Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 66 – Jejak Latih Ki Tumenggung Agung Sedayu

Matahari belum benar-benar tegak lurus dengan atap barak pasukan khusus ketika Agung Sedayu berbincang dengan Nyi Banyak Patra di salah satu ruang yang bersebelahan dengan sanggar tertutup.

Mereka membicarakan kemampuan kanuragan seseorang yang diketahui Agung Sedayu sebagai pelayan dalam Keraton, tapi dia tidak memberitahukan itu pada Nyi Banyak Patra. Tata gerak dasar dan kembangannya pun mendapatkan perhatian cukup banyak dari saudara perempuan Panembahan Senapati itu.

“Hanya sebuah dugaan,” ucap Nyi Banyak Patra pada akhir persoalan. “Tata gerak itu berasal atau bersumber dari perguruan yang saat ini sudah tidak ada lagi. Perkembangan ilmu itu mungkin berada pada jalur yang tersembunyi. Mungkin kerabat atau salah satu murid utama yang kemudian mengajarkan secara diam-diam.“

Nyi Banyak Patra berhenti sejenak, menarik napas panjang lalu berkata lagi, “Sebenarnya itu sangat menarik, tapi aku tidak lagi berada pada usia yang pantas untuk bertualang.”

Agung Sedayu tersenyum mendengarkan itu, sedangkan Nyi Banyak Patra sedikit terkekeh seakan melihat ada sesuatu yang lucu pada ucapannya itu.

“Seseorang dari Keraton, Ki Yudhanegara, datang saat siang,” ucap Agung Sedayu kemudian dengan nada datar setelah mereka meredakan perasaan, “kekancingan dari Sinuhun telah saya terima dengan baik.”

Nyi Banyak Patra mengangguk tanpa ada kehendak untuk menebak.

“Pemberitahuan penting bahwa saya diangkat menjadi tumenggung bersama satu orang lagi dari barak ini,” kata Agung Sedayu lalu memejamkan mata seakan kenaikan itu akan menjadi beban berat baginya.

“Akhirnya setiap orang tiba pada ujung jalan yang sebenarnya juga bukan berarti akhir dari perjalanan,” ucap Nyi Banyak Patra lirih. “Secara pribadi, saya dapat menduga imbalan itu akan datang, Ngger. Tapi saya juga tidak pernah menduga bahwa kepangkatan itu datang lebih cepat dari dugaan.”

Agung Sedayu tidak segera menanggapi tapi justru dia menarik napas dalam-dalam.

“Apakah Angger tetap akan di Tanah Perdikan sebagai bagian pasukan khusus atau menjalankan tugas di tempat lain dengan kewajiban yang berbeda, tentu itu adalah kehendak Sinuhun. Baik saya maupun Ki Patih nyaris tidak dapat mengubahnya,” lanjut Nyi Banyak Patra.

“Awal mulanya, saya tidak pernah berkeinginan menjadi prajurit, Nyi.” Agung Sedayu berhati-hati memilih kata-kata. “Tapi jika kemudian ada imbalan atau hukuman, saya yakin bahwa itu semua adalah perjalanan yang berlangsung terus menerus.”

“Aku tahu Angger akan berkata seperti itu,” sahut lirih Nyi Banyak Patra. “Kesadaran Angger bahwa tidak ada lagi jalan memutar itu adalah bekal sebenarnya ketika perjalanan hidup mulai dijalani dengan keputusan-keputusan serta pertimbangan yang menyertai.”

“Demikianlah yang seharusnya, Nyi.”

“Bila Nyi Ageng tidak keberatan, saya ingin mengajak serta Panjenengan ke kediaman Ki Gede,” kata Agung Sedayu kemudian.

Wajah Nyi Banyak Patra tampak sumringah walau sekejap dan sepertinya sudah hampir tidak ada lagi sesuatu yang sanggup menahan ketenangannya lebih lama. Kediaman Ki Gede itu artinya dia akan bertemu dengan murid terkasih, Kinasih.

Setelah beberapa pesan ditinggalkan untuk Ki Lurah Sanggabaya dan Ki Demang Brumbung, Agung Sedayu dan Nyi Banyak Patra tidak memilih jalan utama yang mengarahkan lebih cepat menuju kediaman Ki Gede Menoreh. Mereka mengambil jalur memutar, menyisir tepian hutan kecil di pinggiran Tanah Perdikan.

Sebenarnyalah selama beberapa waktu, semenjak gerakan makar Raden Atmandaru dipadamkan, Agung Sedayu banyak terlibat pembicaraan ketat dengan Nyi Banyak Patra. Latihan-latihan di sanggar tertutup yang ada di dalam barak pun kerap dilakukan. Itu semua untuk menjajagi petunjuk-petunjuk penting mengalir deras dari guru Kinasih tersebut pada Agung Sedayu.

Simpul-simpul kanuragan yang bersumber dari jalur ilmu Kyai  Gringsing meningkat pesat hingga mampu mencapai tingkat yang sulit dinalar.

Dalam perjalanan ke rumah Ki Gede yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu singkat pun akhirnya menjadi semakin panjang.

Sesekali Agung Sedayu berhenti, melatih beberapa gerakan yang tampak ringan tapi sebetulnya sedang terjadi pengerahan kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. Meski tampak diam, tapi batu kali yang menjadi pijakan Agung Sedayu tampak tergerus. Ketika senapati Mataram itu bergeser tempat maka dua lubang dangkal akan menjadi bekas kuat yang ditinggalkan olehnya.

