Setelah keadaan benar-benar mereda tetapi kesibukan tidak berhenti begitu saja. Para prajurit peronda dan pengawal pedukuhan semaklin merapatkan jarak jangkau wilayah perondaan. Meski malam semakin pekat dan sisa-sisa kebakaran mulai meremang sebelum padam, kegiatan di Jati Anom belum dapat dikatakan telah berkurang. