Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 27 – Keheningan Maut

Udara di lembah tak bernama itu telah mati, hanya menyisakan dingin yang menggigit tulang. Kabut lebih rapat dan menutup jarak pandang hingga kurang dari tujuh atau enam langkah saja.  Tidak ada cahaya yang mampu menembus pekatnya kabut, sementara curah hujan yang turun tanpa suara memperberat napas dan membasahi tanah hingga menjadi bubur hitam. Langit dan bumi seakan menyatu dalam kegelapan tunggal. Waktu menjadi sesuatu yang tidak dapat dimengerti dan tidak juga dapat dikenali.

Tanah basah, liat, dan licin, membuat pijakan terasa tidak pasti di antara julur akar raksasa dan semak berduri. Dingin merayap dari tanah ke tulang, Tidak ada suara yang bisa diandalkan. Angin bertiup pelan sambil membawa suara-suara yang menipu pendengaran. Tidak ada yang lebih dekat dari Agung Sedayu maupun Raden Atmandaru selain desah napas sendiri. Hanya bau amis lumut saja yang berani menantang keadaan.

Agung Sedayu diam mematung ketika hujan berdenyut melalui setiap butir air yang menabrak segala benda di bawahnya. Murid utama Perguruan Orang Bercambuk ini menyelaraskan napas agar sesuai dengan ketidakaturan jatuhnya hujan. Di sela gemuruh pelan yang kacau itu, dia menahan gerak, membiarkan waktu berhenti sekehendaknya.

Pada satu sisi yang lain, Raden Atmandaru memejamkan mata, meraba setiap jengkal yang berlindung di balik kegelapan. Dia membaca ruang lewat pantulan suara dan dengus angin, menimbang jarak tanpa membuka pandang. Baginya, gelap adalah kawan yang harus dirangkul agar dapat bertahan.

Denyut yang berbeda tiba-tiba menyeruak lalu meliuk-liuk ke dalam pendengaran mereka berdua.

Agung Sedayu maupun Raden Atmandaru cepat menerjang ke arah yang diyakini benar sebagai tempat musuh berada. Lengan berayun, kaki menyapu, dan lompatan-lompatan pendek menyambar-nyambar.

Namun, seketika keadaan menjadi sunyi.

Mereka berdua terdiam membeku ketika sadar bahwa yang mereka serang adalah ruang kosong. Lalu, dari mana asal getaran yang menggaung tipis itu?

Sejenak kemudian, dengung kembali terdengar, merambat rendah di antara bunyi rintik hujan. Dengung itu menerobos kepekatan kabut, memantul balik sebagai getaran teratur yang lebih mirip dentuman berpola.

Jauh di jangkauan penglihatan Agung Sedayu dan Raden Atmandaru, seekor gangsir keluar dari sarang diikuti beberapa ekor lainnya dari lubang berbeda, mengerik sebentar lalu kembali bersembunyi.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

4 Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Pada benturan awal, sekejap kemudian, Agung Sedayu dan Raden Atmandaru sadar bahwa mereka terperdaya oleh alam.

Bagi Agung Sedayu, kabut tidak memberinya ruang yang cukup untuk mengunci pergerakan Raden Atmandaru melalui kekuatan pandangan mata. Pengerahan puncak Sapta Pangrungu pun gagal membedakan getaran yang datang, sementara Sapta Pandulu juga tertipu oleh samar bayangan.

Senapati Mataram itu meraba ruang. Ini benar-benar tidak terjangkau. Meski dapat merasakan hawa yang berlainan, tapi dia tidak punya landasan kuat untuk memastikan pertanyaan: apakah hawa tersebut adalah gerakan yang dilambari tenaga cadangan atau suara alam yang berlapis?

“Andaikata benar, maka pengerahan ilmu Kakang Kawah Adi Ari-ari adalah usaha yang sia-sia. Dua wujud tubuh dapat saling bertabrakan satu sama lain,” pikirnya.

Dua langkah atau lebih—ah, bukan, tapi enam langkah atau lebih. Berapa persisnya? Raden Atmandaru tidak dapat membuat perkiraan saat mengira-ngira desis sambaran yang mungkin berada di depan, di belakang, atau mungkin tepat di sebelahnya. Jika jarak tak dapat diukur, maka lenyaplah dari jangkauan. Dia menata napas, mengendapkan gerak, membiarkan tubuhnya larut ke dalam kabut. Panglimunan.

Namun justru pada saat itu, Agung Sedayu cepat melabrak dengan kecepatan serta kekuatan yang lebih tajam, lebih kuat dan lebih dekat daripada benturan pertama. Seluruhnya tepat pada titik Raden Atmandaru menjejak kaki pada permukaan tanah berlumpur.

