Dilihat 57 kali
Pagi yang tenang di Tanah Perdikan Menoreh mendadak berubah ketika seorang tamu asing menerobos halaman rumah Ki Rangga Agung Sedayu. Lelaki bernama Ki Garu Wesi itu datang bukan untuk bersilaturahmi, melainkan membawa dendam lama atas kematian tiga tokoh yang pernah tumbang di tangan Agung Sedayu. Ancamannya bukan sekadar kata-kata, sebab di balik kemunculannya telah tersusun sebuah rencana besar.
Di luar batas Tanah Perdikan, belasan kemah mulai berdiri. Orang-orang dari berbagai kelompok berkumpul di bawah panji Ki Garu Wesi, bersatu oleh kepentingan yang berbeda-beda. Sebagian menginginkan pembalasan, sebagian lagi memburu kitab warisan Kiai Gringsing yang diyakini menyimpan ilmu luar biasa. Menoreh pun berada di ambang badai yang dapat mengubah nasib seluruh penduduknya.
Di tengah ancaman itu, Agung Sedayu justru menemukan kekuatan terbesar bukan pada ilmunya, melainkan pada kesetiaan orang-orang Menoreh. Ki Gede, Prastawa, Sekar Mirah, hingga para pengawal Tanah Perdikan berdiri teguh di sisinya. Mereka menolak menyerahkan seorang saudara kepada musuh yang datang membawa teror.
Ancaman Ki Garu Wesi Pada Agung Sedayu. Jangan ragu. Selengkapnya
Tanpa menunggu serangan tiba, Agung Sedayu memilih bergerak lebih dahulu. Bersama Sukra, ia menyusup ke perkemahan lawan dan menemukan kenyataan yang jauh lebih berbahaya daripada dugaan semula. Di balik persekutuan itu ternyata tersembunyi benih-benih perpecahan, keserakahan, dan perebutan warisan ilmu yang dapat memicu pertumpahan darah lebih besar.
Perang belum dimulai, tetapi langkah-langkah pertama telah diambil. Ketika dendam, ambisi, dan kesetiaan saling berhadapan, Tanah Perdikan Menoreh bersiap menghadapi ujian yang mungkin menjadi salah satu pertempuran paling menentukan dalam perjalanan Agung Sedayu.
