Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 108 – Perintah Pangeran Purbaya: Bayangi Agung Sedayu

Pada laga yang sedang berlangsung di jalur selatan, suasana tidak kalah mencekam dengan gelanggang Swandaru.

Debu-debu dan butiran tanah yang padat terlontar karena getaran tenaga yang terpancar dari Ki Garu Wesi dan Ki Garjita. Meskipun mereka bertarung sengit tapi kehati-hatian dan perhitungan cermat jelas tertangkap oleh mata-mata terlatih.

“Jika aku mati dalam perkelahian ini, setidaknya dia juga ikut serta agar kejadian itu tidak beredar setelah kematianku,” ucap Ki Garjita dalam hati.

“Itu ilmu yang mengagumkan ketika senjata dapat berubah-ubah,” kata Ki Garu Wesi mendapati kemampuan Ki Garjita yang luar biasa itu.

Saat selendang itu menjadi kaku seperti linggis raksasa dan menghantam putaran keris: tidak ada suara denting logam beradu! Tapi dentuman dan dentuman yang mampu mengguncang pohon sono dengan lingkar batang seukuran kelapa yang baru saja dipetik. Daun-daun pun berguguran karena sambaran liar angin tenaga cadangan. Tanah di bawah kaki mereka retak seakan menjadi parit-parit kecil karena hantaman yang tidak mengenai sasaran.

Lingkungan sekitar gelanggang pertarungan itu menjadi kacau sekali. Berantakan.

Dalam waktu itu, selendang Ki Garjita tidak lagi sekadar berdesing, tapi mulai sering mengeluarkan suara yang berbeda-beda. Kadang-kadang seperti gaung benda besar yang berputar cepat. Kadang-kadang juga seperti deburan ombak yang menghantam karang. Itu ungkapan lambaran tenaga cadangan yang luar biasa.

Di sisi lain, keris Ki Garu Wesi yang berputar seperti gasing masih mendengung tapi ada sedikit yang berbeda. Pusaran senjata Ki Garu Wesi seolah-olah dapat menyedot udara panas di sekitarnya. Maka sekitar lingkaran pertarungan pun terasa lebih dingin dibandingkan dengan udara regol permukiman.

Ini sangat aneh dan hampir tak masuk akal!

Ternyata dua pertempuran yang berlainan tempat dan terpisah jarak yang lumayan jauh itu bukan sekadar pembuktian diri, tapi lebih dari itu. Ada harga diri yang dipertaruhkan.

Pembuktian, siapa yang lebih pantas menyandang sebutan murid Kyai Gringsing? Swandaru atau Ki Hariman?

Mana yang lebih benar? Meneruskan kewajiban ketika sudah mengetahui hasil akhir berupa kekalahan atau berhenti tanpa merasa bersalah? Ki Garjita atau Ki Garu Wesi?

Dalam waktu berselisih setengah atau satu hari dengan perondaan ketiga, Agung Sedayu bergerak cepat meninggalkan kotaraja.

Langkahnya tidak banyak terhenti. Sangkal Putung menjadi persinggahan yang singkat—cukup untuk memastikan keadaan  putrinya dan Sekar Mirah serta anggota keluarga yang lain.

Agung Sedayu hanya menginap semalam di Sangkal Putung.

Pada keesokan pagi, Sekar Mirah meminta Agung Sedayu membawa tongkat dari Ki Jambuwok.

“Kakang,” kata Sekar Mirah ketika Agung Sedayu akan meninggalkan rumah. “Saya pikir, demi keamanan saya dan Sekar Wangi, tongkat ini…lebih baik dibawa Kakang kembali ke Tanagh Perdikan. Kakang bisa tempatkan ini di barak atau di rumah kita.”

“Baik, aku pikir memang lebih baik seperti itu,” kata Agung Sedayu setelah berpikir sejenak.

Perjalanannya berlanjut ke Jati Anom.

Pertemuan dengan Ki Tumenggung Untara tidak berlangsung lama. Serba sedikit kakak dan adik itu membicarakan yang perlu diketahui telah lebih dahulu sampai melalui jalur prajurit dan laporan barak. Tidak ada yang perlu diperlambat.

Agung Sedayu menyempatkan diri pula singgah di Perguruan Orang Bercambuk.

Namun Agung Sedayu tidak punya cukup banyak waktu.

Ki Widura memahami alasan keponakannya itu. Apalagi setelah dirinya menerangkan segala peristiwa yang terjadi di perguruan, maka sebagai mantan lurah prajurit Pajang, Ki Widura dapat memperkirakan tindakan-tindakan selanjutnya dari barak pasukan khusus.

