0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 32 – Pagi di Kotaraja: Sebuah Laporan Diungkapkan

Dilihat 252 kali

Ketika malam meninggalkan Agung Sedayu dan Tanah Perdikan Menoreh dengan pikiran yang sibuk serta berbagai bayangan yang berusaha merebut ruangan, keesokan pagi di Kotaraja, dua orang panji sudah berada di depan bilik kerja Pangeran Purbaya.

Mereka berdua sudah mencapai kesepakatan dengan Ki Wira Sentanu tentang beberapa keadaan. Salah satunya adalah memberi laporan langsung pada Pangeran Purbaya mengenai keadaan terakhir di Tanah Perdikan. Namun mereka tidak akan memintakan izin kelonggaran agar Ki Wira Sentanu dibolehkan meninggalkan pekerjaan barang sejenak.

Yah, tentu saja mereka sadar bahwa Pangeran Purbaya dapat mencurigai bahwa ada sesuatu yang terhubung di antara mereka bertiga. Kecurigaan pasti muncul karena hari itu adalah hari terdekat dengan yang akan berlangsung di Pancuran Watu Item.

Pangeran Purbaya menemui Ki Panji Suralaga dan Ki Panji Danutirta tanpa disertai banyak dugaan di dalam benaknya. Wajahnya cukup tenang meski kedatangan mereka berdua agak di luar kewajaran.

“Tentu saja ada hal genting yang memaksa mereka bertindak di luar kewajaran,” ucap Pangeran Purbaya dalam hati.

Usai menyampaikan kabar berita yang ringan, Ki Panji Suralaga mengubah sedikit kedudukannya. Wajahnya tampak sungguh-sungguh dan napasnya benar-benar ditata.

“Pangeran,” kata Ki Panji Suralaga rendah. “Tanah Perdikan seolah tidak pernah memasuki masa tenang sejak gerakan makar Raden Atmandaru dipadamkan. Keributan demi keributan masuk dan pergi tanpa penyelesaian yang tegas dan jelas.”

Pangeran Purbaya mengangguk dengan pandang mata lurus menatap permukaan meja.

Lantas orang yang dekat dengan Ki Wira Sentanu itu mengungkapkan peristiwa demi peristiwa yang menurutnya sudah merusak tatanan Tanah Perdikan. Perondaan ketiga, meski dianggapnya berhasil, Ki Panji Suralaga memberi pandangan yang justru melemahkan peranan Agung Sedayu.

“Jika bukan karena kehadiran orang yang bernama Ki Garu Wesi, seluruh pasukan Mataram…—hampir seluruhnya tidak dapat diselamatkan hanya dengan mengandalkan Ki Demang Brumbung seorang diri,” lanjut Ki Panji Suralaga. “Sedangkan Ki Garu Wesi sendiri adalah tahanan perang yang mendapatkan hak istimewa di barak pasukan khusus.”

“Di manakah Ki Tumenggung saat perondaan ketiga dijalankan?” bertanya Pangeran Purbaya.

Ki Panji Suralaga tampak gelagapan. Dia baru ingat bahwa Agung Sedayu masih berada di Kepatihan saat kegiatan penertiban di lereng Kendil itu dilaksanakan. Dia juga baru sadar bahwa keberadaan Agung Sedayu di Kepatihan itu atas perintah Sunan Agung. Tapi dia tidak kehilangan pegangan, maka jawabnya, “Ki Tumenggung berada di Kepatihan, tapi seharusnya perondaan ketiga dijalankan saat beliau hadir pula di Tanah Perdikan.”

Pangeran Purbaya kembali mengangguk sambil melirik orang di samping Ki Panji Suralaga, Ki Panji Danutirta.

Penuh kepercayaan diri dan keyakinan yang kuat, Ki Panji Suralaga meneruskan, “Keberhasilan di lereng Kendil itu ternyata membawa masalah baru yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika Ki Tumenggung tegas.”

Dengan kening berkerut, Pangeran Purbaya bertanya hati-hati, “Bagaimana itu, Ki Panji?”

“Menerima tantangan perang tanding di Pancuran Watu Item,” jawab Ki Panji Suralaga dengan jantung berdetak lebih cepat. Dia yakin Pangeran Purbaya sudah barang tentu mengetahui hal itu, tapi dia belum tahu tanggapan para pembesar Mataram.

“Lalu, bagaimana baiknya menurut Ki Panji?”

Ki Panji Suralaga sedikit membungkuk di atas kursinya. “Saya kira itu pasti menyulitkan Ki Tumenggung Agung Sedayu.”

