0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 50 – Barak Dibidik dari Empat Penjuru

Dironda 33 kali

Bulan hanya tampak sebelah ketika ayam hutan berkokok untuk pertama kali hampir bersamaan dengan lolong anjing liar di kedalaman hutan.

Puluhan bayangan hitam melesat membelah malam, mendatangi barak pasukan khusus dari empat penjuru.

Sisi utara, Ki Wirya datang disertai belasan orang yang bergerak ringan dan cepat saat menembus gelap.

Amuger Klinter menarik napas panjang beberapa kali demi menghimpun keyakinan yang senenarnya sudah kuat. Dia memimpin sejumlah orang dari arah barat, dan bergerak penuh kepercayaan diri saat kelompoknya cermat meniti permukaan tanah yang banyak dipenuhi akar-akar yang menonjol.

Dari timur, Ugrasena memimpin kelompoknya menyusuri tepian sungai. Gemericik air yang mengalir pelan menelan bunyi langkah kaki mereka, sementara rumpun bambu dan semak belukar menjadi pelindung yang setia. Mereka bergerak beriringan dalam jarak yang terukur, melintasi beberapa gardu jaga tanpa terlihat pengawal yang berjaga. Tidak satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara. Begitu hening.

Sementara itu, Ki Jabon Seta mengisi ruang antara rumah Agung Sedayu dengan barak pasukan khusus. Kelompoknya—yang terdiri dari beberapa cantrik pilihan—akan menusuk dan menutup jalur selatan. Memanfaatkan rapatnya pepohonan yang tumbuh di permukaan landai, mereka bergerak senyap dan nyaris sempurna. Sama halnya dengan regu Ugrasena yang sangat sunyi, kelompok ini melewati beberapa gardu jaga tanpa diketahui orang-orang yang berada di sekitar gardu jaga.

Perlahan dan semakin dekat kemudian masing-masing kelompok pun mencapai tempat yang telah ditentukan.

Ki Wirya menahan pasukannya di utara, Amuger Klinter menguasai sisi barat, Ugrasena menempati lingkungan yang berada di tengah-tengah antara barak dan kediaman Ki Gede Menoreh. Sedangkan Ki Jabon Seta juga sudah terhubung dalam rantai perintah yang tak langsung dikendalikan oleh Ki Panji Danutirta.

Jarak di antara mereka telah diperhitungkan dengan cermat sehingga tidak ada celah yang dibiarkan terbuka. Selama sisa malam itu, empat kelompok tersebut bergerak dalam diam—hingga waktunya tiba.

Pada awal senja itu, pada permulaan malam, barak pasukan khusus tidak memperlihatkan sesuatu yang menarik perhatian. Seperti biasa, seluruh kegiatan hampir tampak wajar dan memang wajar karena begitulah kehidupan mereka berjalan.

Apakah Ki Sanggabaya atau Glagah Putih dan yang lainnya tidak sadar bahwa mereka telah terkepung rapat dari empat penjuru?

Di bawah cahaya bulan yang tinggal separuh, hutan tetap memelihara kesunyian. Angin sekali-kali meniup pucuk daun agar sedikit bergoyang. Sementara lolong anjing liar kadang-kadang menggema menemani malam yang suram dari kedalaman hutan.

Dari tempat persembunyian masing-masing, Ki Wirya, Amuger Klinter, Ugrasena, dan Ki Jabon Seta dapat mengawasi seluruh lingkungan barak.

Mereka dapat melihat beberapa prajurit peronda berjalan tenang menyusuri jalur-jalur ronda. Ada yang berhenti sejenak untuk mengamati sekeliling, lalu melanjutkan langkah dengan tenang. Yang lain berpapasan di persimpangan jalan setapak sebelum kembali menyusuri lintasan masing-masing. Tidak ada tanda-tanda kewaspadaan yang berlebihan.

Malam di Tanah Perdikan Menoreh berjalan seperti malam-malam sebelumnya.

Masih dari tempat yang dipilih oleh dua orang pengiring Ki Panji Danutirta, pemimpin empat kelompok dapat pula pergerakan pengawal Tanah Perdikan di sekeliling pedukuhan induk. Ketika mereka mengisi gardu, ketika berjalan keliling, bahkan saat pengawal mengingatkan penduduk agar sekali-kali melihat keadaan hewan ternak di kandang. Itu semua dapat mereka lihat tanpa perlu menampakkan diri.

Tidak terlalu jauh dari jalur yang ditempuh Ugrasena dan kelompoknya, Ki Astaman, Ki Warujayeng, dan Jaka Awar-awar bermalam di samping aliran sungai tiba-tiba memasang sikap siaga yang tidak biasa!

