Padepokan Witasem
Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 14 – Peringat Bahaya dari Agung Sedayu

Dalam pengamatan Agung Sedayu, daerah perbatasan itu banyak menyimpan keuntungan bagi kelompok pembangkang. Maka dengan ketajaman nalar dan kemampuan mengolah keterangan, Agung Sedayu menyiapkan rencana kilat yang sesuai dengan pesannya pada Bunija. Sekejap kemudian, pemimpin pasukan khusus itu melontarkan panah sendaren sebanyak tiga kali berturut-turut.

Lontaran panah sendaren dari Agung Sedayu benar-benar tidak diduga Sukra sama sekali. Anak Muda dari Menoreh itu tampak terkejut. Raut wajahnya terlihat pucat seperti sedang menatap sesuatu yang menggetarkan hati. “Ki Lurah?” tanya Sukra dalam hati dengan telapak tangan terangkat sebagai tanda agar temannya bersikap tenang. Pengawal Tanah Perdikan Menoreh memandang jauh ke arah pedukuhan induk sambil ingin memastikan bahwa tidak ada lagi gaung sendaren susulan.

Kelompok peronda kademangan yang berjaga di ujung lorong pedukuhan terhenyak, lalu memandang pada arah sumber suara sambil bertanya-tanya, “Siapa yang melepaskan panah sendaren pada malam-malam begini?”

Meski sedikit dilanda kebingungan, ketua regu segera membagi penjaga menjadi empat kelompok kecil. Masing-masing kelompok terdiri dari dua orang. Kemudian dua kelompok diperintahkannya berjaga sedikit agak keluar dari perbatasan. Satu kelompok berada di gerbang pedukuhan, sedangkan satu kelompok lagi tetap di sekitar gardu jaga.

loading...

Sementara pengawal kademangan yang menemani Sukra pun turut memandang pada arah pedukuhan induk sambil bertanya-tanya di dalam hati, “Ada apakah?”

Dalam waktu itu, setelah beberapa saat tidak ada gaung sendaren yang keempat, Sukra pun melakukan perintah Agung Sedayu agar melepaskan juga panah sendaren sebagai peringatan siaga bagi Bunija.

Bunija sudah mendengar samar-samar tiga kali suara sendaren yang dilesatkan Agung Sedayu, menyusul kemudian dua panah sendaren dari Sukra. Maka pemimpin pengawal Sangkal Putung itu mengerti bahwa ada ancaman bagi mereka yang akan datang dari arah depan. Sejenak kemudian, Bunija memutar tubuh lalu berkata pada para pengawal yang lain, “Sukra telah melepas tanda bahaya.”

“Kami mendengar Anda, Kakang,” sahut seorang pengawal yang berada di samping barisan.

“Tetaplah tenang dan terus bergerak seolah-olah tidak tahu apa-apa,” pesan Bunija. Para pengawal mengangguk sambil mengusap senjata mereka yang berbahan kayu. Lalu Bunija berkata lagi, “Tentu seandainya terjadi lagi perkelahian, maka kita akan menghadapi mereka dalam keadaan yang berat. Kita mempunyai tambahan beban yaitu para tawanan. Selain itu, kita semua mengalami kelelahan. Meski demikian, saya tidak ingin dua hal  itu akhirnya menjadi alasan untuk membenarkan semangat yang padam.”

“Kami tetap berada di belakang Anda, Kakang,” sahut seorang pengawal yang berada di samping barisan.

Di sela-sela percakapan itu, Parijoto memandang tajam pada Bunija dengan sedikit geram karena ternyata Bunija sama sekali tidak memerintahkan iring-iringan itu mempercepat langkah. Bunija hanya meminta mereka lebih waspada, sedangkan Parijoto dan tahanan lainnya berharap orang-orang Sangkal Putung melangkah lebih cepat. Tapi Parijoto bukanlah Simbara yang mungkin sudah memancing kericuhan dengan kata-kata sehingga dapat menimbulkan kecurigaan dalam hati pengawal kademangan. Parijoto pun memilih diam lalu mmbenamkan wajah. Dia dan kawan-kawannya yang sengaja mengalah agar tertangkap pengawal kademangan dapat bersabar hingga datangnya janji pemimpin mereka.

