Dilihat 244 kali
Dua orang itu seolah sadar bahwa orang yang baru masuk itu tidak berada di salah satu kubu. Tapi mereka sudah menggelapkan mata: masuk gelanggang berarti menjadi lawan!
Pikiran yang benar-benar gila!
Perkelahian pun sangat kacau. Antara Benthik dan dua orang itu sudah tidak ada lagi batasan. Benthik dapat menyerang dua orang itu. Orang Ki Jabon Seta dapat menyerang Benthik lalu menghantam orang Ki Kamejing. Dan seterusnya yang terjadi adalah kegilaan saja. Benar-benar rumit.
Tiga pengawal Separang yang lain juga telah masuk ke tengah pertempuran. Mereka tidak lagi memilih lawan dan kawan. Setiap orang yang masih menyerang segera ditekan, didorong, atau dijatuhkan.
Seorang pengawal menghantam bahu orang Ki Kamejing hingga terpental ke dinding tanah sungai. Tetapi sesaat kemudian dia sendiri harus menangkis tendangan orang Ki Jabon Seta yang datang dari belakang.
Di atas jembatan, dua orang yang semula bertarung sengit bahkan berbalik menghadapi pengawal dusun ketika merasa gerakan mereka dihalangi.
“Kalian jangan ikut campur!” bentak salah seorang dengan napas memburu.
“Ini wilayah Separang!” sahut pengawal dusun itu keras. “Kalian datang keributan!”
Tetapi kata-kata tidak lagi banyak berarti.
Amarah yang terlanjur menyala membuat setiap gerakan mudah disalahartikan sebagai ancaman. Orang yang tadi hendak dipisahkan justru merasa diserang. Orang yang ditekan menjadi semakin liar.
Benturan demi benturan kembali meledak.
Kini bukan lagi enam orang yang bertarung.
Seluruh tepian sungai kecil itu berubah menjadi pusaran perkelahian yang kacau dan gila.
Sementara benturan-benturan keras terus pecah di sekitar jembatan bulak kering, petani yang tadi pertama kali melapor kepada Benthik ternyata belum merasa tenang.
Dia sempat menyaksikan dari kejauhan bahwa para pengawal Separang ikut terseret ke dalam kekacauan. Hal itu justru membuat dadanya semakin gelisah. Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali berlari meninggalkan bulak menuju gardu perondaan di pinggir dusun.
Napasnya sudah memburu ketika tiba di halaman gardu yang beratap rendah itu.
Di sana tampak Ki Sanggabaya sedang berbicara dengan Ki Prana Aji yang datang menemuinya pada malam sebelumnya. Sejumlah persoalan penting cepat mereka bicarakan tanpa harus menunggu kehadiran Agung Sedayu di barak. Mereka berdua sadar dan berusaha mengerti keadaan yang membelit pemimpin mereka tersebut.
Siang itu, mereka berdua berdiri dekat pohon asem tua sambil memperhatikan beberapa peronda yang baru selesai bertugas.
Ki Sanggabaya segera menoleh ketika mendengar langkah tergesa.
“Ada apa?” tanyanya pendek.
Petani itu membungkuk sebentar untuk mengatur napas.
“Ki… di bulak kering… dekat jembatan kecil…” katanya tersendat. “Orang-orang asing bertempur. Benthik sudah di sana.”
Wajah Ki Sanggabaya langsung berubah tajam.
“Lalu?”
“Sudah, Ki,” jawab petani itu cepat. “Tetapi sekarang pengawal dusun pun ikut bertempur. Aku melihat sendiri… keadaan semakin kacau.”
Ki Prana Aji yang sejak tadi diam perlahan mengangkat kepala.
“Adakah Ki Sanak mengenali orang-orang itu?”
“Aku tidak mengenal semuanya,” sahut petani itu. “Tetapi sering melihat mereka berkeliaran di lereng Kunir. Dan sepertinya mereka bukan orang biasa. Benthik tertahan di sana.”
Ki Sanggabaya berpaling sekejap kepada Ki Prana Aji.
