Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 65 -Era Baru: Ki Tumenggung Agung Sedayu

Swandaru memandang pada arah Ki Hariman. Mereka belum pernah saling melihat, tapi ada sesuatu yang seakan menghubungkan keduanya. Seperti dua garis yang perlahan ditarik menuju satu pertemuan yang tak terhindarkan.

Ki Hariman menarik napas pendek lalu melangkah keluar.

Kabut yang tersisa seperti menyingkir perlahan, membuka ruang di antara mereka.

Tidak ada seorang pun yang bicara. Perasaan Ki Wiraditan malah sedikit gugup tanpa dia tahu sebabnya. Tiga kawannya hanya bertukar pandang cemas tanpa mampu menduga yang akan terjadi berikutnya.

Ki Astaman dan Ki Garjita berdiri tegak dengan tatap mata yang sangat awas.

Untuk sesaat, Gunung Kendil menahan napasnya lagi.

Swandaru tetap duduk sambil menatap lurus pada orang yang kini berdiri di batas tanah lapang.

Kekancingan Baru

Dua minggu kemudian.

Lereng Gunung Kendil masih diselimuti kabut. Pada saat yang sama, barak pasukan khusus kedatangan tamu, seorang utusan dari Keraton.

Dari regol barak pasukan, Ki Prana Aji tidak langsung membawa utusan Keraton menuju bilik kerja Agung Sedayu.

Udara terasa berbeda. Mungkin karena gerimis ringan dan kabut tipis, yang pasti adalah suasana di barak seakan tidak ada tekanan. Prajurit berlalu lalang dengan segala kesibukan seperti biasa. Orang-orang bertegur sapa dengan ucapan ringan—seolah-olah tidak ada kesan bahwa mereka baru saja mengalami ketegang puncak yang nyata di Gunung Kendil.

Ki Prana Aji berjalan setengah langka di depan utusan Keraton. Sikap mereka cukup rapi dan tertata.

Mereka melewati halaman samping. Seorang perempuan berdiri di samping dinding papan sambil menghadap meja kecil yang di atasnya ada beberapa jenis tumbuhan perlengkapan dapur. Usianya telah melewati puncak, tapi tubuhnya masih tegak. Tidak ada perhiasan mencolok, tidak ada tanda-tanda kedudukan yang dipamerkan. Hanya kain sederhana dan sikap yang tidak meminta perhatian.

Perempuan itu tetap memandang permukaan meja, sibuk dengan kegiatannya meracik daun dan akar seperti wajarnya tukang masak. Dia memandang sekilas ke arah duaorang yang melangkah ringan mendekatinya.

Ki Prana Aji mengangguk hormat dengan senyum mengembang.

Perempuan itu membalas dengan anggukan kecil.

Utusan Keraton tetap berjalan dengan wajah lurus menghadap ke depan. Sekilas dia memandang, lalu mengalihkan perhatian. Dalam pikirannya, perempuan itu tidak lebih dari orang dalam barak—mungkin pengurus, mungkin pelayan, atau seseorang yang tinggal di sekitar tempat itu.

Mereka berlanjut beberapa langkah sampai mendekati lorong yang bersimpang tiga. Baru kemudian Ki Prana Aji berkata, seolah menyebut sesuatu yang ringan, “Beliau Nyi Banyak Patra.”

Langkah utusan itu tiba-tiba terhenti. Dadanya berdetak kencang. Sesuatu di dalam dirinya bergeser cepat: dia Nyi Banyak Patra?

Dia ingin menoleh tapi berusaha kuat untuk menahan diri. Sejenak dia menyesal bahwa sesuatu yang sangat penting justru terlewatkan dengan sikap yang dapat dianggap abai. Wajahnya cukup tegang dan napasnya menjadi lebih pendek.

“Marilah, Ki Yudhanegara,” kata Ki Prana Aji yang kemudian tidak menambah ucapan.

Ki Yudhanegara mengangguk dengan pikiran berkecamuk. Dia tidak bersalah dan juga tidak terlalu terkejut. Sebelumnya, dia sudah mendapatkan keterangan bahwa ada saudara Panembahan Senapati yang berada di dalam barak tapi suasananya tidak persis dengan yang dibayangkan serta diomongkan oleh orang-orang.

“Bukankah beliau seharusnya berada di dalam bilik dan mendapatkan perlakuan wajar? Tapi mengapa Ki Rangga justru menunjukkan sikap yang berlainan dengan paugeran?” Ki Yudhanegara bertanya-tanya dalam hati.

