Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 104 – Swandaru Mengamuk! Duel Memperebutkan Kitab Kyai Gringsing Akhirnya Meledak

Pada bagian depan atau di dekat regol permukiman, Ki Wedoro Anom melangkah masuk, menyaksikan pertempuran lebih dekat. Dia berdiri beberapa langkah dari pinggir tanah lapangan yang digunakan orang-orang perguruan berlatih setiap hari. Meski langkahnya tampak tenang dan mantap, tapi hatinya menjadi kecut menyaksikan hingar bingar perkelahian yang berlangsung cukup brutal di depannya.

Dia menebar pandangan seakan sedang mencari seseorang atau peluang dengan keris di tangan. Tiba-tiba dia bergerak ke samping tapi bukan untuk membuka arena. Ki Wedoro Anom justru mendekat pada Ki Demang Brumbung ketika terlihat tiga musuh bergerak mendekatinya.

Ki Demang Brumbung sebenarnya telah melihat pergerakan Ki Wedoro Anom dari sudut matanya. Ketika tiga orang lawan mulai bergerak mendekat ke arah mereka, dia hanya bersikap waspada.  Baginya, kehadiran Ki Wedoro Anom di dekatnya justru dapat mengurangi tekanan. Maka Ki Demang Brumbung pun membiarkan.

Namun sesaat kemudian, alisnya tertaut.

Ki Wedoro Anom ternyata tidak menyongsong mereka. Begitu jarak semakin dekat, orang itu malah berlari kecil memutar, menjauh beberapa langkah, lalu kembali mendekat—mencari celah untuk berlindung. Keris di tangannya hanya sesekali terangkat, itupun sekadar untuk menepis ringan serangan yang hampir mengenainya, sebelum kembali melenting menjauh.

Setelah melalui proses adaptasi dan kreatifitas yang panjang, kami akhirnya merilis bundel lengkap Semesta Kitab Kyai Gringsing. Proyek ini bertujuan untuk membawa nuansa klasik Api di Bukit Menoreh ke dalam format yang sesuai untuk dinikmati di era digital. Kabar baiknya, Anda kini bisa mendapatkan seluruh seri secara lengkap. Mulai dari penyusupan Sangkal Putung, pertempuran di Geger Alas Krapyak hingga yang terbaru Hari Bising di Bukit Menoreh, semuanya tersedia dalam satu paket.

Berupa donasi minimal 75 ribu. Sebagai gantinya, kami akan mengirimkan seluruh koleksi (Buku 1 – 5) langsung ke perangkat Anda.

Detail Donasi:

BCA 822 0522 297

BRI 31350 102162 4530

Roni Dwi Risdianto

Konfirmasi WA 081357609831  Naskah kami kirimkan melalui WA

Matur Nuwun

Tiga orang itu menjadi semakin garang memburu Ki Wedoro Anom yang terus berputar di sekeliling Ki Demang Brumbung, sementara senapati itu berada dalam ikatan perkelahian lain.

Gerak langkah Ki Wedoro Anom tidak teratur bagi orang yang bertempur—dia seperti orang yang tersesat di tengah gelanggang. Kadang mendekat terlalu rapat pada Ki Demang Brumbung, lalu tiba-tiba menyelinap ke sisi lain, seakan senapati pendampinya itu dapat melindunginya.

Ki Demang Brumbung akhirnya benar-benar memperhatikan segalanya.

“Jadi, inikah dirinya?” gumamnya pelan, dengan nada yang sulit dimengerti. “Jadi benar yang dikatakan orang-orang bahwa dia tidak berkelahi secara wajar di Dusun Benda.”

Ki Wedoro Anom masih terus berlari-lari kecil dan berlompatan di sekelilingnya. Napasnya tetap terjaga, matanya cepat bergerak, tidak hanya menghindari serangan, tetapi juga sesekali melirik ke arah lain—seolah menunggu seseorang datang membantu, atau menunggu keadaan berubah lebih menguntungkan.

Sementara itu, tiga lawan di seputar Ki Demang Brumbung justru semakin ganas dan ganas dengan senjata di tangan. Pada akhirnya, dia merasa harus membuat keputusan karena kehadiran Ki Wedoro Anom yang terus berputar di dekatnya mulai mengacaukan keseimbangan pertempuran.