Kemudian mereka berjalan lagi berdampingan. Nyi Banyak Patara menggerakkan tangan berulang seolah sedang menjelaskan bagian-bagian ilmu dari jalur perguruannya pada Agung Sedayu. Ketika merasa sudah mencapai sebuah batas, Nyi Banyak Patra meminta Agung Sedayu mengulang pengajaran. Demikianlah Agung Sedayu melatih diri dengan pengawasan ketat Nyi Banyak Patra dalam perjalanan mereka menuju rumah Ki Gede Menoreh.

Pada pemberhentian berikutnya, Nyi Banyak Patra meminta Agung Sedayu berjalan di jalur air. Yang kemudian terjadi adalah sebagian air menjadi benda padat yang tipis. Itu semua berada di bawah pengamatan Nyi Banyak Patra yang memandang perlu menambah wawasan agar penguasaan ilmu Agung Sedayu semakin matang dan semakin dalam.

“Tidak banyak yang dapat saya ajarkan pada Angger,” kata Nyi Banyak Patra saat regol halaman Ki Gede Menoreh sudah terlihat. “Kyai Gringsing sudah memberikan segalanya, saya hanya menambah sedikit dari yang saya pahami.”

Agung Sedayu menggeleng, katanya, “Saya harus berterima kasih untuk yang Nyi Ageng sebut sedikit. Itu, bagaimanapun, adalah karunia dari Yang Maha Kuasa melalui welas Nyi Ageng pada saya.”

Nyi Banyak Patra tersenyum kemudian mengangguk. “Inilah kita berdua hari ini. Usia terus bertambah, kemampuan makin terkikis tapi Yang Maha Agung tetap pada keadaan-Nya.”

Seorang penjaga regol tampaknya sudah melihat kedatangan Agung Sedayu dan Nyi Banyak Patra, maka dia segera belari masuk ke dalam kediaman. Tak lama kemudian, Ki Gede berjalan tenang menyambut mereka berdua di bawah regol.

Penghormatan yang sangat baik menjadi pengganti ucapan selamat datang dari Ki Gede pada Nyi Banyak Patra.

“Menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi seluruh orang di Tanah Perdikan ini ketika Nyi Ageng berkenan tinggal beberapa waktu meski di barak pasukan khusus,” kata Ki Gede sambil sedikit membungkukkan badan ketika mereka sudah duduk bersama di dalam pringgitan.

“Ki Gede benar-benar menjadi seseorang yang mendapatkan hati banyak orang,” ucap Nyi Banyak Patra dengan tatap mata sungguh-sungguh.

Sejenak kemudian, mereka terlibat percakapan sehari-hari: ringan tapi penuh makna dan pesan.

Beberapa orang yang bekerja di kediaman mulai terlihat sibuk di bagian belakang. Menyiapkan hidangan makan malam dan rupa-rupa jamuan untuk menghormati dua orang yang sudah tidak dapat lagi dianggap tamu di Tanah Perdikan.

Seorang perempuan senja berjalan pelan masuk dan keluar dari dua bilik yang bersebelahan. Wajahnya tampak penuh semangat ketika memberitahukan pada Pandan Wangi dan Kinasih mengenai kedatangan Agung Sedayu dan Nyi Banyak Patra.

Kinasih adalah orang pertama yang keluar menyambut mereka berdua di pringgitan. Menganggukkan kepala ringan pada Ki Gede, memandang penuh arti pada Agung Sedayu lalu bersimpuh di lutut Nyi Banyak Patra dengan jemari bergetar menggenggam tangan gurunya itu.

:Guru,” sapa Kinasih sangat pelan, hampir tidak terdengar.

Nyi Banyak Patra tidak segera menjawab. Dia mengelus rambut murid terkasihnya dengan gerakan yang sangat lembut. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh wibawa kini melunak; ada gurat keibuan yang sangat kuat terpancar dari sana.

“Kinasih,” sahut Nyi Banyak Patra lirih. “Sekalipun kita berdekatan tapi jarak terasa sangat jauh. Tapi aku mengerti alasanmu tidak mencariku. Itu bagus sekali. Tatanan dan kebiasaan tetap terjaga di dalam pagar masing-masing. Ayo, duduklah.”

Ki Gede kemudian berpaling kepada Agung Sedayu, menepuk bahunya pelan. Ada binar kebanggaan sekaligus kelegaan dalam tatapannya, menyadari keadaan Agung Sedyau yang dikelilingi pilihan sulit tapi semuanya masih berjalan baik-baik saja.

Tak lama kemudian, Pandan Wangi mendekat dengan langkah berwibawa. Pesona dan wibawa seorang putri Kepala Tanah Perdikan Menoreh jelas terpancar dari seluruh bagian tubuhnya. Setelah menyapa ramah Nyi Banyak Patra, sinar mata Pandan Wangi sedikit berubah ketika membentur pandang Agung Sedayu. Tapi itu tidak lama dan mungkin tidak ada orang yang mengetahui perubahan itu.

“Saya pikir jika Ki Rangga dan Nyi Banyak Patra datang bersama di rumah Ki Gede, ini pasti menjadi sebuah tanda,” ucap Pandan Wangi lembut tapi tegas.

Nyi Banyak Patra tersenyum, sedikit terkekeh lalu berkata,  “Panggraita yang sangat tajam. Tapi biarlah Ki Rangga yang akan mengatakan seluruhnya.”

Maka pandangan mata orang-orang pun beralih pada Agung Sedayu.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 44 – Dua Mata Pisau Mengarah pada Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 5 – Menari di Atas Kematian Ki Gede

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 6 – Ki Argajaya Menemui Pangeran Purbaya

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.