Pandangan mereka menyapu kegelapan tanpa tergesa. Jaka Awar-awar, yang semula bersandar pada sebatang pohon, perlahan menegakkan tubuhnya. Ki Astaman menunduk dalam dengan pendengaran yang terpusat pada desir halus langkah kaki yang terjangkau dari tempatnya.

Dalam waktu itu, tidak seorang pun yang mengucapkan kata.

Mereka saling berpandangan. Ki Astaman mengangkat tangan sambil mengarahkan ke utara, Ki Warujayeng mengangguk lalu berpaling pada Jaka Awar-awar yang sedang tengadah.

Ada keganjilan di tengah malam, apakah itu?

Pertanyaan tersebut lantas mengisi ruang pikiran mereka bertiga. Tanpa suara, mereka bergerak meninggalkan tempat bermalam. Langkah mereka ringan, teratur, dan penuh kewaspadaan. Masing-masing mengambil arah yang telah disepakati melalui isyarat beberapa saat sebelumnya, membiarkan naluri dan pengalaman panjang menuntun arah.

Malam di Tanah Perdikan Menoreh berjalan seperti malam-malam sebelumnya.

Hampir bersamaan waktunya dengan datangnya orang-orang Kotaraja di Tanah Perdikan, Ki Saradan pun sudah mencapai Dusun Separang sebelum siang.

“Tidak ada perintah khusus dari Ki Wira Sentanu dalam waktu dekat ini,” jawab Ki Saradan saat Ki Kamejing bertanya mengenai pesan yang mungkin diberikan Ki Wira Sentanu pada mereka di Dusun Separang.

Sedikit percakapan ringan menjadi pembuka pertemuan tiga orang yang sama-sama menaruh perhatian dan sedang menunggu akibat dari perang tanding antarmurid Kyai Gringsing.

“Belakangan,” ucap Ki Ajar Poh Kecik, “kita serba sedikit sudah mengetahui kehadiran perguruan lain di Tanah Perdikan ini. Apakah mereka juga mempunyai kepentingan dengan kita? Kita tidak mempunyai keterangan barang sedikit.”

“Apakah Kyai mengkhawatirkan sesuatu dari kehadiran mereka?” tanya Ki Kamejing.

Ki Ajar Poh Kecik menarik napas panjang. Sejenak dia merenung lalu berkata, “Mungkin begitu tapi saya agak ragu dengan pikiran sendiri.”

Ki Saradan dan Ki Kamejing mengangguk-angguk tanpa memberi tanggapan—berdiam diri tanpa dugaan sedikit pun.

“Keributan di pasar dan halaman barak, beberapa waktu lalu, sudah memberi gambaran bahwa perguruan-perguruan itu tidak datang dengan persoalan baru,” sambung Ki Ajar Poh Kecik. “Kita juga mendengar bahwa Menoreh telah menahan enam orang yang berkelahi di sisi luar dusun.”

Ki Kamejing mendengus pelan, menebar pandangan lalu katanya, “Dengan sekali kita diperdaya di lereng Kendil dan terlibat sedikit benturan dengan Mataram, maka jalan untuk membebaskan kawan-kawan kita di barak tentu akan sulit.”

Ki Saradan lantas mengatakan bahwa Ki Tumenggung Adiyasa telah menggerakkan banyak orang menuju Tanah Perdikan. Selain itu, dia juga menjelaskan sedikit yang diketahuinya dari Ki Wira Sentanu tentang siasat dan rencana Ki Panji Suralaga serta Ki Tumenggung Adiyasa.

Setelah bergumam, Ki Kamejing berkata, “Jika perhitungan ini tepat, saya kira mereka akan bergerak malam ini.”

“Apakah Ki Kamejing setuju jika kita mendekat untuk sekadar melihat pergerakan di luar kelompok Ki Panji Danutirta? Karena sudah barang tentu mengirim banyak orang, mungkin puluhan, tanpa dukungan dari dalam jelas menjadi mustahil dapat mengguncang barak Agung Sedayu,” ucap Ki Ajar Poh Kecik.

Ki Kamejing menatap tajam Ki Ajar Poh Kecik. Katanya kemudian, “Hanya mengamati?”

“Hanya mengamati,” tegas Ki Ajar.

Di sisi barat barak pasukan khusus.

Yang disampaikan Ki Saradan pada Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik memang benar adanya. Rencana yang disusun di Kotaraja ternyata sejalan dengan siasat lapangan yang diterapkan oleh Ki Panji Danutirta.

Salah seorang pengiring Ki Panji Danutirta yang bernama Jekek telah kembali pada tuannya itu dengan sejumlah keterangan. Orang ini, sebelumnya, membayangi iring-iringan Amuger Klinter dan Ki Astaman hingga mereka berpisah.

Matahari hampir condong penuh ke barat, tapi sinarnya masih menembus sela-sela daun yang rapat. Hutan kecil itu tidak terlalu lebat. Di beberapa tempat pun masih terlihat cukup terang sehingga orang tidak terlalu disibukkan untuk mencara sesuatu yang dijadikan penanda tempat.

