0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 48 – Orang-Orang yang Datang dari Kotaraja

Dironda 39 kali

“Kyai,” kata Jaka Awar-awar lebih rendah. “Siapakah mereka yang bersama dengan Kyai tentu tidak dapat dijadikan urusan kami. Tidak, kami tidak seperti itu. Saat berada di pategalan yang ada di samping selatan barak, itu memang cukup menarik saat mengetahui mereka meminta Kyai untuk pergi.”

“Permintaan mereka itu, apakah dapat menjadi urusan Ki Sanak berdua?” tanya Ki Astaman.

Jaka Awar-awar tersenyum lalu berucap dalam hati, “Orang ini cukup berbahaya.”

Dia memandang Ki Astaman lurus. “Sebenarnya kami sedang mengamati keadaan barak belakangan hari ini. Ketika melihat Kyai, kami berpikir satu hal dan ingin memastikannya.”

Ki Astaman mengubah arah hadap—pada Jaka Awar-Awar secara penuh. “Apa itu?”

“Apakah Kyai dan orang-orang itu sedang menyusun rencana untuk Agung Sedayu atau sekedar mengantar mereka mengenali lingkungan?” tajam Ki Warujayeng bertanya.

Ki Astaman memandang bergantian lalu mengisi benaknya dengan beberapa dugaan.

Gemericik suara sungai masih terdengar ketika keheningan merebak di antara mereka bertiga..

Ki Warujayeng tidak mengulang pertanyaan. Dia menunggu seperti pohon tua yang tegar disapu angin jalanan.

Terdengar kemudian hela napas pendek Ki Astaman. Orang ini lantas mengatakan, “Jika saya menjawab jujur, Ki Sanak berdua belum tentu percaya. Jika saya berbohong, itu pun bukan jaminan Anda sekalian pasti percaya dan saya bukan orang abu-abu semacam itu. Yang pasti adalah saya sedang berusaha menjaga dan mengamankan diri dari urusan yang tidak perlu, apalgi sampai membahayakan nyawa.”

 “Jadi memang ada sesuatu,” ucap Jaka Awar-awar, ”tapi Ki Sanak tidak perlu mengungkapkan itu pada kami.”

Ki Astaman menatap permukaan air yang beriak deras, kemudian memandang wajah Ki Warujayeng. Dengan suara menalir tenang, orang ini mengisahkan awal mula pertemuannya dengan kelompok Amuger Klinter.

“Saya tidak mengetahui tujuan mereka sepenuhnya. Yang saya tahu adalah pemimpin mereka bernama Ki Jabon Seta. Dia ini kemudian memerintahkan saya menjadi pandu bagi dua anak buahnya untuk mengenali lingkungan sekitar barak. Dua orang yang tadi sempat dilihat oleh Ki Sanak berdua,” sambung Ki Astaman dengan sungguh-sungguh. “Saya juga mendengar satu nama lain yang sepertinya disegani pula oleh orang-orang di dalam kelompok itu.”

Sejenak dia berhenti untuk mengatur napas.

“Ki Panji Danutirta,” ucap Ki Astaman kemudian. “Menilik caranya berpakaian dan bertutur kata memang dan hampir pasti dia adalah seorang panji Mataram.”

Jaka Awar-Awar menoleh cepat pada Ki Warujayeng. Dia menyebut ulang nama itu perlahan, “Ki Panji Danutirta.”

“Itu yang saya dengar. Saya tidak tahu seandainya nama itu ternyata adalah tujuan, hubungan, atau sekadar dugaan. Tapi saya tidak menambah atau mengurangi seluruh yang saya alami sejak saat itu.”

Jaka Awar-Awar diam cukup lama—berpikir keras demi menjawab pertanyaannya sendiri: ada kepentingan apakah sampai seorang panji turun tangan di Tanah Perdikan? Jika itu adalah urusan resmi, maka panji tersebut seharusnya berada di barak atau kediaman Ki Gede. Jika dia membawa tujuan lain, maka memang masuk akal dengan tetap menyembunyikan kehadirannya dari jangkauan Agung Sedayu maupun Ki Gede Menoreh.

Kemudian dia bergeser ke arah Ki Warujayeng. “Ini sangat menarik.”

Ki Warujayeng memandanginya tanpa kata terlontar.

Jaka Awar-Awar perlahan menoleh pada Ki Astaman kemudian bercerita, “Beberapa waktu lalu, kami pernah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain.”

Ki Astaman memandangnya tanpa berubah sikap maupun air muka, tapi pikirannya bergerak cepat lalu muncul satu kesimpulan: dua orang ini adalah bagian dari Ki Kebo Surongudan yang sempat santer dibicarakan orang sebagai penantang yang kesiangan.

Jaka Awar-Awar meneruskan, “Kami mendatangi barak lalu meminta mereka agar menyerahkan Agung Sedayu. Seandainya benar orang yang bernama Ki Jabon Seta berasal dari perguruan tertentu dan panji Mataram juga seorang prajurit, saya pikir mereka sedang merencanakan sesuatu terhadap Agung Sedayu atau barak.”

