Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 107 – Rahasia dan Kemarahan yang Membakar Lereng Gunung Kendil

Pandan Wangi hampir saja terperangah mendengar nama Swandaru disebut sebagai pemimpin permukiman. Tapi ketahanan jiwani putri Ki Gede itu memang luar biasa. Keterkejutan itu sangkat singkat hingga sulit membedakan perubahan air muka Pandan Wangi. Ki Demang Brumbung bahkan tertahan napasnya tapi juga cukup singkat.

Dua orang itu terlalu kuat untuk gagap sekian lama.

“Kalimat keji seperti apa lagi yang mungkin masih dapat aku dengar dari kalian?” tanya Pandan Wangi dengan tangan bersedekap di depan dada.

“Fitnah? Bagaimana maksud Nyi Sanak?” tanya Ki Kamejing dengan sungguh-sungguh.

“Kitab itu,” terang Pandan Wangi, “bukan diberikan Kyai Gringsing pada Ki Hariman, tapi orang itu mencurinya dari Sangkal Putung.”

Pandan Wangi tidak mengatakan bahwa kitab itu hilang ketika disimpan di rumahnya. Jika dia mengatakan itu maka akan terasa seperti membuka kembali pintu yang sudah ditutup rapat olehnya. Dia juga tidak menyebut Ki Hariman mencuri dari rumah Swandaru. Pertimbangan Pandan Wangi hanya satu hal: peristiwa itu sudah terjadi sangat lama. Urusan hari itu adalah secepatnya kelompok orang asing itu pergi dari Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Kamejing merenung untuk beberapa waktu. Menurutnya, hanya satu keterangan yang benar tapi dia sudah menimbang bahwa dirinya tidak berhak menilai keterangan.

“Oh, keterangan Nyi Sanak sudah pasti akan menjadi perhatian kami,” katanya kemudian. “Itu sangat penting.”

PandanWangi cepat menoleh pada Ki Demang Brumbung sebelum Ki Kamejing melanjutkan kata-kata.

“Biarkan dia dan kelompoknya pergi,” kata Pandan Wangi pada Ki Demang Brumbung.

Ki Demang Brumbung membalas cepat. “Nyi—”

“Perbantahan tidak akan mengubah keadaan,” bisik Pandan Wangi. “Setidaknya kita masih punya hari esok dan pertimbangan lain.”

Ki Demang Brumbung mengatupkan rahang. Sejenak tampak dia menimbang, lalu perlahan menurunkan kerisnya dengan sorot mata bernada keberatan dan masih melekat tajam pada Ki Kamejing.

“Terima kasih, Nyi Sanak,” ucap Ki Kamejing sambil mengangguk. “Ki Rangga, kami mohon diri.” Tanpa berkata lagi, dia berbalik dan bergerak menjauh, mengikuti pergerakan kelompoknya yang mundur perlahan setelah menyerahkan senjata.

Tidak seorang pun dari pengawal Menoreh yang bergerak menghalangi. Namun beberapa di antaranya telah saling bertukar isyarat. Dalam diam, bayangan-bayangan itu mulai bergeser, menjaga jarak tanpa melepas pengamatan.

Mereka telah mendapatkan perintah sebelumnya: untuk membayangi pergerakan kelompok asing jika perondaan dapat berakhir tanpa paksaan.

Pandan Wangi hanya diam mematung dengan tatapan mata beralih ke arah pertempuran yang belum sepenuhnya padam.

Ki Ajar Poh Kecik melangkah maju setapak dari barisan yang mulai mundur. Tubuhnya sedikit membungkuk sebagai tanda hormat.

“Terima kasih atas kemurahan hati, Nyi Sanak,” katanya tenang, meski napasnya belum sepenuhnya teratur. “Kami tidak akan melupakan sikap ini.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Hanya sorot matanya yang tetap tertuju, tajam dan membaca.

Ki Ajar melanjutkan, “Kami… orang-orang dari Perguruan—” sejenak lidahnya terhenti, namun terlambat. “—Perguruan Saripati…”

Kata itu meluncur begitu saja.

