Pada waktu sepekan itu, Jalutama benar-benar menunjukkan kecakapannya sebagai seorang ahli waris Sima Menoreh. Rancangan disusun sedemikian rinci, dari gelar perang hingga tenaga untuk pengobatan. Segala jalur telah ia pikirkan.
Sementara Bondan dalam waktu sepekan itu berada di bawah mata Ki Buyut Argajalu dan Ki Hanggapati. Murid Resi Gajahyana ini nyaris tidak keluar dari sanggar. Bondan menempa diri sangat keras dengan ditemani Kyai Sablak, keris hijau berlekuk tujuh yang menjadi senjatanya. Dengan seksama Ki Buyut Argajalu berdua mengadakan ujian demi ujian sesuai pesan Resi Gajahyana. Mereka bertiga paham bahwa lawan yang akan dihadapi bukan lagi Ki Cendhala Geni. Lawan mereka sekarang bukan mereka yang mengaku telah mewarisi hak dari Jayakatwang.
Lawan mereka adalah Mpu Rawaja!
Di tengah kesibukannya nglanglang kawasan mewakili ayahnya mengawasi persiapan, Jalutama pun tanpa henti menajamkan kemampuannya dengan pedang kayu. Didampingi Nyi Kirana pada setiap latihan, Jalutama menjadi lebih berani menjelajah unsur-unsur yang belum dikenalnya. Kemampuan tinggi Nyi Kirana dalam penguasaan pedang membuat Jalutama makin mengenali titik kelemahannya dan menutup celah itu dengan anasir yang diserapnya dari Nyi Kirana.
Kebersamaan itu dapat dilakukan berdasarkan penuturan Ki Hanggapati dan Bondan. Lantas Ki Buyut Argajalu meminta Nyi Kirana untuk menyertai Jalutama dalam waktu sepekan itu. Dan itulah yang terjadi di antara Jalutama dan Nyi Kirana. Dalam diri mereka masing-masing, keduanya sepakat untuk melupakan perselisihan yang pernah timbul dalam hubungan mereka. Mereka pun setuju, tanpa harus diucapkan, untuk bersama-sama berjuang mencegah kerusakan yang mungkin akan meluas. Sekali-kali Ki Hanggapati turut dalam mendampingi Jalutama menjalankan tugasnya.
Pada bagian lain, sejumlah orang telah dikirim oleh Jalutama untuk memberi laporan pada Bhatara Pajang mengenai perkembangan di Sima Menoreh. Dan dalam tugas itu, mereka juga akan menjalankan kewajiban lain sebagai petugas sandi.
Maka demikianlah kesibukan yang luar biasa menyebar di seluruh Sima Menoreh. Setiap orang tidak ingin menjadi terlena dengan kedamaian dan ketenteraman selama ini dapat dijaga di Menoreh. Setiap orang dapat dipahamkan bahwa gejolak yang terjadi di Kademangan Grajegan, pada waktunya, akan mendatangi Menoreh.
Mereka tidak boleh lengah! Mereka tidak dapat meremehkan kemampuan para pengawal kademangan, orang-orang Sanca Dawala maupun sejumlah prajurit bayaran.
Menoreh telah bersiaga!
Di bagian lain lereng Merapi, sejumlah orang yang berhasil melepaskan diri dari kemelut di Grajegan terlihat mulai memasuki Pajang. Keling Juwana memimpin teman-temannya berjalan melingkar, mereka mendekati kawasan istana kadipaten dengan cara yang tidak lazim.
Kekhawatiran Keling Juwana terhadap kehadiran mata-mata yang dikirim oleh orang kademangan menjadi penyebab utama. Dengan sedikit bekal pengetahuan yang dia peroleh selama berada di lingkungan istana, Keling Juwana memecah rombongannya menjadi kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan dua atau tiga orang. Mereka mengitari jalan-jalan dan lorong sekitar istana berulang kali, mereka memecah diri lantas bergabung dengan kelompok lain yang ditemui di jalan.
Siasat cerdas Keling Juwana benar-benar mengacaukan perhatian petugas sandi kademangan dan Padepokan Sanca Dawala. Sekalipun para petugas sandi itu telah berpengalaman mengadakan pengamatan, tetapi rencana Keling Juwana dapat berjalan mulus. Meski membutuhkan waktu lama untuk melepaskan diri dari mata tajam petugas sandi, satu demi satu rombongan Keling Juwana berhasil memasuki istana dari pintu depan!
“Sebenarnya aku menaruh curiga pada beberapa orang yang melewati tempat ini,” kata seorang mata-mata Sanca Dawala, “lalu mereka muncul di tempat lain dengan orang-orang yang berbeda.”
“Itulah yang jadi ganjalan di pikiranku,” sahut temannya. “Tidak ada yang khusus dari penampilan mereka, meski aku tidak dapat membohongi kedua mata ini tetapi kau dapat melihat sekarang! Orang-orang yang kita curiga tiba-tiba tidak terlihat berlalu lalang!”
