Di pinggiran jalan yang menjadi jalur menuju rumahnya, Agung Sedayu terpaku melihat pemandangan yang aneh menurutnya. Ia menyaksikan kobaran api yang tengah bergolak pada sebuah pategalan yang cukup luas. Ia mengalihkan pandangan pada tanah lapang, dan tampak dua bukit api menjulang setinggi pohon kelapa. Sementara di bagian tengah jalan, seperti sebuah batas, api menyala seperti garis lurus yang membelah jalan-jalan di Jati Anom.

Walau pun banyak orang berlarian di depannya, itu seperti tidak mengusik perhatian Agung Sedayu. Setelah mendapatkan keterangan dari sejumlah orang yang menjadi tetangganya, Agung Sedayu menarik napas lega. Satu pategalan dan sebuah tanah lapang telah dipenuhi api, namun tidak ada rumah yang terbakar di sepanjang jalan menuju barak pasukan Mataram. Wajah-wajah kebingungan berpencaran ke segala arah. Setiap orang saling bertanya tentang yang terjadi, mengenai sebab, mengenai alasan dan pertanyaan-pertanyaan lain keadaan mereka. Sungguh, mereka sama sekali tidak mengerti. Agung Sedayu dihadapkan kembali pada satu lorong panjang dan seolah buntu.

Ia tengah berjalan di antara kerumunan orang-orang berlalu lalang. Menyelamatkan diri atau hal yang lain. Entahlah karena begitu sulit menggambarkan keadaan yang terjadi di Jati Anom pada malam itu.

Agung Sedayu mengurangi ayunan langkahnya ketika didengarnya suara orang memanggilnya. Sejenak ia berusaha mengenali suara yang timbul tenggelam di telan hiruk pikuk lantang orang-orang.

“Agung Sedayu!”

Ia terperanjat ketika Untara berlarian menghampirinya. Rasa haru memeluk Agung Sedayu ketika kakaknya berada di dekatnya. Ketika orang-orang melihatnya tanpa bertanya tentang keadaan Untara atau keluarganya, Agung Sedayu dicekam resah. Ia berpikir tentang keponakan dan kakak iparnya. Setiap kali ia akan membuka mulutnya, kepanikan orang-orang Jati Anom seolah tidak bersedia memberinya kesempatan untuk bertanya. Hingga kemudian keberadaan Untara pada saat itu benar-benar seperti air yang membasahi tenggorokan.

Namun sebelum Agung Sedayu menyahuti panggilan itu, Untara telah menangkap pergelangan tangannya. “Ikuti aku,” kata Untara dan seolah ada nada penting yang tidak mungkin dibantah.

Sekalipun ia telah mempunyai perkiraan tentang kejadian yang melanda wilayah tengah Jati Anom, Agung Sedayu tidak ingin mengatakan sesuatu pada kakaknya. Ia tidak ingin mendahului pendapat Untara sebelum tumenggung Mataram itu mengawali penjelasannya. Ia hanya mempunyai satu harapan dalam dadanya bahwa kebakaran hanya terjadi seperti yang ia saksikan. Api hanya terbatas pada tanah lapang dan jalanan.

Lalu keyakinan itu tumbuh begitu kuat ketika ia melihat prajurit Jati Anom bahu membahu dengan orang-orang untuk membuat dinding api. Sepanjang jalan yang mereka tempu menuju rumah Ki Sadewa, sejumlah prajurit membuat parit-parit kecil di beberapa tempat. Mereka mengairinya dengan menggunakan sumber dari sumur-sumur di sekitar tempat kebakaran. Air dilewatkan melalui batang-batang bambu yang terangkai memanjang, berkelok mengikuti lekuk jalanan lalu sebagian merambat masuk ke tanah lapang.

