Padepokan Witasem
Prosa Liris

Liris : Asmara Bandung Bandowoso

Ketika aku melihat gadis itu tengah memeluk erat jasad, terisak menatap wajah pucat ibundanya. Kemudian tubuh perempuancantik itu bergetar, tak henti meratap dan meraung. Sambil mencoba meraih dan memangku tubuh ayahnya, Prabu Baka yang berlumuran darah tergeletak tak jauh dari jasad ibunda.

Aku terpana!

Sesuatu yang aneh terjadi padaku.
Tiba-tiba seakan ada kekuatan besar yang menarikku. Membuat aku ikut trenyuh.

Sakit.

loading...

Hanyut terseret oleh kesedihan mendalam yang tengah dirasakannya.

Aku sadar, ternyata perempuan cantik ini telah mencuri bukan hanya sepotong, tapi seluruh hatiku.

Wajahnya yang muram terus membayangi diriku.

“Apakah ini memang nasibku atau ada hal yang belum aku pahami?” desis Bandung pada suatu ketika.

Seraut wajah murung termenung di balik jendela yang terbuka. Sosoknya berdiri tepat berada di hadapan kamarku.

Mataku terbelalak. Jantung berdetak liar. Sekujur tubuh berdenyar.

Tak berkedip!

Penuh gairah, aku pandangi dari jauh keelokan sesosok tubuh, yang berhias rambut hitam panjang tergerai. Pinggangnya berlekuk indah, terbelit selendang emas. Sepasang betis putih mulus, ramping panjang tersembul dari sela kain prada yang terpasang membelit pinggulnya.

Wajah cantik, Jonggrang sungguh memikat. Bibir ranum, merah membasah telah meracuni pikiranku.

Hasratku liar bercumbu mesra, berlomba dengan keinginan untuk menawarkan cinta dan perlindungan bagimu.

Sejujurnya, perempuan cantik ini telah merenggut semua cinta yang kumiliki. Menyelipkan sedikit penyesalan, karena aku terlanjur telah membunuh kedua orangtuanya.

Malam telah larut, aku berdiri sendirian menghadap lereng Merapi. Hanya berkawan rasa gundah.

Besok pagi, aku harus melamar Roro Jonggrang.

“Duhai adinda Rara Jonggrang, bersediakah kau menjadi permaisuri, belahan jiwaku?” aku merayu mesra.

Bibirku mencoba melontarkan senyum terbaik yang pernah
kumiliki.

Hening mencekam. Aku Menunggu jawaban dengan peerasaan gelisah.

Rara Jonggrang, putri Prabu Baka hanya bisa terdiam, tubuhnya nyaris beku.

“Jangan pergi dulu Pangeran!“

“Gusti Pangeran Bandung yang mulia, betapa hati Dinda terbang melayang. Tersanjung atas pinangan Kakanda.”

“Aku bersedia menerima lamaranmu. Asalkan, Gusti Pangeran berkenan memenuhi dua pesyaratanku”

“Nanti malam, buatkan dua sumur Jalatunda dan seribu candi sebagai bukti cintamu!”

“Jika kau sanggup melakukanya. Aku bersedia menjadi permasurimu.“

“Ingat, waktu yang kau miliki hanya sampai matahari terbit.”

“Jika Kakanda tak mampu menyelesaikan sebelum matahari terbit.
Maafkan adinda tidak dapat menjadi permaisurimu,” jawab Rara lirih, menahan kemarahan yang hanya mampu diteriakkan dalam hati.

Kau terlalu meremehkanku!

“Seribu candi dan dua buah sumur Jalatunda akan segera kupesembahkan untukmu, Rara.”

Perempuan keras kepala ini mengajukan syarat yang mustahil bagi manusia biasa.

Namun, tidak untukku, Jonggrang.
Keinginan mengebu-gebu untuk memiliki Jonggrang, Membuat aku tak sabar menunggu malam tiba.

Mungkin kau lupa.

Aku adalah Bandung Bondowoso, Ksatria Pengging. Laki-laki perkasa, sakti mandra guna. Penguasa pasukan gaib lereng Merapi.

Tunggu saja! Hanya dalam hitungan jam, kau segera menjadi premaisuriku.

“Kau harus jatuh kepelukkanku, Rara!”

“Duhai Jonggrang gadis pujaanku!

Saksikan kesaktianku!”

Segera, mulutku komat-kamit, merapal ajian untuk mengundang ribuan pasukan gaib. Para lelembut dan dedemit.

Dalam sekejap, berduyun-duyun muncul ribuan mahkluk gaib, yang bergegas mulai bekerja.

Penuh semangat meluap-luap, segera kumulai pekerjaan untuk menakhlukkan hati Rara Jonggrang.

Kukerahkan seluruh kesaktianku. Kuacak-acak perut bumi, kuhancurkan batuan dan cadas.

Semua demi mencari sumber mata air untuk sumur Jalatunda.

