0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 49 – Ugrasena dan Orang-Orang Kotaraja

Dironda 57 kali

Di Tanah Perdikan, orang datang dan pergi hampir setiap hari. Selama tidak membawa senjata terbuka, tidak membuat gaduh, dan tidak menghindari jalan umum, tidak ada alasan untuk menghentikan mereka.

Demikian pula kelompok yang datang bergelombang dari Kotaraja tapi tidak tergesa-gesa meninggalkan Menoreh. Mereka berjalan dan berbaur dengan kebanyakan orang, lalu memisahkan diri ketika tiba di persimpangan jalur yang terhubung dengan Gunung Kendil. Para pengawal dan sebagian prajurit juga melihat tapi tidak ada pengawasan khusus pada mereka. Lagi pula, pengawasan tidak berhenti di tempat itu.

Pengawal yang lebih tua memandang ke arah jalan yang memanjang ke depan, menuju pertigaan yang menjadi simpul beberapa jalur penting. Salah satunya berbelok menuju lereng-lereng yang mengarah ke Gunung Kendil.

Dia berkata pelan, “Orang-orang di tempat jaga depan akan melanjutkan paugeran tanpa kata-kata.”

Yang muda mengikuti arah pandangnya lalu mengangguk.

“Kalau mereka memang hendak ke pedukuhan induk, mereka akan mengambil jalur lurus itu. Kalau mereka memilih Gunung Kendil, teman-teman kita di sana dapat menambahkan bobot pengamatan.”

Selanjutnya, dua pengawal ini tidak menambah perkataan lagi.

Rombongan itu terus berjalan dengan langkah ringan, meninggalkan gardu pertama di belakang mereka. Sementara itu, dua pasang mata pengawal Menoreh tetap mengikuti hingga jarak yang sudah tidak mungkin lagi untuk melihat dengan jelas.

Ketika rombongan itu telah melewati beberapa tikungan kecil dan gardu pertama sudah tidak terlihat, sesuatu yang semula tidak menarik perhatian mulai terjadi.

Dari sisi kanan jalan, semak-semak yang tumbuh rapat sampai ke tepi pematang bergoyang pelan. Seorang laki-laki muncul dari balik rimbun. Pakaiannya tidak berbeda dari orang kebanyakan. Sederhana, berdebu, dan tidak membawa sesuatu yang mencolok.

Dia tidak mengucap sepatah kata pun. Tanpa memperlambat langkah, orang itu langsung menyesuaikan derap langkahnya dengan iring-iringan. Mula-mula sejajar dengan dua orang yang berjalan paling belakang. Salah seorang di antaranya menoleh sekilas.

Gerakan berikutnya berlangsung cepat tetapi tidak mencolok.

Lelaki yang muncul dari semak itu mengeluarkan sesuatu dari balik lipatan kain di pinggangnya—sekeping logam sebesar dua ruas jari. Benda itu hanya tampak sesaat di telapak tangannya sebelum ditutup kembali.

Orang yang melihatnya mengangguk. Tidak ada kata-kata. Tidak ada perubahan sikap yang kentara.

Namun sesudah itu lelaki tadi mempercepat langkahnya—mendahului sepasang orang di depannya, lalu melewati dua orang lagi tanpa tergesa. Orang-orang dalam rombongan seperti memberi ruang dengan cara yang hampir tak terlihat. Tidak ada yang menoleh cukup lama ataupun memanggil.

Beberapa saat kemudian dia telah berada sejajar dengan laki-laki yang tampak paling dituakan di antara mereka—lelaki yang sejak awal berjalan tenang di bagian tengah.

Lelaki muda itu menoleh sedikit. “Paman Wirya,” ucapnya lirih.

Orang yang disebut namanya itu mengangguk lalu berkata, “Angger Ugrasena.”

Lelaki muda itu mengangguk pelan dengan sikap yang memperlihatkan kesan sedang tidak membutuhkan penjelasan panjang. Tatapannya tetap lurus ke depan.

Sejenak kemudian, Ugrasena bertanya, “Apakah kita nanti masuk pedukuhan atau ada tempat lain?”

Ki Wirya menggeleng. “Kita bermalam di luar pedukuhan induk sesuai perintah Ki Panji.”

