Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 10 Lamun Parastra Ing Pungkasan

Lamun Parastra Ing Pungkasan 28

“Aku ingin kalian memberi sedikit perhatian pada pendapat yang akan aku katakan,” ucap Pangeran Tawang Balun. Sejenak ia berhenti untuk menunggu suara-suara keberatan yang mungkin akan mencuat ke permukaan. Selang beberapa waktu, suasana masih berkerubung sunyi. “Tuan-tuan sekalian,” lanjut Pangeran Tawang Balun, “kita tahu dan mengerti bahwa sebenarnya tidak mudah bagi Raden Trenggana mengembalikan wilayah-wilayah yang menyatakan diri telah berdaulat di atas kaki mereka sendiri. Sekali lagi, itu persoalan yang mudah baginya. Sebagian wilayah menerima tawaran Demak tetapi tidak untuk takluk pada kekuasaannya. Wilayah-wilayah ini berpijak pada keyakinan bahwa tidak harus mengakui Demak karena ada jalan lain yang lebih menenangkan. Kemudian kita tahu sebagian pemimpin rela menerima pinangan Raden Trenggana. Supaya kalian mengerti bahwa itu dilakukan agar tidak peperangan yang melanda wilayah mereka. Tujuan mereka tercapai dan  mereka pun tetap berdiri sebagai wilayah yang berdaulat yang mengakui kekuasaan Demak.

“Namun tidak sedikit yang menolak untuk mengakui kekuasaan Raden Trenggana. Dalam hal ini, mereka tidak mempunyai masalah atau persoalan genting dengan Demak. Kita harus mampu membedakan pribadi Raden Trenggana dan Demak secara keseluruhan. Sejumlah adipati mengirim pesan ;  bahwa mereka sedang bertanya dan bersikap menunggu keputusan Demak untuk tindak pembunuhan yang mengakibatkan seorang pangeran mangkat mendahului kita. Mereka, para adipati yang menolak Raden Trenggana, berpendapat bahwa tidak akan ada keadilan yang dapat ditegakkan oleh penguasa Demak. Apakah Raden Arya Trenggana sanggup menghukum pembunuh Pangeran Kikin? Demikian yang mereka katakan ketika kami gelar pertemuan sebelum perang ini terjadi.

“Keraguan itu tentu bukan tanpa alasan karena suara-suara yang menghiasi langit pun tidak dapat mereka dengar. Sementara, kita berpegang pada paugeran ‘jangan kita bekerja sama dengan orang-orang yang sedang bermasalah hingga menjadi terang benderang.’ Untuk itu, atas alasan itu, aku biarkan segala yang akan terjadi menjadi nyata bila yang demikian memang telah menjadi jalan yang seharusnya. Aku tidak menghalangi Gagak Panji atau setiap orang yang membuang perintah tunduk pada Demak.

“Demak mengarahkan perhatiannya secara penuh, mengerahkan kekuatan yang sama dengan Dipati Unus untuk menaklukan Panarukan. Mungkin mereka telah mendapatkan bahan-bahan yang dianggap cukup untuk menyerang Blambangan. Mungkin pula, dalam pertempuran kali ini, Blambangan tidak mengerahkan kekuatan pasukan sandi untuk menceraiberaikan musuh. Aku tahu kalian lebih bersikap menunggu karena menghormati garis keturunan. Atas dugaan itulah, aku minta kalian berlapang hati, aku minta kalian melapangkan tempat duduk agar Raden Trenggana mendapatkan tempat untuk bicara di tempat ini.”

loading...

Pangeran Tawang Balum berbalik arah, sepenuh wajah menghadap Gagak Panji. “Apakah engkau tidak menarik seluruh pasukanmu dari perairan?”

Gagak Panji menarik napas, lantas memandang pada Mpu Badandan dan Hyang Menak Gudra. Namun, Gagak Panji menangkap tanda bahwa segenap keputusan yang terhubung pertempuran berada di tangannya. Penuh keyakinan kemudian ia menjawab, “Kami tetap bertempur hingga Demak mengirim utusan untuk sebuah perundingan.”

Segumpal darah beku seolah menghambat jalan pernapasan Pangeran Tawang Balun. Ia sudah memperkirakan jawaban yang akan diterima, tetapi bahasa tubuh Gagak Panji lebih menghantam perasaannya. Sejenak kemudian, kata Pangeran Tawang Balun, “Terjadilah yang seharusnya terjadi.”

Mpu Badandan mengambil  alih suasana yang berangsur menjadi beku. “Kita mengerti bahwa untuk menguatkan kedudukan dan meluaskan pengaruhnya, Arya Trenggana menempuh dua cara. Arya Trenggana menikahkan anak perempuannya dengan seorang penguasa di sebuah wilayah, itu yang pertama. Berikutnya, Arya Trenggana menggunakan jalan senjata untuk tujuan yang sama. Wilayah dan pengaruh. Tentu tidak sesuatu yang terencana tanpa tujuan yang sangat penting. Sejauh ini kita berada di dalam dugaan, kita bicara di dalam ruang-ruang tertutup, dan semua itu kita lakukan untuk menarik kesimpulan akhir mengenai tujuan Raden Trenggana. Namun, apakah kita sudah mendapatkan jawaban? Sudah pasti jawaban itu adalah tidak atau belum. Sekarang, Gagak Panji telah mendahului kalian dengan gagasan damai. Saya dan Hyang Menak ingin mendengar pendapat beberapa dari kalian. Kalian harus membicarakan persoalan ini dengan orang-orang terpilih di dalam kesatuan kalian. Kami akan menunggu dalam batas waktu yang akan ditetapkan kemudian. Pertemuan dibubarkan.”

Usai percakapan yang dihadiri banyak orang, beberapa senapati menemui Gagak Panji di tempat pemantauan yang terletak di bawah sebatang nyiur. Mereka melihat Semambung telah berada di tempat yang sama dengan Gagak Panji.

“Ki Rangga,” kata seorang senapati yang bernama Wong Sakara. “Kami berada di belakang Anda dalam banyak keadaan. Mengenai gagasan berdamai dengan Demak, kami tidak menentang keinginan Ki Rangga.”

“Lantas?” tanya Gagak Panji.

“Kami memandang persoalan ini bukan sekedar tentang sebuah tujuan atau sesuatu yang tidak kami ketahui. Untuk itu, kami sepakat akan tetap menggunakan jalan senjata sebagai pelajaran bagi orang-orang yang akan datang setelah masa ini.”

“Pelajaran tetap berulang, baik dengan paksaan atau kerelaan, Wong Sakara,” kata Gagak Panji. “Perang bukan sebuah bualan atau impian orang-orang yang berpikir dengan cara yang konyol. Namun perang dapat menjadi alat bagi mereka yang berpikir konyol.”  Gagak Panji dapat mengerti bahwa senapati-senapati yang berada di dekatnya, masing-masing, mempunyai keinginan keras untuk melanjutkan peperangan. Ia tidak dapat melarang itu. Lalu ia katakan pada Wong Sakara dan lima senapati yang datang bersama Wong Sakara, “Tetaplah kalian dalam keadaan ini. Jaga semangat prajurit kalian. Selama belum terlihat tanda-tanda dari Demak untuk gencatan senjata, selama itu pula kita kibarkan bendera perang!”

Wedaran Terkait

Lamun Parastra Ing Pungkasan 9

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 8

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 7

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 6

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 5

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.