoleh kekuasaan melalui jalan yang dipenuhi intrik dan darah. Dari kegelisahan itulah lahir sebuah gerakan rahasia yang dipimpin para bangsawan tua dan senapati pilihan untuk mengguncang kekuasaan Demak dari wilayah timur Jawa.
Di tengah pusaran politik itu berdiri Ki Rangga Gagak Panji, seorang perwira tangguh Demak yang memiliki kecerdasan perang luar biasa namun terjebak dalam pergulatan batin antara kesetiaan, keadilan, dan persahabatan. Ia menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh penting seperti Mpu Badandan, Hyang Menak Gudra, serta para adipati wilayah timur yang diam-diam menyiapkan Panarukan sebagai benteng terakhir menghadapi ambisi Demak.
Sementara itu, Raden Trenggana menyiapkan ekspedisi besar untuk menaklukkan Panarukan dan membuka jalan menuju Blambangan. Ribuan prajurit, kapal perang, dan para senapati pilihan dikerahkan demi menjaga wibawa Demak sebagai penerus Majapahit. Namun di balik kekuatan besar itu, muncul keraguan dan konflik di antara para petinggi kerajaan sendiri.
Di sisi lain, kisah juga menyoroti Jaka Wening—kelak dikenal sebagai Pangeran Benawa—yang tumbuh dalam didikan kebijaksanaan Ki Kebo Kenanga. Sosok anak ini menjadi simbol masa depan Jawa yang lebih teduh, jauh dari kerakusan kekuasaan dan dendam politik. Kehadirannya memberi lapisan emosional yang kuat di tengah cerita penuh intrik, pengkhianatan, dan peperangan.
Puncak cerita meledak dalam perang laut dahsyat di perairan Panarukan. Blambangan yang jumlah pasukannya lebih kecil ternyata memiliki para pendekar dan senapati berilmu tinggi yang mampu mengguncang armada Demak. Pertempuran antara Gagak Panji, Semambung, Ki Jala Sayuta, Gending Pamungkas, hingga Raden Trenggana sendiri berubah menjadi benturan kekuatan yang nyaris melampaui nalar manusia. Laut bergolak, kapal-kapal hancur, dan ilmu-ilmu tingkat tinggi memporak-porandakan medan perang.
Di tengah kekacauan itu, Gagak Panji menjadi poros utama perlawanan Blambangan. Keputusannya berdiri di seberang Demak menjadikannya dianggap pengkhianat oleh bekas saudara seperguruannya sendiri. Duel sengit antara dirinya dan Gending Pamungkas bukan hanya pertarungan dua pendekar, melainkan juga benturan dua keyakinan tentang kehormatan, kesetiaan, dan masa depan tanah Jawa.
“Pangeran Benawa: Penaklukan Panarukan” adalah epos silat-historis yang memadukan intrik politik Demak, pergolakan batin para tokohnya, dan peperangan laut berskala besar yang jarang diangkat dalam kisah silat Nusantara. Novel ini menghadirkan pertanyaan mendalam tentang legitimasi kekuasaan, harga sebuah kesetiaan, dan pengorbanan demi tanah air, di tengah runtuh dan bangkitnya kekuatan besar di tanah Jawa.
Jadikan koleksi sebagai upaya untuk melanggengkan kisah serupa. Dengan kontribusi 75 ribu, Anda juga bisa mendapatkan akses ruang digital yang berisi kisah yang tidak kalah seru dan menggetarkan, Kitab Kyai Gringsing.
Caranya – silakan transfer jumlah minimal 75 ribu, kirim konfirmasi transfer serta akun gmail/google ke WA berikut (klik)
Selanjutkan, Panjenengan dapat ikuti instruksi yang ada.
Rahayu – Matur nuwun