Dalam sekejap, dia menyadari kesalahannya. Alisnya bergerak tipis, lalu dia segera membetulkan, “Maksud saya, kami hanyalah orang-orang yang menumpang belajar di beberapa tempat. Tidak berada di bawah satu perguruan tertentu.”

Namun kata yang telah terucap tidak dapat ditarik kembali.

Pandan Wangi dan Ki Demang Brumbung tidak saling berpandangan, tapi mereka memahami simpul yang sama. Nama itu terpatri jelas dalam ingatan mereka—tanpa perlu diulang, tanpa perlu dipertegas.

Di hadapan mereka, Ki Ajar tetap berdiri dengan sikap tenang. Seolah-olah tidak ada yang terjadi. Tak lama kemudian, dia pun melangkah surut.

Kelompok Ki Ajar pun mengalir pelan keluar dari permukiman.

 

Di bagian tengah agak ke barat, pertempuran telah mereda.

Orang-orang Kendil yang tersisa tidak lagi mampu melakukan perlawanan yang berarti. Sebagian telah dilumpuhkan, sejumlah orang menyerah tanpa daya, dan sisanya tercerai-berai tanpa arah. Beberapa tampak sudah membujur tak beraturan.

Terlihat sejumlah pengawal dan prajurit dari barak sudah berbagi tugas menuntaskan penertiban. Ada yang merawat orang-orang terluka, merapikan jasad-jasad yang berangsur-angsur menjadi dingin, ada pula yang mengumpulkan senjata-senjata yang berserakan.

Pada arena itu benar-benar dapat dibayangkan betapa keras bentrokan yang terjadi demi perguruan yang sebenarnya adalah bayangan yang belum berkembang.

Namun ada satu perkelahian yang tersisa dan berlangsung sangat menegangkan.

Ki Wiraditan dan Sayoga masih terikat dalam benturan yang tidak memberi celah sedikit pun.

Gerak mereka cepat dan rapat. Setiap serangan dibalas tanpa jeda. Pedang kayu di tangan Sayoga berputar dalam lintasan pendek dengan tata gerak yang tegas dan mantap, sementara Ki Wiraditan menahan serta membalas serangan dengan lecutan cambuk yang tidak kalah deras. Tanah di sekitar mereka mulai tergores, debu tipis terangkat setiap kali kaki mereka berpindah pijakan.

Tidak ada lagi yang mengganggu.

Tidak ada lagi yang dapat membantu, terutama dari laskar gabungan.

Hanya tersisa dirinya seorang, buat apa menyerah? Hidup pun akan berakhir dengan keputusan Mataram seandainya mereka siap bertindak lebih jauh. Mati sekarang juga hanya masalah waktu, pikir Ki Wiraditan. Lantas orang ini bertarung habis-habisan dengan batasan jika dirinya mati, maka lawannya pun harus ikut serta. Dengan alasan seperti itulah, Ki Wiraditan memainkan cambuk dengan campuran ilmu yang dikuasainya. Tak hanya menambah wawasan melalui jalur ilmu Kyai Gringsing, tapi juga serapan ilmunya dari masa lalu.

Pendirian yang berlainan justru berkembang di dalam hati Sayoga. Pengawal Menoreh ini merasa cukup dengan menahan musuhnya saja. Tidak ada keinginan darinya untuk menghabisi lawan, cukup mengalahkannya saja tanpa harus memastikan hasil akhir. Meski demikian, Sayoga sudah bertambah pula ilmunya. Pengayaan ilmu dari Kyai Bagaswara sangat memadai mengurangi gerakan cambuk Ki Wiraditan yang cenderung liar.

Pandan Wangi telah memperhatikan pula perkembangan gelanggang itu sambil mengawasi orang-orang yang mulai merobohkan bangunan. Ki Demang Brumbung menjadi orang yang bertanggung jawab untuk pembersihan itu.

Dari sebuah tempat, seseorang memandang perkembangan permukiman dengan perasaan agak cemas. Dia sedang menimbang pilihan: apakah harus muncul pada saat itu ataukah pada lain waktu?

Ki Wedoro Anom berpikir bahwa dirinya harus dapat memilih waktu dan menyusun kisah yang tepat atas keputusannya jika ada pertanyaan, terutama dari Pangeran Purbaya atau Agung Sedayu.