Sekejap kemudian, Ki Demang Brumbung memberi perintah: dua prajurit baru dan seorang lurah muda segera menghadang tiga lawan yang memburu Ki Wedoro Anom.

Sadar dengan keadaan, Ki Wedoro Anom menarik tiga pemburunya agak jauh dari Ki Demang Brumbung.

Dua prajurit baru dan seorang lurah muda itu segera melangkah cepat, memotong arah tiga orang Kendil yang sejak tadi memburu Ki Wedoro Anom. Dalam sekejap, benturan senjata pun terjadi. Kilatan besi beradu, suara benturan keras memercikkan bunga api kecil di antara mereka.

Dan Ki Wedoro Anom tidak perlu menunggu hasil.

Begitu tekanan terhadap dirinya terlepas, dia segera melenting menjauh—ringan, cepat, dan tanpa ragu. Tubuhnya berputar sekali di udara sebelum mendarat di sisi lain gelanggang, lalu berlari serong menuju bagian yang lebih lengang. Sekilas dia menoleh ke arah prajurit yang baru diwisuda yang sibuk menghadapi lawan tapi agak bebas dari gelar.

“Kalian hadapi mereka!” katanya pendek, tanpa berhenti. “Aku akan mencari pemimpin mereka!”

Tanpa menunggu tanggapan, dia sudah menghilang di antara bayangan pertempuran.

Ki Wedoro Anom tidak benar-benar mencari pemimpin lawan. Dia menyelinap ke antara reruntuhan pagar bambu dan tanaman yang ada, keluar dari permukiman.

Di antara cekungan batu besar, di sana, dia berhenti untuk menunggu akhir pertempuran.

Dari tempat itu, pandangannya dapat menyapu hampir semua gelanggang yang riuh. Dia dapat melihat laskar gabung bertempur dengan gigih dan semangat tinggi. Pertarungan ketat dan unik Pandan Wangi melawan Ki Kamejing pun dapat diikutinya. Beberapa bagian laskar yang sempat goyah, lalu kembali terhimpun pun terpantau olehnya.

Namun tidak ada niat untuk ikut masuk.

Dia bergeser sedikit mencari tempat yang lebih terlindung tapi dapat memberi pandangan luas. Tangannya yang menggenggam keris yang siap dipakai hanya jika benar-benar terdesak.

Ki Wedoro Anom mulai menunggu satu pihak runtuh. Menunggu saat di mana kemenangan sudah hampir pasti—agar peristiwa Dusun Benda dapat diulang sebagai kemenangan telak. Jika keadaan memburuk, jika laskar gabungan justru terdesak—dia sudah berada cukup jauh dari pusat pertempuran. Cukup untuk mundur. Cukup untuk menyusun cerita lain.

Di tengah gemuruh pertempuran, dia adalah satu-satunya orang yang tidak benar-benar bertarung—hanya berjaga di antara kemungkinan menang… atau selamat.

Pada bagian permukiman yang lebih dalam, para pemimpin perguruan bayangan itu bukan tidak mengetahui bentrokan keras yang pecah di bagian selatan.

Suara benturan dari halaman depan pecah, datang seperti gelombang yang menghantam tanpa henti. Teriakan dan denting senjata bersahut-sahutan, menandai bahwa benturan yang selama ini hanya diduga akhirnya benar-benar terjadi.

Swandaru berdiri di tengah tanah lapang yang menjadi tempatnya berlatih. Sejenak kemudian dia tengadah. “Mereka datang,” bisiknya dalam hati. Kemudian dia menunduk, memandang permukaan tanah dengan pikiran yang bekerja sangat keras. Tampaknya dia sedang meraba kemungkinan yang paling mungkin terjadi pada saat itu, pada saat terjadi benturan.

Kakinya pun mengayun cepat tapi tidak terburu-buru. Semakin lama, dia semakin cepat hingga tampak seperti bayangan di antara sela-sela tanaman. Langkahnya menyusuri sisi permukiman, melewati deretan gubug, lorong sempit dan turunan yang jarang dilalui orang.

Di depannya kemudian hanya ada deretan pepohonan dan tanah yang mulai menurun ke arah lereng.

Swandaru berhenti di tempat itu tanpa menyembunyikan diri. Dia sudah mengamati bahwa jika keadaan perguruan memburuk, maka Ki Hariman besar kemungkinan akan melintas jalur itu.

