Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 68 – Swandaru Dalam Pengamatan

Ki Prana Aji tetap di dalam barak, mengatur pergantian jaga dan memastikan segala sesuatu berjalan tertib. Memastikan bahwa para prajurit tetap berlatih, sebagian membersihkan peralatan, sebagian lagi berjaga seperti hari-hari sebelumnya.

Glagah Putih bertugas secara khusus dengan pengamatan pada Ki Garu Wesi. Ketinggian ilmu mantan panglima Raden Atmandaru itu memang patut mendapatkan perhatian khusus mengingat daya tahannya semakin baik hari demi hari.

Tapi Agung Sedayu meminta dia melakukan tugasnya tanpa kesan berlebihan atau menonjol. Pengawasan yang diinginkannya adalah menjaga jarak agar segala sesuatu tetap dalam batas wajar.

Pembicaraan itu digelar Agung Sedayu secara terbatas. Dia tidak ingin banyak prajurit yang tahu kabar wisuda yang sebentar lagi dihelat di Keraton Mataram. Maka pembagian tugas pun dilakukan diam-diam dan harus dijalankan secara sederhana.

Usai membubarkan pertemuan, Agung Sedayu dan Nyi Banyak Patra berbincang dengan tenang di bagian samping sanggar terbuka.

“Besar kemungkinan dalam waktu dekat ini saya harus segera kembali ke Keraton,” ucap Nyi Banyak Patra.

Agung Sedayu mengangguk hormat. Keputusan itu akhirnya akan disampaikan padanya.

“Angger tentu berangkat terlebih dulu karena Sekar Mirah yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja,” lanjut Nyi Banyak Patra. “Dia bukan perempuan biasa. Angger banyaklah berterima kasih dengan pasangan hati seperti Angger Sekar Mirah.”

Agung Sedayu kembali mengangguk tenang.

Nyi Banyak Patra berkata lagi, “Saya akan berangkat dua hari sebelum hari wisuda.”

Sejenak dia menjeda kalimatnya, menatap Agung Sedayu lekat, lalu berkata, “Penataan yang Angger lakukan, itu sangat baik. Menempatkan seseorang tetap berada di luar mungkin akan memudahkan pengawasan dan pengamatan. Saya pikir memang lebih baik seperti itu meski pada akhirnya dia akan merasa bebas keluar masuk barak ini.”

Agung Sedayu paham arah pembicaraan Nyi Banyak Patra. Dia memang tidak memberi Ki Wedoro Anom tugas seperti yang dilaukannya pada prajurit utama lainnya. Tidak, justru dia cenderung menyerahkan Ki Wedoro Anom untuk menjalankan kehendaknya sendiri. Sedikit berbahaya tapi sepertinya lebih aman daripada dia berada di dalam barak pasukan khusus.

“Saya akan mengirim orang, meminta Ki Lurah Plaosan agar berkenan mendampingi Nyi Ageng kembali ke kotaraja,” ucap Agung Sedayu lalu merasa geli dengan yang baru dikatakannya itu.

Gayung bersambut, Nyi Banyak Patra kemudian berkata, “Saya datang bersama Ki Lurah Plaosan tapi atas penjemputan yang dirancang Ki Patih. Sekarang? Saya kembali ke kotaraja dalam rancangan senapati pilihan Ki Patih Mandaraka. Lihatlah, Ngger. Kita kembali ke dalam rencana atau rancangan yang sering dianggap yang terbaik padahal hanya bentuk pengulangan dari masa lalu.”

Tawa ringan pun berderai di antara mereka.

Percakapan berhenti sebentar. Nyi Banyak Patra kemudian mengatakan banyak hal, nasihat dan pesan penting yang nantinya dapat dijadikan pegangan oleh Agung Sedayu.

Rencana perjalanan itu pun tiba pada waktunya.

Pagi-pagi, Ki Lurah Sanggabaya berangkat terlebih dulu menuju Kali Progo dan seterusnya hingga mencapai kotaraja.

Menyusul kemudian menjelang siang adalah Agung Sedayu yang berkuda sendirian dengan kecepatan rendah.

Di belakangnya, saat mendekati senja, Pandan Wangi dan Kinasih berangkat berdampingan. Mereka akan berada di depan Agung Sedayu jika sudah tiba pada jalur yang mengarak ke Kotaraja.

Tiga orang yang berangkat akhir itu tidak langsung ke kotaraja, tapi menuju Sangkal Putung terlebih dahulu untuk menjemput Sekar Mirah, kemudian bertemu Ki Lurah Sanggabaya yang menunggu pada tempat yang telah disepakati sebelumnya.

Barak pasukan khusus tetap berjalan seperti biasa dengan tambahan satu orang yang masuk dalam pertimbangan Agung Sedayu, Ki Wedoro Anom.