Hanya sayang, perjalanan Agung Sedayu terhalang oleh waktu. Dia tiba di sisi Kali Progo saat malam sudah menjelang. Tukang-tukang satang sudah tidak tampak di dermaga penyeberangan.

Matahari baru menampakkan kening saat Agung Sedayu menaiki perahu yang akan membelah aliran Kali Progo. Beberapa menampakkan wajah penuh semangat menyongsing harapan di Tanah Perdikan. Dengan senyum getir di dalam hati sambil mengusap tongkat Ki Jambuwok yang terbungkus kain, Sedayu membatin, “Alangkah damai wajah-wajah itu.”

Agung Sedayu mengangkat pandangannya lurus menatap jalur yang mengarah ke pedukuhan induk. Cahaya matahari menyentuh permukaan tanah Menoreh dan suasana tak lagi samar.

Ketika senapati pasukan khusus yang kini berpangkat tumenggung itu tiba di pedukuhan induk, maka tujuan pertamanya adalah kediaman Ki Gede Menoreh.

Pertemuan itu berlangsung tanpa banyak kata pembuka. Ki Gede hanya menyampaikan yang pokok—perondaan ketiga telah berjalan. Selain itu, dia mengungkapkan sepintas perkembangan di Dusun Benda, yang sempat dilihatnya bersama Pandan Wangi ketika berkunjung ke sana. Tidak lebih dari itu, tapi sudah cukup bagi Agung Sedayu untuk memahami bahwa keadaan telah bergerak lebih jauh dari perkiraan semula.

Agung Sedayu tidak tinggal lama.

Dari kediaman Ki Gede, dia segera menuju barak pasukan khusus.

Di dalam bilik Agung Sedayu, setelah senapati itu menilik keadaan Ki Sor Dondong yang bernagsur memabik, Ki Rangga Sanggabaya melaporkan seluruhnya dengan cukup ringkas, jelas dan nyaris tidak meninggalkan perkara penting.

Akses penuh ke pustaka digital Paepokan Witasem. Caranya? Sisihkan sedikit demi kelestarian dan kebersamaan.

Perondaan pertama dan kedua telah dilakukan tanpa hasil yang berarti.  Benturan pada perondaan kedua. Tetapi perondaan ketiga berbeda. Susunan kekuatan telah ditetapkan, dan Ki Rangga Wedoro Anom berada di depan sebagai pemimpin. Nama-nama lain menyusul—Ki Demang Brumbung, Glagah Putih, serta pengawal Tanah Perdikan yang dilibatkan dalam jumlah terbatas.

Agung Sedayu mendengarkan tanpa menyela meski sekali-kali mengerutkan kening.

Sejenak dia memandang halaman barak yang lengang sambil menjalin seluruh keterangan yang sudah berkumpul dalam benaknya. Tanpa menunggu lebih lama, Agung Sedayu pun mengarahkan perhatian ke lereng Gunung Kendil.

Dia memilih berjalan kaki, seorang diri.

Yang terjadi pada lingkar pertarungan Sayoga sungguh menakjubkan.

Pengawal Menoreh berusia muda itu mampu mengimbangi Ki Wiraditan yang jauh lebih berpengalaman dan luas wawasannya.

Sayoga memang belum sepenuhnya menguasai lawannya yang memainkan cambuk dengan gaya yang aneh—menurut pemahamannya. Sejauh dia melihat Agung Sedayu berlatih, tata gerak Ki Wiraditan jelas berbeda.

Dalam perkelahian yang menggetarkan itu, sambaran dan kecepatan Ki Wiraditan benar-benar mengungkap kedalaman ilmunya.

Namun, Serat Waja yang dikuasai Sayoga bukan saja mampu melontarkan tenaga cadangan, tapi juga menyerap sifat keras dari benturan. Berlandaskan petunjuk Kyai Bagaswara tentang simpul pelepasan dan susunan pertahanan, dalam waktu singkat Sayoga mampu menguasai simpul-simpul itu, sehingga setiap serangan Ki Wiraditan dapat diserap, diredam, lalu dikembalikan menjadi pantulan tenaga.

Karena itu, aliran gerakan Ki Wiraditan yang dahsyat pun tak cukup kuat membendung kehebatan Sayoga.

Putaran cambuk Ki Wiraditan menggetarkan udara, terus menekan, menyambar leher dan dada. Tapi Sayoga, dengan keberanian luar biasa, mampu mengimbanginya—pedang kayunya berputar seperti baling-baling, menahan sekaligus membalik tekanan itu menjadi serangan balasan yang dahsyat.