Seseorang datang lalu berhenti sejenak dari jarak terukur, kemudian melangkah lagi.

Sudah tidak mungkin lagi dapat dihindari, pikirnya. Dia terus berjalan tenang sambil mengelus senjatanya yang melingkar di pinggang.

Swandaru mengangkat sedikit kepalanya ketika mendengar desir halus langkah kaki dari seseorang berkemampuan tinggi.

“Kau datang akhirnya,” katanya datar.

Ki Hariman mengangguk tenang. “Aku datang untuk pergi lagi agar terhindar dari seorang pengecut.’

Swandaru menyeringai, lalu katanya, “Seorang pendusta selalu dan dapat dipastikan akan menghindari medan yang diperuntukkan bagi lelaki jantan.”

“Sayangnya, kau tidak termasuk dalam kelompok itu,” sahut tajam Ki Hariman.

“Kitab guruku,” perintah Swandaru sambil mengulurkan tangan.

Ki Hariman menatapnya sekilas lalu tersenyum. “Kau tidak berhak mendapatkannya.”

“Aku adalah muridnya.”

“Demikian pula aku meski tidak bertemu langsung.”

Mereka berdiri saling berhadapan dan terpisah jarak sekitar delapan atau sepuluh langkah.

Kurang dari satu kejapan mata ketika masing-masing menatap dengan sinar mata yang sangat tajam—dua bayangan seketika melontarkan diri dengan kecepatan yang sulit diukur mata biasa.

Untuk kedua kali, mereka sudah saling membenturkan ilmu. Mengadu ketangguhan demi memperebutkan kitab Kyai Gringsing.

Swandaru tidak kepalang tanggung. Dia langsung menghentak dengan segala daya. Pukulan dan tendangannya sangat kuat hingga mampu menggetarkan udara di sekitar gelanggang perkelahian.

Sementara itu, Ki Hariman pun cepat mengeluarkan tata gerak dari jalur ilmu sebelumnya. Yang dikeluarkan olehnya sama sekali berbeda dengan perkelahian yang pertama—mengerahkan segala yang dipelajarinya dari kitab Kyai Gringsing.

Beberapa saat sebelum Swandaru berhadapan dengan Ki Hariman, Ki Astaman dan Ki Garjita masih berada di serambi belakang sebuah bangunan sederhana. Mereka tidak cepat keluar menuju halaman depan meski udara mengantarkan pekik perang dengan cara yang keras.

Meskipun pada awal mulanya mereka bergabung untuk sebuah perlindungan di balik bayangan Swandaru, tapi dua orang itu bukanlah orang yang dangkal pemikiran.

Jika perondaan pertama telah tiba di lereng Kendil, Mataram atau Menoreh pasti menyusulkan yang kedua dan seterusnya. Terlepas dari kedudukan Swandaru sebagai menantu Ki Gede atau pemuka Kademangan Sangkal Putung, tapi ketertiban dan keamanan wilayah adalah persoalan lain.

Dua orang ini sudah menimbang cermat tapi tidak pernah diungkapkan ke permukaan. Mereka begitu rapi menyimpan di dalam pikiran dan perasaan.

“Akhirnya mereka datang,” kata Ki Astaman.

“Lebih baik kita berada di sana, Kyai,” ucap Ki Garjita. “Setidaknya orang-orang itu yakin lalu bertempur dengan sungguh-sungguh. Itu akan memberi kita waktu untuk melepaskan diri. Bagaimanapun, Mataram dan Menoreh selalu mempunyai kelebihan dari pembacaan medan.”

Ki Astaman mengangguk.

“Saya akan bertempur sebentar di selatan,” kata Ki Garjita.

Ki Astaman mengangguk lagi. Dia menyahut, “Sisi timur biarlah menjadi urusan Ki Ajar dan Ki Kamejing. Orang-orang mereka lebih banyak berada di sana.”

Swandaru dan Ki Hariman sudah jelas tidak mungkin ada di halaman—demikian dugaan Ki Astaman dan Ki Garjita, maka segeralah mereka berdua melesat ke depan, lalu berpencar. Ki Garjita tetap lurus menuju halaman, sedangkan Ki Astaman mengambil arah barat karena kegaduhan di sisi timur sudah diketahuinya.