Tatapan kedua orang itu saling bertemu dalam pengertian yang pendek namun jelas. Beberapa waktu terakhir, kabar tentang datangnya kelompok-kelompok baru di lereng Gunung Kunir lalu mendirikan permukiman liar sudah menjadi laporan petugas sandi pasukan khusus.
Dan sekarang rupanya kelompok-kelompok itu mulai tidak tahan untuk tidak saling menggoda.
Ki Sanggabaya segera melangkah turun dari gardu.
“Kumpulkan beberapa orang,” katanya singkat kepada salah seorang pengawal. “Libatkan pengawal dusun pula tapi jangan terlalu banyak.”
Lalu dia menoleh kepada Ki Prana Aji. “Ki Lurah boleh kembali ke barak. Kemudian saya minta Ki Lurah menempatkan Socah untuk sementara waktu berjaga di dusun ini sampai perintah lebih lanjut datang dari Ki Tumenggung.”
“Saya, Ki Rangga,” sahut Ki Lurah Prana Aji dengan hormat lalu bergegas minta diri kembali ke barak pasukan khusus.
Petani itu masih berdiri dengan wajah cemas sambil memandang punggung Ki Prana Aji melompat naik ke punggung kuda.
“Marilah, Ki Parta,” ajak ramah Ki Sanggabaya pada Ki Parta, nama petani itu.
Mereka menaiki kuda yang sudah disediakan pasukan khusus yang bertugas sebelum kedatangan Ki Sanggabaya. Beberapa pengawal dan prajurit Mataram berkuda pula di belakang mreka berdua.
Perjalanan menuju bulak kering itu tidak memerlukan waktu terlalu lama. Dari kejauhan saja mereka sudah mendengar suara benturan senjata, teriakan kasar, dan ringkik kuda yang gelisah.
Debu tipis melayang di sekitar jembatan kecil ketika Ki Sanggabaya dan laskar berkudanya tiba di tempat itu.
Pertempuran telah berubah kacau. Tiga kelompok orang saling mendesak tanpa lagi jelas orang yang menjadi kawan dan lawan. Bahkan beberapa pengawal dusun yang terlibat dalam perkelahian pun hanyut dalam keadaan yang semakin berbahaya.
“Bubar!” bentak Ki Sanggabaya lantang.
Namun suaranya tenggelam oleh hiruk-pikuk pertempuran.
Dalam sekejap, Ki Sanggabaya memberi isyarat pendek.
Laskar berkuda segera menghantam kerumunan itu dari tiga arah.
Orang-orang yang masih bertempur langsung tercerai-berai. Beberapa mencoba melawan, tetapi gagang tombak dan ujung cambuk para prajurit Mataram bergerak lebih cepat. Dua orang jatuh terguling ke pematang, seorang lagi terpental ketika seekor kuda menabrak bahunya.
Ki Sanggabaya sendiri melompat turun dari punggung kuda dan sekali gerak menghentak dada seorang lelaki bertubuh besar hingga terpelanting beberapa langkah.
“Cukup!” bentaknya lagi.
Kali ini keadaan mulai surut.
Dalam waktu singkat enam orang berhasil diringkus. Tangan mereka diikat dengan tali pendek. Beberapa di antaranya meronta sambil mengucapkan kata-kata kotor pada pengawal Menoreh dan prajurit Mataram.
“Kami tahan kalian atas nama Prabu Pandita Hanykrakusuma dan Ki Gede Menoreh,” berkata Ki Sanggabaya dingin. “Kami tidak dapat melonggarkan ketentuan yang mengikat semua orang.”
“Tunggu saja, kalian akan merasakan akibatnya jika pemimpin kami mengetahui penangkapan ini,” seru seseorang dengan tangan terikat.
“Kami selalu membuka pintu untuk pemimpin kalian,” sahut Ki Sanggabaya. Tangannya berputar. Iring-iringan pun bergerak ke arah barak pasukan khusus.
Ki Sanggabaya menghampiri Benthik, menepuk bahunya lalu berkata, “Socah segera menemani kalian meski sementara waktu.”
“Saya, Ki Rangga,” sahut Benthik.