Tak kalah terkejutnya dengan kubu Mataram, orang-orang suruhan Ki Garu Wesi yang sedang bertiarap di antara gerumbul pohon pisang dan semak-semak pun menggelegak. Mereka cepat saling memandang dalam gelap. Suara panah sendaren menggema, susul menyusul saat meraung di angkasa.

Seseorang dia antara mereka lalu berkata, “Tetap tenang. Itu bisa saja tidak terkait dengan kita.’

“Ki Sarjuma, bagaimana jika keberadaan kita sudah diketahui orang-orang Sangkal Putung?” sahut seorang kawannya yang berjarak dua langkah darinya.

“Mustahil seandainya mereka tahu,” kata orang pertama. “Kita mencapai tempat ini dengan merayap sejak para petani keluar dari bidang sawah mereka. Dan hampir setengah malam kita berada di sini tanpa api. Jadi, mereka tahu dari mana? Kalau pun keberadaan kita sudah diketahui, bukankah mereka pun belum dapat dicapai anak panah dan belum ada serangan yang diarahkan pada kita?”

‘Tapi panah sendaren itu berasal dua sumber yang berbeda, Kyai,” ucap Ki Malawi. “Saya pikir itu berarti ada dua kelompok yang terpisah dan mungkin kita berada di tengah-tengah mereka.”

Ki Sarjuma mengerutkan kening. Pikirnya, pendapat Ki Malawi memang masuk akal, tapi, buat apa tergesa-gesa keluar dari persembunyian? Dia berkata kemudian, “Seandainya kita keluar sekarang lalu mendatangi sumber suara, apakah perusuh itu masih berada di tempatnya? Bisa jadi mereka pun sudah berpindah.”

“Benar,” sahut Ki Malawi, “seandainya perpindahan itu tidak tertangkap oleh kita, maka, saya pun mempunyai firasat buruk.”

Ki Sarjuma memandang Ki Malawi dengan tatapan lurus. Dalam hatinya, Ki Sarjuma sebenarnya setuju bahwa ada kemungkinan orang yang melontarkan panah sendaren itu mempunyai kemampuan tinggi sehingga tidak diketahui olehnya.

Demikianlah kegigihan para pengikut Raden Atmandaru yang berada di bawah kendali Ki Garu Wesi. Demi mewujudkan angan dan mimpi, mereka bersedia menempuh jalan cadas dengan cara meningkatkan kesabaran menunggu mangsa berada di dalam jangkauan serang.

Sebenarnyalah Ki Garu Wesi pun mengetahui rancangan Simbara ketika anak muda itu menunjukkan keinginan kuat membuar kerusuhan di sekitar kotaraja. Maka, orang itu pun menyusupkan pengaruh pada Parijoto dan juga tugas utama untuk melenyapkan Simbara. Dalam pikiran Ki Garu Wesi, keberadaan anak muda atau orang seperti Simbara itu seperti menaruh belati tanpa sarung di balik ikat pinggang.

“Sudah pasti akan menjadi tertawaan banyak orang bila aku membiarkan Simbara berbuat onar lalu tertangkap orang-orang Mataram,” kata Ki Garu Wesi pada Parijoto pada suatu pertemuan sebelum Simbara benar-benar pergi dengan gerombolannya.

Parijoto mengangguk, kemudian bertanya, “Apa yang harus saya lakukan seandainya kami menemui jalan buntu?”

“Jika kalian mendapatkan halangan, pecahlah pasukan lalu bunuh Simbara di tempat kalian terkepung,” jawab Ki Garu Wesi,” tapi jika kalian berhasil, tetaplah pecahkan kelompok itu lalu jangan sisakan seorang pun dari mereka.” Ki Garu Wesi menarik napas panjang, kemudian berkata, “Segera ambil alih kendali pasukan atau tetaplah sebagai tawanan, aku akan membebaskan kalian.”

“Baik, Kyai,” tegas Parijoto lalu pergi menyambut ajakan Simbara.

Pada rencananya yang lain, Ki Garu Wesi pun ingin mengukur tingkat keamanan di sekitar pedukuhan induk sebelum benar-benar menyerbu lalu menduduki Sangkal Putung. Maka, setelah penyergapan untuk membebaskan Parijoto dapat dilakukan, orang kepercayaan Raden Atmandaru itu pun yakin dapat memperoleh keterangan tambahan dari petugas sandi yang disebarnya. Terlebih lagi, Ki Garu Wesi nyaris tidak menemukan lawan yang sebanding dalam perang sandi sejak Pangeran Purbaya keluar dari Sangkal Putung. Pandan Wangi bukan lawan yang seimbang dengannya. Sementara Swandaru masih harus menjalani keadaan sebagai tahanan rumah karena keputusan Pangeran Purbaya. Sedangkan Ki Tumenggung Untara sudah terlalu sibuk meredakan gejolak yang menimbulkan riak di sekitar Jati Anom. Lagi pula, tumenggung Mataram itu tidak akan berani bersikap ceroboh dengan mengirim pasukan untuk menumpasnya. Ki Garu Wesi benar-benar merasa di atas angin ketika Ki Sarjuma dan Ki Malawi didatangkan Raden Atmandaru untuk membantunya. Kehadiran dua orang berkepandaian tinggi itu akan membuatnya semakin mudah melenyapkan Swandaru dan Pandan Wangi.

Hingga kemudian, datanglah malam itu dengan kehadiran seseorang yang yang benar-benar berada di luar rencana dan perhitungan.

Orang itu adalah Agung Sedayu!

Meski tiga panah sendaren telah dilepaskan dan gaungnya pun sudah lenyap tanpa bekas di angkasa, Agung Sedayu ternyata tidak melakukan sesuatu pun. Dia diam dalam pengamatannya yang kian tajam.

Samar-samar nyala oncor yang menyertai perjalanan Bunija dan kawan-kawan tampak muncul dari belokan jalan. Pergerakan Bunija pun menjadi perhatian Agung Sedayu juga Ki Sarjuma dan kawan-kawannya dengan perasaan tegang. Bahkan samar cahaya yang menyertai mereka sudah menarik pandang mata para pengawal kademangan yang berjaga di ujung pedukuhan induk. Akhirnya, tibalah Bunija dan rombongan yang dipimpinnya di tempat Sukra dan kawannya berjaga.

Bunija menyapa Sukra, kemudian bertanya, ”Bagaimana keadaan sekitar?”

“Sejauh ini masih belum ada pergerakan,” jawab Sukra.

Bunija mengangguk. Pikirnya, itu adalah kalimat yang sangat baik dan memperlihatkan kewaspadaan Sukra. “Aku suka mendengarnya dibandingkan ucapan keadaan aman atau terkendali karena memang tidak terlihat sesuatu pun,” kata Bunija kemudian. Dia memandang berkeliling sejenak lalu memeriksa keadaan rombongan. Pada saat berada di dekat Parijoto, Bunija bertanya, “Bagaimana keadaanmu?”

Wedaran Terkait

Bara di Bukit Menoreh 9 – Pertempuran pun Pecah di Pelataran Banjar

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 8 – Pembeda Itu Bernama Sukra

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 7 – Sukra dalam Pengamatan Agung Sedayu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 6 – Agung Sedayu ; Benarkah itu Sukra?

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 5 – Agung Sedayu Mempermalukan Lawan!

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 4 – Agung Sedayu, Pemburu yang Diburu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.