Ugrasena mengangguk kemudian menoleh ke belakang sambil berkata, “Kita tidak punya cukup waktu untuk memeriksa keadaan. Lakukan seperlunya saja saat malam menjelang.”

Orang-orang tetap berjalan seperti biasa dengan sedikit perubahan: Ki Wirya menjadi pemandu jalan.

Lelaki itu lantas mengarahkan iring-iringan ke utara melalui jalan setapak. Jalur ini cukup tesembunyi dari pengamatan orang dan terletak cukup jauh dari kediaman Ki Gede Menoreh. Jalur yang kemudian dapat membawa mereka lebih dekat dengan tempat bermalam Ki Astaman serta dua teman barunya.

Mereka berhenti di tikungan sungai yang menjorok ke daratan, membentuk ceruk yang agak dalam. Letaknya sekitar empat puluh hingga lima puluh langkah di sebelah bulak kering di barat halaman belakang Ki Gede Menoreh. Permukaan tanah yang bergelombang serta rumpun-rumpun tanaman liar menjadikan tempat itu terlindung dari pandangan.

Andaikata mereka menyalakan api unggun berukuran sedang, nyalanya akan tertahan oleh lekukan tanah dan rimbun tumbuhan liar, sehingga cahaya itu tetap sulit terlihat dari kediaman Ki Gede Menoreh ataupun dari tempat bermalam Ki Astaman.

Malam belum benar-benar datang dengan kelam ketika sejumlah kelompok kecil terlihat bergerak menyebar. Ada yang menyisir bagian sungai dari timur ke barat lalu kembali ke perkemahan. Ada yang masuk ke pedukuhan induk, menjelajah hingga mencapai banjar pedukuhan dan batas wilayah Dusun Benda.

Kelompok-kelompok itu dapat melihat gardu jaga mulai diisi pengawal dan sedikit orang yang sepertinya hanya menumpang duduk dan bicara. Sebagian kelompok mendekat tapi tidak banyak mereka dapatkan jika menginginkan keterangan penting mengenai cara Tanah Perdikan menjaga keamanan atau lainnya.

Jauh sebelum masuk wayah sirep bocah, pedukuhan induk tampak tenang. Nyala oncor masih tampak di halaman sebagian besar rumah. Sementara sejumlah gardu sudah terisi beberapa pengawal muda. Di beberapa sudut ada para lelaki yang belum beranjak beristirahat, dan itu adalah kebiasaan mereka selepas bekerja seharian di sawah, ladang maupun pasar.

Jalan-jalan penghubung menuju halaman Ki Gede Menoreh juga tidak memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan. Para peronda berjalan tanpa senjata yang tergenggam. Mereka berkeliling memeriksa dari lorong ke lorong, dari jalan ke jalan, menjenguk halaman dan juga beberapa kandang. Setelah itu, mereka kembali ke gardu masing-masing. Seterusnya waktu perondaan dan pengawal terus bergiliran dengan teratur tanpa kesan bahwa mereka sedang dalam ancaman.

Keadaan itu hampir sama dengan saat kedatangan Agung Sedayu pertama kali di Tanah Perdikan Menoreh.

Di rumah Agung Sedayu sendiri, pada malam itu, belum banyak orang yang mengambil waktu untuk istirahat. Sekalipun jumlah penghuni bertambah untuk sementara waktu karena cantrik Perguruan Orang Bercambuk yang bermalam di sana, tapi rumah tersebut tidak menampakkan perubahan.

Masih dapat dianggap sepi seperti malam-malam sebelumnya.

Walau demikian, beberapa cantrik masih berada di halaman tengah. Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, mereka bergerak berpasangan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada aba-aba mupun bentakan untuk membetulkan kuda-kuda. Tidak ada senjata di tangan mereka. Hanya langkah-langkah pendek, putaran pinggang, serta ayunan lengan yang seolah-olah sedang memainkan cambuk.

Sesekali terdengar hembusan napas, lalu kembali tenggelam dalam kesunyian. Gerakan mereka mengalir tanpa tergesa seolah sekadar mengulang latihan-latihan sebelumnya di Jati Anom.

Di serambi belakang, dua orang duduk bersandar pada tiang kayu sambil memperhatikan teman-temannya. Mereka berbicara lirih mengenai pernapasan, cara mengelak sambil sekaligus membuka serangan dan lain hal yang terkait dengan pendalaman ilmu perguruan.