Perkelahian yang semakin seru itu pun berubah menggiriskan. Tidak ada yang menyangka, sebatang kayu yang dibentuk seperti pedang ternyata menyimpan kekuatan yang nggrigisi.

Tata gerak Sayoga semakin lama semakin berat mendesak Ki Wiraditan.

Ketika serangan Sayoga datang menekan, Ki Wiraditan cepat menyambar datar lalu menghentak dengan lecutan sendal pancing. Tapi Sayoga sudah bersiap. Dia sigap mengubah arah serangan. Ki Wiraditan terpancing lalu terpaksa membenturkan senjatanya pada pedang Sayoga.

Tekanan Sayoga yang berat dirasakan oleh Ki Wiraditan semakin berat. Orang ini mulai merasakan kelelahan yang datang terlalu cepat. Dia sempat sendiri terheran-heran oleh keadaannya. Setiap benturan membuat lengannya semakin berat, bergetar atau kesemutan seolah-olah sedang bertempur dengan raksasa yang mampu menggandakan tenaga.

Sesungguhnya, setiap serangan yang bertemu dengan Sayoga tidak hilang begitu saja. Tenaga cadangan Ki Wiraditan itu diserap, diredam, lalu dipantulkan kembali oleh Sayoga yang pastinya juga sudah dilambari kekuatan Serat Waja sendiri. Dengan begitu Ki Wiraditan pun menerima hantaman dengan kekuatan yang sudah berlipat ganda.

Namun Ki Wiraditan tidak mengetahui hal itu. Yang ia rasakan hanyalah tangannya bergetar hingga pangkal pundak. Kepalanya berdenyut sangat kuat dari dalam.

Pandang mata Ki Wiraditan mulai kabur. Gerakannya tak lagi seimbang meski belum berpengaruh pada kecepatan. Bayangan putus asa merayap perlahan dalam benaknya. Tetapi dia tidak dapat mundur dan tidak pula berpikir untuk menyerah.

Dia tetap bertahan.

Sayoga melihat sedikit celah pada pertahanan Ki Wiraditan.

Tubuhnya berputar rendah, satu tangan menjejak tanah dengan ujung jari sebagai tumpuan. Gerak itu ringan, nyaris tanpa suara, ketika dia menyusup masuk ke dalam lingkar jangkauan cambuk.

Ki Wiraditan terlambat menyadari.

Siku Sayoga lebih dahulu menghantam dada. Berturut-turut tinju Sayoga menyusul cepat, menekan titik yang sama. Serangan itu belum berhenti. Lutut Sayoga terangkat, menghunjam ke bagian bawah dada, mengguncang keseimbangan Ki Wiraditan yang sudah goyah. Sebelum musuhnya dapat tegak kembali, Sayoga mengayun pedang kayu, berputar pendek, lalu menghantam keras tepat di dada.

Tubuh Ki Wiraditan terlempar surut, kehilangan seluruh kendali, tumbang dan tidak bernapas lagi.

Sesuai pesan khususnya pada Agung Sedayu sebelum pemimpin pasukan khusus itu menuju Sangkal Putung lalu Jati Anom, Pangeran Purbaya pun menerima berita rahasia dari petugas sandi: Agung Sedayu bergerak menuju Tanah Perdikan.

Tak lama setelah menerima laporan sandi, Pangeran Purbaya memerintahkan Ki Wira Sentanu segera membayangi Agung Sedayu meski jarak waktu sudah cukup jauh.

Maka ketika Agung Sedayu melintasi gerbang kota untuk menuju Tanah Perdikan, dari pintu samping Keraton, di jalur yang  lain, Ki Wira Sentanu menjalan perintah Pangeran Purbaya dengan  sedikit pertanyaan dalam hatinya.

Kapan Agung Sedayu keluar dari Kepatihan?

Kapan Agung Sedayu keluar dari Keratong?

Bila ada perbedaan waktu yang cukup lama, bukankah membayangi Agung Sedayu adalah pekerjaan sia-sia? Untuk tujuan apakah Pangeran Purbaya dengan perintah ini?

“Aneh,” kata Ki Wira Sentanu dalam hati.

Selepas dirinya keluar dari lingkungan Keraton, Ki Wira Sentanu berhenti di sebuah kedai kecil yang berdiri di tepi jalan penghubung kademangan. Kedai itu tidak ramai. Hanya dua atau tiga orang yang duduk tanpa banyak bicara.

