0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 33 – Kabut di Pancuran Watu Item

Agung Sedayu dan Swandaru kembali berhadapan di Pancuran Watu Item. Pertarungan dua murid utama Kyai Gringsing dibuka dengan benturan tenaga cadangan Perguruan Orang Bercambuk yang mengguncang sungai dan mengejutkan dunia persilatan.

Dilihat 228 kali

Dia belum terlalu lama berdiri di Pancuran Watu Item ketika sebuah bayangan datang meluncur dari arah pedukuhan induk. Bayangan itu bergerak cepat seperti setan yang sedang menuruni bukit, kadang berloncatan dari batu ke dahan, kadang melayang ringan melewati semak dan akar-akar yang mencuat di permukaan  tanah. Kelincahan yang mungkin jauh lebih baik daripada burung sriti ketika berbelok atau berganti arah.

Agung Sedayu tidak mengurangi kecepatannya meskipun jalan setapak semakin sulit dikenali dalam kegelapan. Kemampuan murid Kyai Gringsing ini sudah tidak butuh pembuktian lagi. Dia tidak pernah ragu memilih pijakan lalu melenting di antara batu-batu besar. Menggunakan tangan untuk berayun melewati bagian terjal, kemudian meluncur turun mengikuti lekuk lereng.

Deru air terjun semakin jelas terdengar di telinganya.

Dua atau tiga kejap mata kemudian, Agung Sedayu melayang melewati batang pohon besar yang tumbang sebelum kakinya menjejak dasar sungai yang dangkal di bawah air terjun.

Nyaris tidak ada riak yang menyebar di sekeliling kakinya. Jadi dapat dibayangkan betapa ringan tubuhnya saat itu!

Agung Sedayu melangkah beberapa langkah dari Swandaru tanpa keluar dari badan sungai.

Mereka saling memandang. Tanpa senyum. Tanpa sapaan.

Deru air terjun memenuhi ruang di antara mereka.

Sedayu melihat wajah yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun. Wajah yang pernah berdiri di sisinya dalam banyak pertempuran dan kesulitan. Namun pada saat itu, semua kenangan itu tersimpan jauh di dasar hati mereka masing-masing. Yang tampak di permukaan hanyalah dua orang yang sedang memikul keyakinannya sendiri.

Swandaru tidak segera bergerak. Agung Sedayu pun demikian.

Mereka berdiri berhadapan dalam kabut dan percikan air yang beterbangan.

Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tidak ada lagi yang perlu diperbantahkan. Mereka telah mengetahui alasan masing-masing, dan pengetahuan yang membuat pertemuan mereka pada dini hari itu terasa lebih pahit daripada kemarahan atau pertengkaran.

Itu adalah waktu yang cukup lama bagi orang-orang yang datang diam-diam menyaksikan pertarungan dua murid Kyai Gringsing. Termasuk bagi Nyi Banyak Patra yang kedatangannya sama sekali tidak diketahui oleh orang-orang berilmu tinggi lainnya. Jika sebagian dapat melihat kelebat bayangan menuju ke sebuah tempat, tapi pergerakan perempuan senja berwibawa agung ini seakan-akan sudah ada di sekitar Pancuran Watu Item sebelum kedatangan Swandaru.

Padahal sebelum itu, Nyi Banyak Patra masih sempat menyapa lalu bercakap singkat dengan Ki Rangga Sanggabaya di sisi selatan Pancuran Watu Item.

Pada awal perjalanannya sebelum mencapai puncak kekuasaan di Tumapel, Ken Arok tumbang ketika menjalankan aksi. Baca di SINI

Telah tersedia versi PDF, kontribusi 75 ribu demi keberlangsungan bacaan yang seluruhnya dinikmati gratis.

Tersedia pula cetakan hard cover, hitam putih, 124 hal, 115 rb, hubungi Padepokan Witasem

Rahayu – Matur Nuwun

Di bawah air terjun.

Swandaru memulai gerakan dari tempatnya berdiri. Sepasang kaki Swandaru bergeser perlahan seolah sedang menggambar pola tertentu di dasar sungai. Sepasang tangannya berayun dan berputar dengan gerakan yang lambat sehingga tampak seperti tarian. Tapi, sesungguhnya itulah tata gerak dasar Perguruan Windujati. Jurus itu hanya digunakan dalam perkelahian jarak jauh, mengandalkan pengerahan tenaga dari setiap putaran dan sambaran.

Dari setiap ayunan lengannya melesat gelombang udara padat yang cukup dahsyat untuk menjebol perut seekor kerbau. Seketika permukaan air bergelombang aneh, lalu terbelah membentuk lekukan lebar, memanjang hingga tempat Agung Sedayu berdiri.

Agung Sedayu bergeser selangkah ke samping. Air tersibak cukup halus tapi hembus angin begitu kencang hingga rambutnya yang terurai pun berkibar.

Senapati Mataram itu mengerutkan kening. Dia ingat ini pengulangan masa lalu ketika Swandaru memulai dari tingkatan dasar.

Namun Agung Sedayu sudah jauh berbeda dengan masa itu. Dia jauh lebih dewasa maka serangan permulaan itu sama sekali tidak membuatnya tersinggung. Dulu, dia merasa direndahkan oleh adik seperguruannya itu. Sekarang sudut pandangnya sudah berbeda. Yang dilakukan Swandaru, bagi Agung Sedayu, adalah sesuatu yang wajar dan sejalan dengan permintaan Swandaru sendiri; perang tanding hanya dilakukan dengan jalur ilmu Perguruan Orang Bercambuk.

Pertarungan itu belum benar-benar mulai, meskipun gelombang tenaga cadangan Swandaru telah dilontarkan dengan akibat yang membuat orang berdecak kagum.

Sama halnya dengan Swandaru, Agung Sedayu membuka tata gerak dengan cara lambat. Tangannya berayun pada arah yang berlainan dengan Swandaru. Sepasang tangannya menguncup, bergerak naik lalu membuka lebar-lebar. Air dan kabut terangkat naik kemudian berputar mengelilingi tubuhnya saat tangan Agung Sedayu mencapai depan wajah.

Sekejap kemudian Sedayu mendorong dua telapak tangannya ke depan. Sambaran tenaganya meluncur bersama pusaran kabut dan percikan air yang menyertainya. Tekanan gelombang itu telah terasa bahkan sebelum inti tenaga mencapai tempat Swandaru berdiri.

Swandaru mengelak, sedikit. Tapi percikan air yang datang bersama inti tenaga dapat menyentuh tubuhnya. Seketika dia dapat menakar kekuatan kakak seperguruannya itu.

Kemudian, Agung Sedayu melakukan sesuatu yang berada di luar kebiasannya dan juga perkiraan banyak orang.

Dia menyerang terlebih dulu dari tempatnya berdiri dengan gelombang panjang tenaga cadangan yang bersumber dari Perguruan Windujati. Lengannya tidak lagi bergerak lambat tapi seperti sedang bertarung dalam jarak dekat. Sepasang tangan senapati Mataram ini benar-benar menyerang bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Seandainya dilakukan dalam jarak dekat dan mengenai dada atau leher Swandaru, maka hampir pasti terjadi adalah ada tulang yang patah atau remuk, sungguh!

Swandaru sedikit terperanjat tapi dia cepat mengimbanginya dengan tangkisan-tangkisan yang menyebabkan udara di sekitarnya bergetar. Sekali waktu, dia membalas serangan, mengayunkan tangannya datar, menebas lambung. Kabut terayun mengikuti aliran tenaga cadangan sehingga tampak seperti cambuk yang panjang.

Agung Sedayu cepat menutup bagian lambung dengan siku yang menutup rapat. Jika tidak, hantaman tenaga cadangan Swandaru dapat merusak isi perutnya.

Benturan dua tenaga cadangan yang berasal dari satu sumber ilmu yang cukup tua pun mengguncang lingkungan sekitar. Akibatnya, permukaan sungai bergetar lalu bergolak hebat. Sebagian menjulang seperti tiang penyanggah beranda, lalu turun dan ketika membentur dasar sungai maka terbentulah lingkaran yang lebar dengan bagian tengah terkuak seperti lubang besar.