Tidak lama setelah Jekek meninggalkan tempat itu untuk mengirim pesan pada orang-orang terpilih, seorang demi seorang mulai berdatangan.

Yang pertama muncul adalah Ki Wirya. Dia adalah perpanjangan tangan dari Ki Tumenggung Adiyasa dan saat itu berjalan seorang diri menyusuri jalan setapak yang nyaris tertutup semak. Langkahnya mantap dan jauh dari sikap yang mengundang kecurigaan. Begitu melihat Ki Panji Danutirta berdiri di bawah sebatang pohon asem, dia segera mengangguk.

“Ki Panji,” desisnya.

Ki Panji membalas penghormatan itu dengan cara yang pantas.

Tidak ada percakapan di antara mereka selain sapaan kecil itu. Tak lama kemudian, seseorang muncul dari jurusan lain.

Ugrasena. Dia berhenti agak jauh dari tempat Ki Danutirta dan Ki Wirya berdiri. Pemuda ini lantas berjalan mendekat.

“Sedikit sulit karena jangkauan gardu jaga memang cukup luas,” katanya sambil membungkukkan badan.

“Begitulah,” sahut singkat Ki Panji.

Tidak berselang lama, Ki Jabon Seta datang dari arah utara. Cara kedatangannya berbeda. Dia tiba-tiba saja ada dan berdiri dalam jarak kurang lima langkah dari tiga orang yang mendahului kedatangannya.

Sesaat kemudian Amuger Klinter berjalan memasuki tempat itu seorang diri.

“Siap menerima perintah,” katanya saat sudah berada di dekat lingkar empat orang tadi.

Empat pemimpin kelompok itu kini telah berkumpul mengelilingi Ki Panji Danutirta. Tidak seorang pun yang mendahului perbincangan. Mereka paham bahwa itu bukan saat untuk berbantahan atau mengajukan pendapat sendiri yang dianggap terbaik, tapi kesesuian pergerakan serta melihat kembali pada persiapan.

Ki Panji memandang wajah mereka satu per satu lalu tatap matanya beralih sejenak ke celah pepohonan, seakan sedang memastikan tidak ada orang di sekitar mereka.

“Semua orang sudah berkumpul dan saya yakin masing-masing telah berada di kedudukan yang tepat untuk maju atau bergeser mundur,” ucap Ki Panji Danutirta.

Semua mata tertuju kepadanya.

Ki Panji kemudian berbicara dengan suara tenang. Beberapa arahan keluar dari bibirnya dengan kalimat yang tersusun rapi dan mudah dipahami. Sesekali empat pemimpin kelompok itu terlihat mengangguk sebagai tanda mengerti—tanpa meminta penjelasan lebih jauh.

Ternyata Ki Panji membutuhkan waktu yang agak lama untu mengurai siasatnya itu. Pikirnya, mereka datang tidak untuk membakar habis sasaran tapi sekadar mengguncang Tanah Perdikan dan Agung Sedayu. Maka, seluruh orang seharusnya dapat selamat. Hanya saja, lawan yang bakal mereka hadapi adalah pasukan khusus Mataram dan sejumlah orang pilihan Menoreh yang masih asing di mata mereka.

“Aku rasa sudah cukup,” kata Ki Panji.

Suasana mengambang dalam keheningan yang cukup lama setelah Ki Panji Danutirta menutup penjelasan.

Ki Jabon Seta menganggukkan kepala, sementara Amuger Klinter menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

Keempat ketua regu itu lantas mengangguk hampir bersamaan. Setelah saling memberi hormat, mereka pun meninggalkan tanah lapang itu melalui arah kedatangan masing-masing—tanpa menarik perhatian, tanpa meninggalkan jejak yang mudah dibaca.

Di bawah cahaya matahari yang terhalang dedaunan pohon tinggi, Ki Panji Danutirta masih berdiri, mengawasi sampai bayangan orang-orang itu benar-benar lenyap di balik rimbun pepohonan.

  • Sayangnya, sebagian besar pengawal tidak tahu karena perhatian mereka teralihkan pada kata-kata Ken Arok di Tanah Larangan 1. “Malapetaka akan menjemput prajurit Tumapel. Meski begitu, Kediri tidak akan menang melawan Tumapel apabila kita berhasil membawa keluar Kertajaya.”
  • Dan untuk pertama kali, saya melihat ada perbedaan antara Ken Arok dengan Rakai Panangkaran. Raja yang hadir pada zaman Mataram Kuno itu bersumpah dengan kata-kata yang luar biasa (tapi itu tulisan pengarangnya). “Seorang istri pula dapat menjadi persembahan,” jawab Rakai Panangkaran di Nir Wuk Tanpa Jalu 4.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.