Satu hari, dua hari. Waktu terus bergulir seiring persiapan yang dilakukan di lereng Gunung Kendil.
Iring-iringan Ki Astaman keluar meninggalkan Dusun RInginlarik dengan kaki melenggang tanpa beban. Mereka sekali-kali menoleh ke belakang—memandang dusun tenang yang menjadi tempat singgah beberapa waktu lamanya.
Ketika perjalanan sedang menyusuri jalan panjang yang bersebelahan dengan sungai kecil yang mengarah ke pedukuhan induk, dari belakang rombongan itu terdengar desir semak disibakkan. Tak lama pun muncul beberapa orang yang segera melambaikan tangan. Rupanya mereka mengenali orang-orang yang berjalan bersama Ki Astaman dan Ki Garjita.
Ki Kamejing tampak berjalan di kelompok orang yang berada keluar dari balik rimbun semak-semak. Agaknya Ki Kamejing dan kelompoknya tidak kembali ke Ringinlarik melainkan bersembunyi di suatu tempat yang terlindung dari pengawasan peronda pasukan khusus.
Ki Ajar Poh Kecik terlihat mengangguk pada arah kedatangan Ki Kamejing. Ki Kamejing pun membalas anggukan dengan langkah kaki tegas mendekati Ki Ajar.
Setelah mendengar keadaan Ringinlarik selama dirinya bersembunyi, Ki Kamejing mengatakan suasana di lereng Kendil.
“Sekitar dua hari atau pastinya belum tiga hari dari sekarang, perondaan prajurit Mataram mendatangi permukiman mereka,” ucapnya setengah berbisik. “Mereka, para peronda, jelas memerintahkan agar semua orang pergi dari lereng Kendil.”
“Atas alasan apa?”
“Mereka ada dan menempati tanpa seizin Ki Gede Menoreh,” kata Ki Kamejing dengan mata waspada.
Langkah Ki Ajar sedikit tertahan saat mendengar tapi kemudian berayun lagi seperti tidak ada sesuatu yang mengganggu.
Langkah Ki Ajar tetap teratur, namun di dalam dirinya gelombang pemikiran mulai beriak pelan.
Dalam ruang pikirannya, Ki Ajar Poh Kecik membuat kesimpulan bahwa keadaan lereng Kendil tidak seluruhnya dikatakan oleh Ki Astaman dan Ki Garjita. Pada percakapan lirih itu, Ki Ajar seakan sedang dihadapkan pertanyaan: jika prajurit Mataram datang atas nama Ki Gede Menoreh, apakah itu berarti juga sudah mewakili Agung Sedayu? Atau yang diungkapkan Ki Kamejing pun hanya alasan yang dipilih untuk menekan dirinya agar mau bergabung di lereng Kendil?
Ki Ajar memandang jalan yang dijejaknya dengan pikiran tetap bercabang. Jika seandainya Sedayu berada di belakang Swandaru, seharusnya sikap Mataram tidak akan sekeras itu. Apalagi Sedayu sekarang berkedudukan sebagai tumenggung. Atau… justru sebaliknya? Sedayu sama sekali tidak mengetahui sepak terjang Swandaru? Jika demikian, maka kedudukan perguruan ini rapuh. Terlalu rapuh untuk disebut sebagai pijakan bersama. Ataukah mereka, orang-orang Kendil, sedang memanfaatkan kelompoknya dari segi penambahan jumlah atau hal yang lain?
Ki Ajar menggeleng sendiri dan sedikit samar dengan gerakannya yang lain. Untuk memutar arah, jelas itu pantangan besar karena pasti menyalahi ucapannya. Seandainya dia tetap berada di lereng Kendil, maka rencana lain harus segera disiapkan secara matang dan rinci. Walau pikirannya penuh pertimbangan, wajah Ki Ajar tetap tenang, tanpa perubahan. Tidak satu pun dari kegelisahan itu yang mampu mengubah garis-garis wajahnya.
Pagi itu, udara Tanah Perdikan Menoreh masih diselimuti kabut tipis ketika rombongan kecil dari Ringinlarik memasuki batas perkemahan.
Tidak ada penyambutan.