“Jika mereka adalah rombongan pengantin, seharusnya satu demi satu dapat kita lihat ketika mereka memasuki gerbang istana.” Orang pertama itu tampak kebingungan dengan keadaan mereka sendiri. Dia melirik ke banyak arah dengan sinar mata tidak percaya. Terdengar kemudian dia bergumam sendiri dengan hitungan jarak dan tanda-tanda yang berada di sekitar mereka.
Kemudian orang pertama itu berseru dengan suara tertahan. Dia sangat jengkel!
Betapa mereka dengan mudah dikelabui oleh kawan-kawan Keling Juwana.
“Bukankah kita menyaksikan para prajurit peronda keluar masuk melalui gerbang istana?”
“Benar.”
“Kita telah mengamati kebiasaan Pajang dalam perondaan. Dari fajar hingga petang memang ada dua atau tiga kali kelompok peronda yang bergiliran.”
“Lalu? Apakah kau berpikiran sama denganku?”
“Tentu saja rombongan pengantin itu dapat menyelinap di antara kelompok peronda dalam jumlah kecil. Dan itulah yang membuat mereka menghilang dari pengawasan kita.”
Yang dirancang oleh Keling Juwana adalah menyelinap masuk ke dalam lingkungan istana bersama para prajurit peronda. Sudah tentu para prajurit peronda telah mengenal iring-iringan Bondan karena sebagian dari mereka adalah prajurit, ada yang bekerja di dalam lingkungan istana sebagai abdi dan beberapa orang dari padepokan Resi Gajahyana. Dan sekarang mereka telah berkumpul di halaman belakang istana menunggu Bhre Pajang yang akan menerima keterangan dari mereka.

Sebuah ketenangan bagi mereka adalah Resi Gajahyana telah bersama mereka di halaman belakang. Tentu saja mereka tidak terkejut karena telah mengetahui ketinggian ilmu guru dari Bondan itu. Bahkan sebaliknya, Resi Gajahyana memberikan arahan-arahan tentang yang seharusnya mereka lakukan saat menyeberang sungai.
“Dari sebelah manakah Eyang melihat kami menemui dinding tegak lurus?” seorang lelaki bertubuh kurus bertanya dengan mulut ternganga.
“Aku berada di belakangmu. Tepat di balik punggungmu,” gurau Resi Gajahyana yang kemudian disambut tawa banyak orang.
“Ya, setidaknya jika ada seekor buaya datang ke arahmu, kita akan dapat memanggang dagingnya dengan bantuan resi!” kata Keling Juwana sedikit keras.
Mereka semakin ramai dengan sedikit hiburan itu. Beberapa orang tampak sibuk menyajikan hidangan, dan rombongan Keling Juwana pun serba sedikit telah membenahi keadaan mereka agar terlihat pantas untuk bertemu dengan pemimpin Pajang.
Tidak lama kemudian, Ki Banyak Abang berjalan menghampiri mereka dan bergabung dalam pertemuan itu. Bhre Pajang telah mengirim seorang utusan untuk memanggil orang kedua yang bertanggung jawab atas keamanan Pajang setelah dirinya.
Saat matahari telah condong ke barat dan bergulir turun melewati puncak pohon, Bhre Pajang mengakhiri kegiatan tersebut.
“Pajang harus berterima kasih pada kalian. Dan aku secara khusus sangat bersyukur kalian dapat kembali ke rumah masing-masing dengan selamat. Aku harus bangga telah didampingi orang-orang bermartabat seperti kalian. Terima kasih telah menyelamatkan Bondan dan nama baik Pajang. Terima kasih telah menyelamatkan seluruh rakyat Pajang.” Demikian yang dikatakan oleh Bhre Pajang sebagai penutup pertemuan.
Demikianlah orang-orang lantas membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing dengan berbekal hadiah sewajarnya dari Bhre Pajang.
Bhatara Pajang mengayun kaki dengan langkah lebar. Dia ingin bicara satu dua patah kata dengan istrinya.
“Tentu aku telah mengetahui keadaan yang terjadi dan segala perkemabngannya, Nyi,” ucap Bhre Pajang ketika telah berada di dalam biliknya.
Nyi Wardhani mengangguk. “Adakah perintah khusus bagi saya, Bhatara?”
Bhre Pajang menghembus udara perlahan dari dalam dadanya. Dia berkata, “Satu perjalanan panjang. Dwipayana dan Banarseta akan menjadi pengiringmu.”
“Sertakan seorang perempuan dalam perjalanan ini,” Nyi Wardhani meminta tambahan.
Bhatara Pajang mengerti yang dimaksud oleh istrinya. Dia mengangguk lalu berkata, “Ken Aruman akan mendampingimu.”
Ken Aruman, seorang wanita yang memiliki kepandaian dan kecerdasan di atas rata-rata. Perempuan ini kerap menyertai Nyi Wardhani maupun Bhatara Pajang dalam banyak lawatan. Dia akan menjadi senjata pamungkas yang dapat digunakan oleh Nyi Wardhani apabila kebuntuan tidak kunjung dapat dipecahkan.
Setelah itu, Bhre Pajang berkehendak melanjutkan pembicaraan di bilik khusus bersama Resi Gajahyana dan Ki Banyak Abang. Paman Bondan itu akan memulainya sesaat setelah lintang senja menghilang dari angkasa.