Beberapa saat kemudian, seorang lelaki lain datang. Tidak langsung mendekat. Dia duduk bersebelahan dengan Ki Wira Sentanu, memesan minum, lalu menoleh sepintas.

Lelaki itu mendekat dengan sikap biasa.

“Kami telah bergeser ke Kendil, Kyai,” katanya pelan. “tapi ada  teguran dari pihak pengawal dan pasukan khusus di Tanah Perdikan. Ki Ajar berpendapat bahwa keadaan di lereng Kendil tidak cukup wajar tapi patut dicoba.”

Ki Wira Sentanu menuangkan wedang, perlahan.

“Siapa yang memimpin lereng Kendil?” tanyanya singkat.

“Saya tidak berani memastikan karena keadaan di sana masih dapat berubah,” jawab orang itu.

Ki Wira Sentanu mengangguk lalu memberi tanda dengan gerakan tangan perlahan. Tidak ada percakapan lagi.

Mereka berdua pun beranjak lalu memisahkan diri seolah tidak saling mengenal.

Menjelang senja, dia telah sampai di tepian Kali Opak.

Arus air tidak terlalu deras dan suasana belum begitu gelap. Ki Wira Sentanu tidak memaksakan diri untuk menyeberang. Dia memilih berhenti. Mencari tempat yang cukup tinggi dan kering, lalu beristirahat tanpa menyalakan api.

Malam berjalan tanpa peristiwa yang berarti.

Di seberang, lebih dahulu dari waktu yang seharusnya, seorang perempuan telah tiba. Kinasih.

Nyi Banyak Patra mengubah rencana. Bila sebelumnya dia ingin Kinasih menyusul Sedayu di Sangkal Putung, tapi sebuah alasan muncul menghadang rencana itu.

Jika Kinasih terlihat pergi bersama Agung Sedayu, itu akan mengekang Agung Sedayu sendiri. Dia tidak dapat bergerak leluasa jika menemui hambatan di segala tempat yang memungkinkan. Entah di Sangkal Putung, Jati Anom atau Kali Progo. Tidak, mereka harus terpisah, pikir Nyi Banyak Patra.

Maka demi menjalankan rencananya membayangi Ki Wira Sentanu karena kecurigaan yang belum mendapatkan bukti, Nyi Banyak Patra menyebar prajurit kepercayaan mendiang Ki Patih Mandaraka untuk mengamati pergerakan Ki Wira Sentanu.

Kinasih yang sama sekali buta mengenai wajah dan bentuk tubuh Ki Wira Sentanu pun tidak banyak menemui kesulitan.

Orang-orang yang digerakkan gurunya ternyata mampu bekerja baik dengan dengan cara yang berbeda.Di setiap persimpangan, di setiap lintasan yang mungkin dilewati, ada orang-orang yang telah diberi pesan: memperhatikan satu ciri—cara berjalan, pilihan jalur, dan kecenderungan untuk tidak berlama-lama di satu tempat. Tapi kebiasaan Ki Wira Sentau terlalu mudah diketahui bahwa dirinya terbiasa singgah di kedai setiap kali keluar dari Keraton.

Kinasih menerima keterangan dengan cara berlapis dari orang yang berbeda dan pada tempat yang berlainan pula. Dia sudah terbiasa dengan kegiatan semacam itu. Maka Kinasih dapat bergerak lebih cepat.

Di luar gerbang Kotaraja, petugas sandi dari Kepatihan sudah menunggunya. Mengatakan bahwa Ki Wira Sentanu sudah melewati gerbang ketika waktu sudah menjelang sore.

Sesampainya di pinggir Kali Opak, Kinasih memutuskan untuk menyeberangi lebih dahulu, mengambil sisi barat sebelum malam benar-benar turun. Dari tempat yang tersembunyi di antara semak dan batuan, dia dapat mengawasi tepian seberang tanpa terlihat.

Ketika Ki Wira Sentanu tiba lalu memilih bermalam di sana, Kinasih dan petugas sandi dari Kepatihan sudah melihatnya.

“Saya tetap berada di sini sampai besok pagi, Ni Sanak,” kata petugas sandi itu. “Perintah Nyi Ageng sangat jelas bahwa saya tidak boleh meninggalkan tempat hingga Anda mengenali rupa dan tubuh orang itu.”

“Saya mengerti,” ucap Kinasih disetai anggukan kepala.

Sejenak kemudian, mereka berpencar dengan perhatian tetap terpusat pada ki Wira Sentanu.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 11 – Jaring Siasat Ki Patih Mandaraka

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 84 – Upaya Menjebak Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 35 – Awal Kehendak Besar di Ringinlarik

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.