Malam turun dengan sedikit percakapan.
Ki Wiraditan, di depan sebagian orang lereng Kening, bercerita tentang kejadian di Jati Anom. Dia mengatakan bahwa sebenarnya Perguruan Orang Bercambuk di Jati Anom memang tidak pantas untuk berdiri lebih lama.
“Perkelahian kami tidak berlangsung lama,” ucapnya setelah mengungkap sedikit rinci mengenai benturan. “Tapi aku dapat menyimpulkan bahwa yang kita dapatkan di sini itu lebih baik dan lebih tinggi daripada Jati Anom.”
Tidak ada nyala api besar. Hanya beberapa pelita yang tergantung di sudut-sudut pendapa. Di kejauhan, sesekali terdengar suara langkah atau gesekan kayu, tanda bahwa sebagian orang masih bergerak.
Lereng Gunung Kendil seperti ikut mendengar celoteh Ki Wiraditan yang tampak bersemangat pada malam itu.
“Di Jati Anom,” lanjutnya, “banyak anak muda berlatih keras. Usia mereka sepertinya memang masih pantas disusupi pengertian yang salah.” Ki Wiraditan tersenyum saat mengatakan itu.
“Mereka sepertinya sudah merasa cukup dan berada di atas kebenaran. Jadi mereka pun berhenti pada yang dapat dilihat dan dirasakan saat itu juga. Tidak ada yang mendorong lebih jauh.”
Beberapa orang mengangguk pelan.
Ki Wiraditan menambahkan dengan nada yang lebih mantap, “Di sini berbeda. Aku melihat sesuatu yang tidak dimiliki mereka. Cara berpikir Ki Astaman dan Ki Hariman. Cara menyerang dan menahan dari Ki Swandaru dan Ki Garjita. Seluruhnya ada dan saling melengkapi.”
“Dan itu,” katanya kemudian, “akan ditunjukkan esok hari oleh Ki Swandaru.”
Suasana menjadi sunyi.
Nama itu, yang sejak siang telah mengguncang banyak pikiran, kini kembali disebut dengan penuh harapan serta kebanggaan.
“Mungkin siang tadi beliau dianggap dursila tapi sebenarnya itu adalah kepercayaan diri yang sangat kuar. Keyakinan pada kemampuan yang luar biasa. Terus terang, aku jarang melihat sikap seperti itu pada banyak tokoh perguruan besar.”
Salah seorang dari lereng Kening bertanya pelan, “Apakah Ki Wiraditan yakin…?”
Ki Wiraditan menoleh, ucapnya, “Menang? Tentu saja, Ki Swandaru akan memenangkan pertandingan itu. Tapi kita juga tahu bahwa Ki Ajar Poh Kecik bukan orang sembarangan. Besok bukan hanya soal siapa yang lebih kuat. Ini masalah kepantasan jalur ilmu mana yang akan dijadikan dasar perguruan. Aku kira seperti itu.”
Orang-orang yang mendengar tidak segera menjawab. Mereka hampir beranggapan sama: pertarungan besok bukan mencari menang atau kalah tapi sedikit lebih, yatu pengakuan.
Ki Astaman duduk bersandar pada tiang kayu di sebuah pendapa kecil. Matanya terbuka, tapi pikirannya mencari jawaban: apa yang harus dilakukannya bila Swandaru kalah atau bahkan terbunuh?
Di sisi lain, Ki Garjita berdiri cukup lama sambil mengumpat Ki Wiraditan dalam hati. Betapa bodoh orang itu dengan membuka perselisihan dengan Jati Anom. Bagaimana bila Agung Sedayu tiba sebelum perkumpulan benar-benar kokoh? Dia menarik napas dalam, lalu melepasnya perlahan.
Malam itu tidak membawa kelegaan.
Pagi datang menyibak kabut sedikit lebih cepat seperrti sedang terburu ingin menyaksikan sesuatu yang akan terjadi. Udara tetap dingin dengan ketegangan yang tidak biasa.
Halaman timur telah berubah.
Tanah yang semula tidak rata kini tampak lebih padat dan bersih. Bekas-bekas cangkul masih terlihat samar, tapi keseluruhannya telah membentuk sebuah gelanggang yang cukup luas. Batas-batasnya ditandai dengan garis sederhana—goresan di tanah, tanpa pagar, tanpa pembatas yang mencolok.
Orang-orang mulai berkumpul, tidak terlalu rapat—membentuk lingkaran yang jelas.
Ki Ajar Poh Kecik melangkah keluar dari tempatnya, wajahnya tenang seperti biasa. Setiap langkahnya adalah perhitungan yang matang. Dia datang dengan rencana cadangan setelah semalam bicara agak lama dengan Ki Kamejing.
Salah seorang dari kelompok mereka mungkin sudah mencapai pedukuhan induk lalu meneruskan perjalanan sampai Kotaraja. Pesan yang akan disampaikan pada seseorang di dalam Keraton cukup jelas: orang-orang dari Ringinlarik sudah berkumpul di lereng Gunung Kendil.
Di sisi lain, Swandaru muncul tanpa aba-aba.
Dia berjalan lurus menuju gelanggang, sama seperti sebelumnya—tanpa menoleh, tanpa tegur sana dan ucap kata. Dari sorot matanya, terpancar jelas kehendak yang lebih terpusat.
Beberapa orang saling pandang.
Tidak ada yang berbicara.
Sekejap kemudian, Swandaru dan Ki Ajar Poh Kecik sudah saling berhadapan. Terpisah jarak enam atau tujuh langkah di tengah gelanggang.
“Aku harap Kyai bersedia mengeluarkan kemampuan terbaik,” berkata Swandaru.
Ki Ajar Poh Kecik mengangguk. “Bukan saya yang harus menjadi yang terbaik, tapi sebenarnyalah Ki Swandaru yang terpaksa harus berkotor tangan menguji saya.”
“Yang terbaik nantinya akan menjadi dasar ilmu perguruan meski aku belum paham betul dengan aliran ilmu Kyai,” kata Swandaru.
Setelah mengatur napas lalu mengedarka pandangan ke sebagian lingkaran orang, Ki Ajar berkata, “Saya berasal dari perguruan yang jelas berada di bawah tingkatan Perguruan Orang Bercambuk.”
“Jika ada kesadaran seperti itu, mengapa Kyai menerima tantangan?”
“Kami ini adalah tamu jadi tak pantas bila menolak permintaan dari tuan rumah untuk sekadar berlatih bersama. Jadi, saya tidak keberatan sama sekali.”
Swandaru kemudian berkata lantang sambil menebarkan pandangan berkeliling. “Ki Sanak semua, yang ada di sini adalah saksi, bahwa jalur ilmu pemenang akan menjadi dasar ilmu perkumpulan atau tepatnya perguruan yang sudah dikenal dengan sebutan Perguruan Orang Bercambuk. Jika ada yang keberatan, silakan berdiri setelah kemenangan ditentukan untuk pertandingan pertama kali.”
Swandaru kemudian melihat lurus Ki Ajar Poh Kecik. “Marilah, kita bertempur sekarang.”
“Bagus,” tegas Ki Ajar lalu merendahkan lututnya.
Suasana pun menjadi tegang.
Orang-orang Kendil sudah mengetahui dan menyaksikan kemampuan Swandaru sebelumnya. Murid Kyai Gringsing, tapi yang menjadi lawannya? Berasal dari perguruan manakah? Tai mereka mengabaikan pertanyaan itu dengan sangat mudah karena meyakini satu kepastian: pasti orang yang juga berilmu tinggi.
Belum hilang gema suara Ki Ajar, Swandaru sudah menyerang dengan gerak dasar Perguruan Orang Bercambuk. Dia seperti sedang mengajari banyak orang yang sudah berlatih gerakan itu, sekaligus menyatakan kekuatan yang tersembunyi di balik setiap kuda-kuda, hentakan dan kibasan lengan.
Ki Ajar sendiri pun tampak tenang mengimbangi. Hanya saja dia seperti sedang mengamati tata gerak Swandaru yang dilakukan agak perlahan tapi bertenaga. Namun begitu, Ki Ajar Poh Kecik pun sekali-kali membalas serangan Swandaru dengan geakan yang sama dengan perguruan kebanyakan, tidak ada yang istimewa.
Demikianlah, waktu terasa berjalan lambat dan pertarungan itu cukup menjemukan bagi sebagian orang. Tapi tidak demikian menurut orang-orang tertentu seperti Ki Kamejing maupun Ki Garjita. Mereka bahkan menilai dua petarung itu justru sedang melakukan dua hal yang bertolak belakang: antara mengamati dan memancing ketidaksabaran lawan. Oleh sebab itu, maka setiap serangan dan perubahan gerak pun dapat ditebak arah perkembangannya.
Adalah Ki Ajar Poh Kecik yang lebih dahulu membuka serangan dengan kecepatanyang meningkat tajam. Tubuhnya berlompatan selincah burung sriti. Meski belum menggambarkan kemampuan sesungguhnya tapi pertandingan menanjak lebih tegang.
Swandaru yang belakangan memang mengulang pelajaran awal seperti menjaga keseimbangan dengan berlatih di sungai-sungai dangkal ternyata melakukan hal yang sama: menggandakan kekuatan setiap menyerang lalu bertahan dengan kecepatan yang sudah ditingkatkan.
Maka pertarungan pun menjadi sengit dan orang-orang mulai memandang penuh kekaguman.
Sepertinya Ki Ajar Poh Kecik berkeinginan untuk membawa kendali pertarungan. Kini serangannya telah berubah seperti pusaran angin yang melanda melanda Swandaru.
Namun Swandaru belum menambah kedalaman ilmunya. Dia masih tetap pada pendirian: menggandakan kekuatan setiap menyerang lalu bertahan dengan kecepatan yang sudah ditingkatkan.
Walau begitu, pertarungan seolah-olah mulai beralih ke tingkatan yang berbeda. Mereka berdua menapak lebih tinggi baik dari segi tenaga maupun kecepatan tapi tampaknya masih sama-sama menahan pengungkapan tenaga cadangan. Sekejap kemudian, setiap gerakan sudah menjadi jauh lebih kuat dan cepat. Setiap serangan sudah menerangkan dampak yang sangat jelas: setiap pukulan akan melebamkan tulang, setiap tendangan akan mematahkan persendian.
Sebenarnyalah Swandaru serba sedikit mendapatkan sedikit petunjuk dari Ki Astaman untuk meningkatkan kemampuannya meringankan tubuh. Sekalipun tidak begitu rinci, tapi ketajaman nalar dan kegigihan Swandaru akhirnya dapat menjadikan tubuhnya terasa lebih ringan.
Sekejap berikutnya Swandaru berlompatan, berputar dan menyambar-nyambar dengan kecepatan yang sulit dinalar. Karena begitu cepat atau sangat cepat, gesek langkah kakinya pun terdengar seperti dengung rendah yang menggetarkan dada. Debu-debu membumbung hingga setinggi lutut karena kibas udara yang luar biasa.
Ki Ajar Poh Kecik terkejut dengan perubahan yang seketika itu. Nyaris saja pelipisnya tersambar telapak tangan Swandaru yang mengembang dan berhawa panas.
Agak jauh dari pusat pertarungan, Ki Astaman pun mengernyitkan kening. Dia memang mengatakan sesuatu yang sangat mendasar, bukan wejangan ilmu tingkat tinggi, tapi bagaimana Swandaru dapat mencapai tingkat itu dalam waktu singkat?