Dalam waktu itu, para prajurit tetap bekerja, berbicara, dan beristirahat seperti hari-hari biasa. Sedangkan para tahanan juga memilih bertahan dalam kegiatan membantu prajurit dalam pekerjaan dapur atau kebersihan

Tidak ada tanda-tanda sesuatu yang besar akan terjadi.

Ki Wedoro Anom tidak banyak bertanya atau berbicara pada kunjungannya yang pertama kali sejak pertempuran Gunung Kendil. Ki Demang Brumbung, Glagah Putih dan yang lain juga bersikap biasa saja. Tidak ada yang menerangkan keberadaan Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Lurah Sanggabaya pada Ki Wedoro Anom.

Di dalam waktu dua minggu itu, kegiatan di Gunung Kendil semakin meningkat.

Gunung Kendil tidak lagi sepenuhnya sunyi. Sebagian orang sibuk membelah kayu, memasang dinding papan untuk mengubah gubug menjadi tempat yang lebih pantas menjadi ruang istirahat.

Pada sisi lain di atas tanah yang sempat menjadi perkemahan Raden Atmandaru, di tanah lapang, sejumlah orang berlatih kanuragan di bawah pengawasan Ki Astaman. Latihan tidak berhenti pada gerak dasar. Tubuh-tubuh bergerak lebih cepat dan bertenaga. Kesungguhan tampak pada wajah yang bermandi peluh.

Rupanya jumlah orang yang berada di bagian lereng itu tidak lagi kurang dari sepuluh orang. Sejumlah orang tampaknya baru bergabung dengan berbagai niat dan latar belakang. Beberapa bangunan juga bertambah dari yang semula hanya ada tiga gubug saja.

Swandaru berlatih terpisah dan memilih tempat yang agak jauh dari permukiman. Dia hanya ditemani oleh Ki Garjita yang setia membayanginya. Sekalipun pada mulanya merasa terganggu, tapi Ki Garjita agaknya cukup paham cara menempatkan diri. Dia tidak serta merta memberi petunjuk jika melihat celah kelemahan. Orang itu pun berlatih seperti yang lain, yang membedakan adalah Ki Garjita sengaja menyediakan diri sebaga lawan tanding yang sangat ulet. Itu benar karena Swandaru sendiri merasakan perbedaan tajam jika dibandingkan perkelahian sesungguhnya saat benturan pertama menghadapi Ki Garjita.

Sejak Swandaru tiba di perkemahan lalu berlatih, Ki Garjita tidak pernah benar-benar melepas perhatiannya. Ada kejanggalan yang terus mengganggu pikirannya. Swandaru tidak sekali pun menggunakan cambuk, pikirnya.

Ki Garjita yang mumpuni dalam kanuragan sudah tentu memahami arti latihan dasar, tapi mengapa terus mengulang tanpa sekalipun menyentuh senjata? Sebagian pikiran Ki Garjita cukup sibuk mencari jawaban atas pertanyaan: apakah ia sedang menahan sesuatu? atau justru ada bagian yang belum pulih?

Beberapa kali keinginan untuk bertanya muncul. Namun Ki Garjita menahannya. Dia memilih untuk menunggu—hingga benar-benar menemukan celah yang tidak dapat disembunyikan oleh gerak.

Dalam waktu itu, Ki Hariman berada di antara mereka. Bahkan sekali-kali bicara dengan Swandaru dengan persoalan ringan. Sekali waktu, dia bahkan berlatih pula di tempat yang cukup dekat dengan Swandaru. Sebuah latihan yang tidak hanya bertujuan menjaga maupun meningkatkan kemampuan, tapi juga pengamatan yang nyaris sama dengan Ki Garjita.

Baik Ki Astaman maupun Ki Garjita bukan tidak mengetahui pergerakan Ki Hariman, tapi mereka sepertinya sudah sibuk dengan rencana masing-masing yang terus berputar-putar di dalam pikiran.

Dari jalur selatan, tampak dua orang berjalan mendekat. Mula-mula mereka tampak seperti pemburu. Namun sikap mereka berubah ketika mendengar bentakan-bentakan yang menyerupai aba-aba latihan kanuragan.

Mereka adalah pengawal dari pedukuhan induk. Dengan sangat berhati-hati, mereka mendekat tanpa memasuki kawasan perkemahan. Jarak dijaga dengan cermat. Dari balik sela batang dan semak, mereka melihat bangunan-bangunan kecil yang mulai tegak, serta orang-orang yang berlatih dengan teratur.

Mereka bertukar pandang dengan kening berkerut, mengangguk.  Tanpa suara, mereka merayap mundur, menjauh dari lereng itu. Setelah mencapai batas yang dianggap aman, mereka segera berbalik dan berjalan cepat menuju kediaman Ki Gede Menoreh.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 36 – Kabar Para Tahanan dan Jejak Samar

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 19 – Aku Berdiri di  Sisimu, Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 53 – Pertemuan Agung Sedayu dengan Kyai Bagaswara

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.