“Saya paham,” ucap Pangeran Purbaya. “Ki Tumenggung Agung Sedayu tidak mempunyai banyak pilihan.”

Putra Panembahan Senapati itu menatap bergantian dua panji Mataram yang duduk agak jauh tapi berhadapan dengannya. Katanya kemudian, “Bahkan ketika Ki Garu Wesi turut terlibat dalam pertempuran lereng Kendil, saya pikir itu tidak menjadi pilihan yang disengaja oleh Ki Tumenggung Agung Sedayu. Jadi, adakah sesuatu yang ingin Ki Panji berdua sampaikan pada saya atau Sinuhun?”

Ki Panji Suralaga mengangguk dalam-dalam. Dia menyembunyikan pandangan mata saat melirik Ki Panji Danutirta. Persis seperti yang dikatakan Ki Sentanu padanya semalam. “Lemahkan Agung Sedayu lalu sebut nama seorang tahanan, maka Pangeran Purbaya akan membuka jalan.”

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki file PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, kami akan kirimkan tautan agar tidak menyita banyak ruang di penyimpanan. Silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem di SINI.

Matur nuwun

Maka Ki Panji Suralaga pun mengatakan hampir sama persis dengan pesan Ki Wira Sentanu padanya: ajukan lalu angkatlah nama Ki Panji Danutirta sebagai orang yang tepat menggantikan kedudukan Agung Sedayu di barak pasukan khusus. Uraikan pengalaman dan cara Ki Panji Danutirta saat menangani persoalan.

Tanpa sedikit pun keinginan untuk menyela, Pangeran Purbaya mendengar dan menerima itu semua sebagai bahan pertimbangan nantinya di depan Sinuhun.

Usai Ki Panji Suralaga mengatakan seluruh pemikiran dan pesan-pesan Ki Wira Sentanu yang dititipkan padanya, Pangeran Purbaya lantas berkata, “Saya akan membawa seluruh perkataan Ki Panji sebagai pertimbangan. Sunan Agung jelas akan memperhatikan setiap keadaan atau perkembangan yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh.”

Pangeran Purbaya lantas menyambung dengan kalimat-kalimat yang bernada dukungan dan pembakar semangat pada dua panji tersebut. Sebagai akhir pertemuan, Pangeran Purbaya pun mengatakan beberapa pesan pada dua pembesar Mataram itu.

Untuk beberapa waktu lamanya, Pangeran Purbaya merenung di dalam bilik kerjanya. Sesekali terdengar hembus napas perlahan darinya. Bukan karena sosok Agung Sedayu yang sedang ditekan secara tidak langsung dari sejumlah orang, tapi mengenai sesuatu yang mengusiknya selama ini. Sedangkan dia sendiri sudah mengabaikan duel Pancuran Watu Item.

Benar, Pangeran Purbaya tidak merisaukan keadaan Agung Sedayu menjelang pertarungan itu. Tidak pula gelisah mengenai kitab Kyai Gringsing yang masih belum diketahui keberadaannya. Tapi, berurusan dengan orang yang dekat dan cukup dipercaya Sunan Agung adalah permasalahan yang sangat penting.

Dalam waktu itu, dia berencana untuk mengundang Nyi Banyak Patra lalu bicara berdua dengan guru Kinasih tersebut.

Hari menjelang siang ketika Nyi Banyak Patra turun dari kereta kuda. Langkah kakinya yang tertatih-tatih sama sekali tidak sanggup menyembunyikan keanggunan dan wibawa yang luar biasa. Sikapnya cukup tenang dan sanggup menyamarkan kewaspadaan yang tinggi. Melalui panggraita yang berpadu selaras dengan kesaktiannya, Nyi Banyak Patra mampu mengetahui kehadiran seseorang berilmu tinggi meski mereka terpaut jarak yang cukup jauh. Bukan lima belas atau tiga puluh langkah, tapi orang itu berada di dekat gerbang istana raja.

Orang itu tampak mengerutkan kening ketika melihat putri kerajaan itu datang seorang diri, membuat dugaan-dugaan yang dibangun berdasarkan pengamatan dan penilaiannya sendiri. Bagaimana Pangeran Purbaya mengundang Nyi Banyak Patra untuk datang ke kediaman? Mengapa penyampaian undangan itu bisa lolos dari pengamatannya?

Ki Wira Sentanu kembali geram pada dirinya sendiri. Dia sudah terperdaya oleh putra Panembahan Senapati mungkin dua kali atau lebih. Tapi yang sangat kuat membekas dalam ingatannya adalah malam saat dirinya membayangi Agung Sedayu hingga masuk ke rumah Pangeran Purbaya. Kejadian itu sangat memalukan dirinya meski tidak ada orang yang tahu selain Agung Sedayu, Pangeran Purbaya dan Sunan Agung serta Nyi Banyak Patra.

Sesaat kemudian, dia sadar bahwa dirinya tidak lagi bisa bergeser lebih dekat lagi untuk menguping isi pembicaraan. Kehadiran Nyi Banyak Patra sudah menjadi tanda bahaya bagi dirinya. Selebihnya dia hanya bisa bertumpu pada keterangan Ki Panji Suralaga bahwa seluruh isi pembicaraan akan disampaikan di hadapan Sunan Agung.

Duel Pancuran Watu Item

Swandaru meluncur turun.

Murid Kyai Gringsing ini menuruni lereng Kendil dengan kecepatan yang belum pernah tampak darinya sepanjang pengenalan orang atas kemampuannya.

Kegelapan masih rapat menyelubungi batang-batang pohon dan batu-batu besar yang basah oleh embun malam. Seolah saat itu keadaan sudah terang benderang ketika sepasang kaki Swandaru tepat menginjak tanah maupun batu sebagai pijakan. Sekali-kali dia melenting rintang di antara dahan atau ranting pohon yang membujur-lintang menghadang jalurnya. Dari kejauhan, gerakannya sudah seperti bayangan yang melesat terbang dari puncak Gunung Kendil. Pada penghujung malam itu, Swandaru seakan bukan lagi terlihat sebagai orang yang sedang berlari.

Angin dingin dan semburan air menabrak wajahnya ketika semakin dekat dengan air terjun yang sulit dijangkau orang biasa, Pancuran Watu Item. Lereng yang curam dan jalan setapak yang licin dan terjal ternyata tidak cukup mampu memperlambat langkahnya. Swandaru berpindah dari satu pijakan ke pijakan berikutnya dengan ketepatan yang nyaris tidak terlihat oleh mata biasa.

Dalam gelap yang masih menguasai Pancuran Watu Item, kecepatan Swandaru seperti membuat tubuhnya menghilang di antara batu-batu dan pepohonan: sulit diikuti oleh pandang mata sekalipun oleh orang-orang berkemampuan tinggi.

Di Pancuran Watu Item, malam seakan bertahan lebih lama. Dinding batu yang menjulang, percikan air yang berhamburan, serta kabut lembap yang terus bergulung dari bawah air terjun membuat kegelapan tetap menebal di antara batu-batu hitam.

Dari beberapa jurusan yang berlainan, tampak sejumlah bayangan berlompatan lalu berhenti di tempat yang berjauhan. Mereka tampaknya adalah para tokoh yang mencapai tingkat puncak ilmu masing-masing karena gelanggang Pancuran Watu Item bukan tempat yang mudah dijangkau. Apalagi di sekelilingnya sudah terdapat penjagaan yang dilakukan oleh pasukan khusus dan pengawal Tanah Perdikan.

Hanya Pangeran Selarong saja yang diizinkan masuk oleh Ki Rangga Sanggabaya.

Pangeran Selarong? Yah, benar.

Putra Panembahan Hanykrawati itu hadir bersama Nyi Banyak Patra ke Pancuran Watu Item. Mereka datang selain atas permintaan Pangeran Purbaya, juga ada sebab yang lain: berjaga-jaga ada kemungkinan buruk yang mengarahkan sasaran pada dua murid Kyai Gringsing tersebut.

Kabut itu menutup ruang pandang di sekitar pancuran sehingga kegelapan terasa lebih padat daripada di lereng-lereng bukit. Bahkan mata yang telah terbiasa dengan malam pun harus bekerja lebih keras untuk membedakan batu, pohon, dan manusia yang berdiri tidak terlalu jauh.

Terlalu pagi? Agaknya tidak. Swandaru mengenal Agung Sedayu lebih baik daripada kebanyakan orang. Dia mengetahui kebiasaan Agung Sedayu. Maka dalam sekejap, Swandaru sudah berdiri tegak di antara batu-batu basah, sekokoh batu hitam yang menjulang di tebing air terjun.

Benarlah dugaan Swandaru.

Bara di Borobudur? Kelanjutan dari Langit Hitam Majapahit. Menarik untuk dibaca. Di SINI

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.