Beberapa orang yang sedang berlatih hanya melirik sekilas, lalu kembali pada gerakan mereka. Cambuk tetap berayun. Tanah tetap bergetar oleh hentakan kaki.
Ki Astaman melangkah di bawah regol lebih dulu. “Silakan, mari bergabung.”
“Oh, ini tempatnya,” kata seseorang yang berjalan di bagian samping barisan sambil menebarkan pandangan.
Orang-orang dari Ringinlarik dapat melihat sejumlah orang sedang berlatih kanuragan—memainkan cambuk dengan gerakan yang terukur dan mantap. Kemudian mereka ke bagian lain lalu mendengar seseorang berkata keras meneriakkan sejumlah aba-aba yang diikuti dengan rangkaian tata gerak yan gmengalir luwes..
Dari sisi lapangan timur, Ki Hariman menghentikan gerakannya. Cambuk di tangannya masih terulur setengah lingkaran ketika memandang rombongan yang berhenti di samping gerbang.
“Ki Astaman,” katanya pendek lalu memberi perintah istirahat pada orang-orang yang berlatih. Seseorang dipanggilnya agar bergegas menyiapkan jamuan bagi sekelompok orang dari Ringinlarik itu.
Ki Astaman lantas memperkenalkan Ki Hariman sebagai salah satu pilar penyanggah perguruan pada Ki Ajar dan yang lain. Mereka lantas menyebut nama masing-masing sambil merunduk hormat.
“Seperti inilah bagian dari kehidupan kami di lereng Kendil,” kata Ki Hariman.
“Sangat baik,” sahut cepat Ki Ajar lalu menambahkan. “Ki Kamejing mengatakan hal-hal besar mengenai perguruan ini meski hanya sekejap saja berada di antara Kyai sekalian.”
“Itu karena Ki Kamejing sedang duduk di atas puncak gunung,” kata Ki Hariman dengan maksud bahwa ungkapan itu sesungguhnya pujian yang benar-benar terselubung. Duduk di atas puncak gunung tetaplah berkedudukan tinggi dan menggambarkan kemampuan puncak.
Sejenak kemudian dia memandang satu per satu wajah asing itu. Tidak ada yang menunduk. Tidak pula ada yang menantang. Tapi wajah-wajah itu memberi petunjuk yang sangat jelas bahwa mereka bukan orang baru di dunia kanuragan.
Ki Garjita yang cepat menyelinap keluar dari barisan untuk persiapan menyambut tamu kemudian muncul dari samping lingkaran kecil itu.
“Mari, Kyai semua dapat masuk ke dalam,” sambutnya. “Sekedar hidangan mudah-mudahan dapat menjadi pertanda yang baik pada awal pertemuan ini.” Dia pun cepat mendahului kelompok Ki Ajar, membuka jalan masuk ke salah satu bangunan yang cukup besar.
Yang Terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.Demikian pemberitahuan. Terima kasih
Di dalam bangunan itu, suasana segera berubah lebih hangat. Beberapa cantrik telah menyiapkan hidangan sederhana tapi menggugah selera—daging rusa dan kelinci yang dipanggang. Di atas tikar yang lain, kendi-kendi tanah liat mengepulkan uap wedang jahe dan sereh, sementara tiga orang menyorongkan pala pendem yang tampaknya baru diangkat dari kukusan.
Mereka pun duduk melingkar. Percakapan mengalir ringan, berpindah dari perjalanan yang ditempuh, keadaan cuaca di lereng, hingga cerita-cerita kecil tentang orang-orang yang pernah mereka kenal. Sesekali terdengar tawa pendek, meski masing-masing tetap menyimpan kewaspadaan di balik sikap ramah itu.
Ki Ajar Poh Kecik dan Ki Kamejing lebih banyak mendengar. Tangan mereka sesekali menyentuh cangkir wedang yang hangat dengan pandang mata menyapu wajah-wajah di dalam ruangan.
Hingga kemudian suara Ki Ajar mengalir pelan di udara. “”Di manakah Ki Swandaru? Apakah kami tidak bgitu berharga sehingga dianggap tidak pantas mendapatkan sambutan?”