Namun yang baru saja dilihatnya: seorang perempuan tua, berpakaian sederhana, menghadap keranjang dan meja sederhana, tanpa pengawalan mencolok dan tanpa penegasan kedudukan. Tapi Ki Prana Aji… justru memberi hormat.

Dalam benaknya, satu kesimpulan mulai terbentuk meski belum utuh: barak ini tidak disusun berdasarkan kebiasaan Keraton.

Ki Yudhanegara memandang Ki Prana Aji tetap berjalan tanpa memperlambat langkah dari belakang. Sikap itu, seolah-olah Nyi Banyak Patra bukan orang penting.

Sadar bahwa Ki Yudhanegaa sedang dengan alam pikirannya, Ki Prana Aji melambatkan langkah. Jalan yang dipilihnya sedikit memutar, melewati sisi luar barak, melintasi pagar bambu yang tidak sepenuhnya rapat, lalu menurun sedikit ke arah tanah lapang yang digunakan sebagai tempat latihan.

Ki Yudhanegara, utusan Keraton mempercepat langkah hingga berjajar dengan Ki Prana Aji. Tetapi matanya tidak diam. Dari celah-celah pagar, tampak beberapa prajurit berlatih kanuragan bersama orang-orang yang berpakaian ringkas. Di sudut lapangan, terlihat sejumlah wajah yang keras dengan tubuh berbalut kain penahan luka. Tidak ada suara gaduh. Bahkan terlalu sepi untuk sebuah barak pasukan yang baru saja menghadapi benturan.

“Begitu bebas dannyaris tak tampak seperti tawanan perang,”, kata utusan itu akhirnya.

Ki Prana Aji mengangguk. “Mereka bukan penjahat yang tidak mempunyai jantung.”

Ki Yudhanegara menarik napas dalam-dalam. Jawaban yang tidak seperti yang dia bayangkan.

Mereka melangkah lagi.

Di bagian yang lebih dalam, barak berubah wajah. Bau obat dan darah yang mulai mengering bercampur dengan asap tipis dari tungku kecil. Beberapa orang merintih pelan, tertahan, seolah rasa sakit pun harus tunduk pada aturan.

Utusan Keraton berhenti sejenak. Pandangannya jatuh pada seorang yang duduk tenang dengan pandang mata tertuju ke arah tanah lapang. Sikapnya tidak memperlihatkan bahwa dirinya orang biasa.

“Dia Ki Garu Wesi, salah satu panglima perang Raden Atmandaru,” ucap Ki Prana Aji memperkenalkan tapi dia tidak mengajak lebih dekat.

“Panglima perang? Sebebas itu?” tanya Ki Yudhanegara saat mengamati Ki garu Wesi yang tangannya tidak terikat.

Anggukan yang dalam menjadi jawaban yang meyakinkan. Tapi memang begitulah keadaan di Menoreh sekarang, semua berada di pertengahan seperti kabut yang enggan menghilang, seperti hujan yangtidak pernah deras.

Mereka terus berjalan.

Akhirnya mereka sampai pada tempat jauh lebih rapi dibandingkan dengan segala ruang yang telah dilalui. Di sana, Ki Sor Dondong duduk di atas pembaringan dengan punggung bersandar dinding.

Ki Prana Aji mempersilakan Ki Yudhanegara untuk masuk. Utusan Keraton ini menarik napas panjang dengan pikiran penuh tanya tapi tidak terucapkan.

“Ki Sor Dondong,” kata Ki Prana Aji. “Panglima Raden Atmandaru yang bertanggung jawab di lereng barat Gunung Kendil.”

“Keadaan ini…,” ucap Ki Yudhanegara lirih.

Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki barak, utusan Keraton itu seakan kehilangan nalar untuk memahami keadaan. Dia tertegun dan lebih banyak diam kemudian. Ada prajurit berlatih kanuragan bersama tahanan dalam barisan yang rapi. Ada yang berjalan-jalan bebas. Yang sakit pun mendapatkan perawatan penuh. Ada keturunan Ki Ageng Pemanahan yang malah terlihat seperti orang kebanyakan.

Ki Prana Aji melirik sekilas seolah mengetahui yang bergolak di dalam benak tamunya, tapi tidak berniat memberi penjelasan.

“Ke sini,” katanya singkat.

Mereka berhenti di depan sebuah bilik yang pintunya tidak ditutup rapat.