Tidak seorang pun memperlihatkan kegelisahan. Rumah itu tetap berada dalam suasana yang tenang, sebagaimana malam-malam sebelumnya.

Sukra dan Sayoga pun tidak memperlihatkan hubungan yang lebih rapat dengan para pengawal ataupun penghuni barak sejak perang tanding. Sukra tetap mendatangi pliridan sedangkan Sayoga pun ikut menjaga aliran air. Mereka bergerak wajar seperti hari-hari yang telah berlalu.

Barak pasukan khusus yang berada di sebelah barat pedukuhan induk juga telah tenggelam dalam kesunyian malam.

Di dalam pagar kayu yang mengelilinginya berdiri lima bangunan utama berukuran besar. Tidak jauh dari sana tampak beberapa bangunan yang lebih kecil: sanggar latihan yang tertutup rapat, dapur umum, gudang senjata, kandang kuda, serta beberapa bangunan pelengkap lain. Hampir semuanya telah gelap tanpa tanda-tanda kegiatan.

Barak itu tidak lagi dihuni seramai biasanya.

Dari ratusan prajurit yang menempati sementara waktu untuk berlatih, kini tidak sampai delapan puluh orang. Hampir seluruh prajurit yang pernah belajar dan berlatih telah menjalankan tugas di berbagai tempat sesuai pembagian yang ditetapkan.

Beberapa pengawal tampak berjalan perlahan menyusuri halaman sebelum berganti jaga. Dari salah satu bangunan utama sesekali terdengar suara orang bercakap pelan, disusul tawa pendek yang segera menghilang. Tidak lama kemudian suasana kembali dikuasai desir angin yang menyentuh pepohonan di sekitar barak.

Di bagian sungai yang menjorok ke dalam, Ugrasena mendengarkan setiap laporan tanpa banyak bertanya. Letak gardu, arah jalan, keadaan bangunan penting seperti kediaman Ki Gede Menoreh dan barak pasukan khusus, kebiasaan penjaga ketika bergiliran tugas dan jalur yang ditempuh peronda.

“Tanah ini begitu tenang seolah perang tanding itu tidak berdampak sama sekali, ” katanya akhirnya. “Perang besar di lereng Kendil pun seakan sudah tak lagi menampakkan bekas atau kesan.”

Ki Wirya kemudian berkata, “Angger, jika kita harus curiga, apakah keadaan ini karena mereka terlalu biasa dengan kegentingan? Atau karena memang mereka tidak mengetahui keberadaan kita? Pastinya saya tidak ingin beranggapan mereka abai. Mereka tahu tapi membiarkan karena menganggap wajar.”

Ugrasena mengangguk sambil menggeser ranting kering agar lebih dekat dengan api unggun. Katanya kemudian, “Entahlah, Paman. Setiap keterangan dari kelompok kita hampir semuanya senada dengan yang saya dengar dari Paman. Paman katakan penjagaan, perondaan di Separang, Kali Tinalah dan beberapa tempat. Itu semuanya, yah, sama dengan laporan orang-orang. Bila ada perbedaan, itu hanya sedikit sekali.”

Dari ceruk sungai hanya terdengar gemericik air dan suara serangga malam yang bersahutan demi melewati malam hingga fajar yang pasti datang.

  • Saya akhirnya bertanya juga pada salah seorang pengawal Tanah Perdikan: sebenarnya ada apakah di balik kedatangan orang dari luar Menoreh? Apakah karena akan terjadi Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh atau kelanjutan Hari Bising? Tapi para pengawal itu tidak menjawab. Mereka hanya memberi tanda dengan ibu jari agar saya pergi ke sana.
  • Tapi barusan ada kabar sedang terjadi ketegangan di Pedukuhan Janti 18. Katanya, di sana, di gardu Sangkal Putung hampir terjadi bentrokan antara Sayoga dan Sukra yang merasa dihalangi oleh pengawal kademangan. Mari kita lihat bersama.
  • Lalu muncul pula pertanyaan dari masa Mataram Kuno, Nir Wuk Tanpa Jalu 3 : Siapakah engkau yang memandang dengan tatapan mata yang tajam atau tatap mata yang terangsang?

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.