Tiba-tiba suasana menjadi sunyi. Setiap orang menahan napas.
Keheningan pecah ketika suara lantang terdengar dari arah pintu samping.
“Di sini. Aku di sini.”
Semua kepala menoleh hampir bersamaan.
Swandaru melangkah masuk dengan pandangannya lurus ke depan, mengarah pada satu tujuan. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri, tidak memberi isyarat hormat, tidak pula menunggu dipersilakan.
Sesampainya di lingkaran itu, Swandaru langsung duduk begitu saja di tempat yang kosong, seakan-akan tempat itu memang telah disediakan untuknya sejak awal.
“Akulah Swandaru,” kata tegas Swandaru mengenalkan diri dengan tubuh penuh dengan peluh.
Tatap mata Swandaru menebar ke samping kiri dan kanan, memutari lingkaran kemudian berkata, “Adakah ketidaksabaran pada Ki Sanak dengan bertanya keberadaanku?”
Ki Ajar Poh Kecik terpana dengan sikap Swandaru yang tidak wajar itu. Dia menjadi sedikit gagap saat menerima tatapan tajam dari orang sempat ditanyakan olehnya itu.
“Mohon maaf, Ki,” ucap Ki Ajar merendah. “Saya bukan tidak sabar tapi ada sedikit penasaran dengan yang dibincangkan orang-orang: bahwa Ki Swandaru masih giat berlatih sekalipun sudah menjadi yang tertinggi di perguruan ini.”
Swandaru tertawa singkat, kemudian berkata, “Baiklah, kita abaikan itu. Sekarang, untuk merayakan perkumpulan ini, perkumpulan dari beberapa jalur ilmu yang bersatu, saya ingin digelar sebuah atau beberapa latih tanding.”
Seketika Ki Astaman dan Ki Garjita bertukar pandang dengan wajah heran. Ini tidak diduga dan benar-benar tidak masuk dalam perhitungan mereka!
Demikian pula Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik yang bersikap nyaris sama dengan dua orang yang sempat bicara dengan mereka.
Tapi belum pupus rasa heran itu, Swandaru meneruskan ucapannya tanpa beban dengan pandang mata tertuju pada Ki Ajar Poh Kecik, “Atau sebaiknya satu saja dan saya mewakili Perguruan Orang Bercambuk. Jadi, sebaiknya Ki Kamejing atau Kyai sendiri.”
Bukan karena ragu akan kemampuan perguruan mereka, melainkan karena saat itu bukan waktunya. Pertemuan yang baru saja dirintis dengan hati-hati bisa berubah arah hanya oleh satu langkah yang terlalu tergesa. Namun mereka juga tahu, Swandaru bukan orang yang mudah ditahan.
Dia sudah melangkah terlalu jauh untuk ditarik kembali, batin Ki Astaman.
Ki Garjita menggeser duduknya sedikit, rahangnya mengeras. Dia ingin menyela, ingin mengalihkan pembicaraan, tetapi kata-kata seolah tertahan di tenggorokannya. Menentang Swandaru di hadapan orang banyak justru dapat menimbulkan kekacauan yang makin sulit dikendalikan. Dan itu bakal buruk sekali.
Sementara itu, Ki Ajar Poh Kecik memandang Swandaru lekat-lekat. Dia sedang menimbang kemungkinan adanya sikap yang terselubung di baliknya.
Sedikit kikuk, dia mengusap kening. Terselip kegeram yang nyaris tidak dapat ditahan. Sombong atau sengaja menguji? pikirnya lalu mengangguk.
“Baiklah,” katanya pelan. “Jika itu yang Ki Swandaru kehendaki, saya akan menerima.”
Suasana semakin tegang. Sebuah pertarungan yang tidak lagi dapat dihindari.
Sebagian orang Kendil justru bersorak dalam hati. Mereka akan mendapatkan bukti lagi bahwa perguruan mereka memang pantas dihormati.
Belum lagi gaung persetujuan itu benar-benar hilang dari ruangan, Swandaru kembali membuka suara seolah tidak memberi ruang bagi setiap orang untuk berpikir lebih jauh.