 

Pada lingkar perkelahian Sayoga.

Ki Wiraditan meloncat beberapa langkah ke samping, memutar setengah lingkaran sementara cambuknya tetap terayun cepat di atas kepala ketika Sayoga mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

Tiba-tiba Ki Wiraditan menerjang dengan liukkan cambuk yang sangat cepat. Ujung cambuknya deras menyambar Sayoga masih belum tampak bergerak sedikit pun.

Kurang dari sejengkal, mungkin, ketika Sayoga makin merendahkan lutut, menghindar serangan, lalu memiringkan tubuh, menjulurkan pedang kayunya tepat pada lambung musuhnya. Sayogatampak tidak terpengaruh sama sekali dengan bunyi ledakan di atas kepalanya.

Ki Wiraditan mengumpat keras sambil mengelak serangan balik Sayoga yang dapat meremukkan bagian dalam tubuhnya.

Namun Sayoga tidak menghentikan serangan pembuka itu. Dia cukup tangkas dan penuh perhitungan, mengejar Ki Wiraditan yang terpaksa mejatuhkan diri ke tanah lalu bergulingan menjauh, melompat surut—membentangkan jarak yang memadai agar senjatanya tetap berbahaya.

Sekali lagi, Sayoga tidak tinggal diam. Keputusannya adalah memangkas jarak, ketika Ki Wiraditan mapan berdiri tiba-tiba Sayoga meluncur dengan kecepatan luar bisa, menghantam batas pertahanan lawannya. Pedangnya berputar-putar hingga tampak bergulung-gulung seperti badai di tengah lautan, menghujani semua titik lemah Ki Wiraditan dengan luar biasa.

Orang itu, hanya karena pengalamannya saja, sehingga masih dapat bertahan dari sengatan pedang Sayoga.

Ki Demang Brumbung dan Pandan Wangi sudah dapat memperkirakan kemampuan dua orang yang sedang bertarung sengit itu. Maka mereka pun cukup tenang mengawasi sambil memberi perintah bertingkat pada pengawal dan prajurit dari barak.

Tiba-tiba wajah Pandan Wangi sedikit berubah ketika seorang pengawal memberi laporan padanya.

“Dia sedang berperang tanding?” ulang Pandan Wangi memastikan.

Pengawal itu mengangguk. Dia mendapatkan tugas untuk menyisir sekeliling permukiman bersama seorang lagi, lalu mendapati perkelahian yang melibatkan dua orang saja: Swandaru dan Ki Hariman.

Pandan Wangi mematung sejenak llu berkata, “Biarkan saja mereka. Kita tetap di sini, menata ulang lingkungan seperlunya. Tidak lebih.”

“Baik, Nyi,” sahut pengawal itu lalu menggabungkan diri pada kelompok yang bertugas membersihkan reruntuhan bangunan.

 

Gelanggang Swandaru – Ki Hariman

 

Perkelahian antara Swandaru dengan Ki Hariman nyaris seperti pengulangan pertarungan hebat yang mengikat Agung Sedayu dan Raden Atmandaru. Yang membedakan dengan peristiwa itu keadaan cuaca dan medan yang sangat kejam. Yang menjadi persamaan adalah tidak ada orang yang menjadi saksi.

Dalam pertarungan itu, Swandaru sudah tidak perlu untuk menahan diri lagi. Ki Hariman adalah pencuri kitab yang disusun gurunya, titik. Kemarahan dan harga diri yang terkoyak cepat menyala pada hatinya. Maka tidak ada pertimbangan lain baginya selain menghabisi orang itu.

Sama pula perasaan yang menjangkiti Ki Hariman. Dia sudah menduga bahwa seandainya permukiman didatangi lagi oleh Mataram atau Menoreh, maka kemungkinan untuk lolos menjadi sangat kecil karena kehadiran Swandaru di dekatnya. Pertarungan penentu akan dan pasti terjadi. Maka dia pun mempersiapkan diri dengan sangat baik di sela-sela kegiatannya melatih orang-orang yang datang berguru.