Sambil menatap ke arah barak yang tidak terlihat dari tempat mereka berdiri, Ki Astaman berkata, “Kalau Ki Jabon Seta dan orang-orangnya sedang mengamati lingkungan atas permintaan atau perintah Ki Panji Danutirta, maka dugaan Ki Sanak memang ada benarnya.”

Dia tidak melanjutkan kalimatnya tapi Jaka Awar-Awar mengangguk lalu bergumam, “Antara barak dan Agung Sedayu.”

“Aku pikir tidak ada beda antara menyerang barak atau Agung Sedayu. Barak dan Sedayu seakan saling mewakili satu sama lain,” ucap Ki Warujayeng.

“Persiapan yang harus benar-benar masak dan tidak boleh bocor,” Jaka Awar-awar mendesis. “Membagi titik serangan menjadi masuk akal pula jika melihat tempat Ki Sanak dengan kelompok itu berpisah. Itu adalah daerah yang berada di antara barak dan kediaman Ki Gede.”

Tiba-tiba Ki Astaman berkata dengan nada setengah berbisik atau mungkin sedang bicara sendiri. “Kata-kata Ki Sanak seolah mengingatkanku pada kekacauan yang jauh lebih dulu terjadi di tanah ini.”

 Ki Astaman mendesahkan napas panjang kemudian melanjutkan dengan kata-kata, “Raden Atmandaru pernah mengirim sekelompok orang untuk membunuh Ki Gede. Mereka gagal dan aku adalah bagian dari pengikut Raden Atmandaru waktu itu.”

Jaka Awar-awar dan Ki Warujayeng menautkan alis. Mereka tidak menyangka akan berjumpa dan bicara banyak dengan salah satu yang tersisa dari kelompok pemberontak yang sudah dilndas Mataram.

Pertemuan itu ternyata membuka sesuatu yang tidak diperhitungkan. Orang ini tentu bukan sembarangan karena sangat  tenang dan waspada. Meski dia tidak membuka jati diri tapi mengatakan bahwa dirinya terlibat pula dalam gerakan Raden Atmandaru sudah pasti dipertimbangkan matang, pikir Jaka Awar-awar. Orang ini sudah siap seandainya Ki Warujayeng dan dirinya tiba-tiba menyerang atau menjualnya pada Mataram. Secara kemampuan, bisa jadi malah melampuai mereka berdua.

Ki Warujayeng sendiri merasakan hal yang serupa dengan Jaka Awar-awar. Perasaannya yang sejak tadi hanya berhati-hati, kini berubah menjadi semakin waspada sekaligus timbul rasa tertarik yang semakin kuat.

Selain sebagai bekas pengikut Raden Atmandaru, siapa sebenarnya orang ini?

Dan mengapa tampak lemah ketika menuruti ajakan mereka bicara di tepi sungai? Adakah niat dan kepentingan yang belum tampak?

Tanpa meminta pendapat Jaka Awar-awar, Ki Warujayeng berkata pada Ki Astaman, “Kami akan bermalam di sini. Silakan Kyai menggabungkan diri.”

Gemericik air tetap terdengar di sela batu dan akar bambu yang menjulur ke tepian. Suasana sedikit menjadi gelap. Ketika ahaya yang menembus daun tidak lagi seterang sebelumnya.

Jaka Awar-awar berkelebat cepat menerjang semak-semak lalu keluar dengan dua ekor kelinci di tangan.

Tidak ada yang segera berbicara.

Jaka Awar-Awar cepat mempersiapkan hidangan untuk malam itu dari dua kelinci yang tertangkap olehnya.

Ki Astaman menundukkan wajah dan matanya terpejam. Tempat itu cukup baik. Air dekat. Tidak terlalu terbuka. Tidak pula sempit untuk bergerak bila malam membawa sesuatu yang tidak diinginkan.

Namun bukan itu yang dipikirkannya lantas dia memandang Ki Warujayeng. Kalimat tadi tidak terdengar seperti ajakan seorang tuan rumah. Tidak juga seperti orang yang ingin memastikan tamunya tetap berada dalam pengawasan. Tidak ada niat untuk menahan dirinya dan bukan juga untuk mengawasi. Yang tertangkap olehnya hanya satu kemungkinan: tempat ini terbuka.

Jika pergi, tidak ada yang menghalangi.

Jika tinggal, dia masuk atas kehendaknya sendiri.

Ki Astaman pernah berada dalam kelompok yang menganggap setiap orang harus memilih pihak. Pernah pula berada di antara orang-orang yang memberi bantuan lalu menagih kesetiaan maka dari itu dia mengenali perbedaannya.

Orang di depannya tidak sedang menariknya masuk. Hanya membuka lingkaran kecil lalu membiarkannya menentukan langkah.

Ki Astaman menggeser bungkusan di pundaknya. Kemudian katanya singkat, “Saya ikut bermalam.”

Ki Warujayeng hanya mengangguk lalu mulai mencari tempat duduk. Sementara Jaka Awar-Awar memandang keduanya bergantian sesaat sebelum berjongkok mengambil ranting kering.

Tidak ada lagi yang dibicarakan.