“Namun,” katanya ringan, “akan lebih baik jika bukan hanya pemimpin saja yang bertanding. Jadi, biarlah para cantrik juga saling mengukur kemampuan. Bergiliran. Tidak perlu semuanya, cukup tiga orang pilihan.”
Beberapa orang yang hadir saling berpandangan. Usul itu terdengar seperti keputusan yang telah dipikirkan sebelumnya.
Ki Astaman kembali menoleh pada Ki Garjita. Kali ini kegelisahan mereka semakin nyata. Yang semula hanya sebuah latih tanding terbatas kini berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, lebih terbuka, dan tentu saja lebih berbahaya.
Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik pun tidak segera memberi tanggapan. Mereka menduga arah yang sedang dikembangkan Swandaru—sebuah penolakan yang bisa berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan. Atau penerimaan dengan pengakuan bahwa Swandarulah yang terbaik.
Ki Astaman akhirnya angkat bicara, suaranya tetap terkendali meski terasa berat.
“Ki Swandaru,” katanya hati-hati, “saya khawatir keributan yang timbul akan memancing perhatian pasukan khusus. Keadaan di lereng Kendil belum benar-benar aman.”
Swandaru menoleh perlahan, lalu tersenyum, katanya, “Pasukan khusus? Mereka tidak akan berbuat macam-macam jika tahu aku adalah ketua perkumpulan ini.”
Nada suaranya datar tapi ada keyakinan yang sulit dibantah.
Ki Astaman terdiam meski tidak sepenuhnya yakin, tapi karena tidak memiliki cukup dasar untuk menentang lebih jauh di hadapan orang banyak. Ki Garjita pun hanya menghela napas pendek, menyadari bahwa arus sudah bergerak terlalu jauh.
Di sisi lain, Ki Kamejing melirik sekilas pada Ki Ajar Poh Kecik. Ada keraguan yang sama, tapi juga kesadaran bahwa menolak Swandaru justru dapat memperkeruh keadaan. Menerimanya pun dapat berakibat bahaya yang lebih besar. Jika Sedayu benar di belakang Swandaru, dunia aman. Bagaimana jika sebaliknya?
Namun akhirnya Ki Ajar mengangguk pelan.
“Jika demikian,” katanya, “kami akan menyesuaikan diri.”
Ki Kamejing pun tidak menampakkan keberatan. Dia pun setuju dengan suara yang agak berat dilepaskan.
Dan dengan itu, keinginan Swandaru pun menemukan cara: persiapan untuk membuktikan diri di depan Agung Sedayu dan semua orang.
“Ini sangat baik karena bila semua orang menolak, aku dapat mendatangi barak lalu mengatakan bahwa di lereng Kendil masih bercokol sisa-sisa anak buah Raden Atmandaru,” ucap Swandaru tenang tapi bernada ancaman.
Sebelum meninggalkan ruangan itu, Swandaru mengatakan beberapa hal pada Ki Astaman dan juga Ki Garjita. Pada dua orang itu, Swandaru meminta para tamu yang datang dari Ringinlarik benar-benar mendapatkan pelayanan yang baik. Termasuk dalam pesannya adalah gelanggang pertandingan harus dibuat serapi mungkin sehingga tidak ada kecurigaan dari orang-orang yang menyaksikan.
Setelah berbuat demikian, Swandaru melangkah menjauh dari ruangan menuju tempatnya beristirahat.
Dalam waktu itu, Swandaru sedikit merasa ada kegembiraan karena rencananya berjalan seperti harapannya. Sejenak dia menarik napas panjang ketika mengingat gertakannya.
Seandainya mereka menolak…maka pertemuan dan perguruan itu yang akan bubar dengan sendirinya, termasuk kepercayaan padanya. Sepenuhnya Swandaru sadar bahwa dirinya tidak mempunyai tempat yang pasti di Tanah Perdikan, apalgi barak pasukan khusus atau Mataram.
Dia menghela napas, lalu berkata dalam hati, “Yang pasti akan terjadi, ya terjadilah. Tapi aku sudah menggenggam semuanya.”