Raden Atmandaru tersentak. Dalam sekejap dia memahami kesalahannya. Panglimunan tidak membuatnya menghilang karena kabur justru memperlihatkan keberadaannya. Saat dia memadamkan keberadaan, bayang tubuhnya menjadi lebih jelas oleh selaput cahaya dan kelam. Agung Sedayu pun kembali hanya dapat menghantam dinding udara.

Sekejap berikutnya, mereka berdua sama-sama melompat surut.

Kabut mengambil kendali sebagai penguasa. Suasana kembali seperti semula—hanya ruang yang seolah tidak pernah ada.

Dari sisi tebing bagian barat dan timur terdengar lenguh hewan. Berat, tercekik, ada yang seperti terputus, ada yang melengking panjang, lalu sahutan panjang yang berlapis dan bertindih, seakan semuanya berebut menuju pusat yang sama kemudian berhamburan serentak ke segala penjuru.

Angin bergeser. Daun-daun saling bergesek menimbulkan suara yang lebih mirip orang sedang berbicara. Kayu berderak seperti tulang patah.

Dari balik semak rendah, terdengar suara yang berasal dari gerakan patah-patah. Tiba-tiba menghentak, berhenti mendadak, berpindah tanpa sela lalu berhenti seketika.  Langkahnya pendek seakan-akan ada yang menahan. Daun kering diseret sebentar, air gemricik terbelah kemudian senyap

Agung Sedayu merendahkan lutut, memutar tubuh pada arah yang terasa benar karena getaran yang mempunyai irama hampir teratur. Sementara Raden Atmandaru, pada saat yang sama, mengambil sudut berlawanan; memusatkan perhatian pada ruang yang diyakini ada sesuatu yang ingin menghindar. Kain basah terlipat, telapak kaki menggesek tanah liat! Mereka sama-sama bergerak pada arah yang berlawanan —pada arah yang mereka yakini sebagai kedudukan musuh.

Tanpa aba-aba, mereka mengulang  terjangan.

Siku Agung Sedayu menyambar pendek. Udara terbelah, bunyi gaung tipis menggulung di balik kabut. Raden Atmandaru menangkis dengan telapak terbuka; desis angin pecah di antara pergelangan. Tanah di bawah kaki mereka bergetar ringan mengalirkan sisa tenaga.  Satu langkah bergeser menyilang. Tendangan rendah Atmandaru meluncur, cepat, hampir menyapu mata kaki. Agung Sedayu mengangkat tumit membalas tendangan dengan tendangan. Kabut terkoyak dengan meninggalkan belahan panjang. Lengan pun kemudian terayun saling menyambar, telapak tangan mengembang menampar. Udara menggaung   pendek dan putus-putus karena begitu rapatnya jarak di antara dua orang berilmu tinggi itu.

Mereka sama-sama terpental tapi cepat menjaga keseimbangan. Agung Sedayu dan Raden Atmandaru terpisah jarak setengah langkah. Pandang bertaut, dekat dan untuk pertama kali mereka dapat saling bertatap muka. Wajah dan kedudukan sudah terbaca, arah lawan sudah terduga.

Di belakang mereka, garangan muda itu berhenti bergerak; hanya ada dengus kecil, lalu melihat pada gelanggang pertarungan dua orang hebat tersebut. Garangan pun pergi dengan gerakan putus-putus. Maju, berhenti, berbelok, berhenti, melangkah jauh lalu berhenti dan seterusnya. Ketika dia pergi, suasana kembali sunyi.

Medan tempur tidak memberi waktu lebih lama. Setelah mempertemukan mereka, alam kembali menutup mulutnya.

Meski demikian, Raden Atmandaru dan Agung Sedayu tidak bergerak menjauh. Sepertinya mereka sadar bahwa pertarungan jarak jauh atau menggunakan ilmu andalan akan seperti sedang memberi hadiah kemenangan pada lawan. Jarak tidak pernah melewati tiga langkah. Setapak mundur, masing-masing akan kehilangan jejak. Setapak maju, mereka tidak cukup bodoh untuk membuat kesalahan!

Baik Agung Sedayu maupun Raden Atmandaru sadar bahwa alam pun ikut bertarung di sela ruangan yang ada di antara mereka. Kali ini, garangan menjadi utusan untuk mengacaukan perhatian mereka.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 22 – Dia Menantang Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 24 – Kepompong Kabut Duel Puncak Nyi Banyak Patra

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 14 – Siasat Agung Sedayu: Ubah Senyap Menjadi Gelar Perang

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.