Tak ada yang dapat menghalangiku, kecuali terbitnya sang matahari.
***
Baru dua pertiga malam, dua sumur Jalatunda terwujud Kini, hanya tinggal sedikit candi yang belum selesai.

Mendung gelap memayungi pelataran istana Baka. Tanah, basah tergenang oleh air hujan yang masih menetes. Matahari telah begulir ke barat, alam berangsur-angsur gelap. Tampak sisa kabut tipis bagai tirai halus, menyelimuti tanah lapang yang ditumbuhi hamparan rerumputan.

Tempat yang aku pilih untuk membangun seribu candi.

Tanda cinta dan bukti perjuanganku merebut hati gadis yang kucintai.

Roro jonggrang,
tak bosan aku melihat wajah dan senyum, seakan terpahat abadi di hatiku. Pesona kecantikan yang luar biasa, telah membuat aku bertekuk lutut.

Merangkak, mengemis cintamu.

Cinta bergelora!

Hasratku meledak!

Kobaran gairah untuk memilikimu, terus memompa semangatku.

Nantikan persembahkan cintaku!

Ingat! Besok pagi, tepat saat matahari bersinar pertama kali.

Aku menunggu kedatanganmu di teras seribu candi. *****

“Ah, hanya tersisa satu candi lagi, tuntas sudah semua pesyaratan yang kau minta.” desisku gembira.

Tiba-tiba aku melihat semburat cahaya di langit. Lamat-lamat dari kejauhan muncul suara hiruk-pikuk, berisik sekali.

Lalu aku mendengar suara beberapa perempuan menumbuk padi sambil memukul lesung dengan alu.
Begitu bising dan gaduh, disusul suara kokokan ayam jantan bersahut-sahutan.

Darahku mendidih, panik dan kesal, tergesa aku berpaling memandang ke arah timur.

Terlihat langit memerah.

Kepulan asap membumbung tinggi, memenuhi udara.

Bau dupa menyebarkan wangi.

Derap kegiatan kehidupan manusia mulai berdegub kembali.

Sialan!
Semua pasukan gaibku tampak berlarian terbirit-birit.
Dalam sekejap mereka telah hilang lenyap.
Bersembunyi, mengira hari sudah pagi.

Wajahku menegang, aku terpukul, tak terima. Tanganku mengepal keras.

Tertegun!

Cepat, mataku mendongak memandang langit di atas kepala. Masih ada bintang.
Mulutku berteriak menyerapah pada datangnya pagi palsu.

Bangsat, Roro jonggrang telah menipuku. ****

Aku belum menyerah, tinggal satu candi lagi.

Hanya kurang satu buah candi.

Aku pasti tuntaskan seribu candi.

Tak bisa ditawar lagi, Jonggrang harus jadi milikku.

Namun, takdir berkehendak lain.

Matahari bersinar tepat saat aku hendak memulai membangun candi keseribu.

Harapan untuk mempersunting Rara Jonggrang perlahan meredup dan sirna.

Menyadari telah diperdaya, Aku tak mampu lagi menahan diri.

Kemarahanku memuncak.

Berdebah!

Licik!

Culas!

“Awas kau laknat!

Aku telah ditipu mentah-mentah oleh perempuan jalang itu.

“Kau menipuku!”

Pahit!

Geram!

Hatiku diliputi dendam membara, sengit menatap senyum puas kemenangan yang tersungging di bibir merahnya.

Muak dan benci pada tatapan sinis yang mengejekku.

“Perempuan sundal.”

“Tak tahu diri!”

Demikian tinggi kusanjung dirimu. Tak kusangka kau berkhianat, membalas cintaku dengan tipu muslihat.

“Tertawalah sepuasnya selagi kau bisa, Jonggrang.”

“Rasakanlah pembalasanku!”

Mendadak angit meradang, gemuruh suara petir membahana.

Ujung lidah kilat menyambar-nyambar.

“Terkutuklah kau!“ bentakku.

“Jadilah kau batu arca penggenap seribu candi yang kau pinta!” Murka Bondowoso serupa sabda agung penguasa jagat kegelapan, menuntaskan takdir perempuan malang dengan sempurna.“

Di penghujung hidupnya. Sesaat sebelum tubuhnya berubah menjadi batu. Masih sempat terlontar gema tawa terakhir Roro Jonggrang.

“Ha …ha … ha! Bandung keparat! Aku Lebih terhormat menjadi batu ketimbang menghamba di kaki pecundangmu.”

“Tutup mulut! Masih berani kau menghinaku!”

“Rasakan akhir menggenaskan hidupmu! Perempuan keras kepala!” rutukku gusar.

 

Karya Pearl Angels dalam tugas bacaan Rara Jonggrang.

Wedaran Terkait

Songsong Bukan Puisi

admin

Sikil nJeber..

admin

Puisi :Peluk Senja di Lereng Lawu

admin

Puisi :  Aku Dalam Birumu

amazingdhee

Puisi : Tertikam Rasa/Lina Boegi

admin

Puisi : Temaram/Winy

admin

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.