“Aku tidak pernah sekalipun melihatnya bergerak secepat itu,” desis Ki Garjita.
“”Begitukah?” tanya Ki Astaman yang mendengar suara Ki Garjita.
“Usai pertempuran Watu Sumping,” ucap Ki Garjita, “kami sempat berkelahi. Saya tidak bersungguh-sungguh waktu itu tapi saya tahu dia tidak mempunyai dasar yang kuat untuk mencapai tingkatan seperti ini.”
“Apakah mungkin yang saya katakan padanya itu akhirnya menjadi penghubung dirinya dengan isi kitab?” tanya Ki Astaman tapi seakan ditujukan pada dirinya sendiri dengan keraguan di hatinya. Lantas dia menjelaskan pada Ki Garjita tentang cara yang dikatakan olehnya pada Swandaru.
Ki Garjita mengangguk-angguk, lalu berkata, “Petunjuk Kyai bukan sesuatu yang khusus atau istimwa.”
Orang ini diam sebentar, kemudian meneruskan, “Seandainya benar, mungkinkah kitab Kyai Gringsing benar-benar berisi petunjuk ilmu tinggi yang langkah?”
“Seandainya benar maka Ki Hariman pun tidak akan dapat menguasai keseluruhan isi kitab tanpa bertanya pada Swandaru atau Agung Sedayu,” kata Ki Astaman dengam mata bersinar.
Dalam waktu itu, Swandaru dan Ki Ajar Poh Kecik telah sama-sama bergerak dengan kecepatan yang menembus batas nalar.
Orang-orang yang melihat pun berdecak kagum meski pandangan mereka mulai terhalang debu yang tebal mengelilingi lingkar pertarungan itu. Kadang-kadang mereka kehilangan sosok Swandaru atau Ki Ajar. Kadang-kadang mereka juga dapat melihat dua petarung tersebut walau hanya bayangan yang samar.
Lingkaran orang-orang yang seolah menjadi batas gelanggang pun semakin luas. Mereka mundur setapak demi setapak karena debu yang berhamburan ternyata mampu menyusup pada lubang hidung dan mata. Lontaran itu ternyata cukup dahsyat hingga mampu mencapai mereka yang telah terpisah belasan langkah jauhnya.
“Luar biasa,” Ki Ajar Poh Kecik memuji Swandaru dalam hatinya. Tapi dia pun belum menggenjot kemampuan hingga batas tertinggi.
Semesta Kitab Kyai Gringsing
Dunia persilatan tanah Jawa tidak akan dapat lepas dari nama besar Bukit Menoreh. Sebagai bentuk penghormatan dan upaya mengenalkan kembali kisah ini kepada generasi baru, kami menghadirkan adaptasi khusus yang lebih ringkas dengan tetap menjaga esensi aslinya.
Kami menyebutnya Buku 5 Hari Bising di Bukit Menoreh, sebuah proyek yang mengadopsi kisah-kisah ikonik dari Api di Bukit Menoreh karya SH Mintardja dan menghasilkan:
Buku 1 & 2 (Kitab Kyai Gringsing): Awal mula sesta kitab Kyai Gringsing digulirkan
Buku 3 (Geger Alas Krapyak): Diambil dari Bab 6 dengan judul yang sama.
Buku 4 (Bara di Bukit Menoreh) adalah isi Bab 7.
Buku 5 (Hari Bising di Bukit Menoreh) yang menjadi penghubung menuju Bab 9 – Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh
Program Donasi Pembaca
Kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dengan donasi sebesar Rp 75.000, Anda akan mendapatkan akses penuh ke seluruh seri (Buku 1 hingga Buku 5). Kontribusi Anda akan sangat berarti untuk pengembangan konten-konten bertema sejarah dan silat berikutnya.
Detail Donasi:
BCA 822 0522 297
BRI 31350 102162 4530
Roni Dwi Risdianto
Konfirmasi WA 081357609831
Naskah pdf kami kirimkan melalui WA
Matur Nuwun
Pada malam menjelang pertarungannya, Swandaru mereka-reka bagian kitab yang dapat diingatnya lalu digabungkannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya selama mengasingkan diri. Maka dengan keadaan itu, Swandaru pun merasa belum perlu mengerahkan seluruh ilmu yang disadapnya langsung dari Kyai Gringsing.
Seperti yang dikatakan Swandaru sehari sebelumnya, mereka tidak bertarung hingga napas terakhir. Maka dua orang itu pun berjuang keras mencari cara menaklukkan lawan tanpa harus membunuh.
Pertarungan yang jarang terjadi itu pun menjadi semakin seru. Mereka masih bertahan pada tingkatan sekarang. Bertahan dengan kecepatan dan tenaga tapi mulai mencari titik lemah dari tata gerak lawan.
Matahari hampir mencapai batas tinggi. Udara semakin panas dan terasa sedang membakar kulit.
“Sekarang!” desis Ki Ajar Poh Kecik dalam hati. Tiba-tiba tangannya terjulur mengarah pada wajah Swandaru dengan dahsyat. Aliran udara yang mengikuti gerakan tangannya itu pun seketika mengeluarkan api yang menyala berwarna biru.
Pukulan dapat dihindari, tapi sambaran ujung api?
Swandaru merunduk, lalu menggulingkan tubuh ke belakang. Seketika dia bangkit lalu menerjang Ki Ajar Poh Kecik dengan sangat geram!
Lagi-lagi Swandaru membuat orang-orang yang mengenalnya menjadi terpana! Betapa dia ternyata mampu melakukan hal yang nyaris sama dengan Ki Ajar Poh Kecik. Jika angin tenaga Ki Ajar berubah menjadi api bernyala biru, maka udara yang terseret enaga cadangan Swandaru mampu mengeluarkan pendar biru.
Kemampuan Swandaru yang baru pertama kali dilihat leh seluruh cantrik di lereng Kendil pun menjadikan hati mereka berbunga-bunga. Ketua perguruan mereka ternyata orang yang pilih tanding! Senyum kemenangan tiba-tiba menghiasi wajah mereka.
Yang terjadi adalah benturan dua kekuatan. Namun yang justru tergetar surut adalah Swandaru.
Dari sudut yang agak terpisah dari lingkaran, Ki Hariman memandang Swandaru dengan tatap mata heran. Bukankah mereka sebelumnya dapat dikatakan seimbang? Tapi mengapa Swandaru mampu membuat semacam keajaiban dalam waktu yang dapat dikatakan pendek? Adakah kitab Kyai Gringsing itu menyimpan rahasia yang tidak terjangkau olehnya?
“Gila,” ucap Ki Hariman dalam hati. “Ilmu yang benar-benar luar biasa. Apakah ada yang terlewat olehku?”
Ki Astaman menggamit lengan Ki Garjita.
“Sepertinya pertarungan tidak dapat dibiarkan berlarut atau akan jatuh korban di antara mereka,” bisiknya.
Disertai sedikit anggukkan, Ki Garjita menyahut, “Lalu, bagaimana dengan keputusan akhir? Kita tidak dapat meminta Ki Ajar untuk menyerah.”
Kening Ki Astaman berkerut. Wajahnya seakan menjadi lebih tua dari umurnya sendiri pada saat itu. Keadaan berkembang di luar kendalinya. Meminta salah satu orang untuk berhenti itu jelas memalukan baginya dan yang bersangkutan. Maka dia pun berpikir keras mencari jalan keluar.
Sejak aliran udara Swandaru mengeluarkan pendar biru meski samar dan terputus-putus, tapi Ki Ajar Poh Kecik sudah dapat menduga: bahwa lawannya belum mencapai puncak ilmu. Karena jalur ilmu Swandaru sudah jelas dari Kyai Gringsing, pikiran Ki Ajar pun menetap pada satu kesimpulan.
“Pendar biru itu pasti akan berujung pada pengungkapan tenaga cadangan melalui senjata dan itu adalah cambuk. Mematikan,” katanya dalam hati. Selain itu dia juga dapat melihat bahwa ujung nyala api miliknya masih kesulitan menembus benteng biru pertahanan Swandaru.
Ki Ajar segera melompat jauh sambil menggerakkan tangan. Dia sadar bahwa kekuatan perguruannya cukup seimbang antara senjata dan tangan kosong tapi mati bukanlah tujuan dari pertarungannya.
Dia berhenti sambil berkata, “Ki Swandaru, saya kira sudah cukup untuk latihan hari ini. Kemampuan Ki Swandaru belum seluruhnya terungkap tapi saya dapat merasakan getarannya.”
“Tapi hari masih belum mencapai pertengahan,” sahut Swandaru.
Ki Astaman bergegas melesat maju ke tengah gelanggang. Katanya, “Ki Swandaru, saya pikir cukup disayangkan jika tenaga dan kemampuan Anda menjadi sia-sia untuk pertarungan yang dapat diduga hasilnya.”
Swandaru mendengus. “Ini bahkan belum membuat lelah.”
Ki Astaman mengangguk, sedikit merendahkan tubuh lalu berkata,”Kami semua sudah paham dan mendapatkan gambaran bagaimana seandainya Ki Swandaru berada di puncak ilmu. Tentu sangat sulit dibayangkan.”
Orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu saling memandang satu sama lain. Berbisik-bisik mengenai orang yang menjadi pemenang, Swandaru atau Ki Ajar Poh Kecik?
Tapi kemudian Ki Kamejing masuk ke dalam gelanggang pertandingan. Katanya, “Ki Sanak sekalian. Saya kira sudah cukup jelas yang dikatakan Ki Ajar. Mulai hari dan berikutnya, Ki Swandaru adalah ketua perkumpulan tiga jalur ilmu. Beliau pula yang menjadi pimpinan tertinggi Perguruan Orang Bercambuk.”
Pecahlah kemudian sorak-sorai orang-orang yang berlatih ilmu cambuk meski masih ditangani oleh Ki Hariman. Mereka yakin dan percaya bahwa Swandaru akan secara khusus melatih orang-orang yang terpilih.
Demikianlah, Swandaru pun memandang sekeliling dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Jalur ilmu Kyai Gringsing akan berkembang dan dapat pula berpadu dengan dua jalur ilmu lainnya seperti yang diutarakan oleh Ki Astaman padanya. Ketika waktunya telah tiba, masa lalu akan kembali terulang dengan hasil yang pasti jauh berbeda, pikirnya.
Melalui orang-orang yang dituakan, Ki Astaman meminta agar mereka segera bubar lalu berkumpul di bangunan utama. Rusa panggang, kelinci, ayam hutan dan berbagai hidangan telah disiapkan untuk merayakan penggabungan jalur ilmu tua yang akan dipimpin oleh Swandaru.
Di luar pengetahuan dan pengamatan orang-orang, Ki Hariman menghilang. Ketika orang-orang bergeser tempat, dia pun berjalan cepat menuju sisi lain lereng Kendil.
Di sana, Ki Hariman menumpahkan kekesalan. Cambuknya menggelepar sepenuh tenaga. Batang pohon bergetar meski tidak tersentuh langsung ujung cambuknya. Permukaan tanah tersibak, menganga cukup dalam saat Ki Hariman melampiaskan segenap perasaannya.
“Dari Sangkal Putung hingga kematian Raden Atmandaru, tapi aku belum mencapai tingkat yang sama dengan Swandaru. Lalu, untuk apa aku membawa kitab ini sepanjang waktu?” geramnya dalam hati.