Setelah mengatakan beberapa pesan, Ki Sanggabaya pun menyusul laskar berkudanya yang rupanya bergerak lebih cepat dari perkiraannya.
Sepanjang perjalanan menuju pedukuhan induk, tempat barak pasukan khusus berada, sejumlah orang bertanya-tanya pada pengawal Separang atau prajurit Mataram. Dan jawaban yang mereka dengar pun meninggalkan kesan bahwa Tanah Perdikan sudah tak lagi memberi ruang bagi para perusuh, terlepas niat atau akibat yang mereka datangkan di wilayah Menoreh.
Banyak mata memandang, bahkan mereka mengenali orang-orang yang diarak laskar Ki Sanggabaya.
Geram sudah jelas menguasai perasaan mereka. Sebagian pasang mata itu ada yang berasal dari kelompok Ki Kamejing yang sedang bertugas mengawasi daerah sekitar Pancuran Watu Item. Ada pula pengikut Ki Jabon Seta yang ingin melihat pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Mereka tergoda karena tempat itu cukup tersohor setelah berbagai kejadian penting silih berganti mendera lingkungan yang dipimpin oleh Ki Gede Menoreh tersebut.

Kisah Toh Kuning, pemuda yang menjadi benteng terakhir Kertajaya. Penghalang utama Ken Arok yang berencana membunuh raja Kediri.
tersedia pdf , 75 ribu atau baca DI SANA
Kami berterima kasih bila berkenan untuk menjadikan karya Padepokan Witasem sebagai dukungan kelangsungan kisah silat yang berakses gratis ini.
Kontribusi untuk versi cetakan (pre order):
Toh Kuning – Benteng Terakhir Kertajaya, hard cover, hitam putih, 124 hal, 115 rb
Hampir bersamaan waktunya, di bilik kerja Agung Sedayu, Glagah Putih sedang melaporkan pertempuran singkat yang melibatkan pendatang di sekitar wilayah Pringtali.
Dalam waktu itu, Agung Sedayu tidak banyak memotong keterangan Glagah Putih. Yang terjadi justru sebaliknya, senapati Mataram tersebut tampak tekun menyimak kata demi kata yang disampaikan sepupunya itu padanya.
Pikirannya bekerja keras menghubungkan lintasan-lintasan kemungkinan yang muncul bergantian di dalam benaknya.
Lereng Gunung Kunir itu hampir dapat dipastikan adalah orang-orang yang berada di belakang Ki Wira Sentanu, pikirnya. Sedangkan di Pringtali dan geger di pasar induk sudah pasti adalah kelompok baru. Apalagi nama Ki Ajar Tal Pitu sempat terucap pada waktu itu—menurut laporan Glagah Putih dari petugas sandi dan beberapa orang yang memberi kesaksian.
Sejak nama Ki Ajar Tal Pitu muncul kembali di udara pedukuhan induk, Agung Sedayu pun terkenang pada masa lalu. Ada nama Ki Mahoni yang kalah olehnya di tepi Kali Progo. Sedangkan Ki Wira Sentanu sudah menempati ruang di dalam pikirannya sebagai pembawa aliran yang sama dengan Kakang Panji, orang yang kalah dari gurunya saat pecah perang antara Pajang dengan Mataram.
Menoreh tidak dalam keadaan yang cukup tenang, damai dan baik-baik saja, pikirnya. Kinasih mempunyai luka ringan. Pandan Wangi bahkan belum dapat menggerakkan tangan secara wajar. Sukra dan Sayoga pun tidak dalam keadaan yang pantas untuk menangani kerusuhan seandainya banyak perguruan mendatangi barak seperti yang dilakukan oleh Ki Kebo Surongudan.
“Waktu yang tersisa hanya sehari besok,” ucap Agung Sedayu dalam hati dan dia pantas untuk cemas. Dia pun sadar bahwa tidak dapat pula mengandalkan Ki Jayaraga dan Mpu Wisanata. Menurutnya, dua sesepuh itu sudah seharusnya berada di dalam masa istirahat dari segala kekerasan.