Di dalam ruangan, Ki Astaman dan Ki Garjita benar-benar sudah tidak dapat berpikir lagi. Awalnya mereka mengira ucapan itu tidak akan terpikirkan oleh Swandaru. Selama di lereng Kendil, murid kedua Kyai Gringsing itu lebih banyak memperlihatkan sikap yang dapat dianggap masa bodoh dengan urusan perguruan.
Namun pada pagi itu ternyata ada sesuatu yang berubah.
Ki Ajar dan Ki Kamejing berusaha menjaga sikap dengan tetap tenang. Mereka sepertinya sadar bahwa sudah terlambat untuk menarik diri. Tapi mereka adalah orang yang berpengalaman dengan pergaulan yang sangat luas, maka mengikuti kehendak Swandaru adalahyang utama sambil mencari jalan agar dapat keluar dari tekanan.
Ternyata pemikiran seperti itu pula yang kemudian datang dalam ruang pikiran Ki Astaman dan Ki Garjita. Melalui isyarat kecil, Ki Astaman memberi tanda agar Ki Garjita mengambil waktu lagi untuk menyusun rencana lain.
Waktu tidak lagi begitu baik dengan orang-orang di lereng Kendil. Ketika matahari semakin memanjat tinggi, ketika obrolan terkekang dengan keinginan Swandaru, Ki Astaman memerintahak sejumlah orang untuk mempersiapkan gelanggang.
“Bersihkan halaman timur,” perintah Ki Astaman. “Tanah di bagian itu lebih datar dan lebih luas.”
Ki Garjita mengangguk kemudian berkata pada orang-orang Ringinlarik, “Ki Sanak sekalian dapat pergi melihat-lihat. Kami tidak akan berbuat curang dalam pertandingan nanti. Tapi lebih baik jika Ki Sanak dari Ringinlarik ikut pula membantu mengawasi para cantrik yang akan bekerja.”
Perintah itu cepat menyebar ke segenap ruangan. Orang-orang yang sejak tadi menahan diri seolah menemukan alasan untuk bergerak. Beberapa dari mereka bergegas menuju halaman timur, membawa alat seadanya—cangkul pendek, sapu lidi, dan bilah kayu untuk meratakan tanah. Sebagian lain tetap berada di sekitar tamu, menunggu perintah berikutnya.
Ki Astaman menoleh sekilas pada Ki Garjita, lalu mengangguk.
“Antarkan para tamu sekalian beristirahat,” kata KI Astaman pada Ki Wiraditan dengan suara yang cukup jelas untuk didengar orang-orang terdekat.
Tanpa banyak kata, beberapa orang Kendil maju mendekati rombongan Ringinlarik.
“Silakan,” ujar salah seorang dari mereka. “Kami telah menyiapkan beberapa tempat.”
Rombongan pun bergerak perlahan meninggalkan bangunan utama.
Permukiman di lereng itu tampak sederhana dari luar, sedangkan di dalamnya bangunan-bangunan kecil tersebar dengan jarak yang tidak teratur tapi rapi penataannya. Rumah-rumah kayu dengan serambi pendek, beberapa pendapa kecil yang terbuka pada satu sisi, serta bangunan beratap rendah yang tampak biasa saja, tapi cukup luas di dalamnya.
Tanpa perlu bersesak, mereka dapat menempati tempat-tempat itu dengan leluasa.
Jumlah seluruh bangunan yang ada di sana, jika dihitung sepintas, tidak terlalu banyak. Namun penataan ruangnya membuat semuanya terasa lapang. Hampir tujuh puluh orang dapat ditampung tanpa harus berhimpitan, tanpa perlu mengganggu ruang gerak satu sama lain.
Ki Ajar Poh Kecik berjalan pelan dengan pandangan penuh perhitungan. Semuanya terukur dan sepertinya memang ada persiapan yang sangat baik, pikirnya. Sejenak dia melihat pula halaman yang tadi disebut Ki Astaman.
Di sisi lain, Ki Kamejing menghela napas panjang. “Tempat yang disiapkan dengan perhitungan,” gumamnya hampir tak terdengar.
Mereka pun akhirnya berpencar, masing-masing menempati ruang yang telah disediakan.