Sesuai perintah KI Untara, para prajurit membagi diri dalam kelompok-kelompok dengan tugas yang berlainan. Sementara bebahu pedukuhan dengan sigap membagi penduduknya seperti yang dilakukan oleh prajurit. Mereka bergerak dengan cair, mengalir bahkan jika sepintas diamati, justru seperti tidak mempunyai tujuan. Tetapi semuanya dapat dijawab. Segalanya menjadi reda, mulai reda ketika api perlahan menyusut. Api tidak mampu menjangkau tempat yang lebih jauh dari parit yang telah dibuat. Untuk waktu yang tidak begitu lama, orang-orang telah mengulur kendur otot mereka, menghimpun kembali napas-napas yang tersengal dan berbagi kebahagiaan betapa mereka mampu melewati sebuah kejutan yang membahayakan keselamatan seisi pedukuhan.

Banyak kejadian yang tidak terlepas dari pengamatan Agung Sedayu. Ia berpikir tentang cara orang-orang tidak bertanggung jawab itu memulai kebakaran. Meski begitu, Agung Sedayu masih dapat merasakan bahwa kedamaian kembali menyapa tanaha kelahirannya.

Dalam waktu itu, Untara sekali-kali berhenti untuk bertanya mengenai perkembangan yang dialami orang-orang pedukuhan yang berpapasan dengannya. Kedua kakak beradik ini berjalan dengan langkah lebar meski tidak terlihat tergesa-gesa. “Tentu engkau telah merasa lapar,” Untara berkata dengan menepuk pundak Agung Sedayu.

Tidak ada udara yang menggetarkan bibir Agung Sedayu. Ia hanya tersenyum mendengar ucapan kakaknya. Bagi Agung Sedayu, yang terpenting pada saat itu adalah melihat keadaan rumah peninggalan orang tuanya. Semua keping masa silam telah tersusun sedemikian rupa dalam benaknya. Sebagian kejadian masa kecilnya bahkan seolah mam[pu membawanya kembali ke waktu lampau. Ia masih mengingat dengan baik.

Agung Sedayu hampir menitikkan air mata. Kenangan itu sangat sederhana. Ia tumbuh tidak dalam buai kemewahan. Agung Sedayu menjadi lelaki yang tidak berkawan erat dengan kesenangan, tetapi ia tidak terlalu sering berada dalam keprihatinan.  Rumah Ki Sadewa yang telah berubah menjadi barak pasukan Mataram muncul di hadapan Agung Sedayu. Ia masih mengenali dengan baik sekalipun Untara telah melakukan banyak perombakan pada bagian rumah. Bangunan itu masih terlihat seperti rumah, tidak ada gambaran yang menunjukkan bahwa tempat itu telah beralih menjadi barak prajurit. Ketika ia memasuki ruang depan, dinding dan perabot lainnya pun seolah segera mengulurkan sapa padanya.

“Tidak ada yang kurang,” pikir Agung Sedayu, “tidak ada pula penambahan selain warna dinding. Kakang Untara telah menjaga rumah ini hingga…Seolah aku kembali pada usia belasan atau kurang dari itu.”

Sejurus kemudian Agung Sedayu telah duduk berhadapan dengan Untara, di samping mereka telah hadir pula Sabungsari dan Ki Widura yang masih bersusah payah mengatur keadaan diri mereka. Mereka berkumpul di beranda. Mereka berada di antara kesibukan prajurit yang mulai berkurang.

Tiba-tiba Untara berpaling padanya, katanya, “Tidak ada satu dari kita berdua yang akan mengira bahwa rumah ini akhirnya menjadi begini.” Untara menyodorkan tangan ke depan dan menyapu pada arah seluas bangunan.

Agung Sedayu tersenyum kemudian, “Selagi mempunyai manfaat, tentu tidak ada alasan bagi Kakang untuk mengembalikan pada  keadaan semula.”

“Engkau tidak keberatan?”

Agung Sedayu menggeleng. “Ini adalah jalan Anda, Kakang. Rumah ini telah melebihi keadaannya semula. Bahkan, mungkin, ia telah menjadi rumah bagi banyak orang meskipun tidak pernah menjadi tempat tinggal selamanya bagi mereka. Tetapi saya kira sudah cukup memadai dan menyenangkan bahwa mereka telah menganggap papan ini sebagai rumah sendiri.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *