Dari mana bantuan itu datang? Sedemikian cepatkah mereka mengetahui lumbung yang terbakar dan setepat itukah mereka mengetahui letaknya? Tidak ada yang salah dengan bantuan, tapi mengapa mereka ditinggalkan? Teka teki yang harus segera dipecahkan oleh Agung Sedayu secepatnya. Bila dihitung sekedarnya saja, maka jumlah orang yang berdatangan lalu menyebar itu belum memadai untuk berhadap-hadapan langsung dengan pengawal yang menjaga halaman Ki Demang. Walau demikian, Agung Sedayu berharap seandainya terjadi kerusuhan di halaman rumah Ki Demang, maka para pengawal dapat bertindak tanpa kelegaan karena unggul jumlah.
Oleh karena perkembangan, menurut penilaiannya, telah beranjak menuju keadaan darurat, Agung Sedayu pun keluar dari persembunyian dengan penyamaran sekedarnya. Dia memintas jalan, memasuki halaman Ki Demang Sangkal Putung dari samping.
Tepat ketika Agung Sedayu baru menjejakkan kaki di halaman samping, seseorang berkelebat cepat menerobos masuk melewati pintu kecil dekat gandok kanan. Melihat pergerakan itu, Agung Sedayu melompat panjang, melampaui serumpun tanaman perdu yang tumbuh di samping rumah induk, lalu tiba-tiba berdiri menghadang penyusup itu.
“Berhenti!” perintah Agung Sedayu tapi dia tidak memerlukan jawaban karena penyusup itu sudah jelas bukan bagian dari pengawal kademangan. Dalam waktu singkat, tanpa ribut-ribut, Agung Sedayu membuatnya pingsan. Sekejap kemudian, dia melesat ke pringgitan lalu melihat Dharmana sedang mengawasi keadaan sekitar dari samping pilar beranda.
“Dharmana,” panggil Agung Sedayu.
Lelaki muda yang disebut namanya itu cepat menoleh dengan raut muka terkejut. “Ki Rangga?”
Agung Sedayu meletakkan telunjuk di depan bibirnya sebagai tanda agar Dharmana menahan ucapan. Kata senapati Mataram itu kemudian, “Kita tidak punya banyak waktu.”
“Saya mendengarkan,” sahut Dharmana sambil mengangguk.
“Saya mencurigai sejumlah orang datang sebagai penyusup dengan niat yang tidak baik,” ucap Agung Sedayu, “jadi, segera siagakan pengawal dan buatlah rapatkan barisan secepatnya. Tugaskan seseorang untuk menjadi penghubung di sini.”
Dharmana mengerutkan kening. Dia bertanya kemudian, “Apakah Bunija sudah berada di pedukuhan, Ki Rangga?” Dharmana sadar bahwa pertanyaan itu bersifat untung-untungan meski dilandasi pemikiran seorang Agung Sedayu serba sedikit pasti mengetahui pergerakan pengawal Sangkal Putung.
Agung Sedayu menarik napas dalam-dalam, kemudian memandang Dharmana sambil menjawab, “Pertanyaanmu itu… Yah, benar, mereka sudah berada di dalam pedukuhan induk.”
Dharmana tersenyum lebar, kemudian sedikit membungkuk lalu berkata, “Terima kasih, Ki Rangga.” Dia pun meminta waktu untuk menyiapkan pengawal sesuai keinginan Agung Sedayu. Namun, sejurus kemudian, Dharmana menghentikan langkah, berbalik lalu berkata, “Nyi Sekar Mirah dalam keadaan baik. Ki Rangga dapat menengok beliau di sentong kanan.”
“Terima kasih,” ucap Agung Sedayu.
Tapi, sayang sungguh disayang, sebelum Dharmana menjalankan perintah Agung Sedayu, para penyusup itu serentak memenuhi halaman rumah Ki Demang dengan senjata terayun tinggi di udara disertai teriakan-teriakan yang menyakitkan.
Dharmana belum sempat berkata-kata. Derap kaki para penyusup berayun cepat menyeberangi halaman. Dharmana bersiaga menyongsong mereka dengan sikap sempurna. Dari dekat anak tangga terbawah pendapa, Dharmana mengedarkan pandangan, maka dia tahu bahwa para pengawal akan cepat membuat lingkaran yang mengepung para perusuh. Dia tidak perlu berpikir atau berharap pada Agung Sedayu karena senapati Mataram tersebut pasti akan mengambil alih kendali dengan sendirinya. Demikianlah kemudian Dharmana siap menyambut lawan meski seorang diri! Dharmana merendahkan dua lutut dengan sikap seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsa. Sorot mata kepala pengawal pedukuhan induk itu sungguh menggetarkan. Tanpa sedikit pun rasa gentar, Dharmana melompat panjang, membelah barisan lawan yang juga menyerangnya dengan tata gerak yang bengis dan liar.
Terjangan Dharmana diikuti tatap mata cemas dari Agung Sedayu. Betapa barisan lawan itu memanjang ke samping, maka sudah dipastikan sebagian dari mereka tidak akan dapat dibendung oleh Dharmana. “Tidak boleh lagi ada kelonggaran bagi mereka,” ucapAgung Sedayu dalam hati. Pada waktu itu, para perusuh yang menyusup jauh hingga beberapa langkah di dekat pendapa. Maka senapati Mataram itu pun bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dengan gerak tangan yang ajaib, tiba-tiba cambuknya telah terurai.
Cambuk Agung Sedayu menyentak sandal pancing, mengayun dan membelit leher atau pinggang beberapa penyusup lalu melemparkan mereka keluar dari gelanggang.
Sementara itu, dari sekitar pagar halaman Ki Demang Sangkal Putung, sebagian pengawal kademangan tersentak dengan serangan kilat perusuh yang seolah-olah muncul dari arah yang mereka tak tahu. Para pengawal kademangan ini tidak mendapatkan keterangan sama sekali tentang serangan atau pun adanya orang-orang yang menyamar sebagai bala bantuan. Tapi mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk membincangkan itu. Satu-satunya yang tertancap dalam hati mereka adalah keselamatan Ki Demang sekeluarga, apalagi di dalam rumah ada Sekar Mirah dan putrinya. Dalam diri setiap pengawal telah terpatri seperti tulisan di prasasti yang abadi bahwa mereka adalah keluarga besar Ki Demang Sangkal Putung, maka para pengawal kademangan pun langsung mengejar dengan cemas karena musuh mereka sudah sangat dekat dengan pendapa atau rumah Ki Demang Sangkal Putung. Mereka tidak lagi lawan yang telah berada di depan mereka.
Para pengawal kademangan memang tertinggal beberapa langkah dari perusuh tapi mereka tidak menggunakan itu sebagai alasan. Yang ada di dalam benak pengawal adalah kejar lalu hancurkan! Orang-orang yang berasal dari luar kademangan mereka telah nyata membawa niat buruk. Mereka sengaja menghancurkan kehidupan yang damai di Sangkal Putung. Mereka berniat memusnahkan benih-benih kehidupan yang bersemai di Sangkal Putung. Maka hanya satu kata yang terlontar dari para pengawal ; binasakan!
Meskipun kekuatan semangat yang disertai amarah itu sudah demikian hebat, tapi ternyata belum cukup menghalau rasa cemas. Itu karena hanya Dharmana seorang yang menjadi batu halang pertama bagi para perusuh sebelum mencapai rumah Ki Demang.
Hingga kemudian terdengar ledakan yang sangat mereka kenal yang datang dari salah satu dari dua orang yang mereka harapkan. “Ki Rangga ataukah Ki Swandaru?” Demikian pertanyaan yang tiba-tiba memenuhi pikiran pengawal dan juga menjadi pendorong hebat hingga mereka makin cepat berpacu menghantam lawan.
Perubahan segera terjadi.
Kehadiran murid utama Kyai Gringsing itu sanggup memecah perhatian dan kekuatan lawan yang tersebar merata dari ujung ke ujung. Selain itu pula, keterlibatan langsung Agung Sedayu adalah minyak yang disiramkan pada semangat yang nyaris terkikis karena kekhawatiran yang tiba-tiba menyergap pengawal kademangan. Maka keputusan Agung Sedayu untuk melepas penyamaran lalu melibatkan diri dalam perkelahian di samping pendapa adalah siasat yang jitu.
Sementara itu, di pihak lain, kemunculan Agung Sedayu benar-benar di luar perhitungan lawan. Mereka tahu bahwa Swandaru sedang menjalani larangan dan menjadi tahanan rumah atas keputusan Pangeran Purbaya. Di samping itu, Pandan Wangi pun tertahan di Pedukuhan Jagaprayan karena tanggung jawabnya sebagai pengendali keamanan di wilayah itu. Maka dengan demikian di Sangkal Putung tidak ada orang yang dapat menghadang selain Swandaru dan Pandan Wangi, Maka dengan dua alasan tersebut, Ki Garu Wesi membuat keputusan berani dengan membiarkan Simbara membuat kekacauan walau akhirnya gagal. Tapi para pemimpin pemberontakan telah mempersiapkan rencana lain untuk berjaga-jaga bila terjadi perkembangan buruk. Sejumlah pengintai diperintahkan secara khusus membayangi pergerakan Simbara. Ketika rencana itu gagal, mereka tetap membuat kerusuhan dengan membakar lumbung-lumbung di pedukuhan induk lalu membebaskan tahanan kemudian menjatuhkan Ki Demang Sangkal Putung sebagai tujuan awal.
Raden Atmandaru, yang meninggalkan Alas Krapyak sebelum kedatangan Panembahan Hanykrawati, meluangkan waktu untuk bertemu dengan Ki Garu Wesi. Melalui pembicaraan itu, Raden Atmandaru meminta agar semua tahanan dapat dilepaskan. “Kita dapat menumbuhkan kepercayaan dari semua orang bahwa mereka bukan orang-orang yang mudah diabaikan,” ucap Raden Atmandaru saat itu.
