Di Sangkal Putung, dua hari menjelang pelantikan, rombongan Agung Sedayu tiba di kediaman Ki Demang.
Matahari telah naik cukup tinggi ketika mereka memasuki halaman. Bayang-bayang hampir tegak lurus di bawah telapak kaki kuda. Udara terasa gerah ketika debu tipis terangkat dari langkah kaki kuda dan orang-orang yang berjalan di jalur utama Kademangan Sangkal Putung.
Sekar Mirah menjadi orang pertama yang melihat kedatangan itu. Dia mengetahui dan sudah membuat persiapan menyambut kedatangan Agung Sedayu dan rombongan kecil bersamanya. Saat melihat Agung Sedayu mendekat regol halaman, Sekar Mirah turun dari beranda, menyongsong sebelum rombongan itu benar-benar memasuki halaman.
Tegur sapa hangat, percakapan ringan segera terucap saat Sekar Mirah meraih lengan Pandan Wangi dan Kinasih. Agung Sedayu memandang kehangatan itu wajah yang cukup tenang.
Para pengawal kademangan segera sibuk mengambil alih kendali kuda, menempatkan seluruh tunggangan di kandang yang agak jauh dari halaman belakang.
Tidak lama kemudian, Kyai Bagaswara muncul dari dalam. Di belakangnya, Sukra menyusul sambil menggendong Sekar Wangi yang tampak terjaga setengah, matanya masih berat tapi mimik wajanya memacanrkan rasa ingin tahu yang besar. Bayi mungil itu berusaha mengangkat wajah—mencoba melihat orang-orang yang datang. Meski demikian, Sukra tidak turun ke halaman.
Suasana tidak menjadi gaduh, tapi ada perubahan. Orang-orang yang berlalu lalang di depan kediaman mulai menoleh. Beberapa menghentikan pekerjaannya lalu ikut serta menyapa Agung Sedayu dan yang lain ketika mereka mengenali iring-iringan yang datang dari Tanah Perdikan. Sebagian tetap berjalan dengan senyum mengembang ketika merasakan keintiman yang menyebar.
Sayoga datang paling akhir. Dia muncul dari samping rumah dengan sepotong kayu bakar masih di tangannya. Keringat membasahi pelipisnya. Dia menurunkan kayu yang dibawanya, lalu berjalan mendekat tanpa tergesa, menyapa satu per satu wajah yang datang.
Pertemuan kemudian bergeser ke pringgitan tapi percakapan ringan itu tetap berlangsung. Sekali-kali terdengar canda yang benar-benar membuat suasana semakin cair.
Dari dalam rumah, seseorang memanggil pelan.
Waktunya makan siang.
Tidak ada yang segera bergerak lebih dahulu hingga Sekar Mirah menyendok nasi yang dipindahkan ke alas makan Agung Sedayu. Pandan Wangi, Sayoga, Kinasih dan Sukra mengikuti kemudian. Sementara Sekar Wangi ditempatkan di atas pembaringan mungil yang diletakka di dekat Sekar Mirah.
Hidangan tersusun sederhana. Nasi hangat masih mengepul, ditemani sayur dan lauk yang tidak berlebihan.
Beberapa kalimat ringan masih terdengar—keadaan Ki Patih Mandaraka, cuaca di Tanah Perdikan, tentang hal-hal yang tidak menuntut jawaban panjang—termasuk penentuan waktu untuk keberangkatan mereka ke kotaraja.
Ki Demang Sangkal Putung sekalian istri datang pula pada perjamuan itu. Dalam waktu dekat, mereka berdua akan kembali ke kediaman setelah diungsikan beberapa waktu demi keamanan.
Makan siang itu berlangsung sebagaimana mestinya.
Seusai makan, mereka tidak segera beranjak jauh. Suasana masih terasa akrab meski hidangan dan perlengkapan sudah dirapikan.
“Suasana ini mungkin ada perbedaan seandainya Swandaru berada di sini, sekarang,” ucap lirih Ki Demang yang kemudian lengannya disentuh oleh Nyi Demang.
“Bersabarlah dan sedikitlah lebih tegar,” kata Nyi Demang. “Swandaru tentu mempunyai alasan kuat sehingga dia tidak berada di kademangan belakangan ini.”
Udara sedikit terasa lebih sesak. Napas orang-orang mendadak menjadi pendek tapi tidak ada yang mengucapkan sesuatu hingga Agung Sedayu kemudian berkata, “Swandaru dalam keadaan baik, Ki Demang. Bila tidak, saya yakin jika dia gelisah mungkin setara dengan kegelisahannya di masa lalu, saat Sidanti masih berada di sini.”
Ki Demang sekalian lantas mengangguk.
Tak lama kemudian, Pandan Wangi bangkit perlahan, bergeser lebih dekat pada Sekar Mirah.
“Mirah,” ucap Pandan Wangi perlahan seakan ingin suaranya tidak menganggu Sekar Wangi yang tampaknya tidur cukup pulas. “Ketika pertempuran di Kali Tinalah mendekati akhir, Ki Lurah Sora Sareh menerima tongkat ini dari lawannya, Ki Jambuwok.”
Pandan Wangi mengeluarkan tongkat pendek itu dari kain pembungkus dengan hati-hati, mengangsurkannya pada Sekar Mirah dengan tenang.
Sekar Mirah menerimanya dengan gerak yang tidak sepenuhnya ringan. Jarinya menggenggam batang tongkat itu, sementara matanya memicing, menelusuri setiap bagian seolah mencari sesuatu yang tersembunyi di balik bentuk yang sederhana.
Dia tidak segera berbicara.
Pandan Wangi berkata lagi, “Ki Lurah Sora Sareh memberikan ini padaku untuk diserahkan padamu.” Kemudian dia menarik napas panjang.
Kyai Bagaswara yang sejak tadi duduk tenang, tampak berubah sikap. Tubuhnya sedikit condong ke depan. Tatapannya tidak lagi sekadar melihat, tetapi mencoba mengenali. Seperti ada ingatan lama yang masih mencari jalan keluar sebelum muncul ke permukaan. Keningnya berkerut. Sejenak dia menghela napas pendek.
Agung Sedayu memperhatikan tongkat itu dan pikirannya nyaris sama dengan Kyai Bagaswara. Dia bahkan tidak pernah melihat tongkat itu atau mendengar segala sesuatu yang terhubung dengannya.
Sukra dan Sayoga saling berpandangan sejenak.
Tanpa perlu isyarat yang jelas, mereka mengundurkan diri, bergeser ke bagian belakang, memberi ruang tanpa diminta. Langkah mereka ringan, tetapi kesadaran mereka tetap tertuju pada yang sedang terjadi di masa mendatang walau tanpa keberanian untuk membuat dugaan.
Di tengah ruangan, tongkat itu kini menjadi pusat perhatian.
Tongkat itu masih berada di tangan Sekar Mirah kemudian dia berkata, “Panjang tongkat ini mungkin sama dengan tongkat Perguruan Kedung Jati. Dua batang tongkat yang berlainan bentuk kepalanya.”
Sekar Mirah lantas menyerahkannya pada Agung Sedayu.
Senapati Mataram itu lantas mengamati lebih teliti, Berbahan baja putih pilihan, tidak dapat dikatakan ringan atau berat, cukup imbang ketika ditimbang di bagian pertengahan. Sambil mengangkat tongkat sedikit, dia berkata, “Secara umum, tongkat ini benar-benar sangat baik. Pastilah ada arti dan kisah tertentu hingga akhirnya berada di Sangkal Putung.”
“Apakah Kakang berencana mengumpulkan keterangan mengenai tongkat itu melalui petugas sandi?” tanya Pandan Wangi.
Agung Sedayu menggeleng. “Mungkin bukan bentuk perintah khusus, tapi bila ada kabar saja.”
Orang-orang di dalam pringgitan kemudian mengangguk. Itu memang masuk akal. Petugas sandi tetap menjalankan kewajibannya seperti biasa, tapi di sela-sela tugas itu mereka juga dapat menghimpun keterangan atau menangkap isyarat-isyarat kecil mengenai asal-usul tongkat tersebut, apabila kebetulan bersentuhan dengan jejaknya.
Di luar pringgitan, sejumlah perempuan sederhana tampak sedang memastikan kepantasan bilik-bilik yang akan ditempati Pandan Wangi dan Kinasih.
Selama pertemuan di pringgitan itu, Sekar Mirah bergantian memandang wajah Pandan Wangi dan Kinasih. Satu getaran yang telah dikenalnya sejak lama mendesir cepat di antara pembuluh darah dan perasaannya. Raut wajah dan sinar mata gadis muda yang duduk berdampingan dengan Pandan Wangi itu seakan menyiratkan benih rasa yang belum terucapkan.
“Apakah aku harus merasa cemas dan khawatir?” tanya Sekar Mirah pada dirinya sendiri tanpa memperlihatkan perasaannya melalui perubahan air muka.
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu. Sekar Mirah menarik napas perlahan, lalu mengendapkannya dalam-dalam. Dia telah melatih diri dengan banyak peristiwa dan perjalanan pikiran serta perasaan. Baik tongkat maupun benih rasa itu bukan perkara yang dapat diselesaikan dengan tergesa.
Di sekitar Sekar Mirah, percakapan kembali mengalir dengan sedikit tekanan karena dugaan-dugaan kemudian diucapkan oleh Agung Sedayu dan Kyai Bagaswara. Meski demikian, mereka paham dugaan itu hanyalah kemungkinan yang bersifat umum.
Suasana kekeluargaan pun menemukan batas akhir. Satu per satu orang mengundurkan diri untuk sejenak meluruskan punggung di pembaringan atau berjalan-jalan di sekitar kediaman. Mereka membawa pikiran masing-masing sambil perlahan menyimpan dalam-dalam, ketika sore beranjak pergi menuju senja.
Namun Sekar Mirah sadar bahwa yang tersentuh perasaannya itu tidak akan hilang begitu saja. Hanya saja, kepercayaannya pada kedewasaan Agung Sedayu dan Kinasih terlalu berharga untuk ditukar dengan ketidakpastian.