Salah satu yang dilakukannya adalah berpesan pada Ki Astaman agar membawa kitab Kyai Gringsing seandainya dapat keluar dari permukiman. Tapi pesan itu tidak berakhir dengan jelas: apakah mereka dapat bertemu atau Ki Astaman hanya membawa saja agar tidak jatuh pada murid Kyai Gringsing?

Namun ada satu keadaan yang pasti dan diyakini Ki Hariman adalah Ki Astaman tidak pernah memperlihatkan ketertarikan pada isi kitab, apalagi untuk mendalaminya. Maka berbekal pendapatnya itu, Ki Hariman rela memberitahu tempat rahasia dalam biliknya yang digunakan untuk menyimpan kitab itu.

Di gelanggang perang tanding, baik Swandaru maupun Ki Hariman sudah mencapai tingkat kecepatan gerak yang melampaui  orang kebanyakan. Di antara bayangan mereka yang kadang saling mendekat lalu menjauh, lontaran tenaga cadangan terjadi sangat hebat. Menggunakan senjata yang sama, letupan-letupan cambuk tidak lagi mengeluarkan bunyi seperti dentuman yang menggelegar tapi lebih terdengar seperti pukulan di atas sekarung kapuk randu. Begitu pelan dan tipis tapi sanggup melubangi tanah lebih dalam dari batas tumit.

Anda berkenan

 

Pada sebuah kesempatan, Ki Hariman menyerang, ujung cambuknya menyambar mendatar mengarah ke batang leher Swandaru.

Swandaru bergeser mundur tapi tumitnya terbentur gundukan tanah. Seketika dia kehilangan keseimbangan tapi harus bergerak lebih cepat dari sabetan cambuk Ki Hariman!

Naluri murid Kyai Gringsing itu bekerja lebih cepat dari lesatan cambuk lawan. Dia justru membantingkan tubuh, mengikuti arah jatuh, memutar bahu hingga seluruh tubuhnya melintir di udara. Cambuk Ki Hariman menyambar angin, tepat di tempat leher Swandaru semula.

Swandaru tidak berniat mendarat sempurna ketika satu telapak tangannya menjulur ke bawah. Menekuk sedikit siku, melontarkan diri ke atas, berputar balik, lalu membalas serangan dengan ayunan cambuk yang dahsyat. Segenap kekuatan telah sampai pada ujung senjatanya.

Leher berbalas leher.

Seperti itulah titik sasaran Swandaru sat mengarahkan bidikan pada Ki Hariman.

Serangan balasan yang tidak terduga memaksa Ki Hariman meloncat mundur cukup jauh. Sekejap saja ketika kakinya menjejak tanah, serangan Swandaru berikutnya datang menerjang. Ujung cambuk Swandaru seakan berubah menjadi ribuan ular yang mematuk-matuk mangsa dengan cara yang kejam.

Kali ini, Ki Hariman tidak menghindar. Dia memutar cambuk dengan kecepatan yang tak masuk akal, membentuk kubah pelindung serupa tempurung kelapa yang membelah udara. Lambaran tenaga cadangan yang dahsyat membuat udara di sekitar putaran itu mulai menggeliat. Hawa panas memancar keluar, menciptakan riak-riak udara yang tampak kasat mata seperti udara panas yang mengitari nyala api unggun yang sangat besar.

“Apakah itu juga berasal dari kitab guru?” tanya Swandaru dalam hati melihat perkembangan Ki Hariman.

Swandaru semakin geram karena persangkaan itu. Berapa banyak dan seberapa dalam yang tertulis di dalam kitab gurunya yang dia tidak tahu?

Oleh sebab itu, Swandaru juga tidak mengubah aliran serangannya yang datang beruntun. Patukan yang bertubi-tubi terus mengarah pada pusat kekuatan musuhnya.

Swandaru menggandakan kekuatan tenaga cadangan. Seperti air terjun, dia terus membenturkan kekuatan sehingga terdengar ledakan-ledakan menggelikan bulu telinga. Yah, benar, ledakan tidak lagi memekakkan telinga tapi udara sekitar menjadi pejal dan mampu menghancurkan gendang pendengaran.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 3 – Menahan Dera di Menoreh

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 23 – Gempuran Laskar Gabungan Menoreh di Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 19 – Aku Berdiri di  Sisimu, Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.