Pembicaraan singkat juga terjadi di pihak Ki Ajar.

“Saya akan berjaga di sini,” kata Ki Ajar Poh Kecik pada Ki Kamejing.

Ki Kamejing memandangnya dengan kening berkerut.

Sambil meraih bahu Ki Kamejing, Ki Ajar berkata, “Saya di sini untuk memastikan kita tidak sedang dijebak, tidak ada yang menusuk dari belakang.”

Sejenak terdengar hela napas pendak dari Ki Kamejing, katanya kemudian, “Demikianlah keadaan kita hari ini—berada di antara orang-orang yang sulit dipercaya. Jika ada yang pantas dikenang sebagai pelajaran adalah kehati-hatian dan kecerdikan dalam memanfaatkan perubahan atau perkembangan.”

Ki Ajar Poh Kecik mengangguk. “Dan mereka mendahului kita.”

Usai merenung sejenak, Ki Kamejing mengatakan, ”Baiklah, saya yang akan menemani kawan-kawan di depan.”

Mereka berjabat tangan erat lalu berpisah.

Ki Kamejing pun berhadap-hadapan dengan Pandan Wangi, sedangkan Ki Ajar Poh Kecik mulai menyisir tempat-tempat yang biasa digunakan Ki Astaman maupun Ki Garjita bertemu dan berbincang.

“Kosong,” desah Ki Ajar dalam hati. Kemudian dia bergeser ke tempat latih Swandaru. Yah, meski baru beberapa hari berada di permukiman perguruan itu, Ki Ajar cepat menghimpun banyak keterangan: kebiasaan-kebiasaan para pemimpin, jadwal latihan dan sebagainya.

Namun ternyata dia juga tidak melihat orang di sekitar tempat latih Swandaru. Suara atau dentuman juga tidak terdengar oleh pendengarannya yang terlatih.

“Di permukiman, dia tidak terlihat. Di sini, dia juga tidak ada,” gumam Ki Ajar dalam hati. Mungkinkah Swandaru berada di tempat lain? Di mana itu? Ki Ajar sadar bahwa dirinya tidak begitu mengenal lingkungan Gunung Kendil. Maka dia pun memikirkan  jalur yang dapat digunakan untuk menyelamatkan kelompoknya dari pembasmian yang mungkin dilakukan oleh Mataram atau Menoreh.

Jika Dusun Ringinlarik ada di utara Gunung Kendil, maka itu berarti dia akan melintasi medan tempur yang sedang panas. Sisi utara adalah sebaran bangunan yang ditempati oleh bekas anak buah Raden Atmandaru. Untuk saat itu, Ki Astaman atau Ki Garjita mungkin sedang bertempur di sana. Menempuh jalur timur atau arah kedatangan serangan pada kelompoknya, itu sama artinya dengan menjemput maut karena kemungkinan sudah disiapkan pengepungan oleh Mataram.

Barat adalah letak Gunung Kunir. Apakah nanti masih dapat disentuh oleh Mataram? Yang pasti adalah jalur menuju Gunung Kunir masih terbuka lebar bagi kelompoknya dan Ki Kamejing.

Ki Ajar pun mengayun langkah ke arah barat untuk pemeriksaan serta memastikan terlebih dulu keamanan jalur kelompoknya. Tapi langkahnya kemudian melambat dan semakin lambat. Sayup-sayup terdengar bunyi dentuman dengan sumber yang tersembunyi di balik rapatnya semak dan lereng yang tidak terlihat.

Dentuman itu seperti yang pernah didengarnya. Mungkin juga pernah dilihatnya secara langsung. Ki Ajar merayap turun,  berlompatan ringan di atas lereng landai yang dilindungi tanaman yang tumbuh seperti pagar alami.

Dalam waktu itu, deru pertarungan Swandaru memang semakin meningkat, sehingga bunyi dentuman yang keluar dari salah satu senjata akhirnya mencapai jalur yang diperiksa Ki Ajar.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 94 – Seandainya Tiga Jalur Tua Dapat Bersatu,, Siapa Penguasa Tanah Jawa?

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 15 – Bentrokan Pecah di Kediaman Ki Gede Menoreh

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 75 – Lemahkan lalu Tumbangkan Agung Sedayu di Kotaraja

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.