Sejenak Agung Sedayu mengangkat wajah lalu menatap lekat Glagah Putih. Yah, dia memang dapat mengandalkan sepupunya itu tapi berapa orang yang akan datang melawan mereka? Hampir mungkin adalah jauh lebih banyak.
Sedangkan di dalam barak ada Ki Garu Wesi. Sejauh ini, teman dekat Raden Atmandaru itu tidak banyak bertingkah atau bicara yang aneh-aneh. Namun, apakah Ki Garu Wesi akan berbalik arah saat melihat barak dalam keadaan sulit? Agung Sedayu menarik napas panjang ketika menyentuh kemungkinan itu.
“Ada apakah, Kakang?” tanya Glagah Putih yang seperti dapat merasakan Agung Sedayu sedang tidak berada di tempatnya. Dia mengenal kakak sepupunya itu sangat baik sehingga paham betul ketika pikiran Agung Sedayu berada di tempat lain.
Dengan wajah tenang, Sedayu berkata, “Mustahil jika aku menjawab tidak ada apa-apa.”
Kemudian mereka saling tersenyum.
Agung Sedayu lantas mengurai garis besar gelar keamanan yang paling mungkin diterapkan saat perang tanding Pancuran Watu Item tetap terjadi,
“Tapi itu semua dapat berubah jika Ki Sanggabaya datang sambil membawa berita perkembangan yang lain,” ucap Agung Sedayu menutup uraiannya.
Glagah Putih mengangguk dalam-dalam. Dia dapat merasakan bahwa di balik ketenangan kakak sepupunya itu ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Putra Ki Widura ini sadar keadaan berkembang semakin sulit. Menghadapi adik seperguruan yang sekaligus juga kakak ipar itu bukan perkara mudah. Banyak kemungkinan buruk yang tentunya kehidupan hari-hari berikutnya sudah menjadi tidak sama lagi.
Dalam waktu itu, seperti yang dirasakan oleh Glagah Putih, Agung Sedayu seakan merasa pepat di dalam dadanya setiap kali membayangkan kemungkinan yang dapat menimpa Swandaru. Tidak ada ilmu, pengalaman, bahkan kedudukan sekarang yang mampu memberi kepastian bahwa adik seperguruannya itu akan selamat dari segala kemungkinan buruk. Agung Sedayu tidak lagi beranjak dari pemikiran tersebut ketika bayangan gurunya, Kyai Gringsing melintas dalam benaknya.
Napas halus yang panjang terdengar kemudian oleh Glagah Putih dari Agung Sedayu.
Agak lama dari ucapan terakhir Agung Sedayu pada adik sepupunya itu, seseorang datang memberitahukan bahwa Ki Rangga Sanggabaya mohon izin untuk menghadap.
Setelah menempati bangku yang biasa digunakannya jika sedang bicara dengan Ki Tumenggung Agung Sedayu, Ki Sanggabaya bicara langsung ke pokok persoalan: semua yang sudah disampaikan Glagah Putih ditambah penahanan enam orang akibat perkelahian di Dusun Separang.
Agung Sedayu diam tapi bukan sesaat. Murid Kyai Gringsing ini membutuhkan waktu lebih lama untuk memandang semuanya lebih jernih dan terang.
Sedikit jarak di belakang Ki Sanggabaya, Glagah Putih tidak dapat menyingkirkan kemungkinan lain dari pikirannya. Keributan-keributan yang muncul di sejumlah tempat itu mungkin berdiri sendiri, mungkin juga tidak jika ada tangan yang sedang berusaha menguras perhatian Menoreh menjelang Pancuran Watu Item. Tapi yang paling menggelisahkan adalah orang-orang dari kelompok atau perguruan yang sama dengan enam orang yang ditahan itu menjadi gelap mata, berbuat nekat dengan menyerang barak pasukan khusus.
Murid Ki Jayaraga ini sadar bahwa serangan itu mempunyai peluang besar untuk terjadi. Sebelumnya, sekelompok orang berani mendatangi kediaman Ki Gede Menoreh dengan senjata, bagaimana dengan sekarang? Barak adalah sasaran yang paling memungkinkan.