Ki Prana Aji mengetuk singkat, lalu melangkah masuk.

Ki Yudhanegara mengedarkan pandangan cepat. Ruang itu terasa cukup—cukup luas untuk dua atau tiga orang berdiri tanpa saling menyentuh, tapi tidak tampak seperti ruangan yang ditempati seorang kepala pasukan khusus dengan anak buah lebih dari dua ratus orang. Dinding kayu tanpa ukiran berlebihan. Tidak ada kemewahan. Tidak ada simbol kekuasaan yang dipamerkan. Ruangan yang tidak menyembunyikan pikiran, perasaan maupun rahasia.

Sebuah meja rendah di satu sisi. Di atasnya gulungan kain yang sudah dapat ditebak: peta lingkungan.

Di sudut lain, ada senjata. Tidak dipajang. Disandarkan. Siap dipakai,

Udara di dalam ruangan terasa… bersih. Terlalu bersih untuk tempat yang berada di tengah kekacauan Menoreh.

Agung Sedayu sudah ada di dalam, berdiri menyambut kedatangan Ki Yudhanegara, mempersilakan dudu. Walau demikian, dia tidak cukup lama menatap mata utusan Keraton itu. Tegur sapa ringan menjadi pembuka pertemuan. Ki Prana Aji mundur, merapatkan tubuh pada dinding di samping meja Agung Sedayu.

“Banyak…,” ucap Ki Yudhanegara tapi dia tidak meneruskan kata-kata.

Agung Sedayu mengangguk dengan sikap tertahan. Dia tidak ingin mencari tahu kelanjutan ucapan Ki Yudhanegara. Menurutnya, utusan itu bisa jadi akan mengungkapkan pendapat setelah melihat-lihat keadaan sesungguhnya di dalam barak pasukan khusus.

Ki Yudhanegara kembali berdiri sambil mengeluarkan gulungan kain yang rapi dengan segel Mataram.

“Kedatangan saya adalah untuk menyerahkan kekancingan dari Sinuhun untuk Ki Rangga,” kata tegas Ki Yudhanegara sambil sedikit membungkuk. Suaranya terdengar bergetar di ujung lidah. Serba sedikit, keadaan di barak pasukan memang membuatnya terguncang. Banyak ketidakwajaran yang dilihatnya, lalu, bagaimana dia melaporkan itu semua pada Sinuhun dan Pangeran Purbaya?

Ki Rangga Agung Sedayu menjemput kekancingan dengan sikap serupa dengan Ki Yudhanegara.

“Sebagian isinya adalah Sinuhun berkenan menempatkan Ki Rangga pada tanggung jawab lebih tinggi sebagai tumenggung dan Ki Lurah Sanggabaya sebagai rangga,” Ki Yudhanegara menambahkan.

Agung Sedayu menerima gulungan itu dengan sikap hormat seakan Sinuhuh sendiri yang memberikan padanya. Dia membuka lalu membaca dengan saksama. Tidak ada perubahan raut seakan isi kekancingan sudah menjadi bagian dari keseharian yang dijalani.

Selesai membaca, Agung Sedayu menggulung kembali kain itu dengan rapi.

“Titip sembah hormat kepada Sinuhun,” katanya tenang. “Atas kepercayaan ini, kami menghaturkan terima kasih. Dengan janji menjalankan dhawuh sepenuh hati dan tenaga.”

Ki Yudhanegara mengangkat wajahnya sekilas. Di dalam ruang pikirannya yang lain, dia sebenarnya menunggu pemimpin pasukan khusus itu memberi sedikit penjelasan tentang keadaan di barak.

“Saya akan menyampaikan seluruhnya tanpa penambahan dan pengurangan,” katanya.

Agung Sedayu mengangguk dan tidak ada tambahan darinya.

“Tugas telah selesai. Saya mohon diri,” ucap Ki Yudhanegara selanjutnya.

 “Barak ini terbuka bila Ki Yudhanegara hendak bermalam,” sahut Agung Sedayu.

Ki Yudhanegara menggeleng perlahan. “Terima kasih tapi tugas lain sudah menunggu.”

“Saya mengerti.”

Ki Yudhanegara membungkuk dalam, lalu berbalik melangkah keluar.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 74 – Rencana: Swandaru versus Ki Hariman

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 42 – Pagi yang Sunyi di Jantung Mataram

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 71 – Benih Perguruan Tandingan Orang Bercambuk

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.