Serangan Swandaru tidak berhenti. Dia memutar lengan menggerakkan kabut tipis di sekitarnya seperti sedang memainkan cambuk. Maka kabut pun bergulung rapat mengikuti putaran tenaga cadangannya, memanjang dan melenting ke udara seperti cambuk putih yang menebas datar maupun silang menekan Agung Sedayu.

Ki Demang Brumbung bertukar pandang dengan Ki Sanggabaya lalu sama-sama mengangguk. Pandan Wangi dan Kinasih saling menguatkan melalui jalinan jemari mereka. Sementara Ki Gede tampaknya percaya penuh pada Agung Sedayu. DI SINI

Agung Sedayu mulai menggeser langkah. Ke samping, ke belakang, lalu ke depan, tanpa mengubah tata geraknya yang tetap berpusat pada dua tangannya. Setiap lecutan dan sambaran cambuk kabut itu disambut oleh putaran tangannya yang luwes. Kadang menolak, kadang menangkis, bahkan sesekali menghantam juluran kabut yang memanjang ke arahnya. Pada saat dua kekuatan itu bertemu, terdengar dentuman-dentuman halus yang kadang terdengar, kadang juga tidak karena begitu halus tapi justru selalu menimbulkan riak kecil di permukaan sungai.

Pangeran Selarong melihat itu semuanya dengan napas tertahan tanpa sadar. Dari tempat lain, Nyi Banyak Patra mengangguk-angguk tenang. Sedangkan beberapa orang yang rapat bersembunyi melihat pertarungan itu dengan berbagai pikiran di dalam benar mereka.

“Jika itu adalah permulaan, lalu bagaimana dengan puncak ilmu Perguruan Orang Bercambuk?”

“Seperti inikah dua murid utama Kyai Gringsing bertarung? Yang katanya sulit dicari tandingannya tapi tampak seperti dua gembala yang bermain air?”

Swandaru, benar-benar memperlihatkan kemajuan yang dahyat sejak meninggalkan pertempuran di Watu Sumping. Selama berada di permukiman lereng Kendil, keberadaan Ki Astaman dan Ki Garjita di dekatnya, secara langsung maupun tidak, telah membantunya menyelami lapisan-lapisan ilmu Perguruan Orang Bercambuk yang selama ini masih tersembunyi.

Agung Sedayu sendiri tidak memungkiri kenyataan itu. Di tengah putaran tangan dan langkahnya yang tidak pernah berhenti, diam-diam dia mengagumi perkembangan adik seperguruannya. Setiap serangan Swandaru mengandung ketepatan yang lebih matang, sementara tenaga cadangannya mengalir lebih utuh dan lebih terkendali daripada sebelumnya.

Swandaru telah melangkah jauh, desisnya dalam hati.

Bahkan Agung Sedayu mulai melihat sesuatu yang dahulu tidak dimiliki Swandaru. Bahwa dia tidak lagi memburu kemenangan dengan ledakan-ledakan tenaga yang kasar. Kini dia mampu mengendalikan diri kemudian sabar menunggu demi memaksa lawan larut ke cara bertempur yang dikehendakinya.

Sejenak Agung Sedayu merasakan kebanggaan yang sulit dijelaskan. Mereka pernah belajar dari guru yang sama, menempuh jalan yang sama, dan kini berdiri berhadapan sebagai dua orang yang telah tumbuh melampaui bayangan diri mereka di masa lalu.

Kebanggaan yang tumbuh lalu berhenti karena digantikan oleh kegetiran yang tiba-tiba datang. Namun justru karena itulah Agung Sedayu menjadi semakin waspada. Dia sadar penghargaan terhadap kemampuan lawan adalah awal dari kewaspadaan yang sejati. Kegetiran pun bukan alasan kuat baginya untuk mengalah dan juga bukan pendorong hebat untuk keluar sebagai pemenang.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.