Keesokan hari, beberapa lelaki turun dari rakit yang baru saja menyeberangkan mereka di Kali Progo.

Matahari belum terlampau tinggi dan panasnya pun masih bersahabat dengan semua orang di Tanah Perdikan ketika rombongan itu datang dari beberapa satang. Tanpa banyak percakapan, mereka menapak jalan utama menuju pedukuhan induk.

Rentang usia mereka sekitar pertengahan dua puluh tahun sampai kira-kira kurang dari lima puluh tahun. Seluruhnya mengenakan pakaian ringkas dan sederhana. Tidak tampak kesan kasar atau brangasan dari sikap maupun tutur kata mereka pada orang lain, biasa saja, seperti kebanyakan orang yang datang dari Kotaraja atau wilayah sekitarnya.

Mereka berjalan beriringan memanjang tapi tidak bergerombol ataupun berbaris rapi seperti prajurit. Orang-orang itu berjalan dua-dua atau dua-tiga dan terpisah dalam jarak yang tidak terlalu rapat. Tidak ada kesan yang menimbulkan kecurigaan karena segalanya berlangsung wajar dan biasa saja.

Seorang laki-laki yang tak muda lagi, berusia pertengahan tiga puluh tahun, tampak tenang berjalan di tengah barisan. Barangkali dia adalah pemimpin rombongan jika dilihat dari kesan yang timbul dari orang per orang saat bicara dengannya.

Langkah kaki mereka tampak ringan saat menapak permukaan jalan. Ayunan lengan dan punggung yang tegak seperti menjadi tanda bahwa mereka bukan petani ataupun pedagang. Jika dianggap berasal dari perguruan kanuragan, mereka tidak membawa tanda sebagai perlambang. Meski demikian, sejumlah pasang mata cukup waspada mengamati gerak langkah mereka menuju pedukuhan induk.

Di gardu sederhana di tepi jalan utama, dua pengawal Menoreh memperhatikan rombongan itu tanpa berpindah dari tempatnya. Mereka duduk berselonjor di bawah naungan atap ilalang dengan mata yang sibuk dengan penilaian.

Salah seorang yang lebih tua mengusap dagunya lalu berkata pelan, seolah hanya berbicara untuk temannya. “Bukan orang pasar.”

Kawannya menggeser duduk dan menyipitkan mata sebentar. Dia mengangguk kemudian mengatakan, “Bukan. Tapi juga bukan orang yang ingin terlihat sebagai prajurit.”

Yang tua mengangguk, katanya, “Mungkin dari Kotaraja. Atau dari wilayah di seberang. Cara berjalan mereka teratur, tapi sengaja tidak seragam.”

Mereka kembali diam beberapa saat.

Rombongan itu terus berjalan tanpa menoleh ke kiri atau kanan. Tidak seorang pun bertindak berlebihan. Tidak ada yang menunduk terlalu dalam seperti orang yang menyembunyikan sesuatu, juga tidak ada yang sengaja menegakkan dada seperti ingin menunjukkan diri.

Pengawal yang lebih muda berkata lagi, “Kalau orang berniat membuat keributan, biasanya tidak setenang itu.”

Temannya lantas menanggapi, “Kebanyakan memang begitu, tapi kadang-kadang, bahkan, tampak terlalu tenang.”

Namun nada suaranya tidak menunjukkan kecurigaan yang sungguh-sungguh. Hanya kebiasaan seorang penjaga yang telah lama belajar melihat orang lewat tanpa tergesa menarik kesimpulan. Pengawal yang dalam kesehariannya juga berdagang itu bangkit dan berdiri di tepi gardu. Katanya, “Biarkan lewat. Kita pun sepertinya tidak perlu membayangi dengan kecurigaan.”

“Seperti biasanya?”

Pengawal yang berusia dua puluhan tahun akhir itu mengangguk lantas berkata, “Yah, tapi sedikit ditambah lagi.”

“Mengerti,” ucap yang muda kemudian mengangguk.

  • Detik-detik menjelang kelahiran seorang anak itu jelas dan pasti menjadi sebuah tantangan ketika Agung Sdayu tetap dituntut berada ketenangan puncak. Perang berada di ambang, kademangan terancam, Sekar Mirah di tengah kesukaran. Karena berat, sebaiknya Agung Sedayu saja yang menanggung beban ini sendirian, Anda cukup membantunya dengan membaca kisah Kiai Plered 17
  • Sementara itu, di depan Gerbang Demak 4, Arya Penangsang sendiri mempunyai pendirian yang tidak disangka-sangka, bahkan oleh pengarang kisah ini. Dia berkata, ““Terlebih jika aku melihat tawa Jaka Wening. Melihatnya berlari, bercakap, tertawa dan menangis seolah menyadarkanku bahwa kedudukan tertinggi bukanlah tujuan akhir,”
  • Tapi, dalam pada itu, Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh sendiri masih tegar mengisi bagian lain dari Cerita Silat Jawa Mataram. Hanya berbekal ketekunan menyimak kisah panjang ini, kita tentu dapat beralih ke halaman-halaman berikutnya.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.