Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 23

Tanpa diduga oleh Ki Sor Dondong dan senapati bawahannya, pasukan Sabungsari telah berada tepat di samping mereka. Walau pun kemampuan mereka, baik secara kelompok maupun pribadi,  berada di bawah prajurit Mataram, tetapi pengawal pedukuhan tetap dapat disebut sebagai sekumpulan orang-orang yang tangguh. Ketahanan wadag mereka tidak jauh ketinggalan dengan prajurit Mataram. Kegigihan dan keuletan pun mereka berada pada tingkat yang sama dengan orang-orang yang pernah menempuh bidang keprajuritan. Oleh Swandaru, mereka sering diperintahkan agar mengadakan latihan bersama dengan para prajurit Mataram yang berpusat di Jati Anom. Dengan demikian, keberadaan Sabungsari tidak lagi membutuhkan penyesuaian diri dan pemahaman diri dari pengawal pedukuhan.  Maka wajar bila Ki Astaman mempunyai kecemasan tersendiri pada tempat-tempat yang tidak diperhatikan oleh Ki Sor Dondong.

Pasukan Sabungsari mendekat perlahan, menuruni tebing, menyeberangi sungai dengan menyisakan bagian kepala di atas permukaan air, meenyebar, lalu membentuk garis lurus dalam jarak yang cukup rapat di antara mereka. Pada saat fajar sedikit menyingsing, dari jarak yang cukup di bawah suasana yang mulai sedikit terang, Sabungsari dapat menduga gelar yang diperagakan oleh pasukan lawan. “Supit Urang,” katanya lirih. Bila ia menyerbu bagian sayap yang berada di depannya, itu keputusan yang masuk akal. Namun pengalaman Sabungsari justru melarangnya untuk menyerang pada saat itu. Pikirnya, mereka akan mudah melonggarkan barisan, ketika pasukannya mulai terhisap ke bagian lebih dalam, maka sebenarnya mereka sudah terjebak dalam gelar Jurang Grawah. Mereka akan terkepung dan habis sebelum tanah pategalan menjadi kering seluruhnya.

Dengan berlindung di balik tanaman liar setinggi pinggang orang dewasa, Sabungsari dapat melihat badai anak panah sedang berkisar mendekati Gondang Wates. Sejenak ia menebar pandangan ke kiri dan ke kanan, pikirnya kemudian, memecahkan bagian sayap gelar Supit Urang tentu akan sulit jika diukur dari jumlah pengawal yang menyertainya. Ia akan tetap membiarkan lawan berbaris maju, lalu memukul mereka pada bagian gelar yang gemuk. Pergerakan ini dapat mengakibatkan bahaya karena pengawal pedukuhan sangat mudah terkepung atau terdorong ke bagian tengah gelar. Dan bila itu terjadi, maka jalan meloloskan diri akan tertutup. Namun demikian, Sabungsari mungkin akan dapat menghindarkan pasukannya dari tekanan bila mampu memotong silang gelar lawan. Dengan tercabiknya gelar dan kemungkinan mereka akan mengejar pengawal pedukuhan, maka jalan bantuan dari kelompok lawan akan terurai oleh kehadiran barisan pengawal Sangkal Putung. Maka isyarat maju pun terlambai dari sepasang tangan Sabungsari. Para pengawal Sangkal Putung pun merayap cepat dengan susunan yang tidak berubah, menebar panjang, merambat dengan laju yang cukup hingga sayap dari gelar lawan berada dalam jangkauan mereka. Sesuai isi pesan berantai yang diterimanya, Sabungsari mempunyai kebebasan menetapkan gelar yang dapat disesuaikan dengan perkembangan lawan. Wowor Sambu dan Emprit Neba menjadi pilihan bagi Sabungsari, dan sepertinya Sabungsari benar-benar terlihat sangat yakin dengan kemampuan pengawal kademangan.

Sementara itu, di banjar pedukuhan, Pangeran Purbaya dan Pandan Wangi terlihat sibuk dengan banyak perintah agar pengawal Gondang Wates tetap berlindung di tempat masing-masing. Bila sempat, mereka harus memungut anak panah lawan, lalu membidikkannya pada arah datangnya anak panah. Di bawah serangan anak panah yang luar biasa, Pangeran Purbaya melenting tinggi. Seolah terbang, Pangeran Purbaya melayang ke bagian tertinggi banjar pedukuhan. Sepasang lengannya berkelebat sangat cepat, melepaskan tenaga cadangan untuk menghalau sebagian anak panah! Puluhan atau ratusan batang kayu seukuran jari telunjuk pun berhamburan dengan daya lontar yang berkurang dengan sendirinya.

Sekejap waktu, Pandan wangi mengikuti langkah Pangeran Purbaya tetapi panglima wanita ini mengambil tempat yang berbeda dengan putra Panembahan Senapati. Pandan Wangi telah meloloskan pedang. Sepasang tangannya berkepak-kepak di udara menyambut serangkum anak panah yang berlawanan arah dengannya. Belasan senjata jarak jauh pasukan Ki Sor Dondong terputus di angkasa, puluhan anak panah berputar-putar lalu melesat balik ke arah barisan lawan!

Melihat kesemrawutan anak-anak panah yang terlontar dari busur pasukannya, menyaksikan anak panah yang tak dapat dihitung jumlahnya sedang mengancam barisan gelarnya, Ki Sor Dondong geram berkata, “Apakah memang ada orang gila di tengah-tengah mereka?” Tentu serangan balik hanya dapat dilakukan oleh orang-orang berkepandaian tinggi. Namun, siapakah orang-orang itu? Bukankah hanya ada Pandan Wangi seorang di pedukuhan? Pikiran Ki Sor Dondong bertanya-tanya. Sejenak kemudian, ia perintahkan agar para pemanah segera melontarkan kayu-kayu lancip yang berlingkar seukuran paha orang dewasa. “Hancurkan, musnahkan segala yang ada di dalam kubu lawan! Aku tidak peduli bila ada bayi yang mati, orang tua yang terkapar atau perempuan-perempuan mengejang sekarat karena akibat serangan kalian!” seru Ki Sor Dondong dengan suara bergetar.

Sejumlah orang bahu membahu mengangkat lalu menempatkan alat berat itu pada kedudukan yang mapan. Busur besar pun terulur mundur lalu melesatlah anak-anak panah raksasa itu hampir serentak.

Mengerikan!

Barisan depan pengawal pedukuhan bergidik ngeri. Kulit mereka meremang. Sepanjang usia, ini adalah kesaksian pertama ketika melihat tiga atau empat anak panah raksasa melintas di atas kepala mereka.

Sukra yang juga melihat senjata berat terbang di atasnya pun berdesis sangat gemas, “Mereka…mereka benar-benar gila. Pedukuhan bisa hancur dengan senjata seperti itu. Wong gendeng. Jiaancuk!”

Sungguh mengerikan.

Ketika melihat batang pohon ketapang roboh menimpa sebuah rumah ketika terlanda anak panah berukuran besar yang terlontar dari alat buatan Ki Astaman. Sebuah bangunan kokoh yang berada di samping banjar pedukuhan pun runtuh sebagian karena hunjaman keras senjata berat pasukan Ki Sor Dondong. Beberapa penduduk terhantam serpihan-serpihan kayu yang berhamburan dari bangunan yang roboh.

Pertanyaan muncul dalam pikiran pengawal pedukuhan meski mereka tidak mengungkapkannya. “Apakah kita masih harus berada di dalam rencana? Bagaimana dengan keselamatan orang-orang yang terluka dan yang masih aman dalam perlindungan?” Mereka sedikit lega ketika melihat Pangeran Purbaya berkelebat menuju rumah yang terlindung di bawah pohon pre. Di bagian lain, Pandan Wangi pun terdengar memberi arahan tentang cara menarik orang-orang dari tempat terbuka.

Serangan pertama anak panah raksasa lepas dari pengamatan Pangeran Purbaya yang sibuk menghalau hujan senjata yang mengarah pada tempat perlindungan kebanyakan orang  Gondang Wates. Namun kecermatannya memperkirakan jeda untuk serangan kedua mendorongnya berseru pada Pandan Wangi melalui suara yang berlambar tenaga cadangan, “Wangi!”

Seolah tidak mendengar atau menghiraukan namanya dipanggil, Pandan Wangi berteriak nyaring dengan pandang mata ke arah yang lain, “Api!” Pandan Wangi mengerti rencana Pangeran Purbaya selanjutnya. Tidak lama setelah lengking suaranya berlalu, empat panah api membelah angkasa Gondang Wates. Berpencar ke empat tujuan.

Aba-aba untuk menyerang telah dikibarkan oleh Pandan Wangi melalui empat panah api. Itu adalah perintah pada kelompok-kelompok yang berada di garis depan. Seperti kuda liar yang lepas dari tali kekang, pengawal Gondang Wates berhamburan keluar dari tempat-tempat persembunyian. Mereka berloncatan, berlari, menerjang maju dengan teriakan yang menggetarkan. Pasukan Ki Sor Dondong terkejut. Siapa yang mengira ada orang-orang bodoh yang tengkurap serata rumput dan semak-semak? Pertanyaan itu menyergap perasaan mereka namun mereka tidak terlalu lama terikat dengan kejutan yang dibuat oleh Pandan Wangi. Dalam waktu sekejap, senjata-senjata telah terjulur saling berayun, menebas dan menusuk.

Para pemimpin regu penyerang Gondang Wates sangat berhati-hati dalam memberi perintah. Mereka tidak tergesa-gesa mendorong pasukannya menyerbu masuk ke bagian Karang Dowo yang lapang.

“Itu jebakan!” teriak salah seorang ketua regu penyerang.

“Asu!” geram seorang senapati pasukan Ki Sor Dondong di baris terdepan. “Gedong Minep… Gedong Minep. Perintahnya segera diikuti oleh orang-orang yang menjadi anak buahnya. Mereka beralih  pada siasat jebakan yang lain.

Namun para penyerang dari Gondang Wates ternyata bergerak tidak beraturan. Mereka tidak berada dalam bentangan garis lurus atau lengkungan yang tersambung. Dan kecerdikan Agung Sedayu menyusun gelar perang ternyata dapat dimatangkan oleh Pangeran Purbaya. Maka sayap-sayap Pandan Wangi yang terpisah justru terikat oleh gelar atau pergerakan berkelompok yang mengalir seperti ayun riak Kali Bogowonto.

Related posts

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 8

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 7

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 6

kibanjarasman

Leave a Comment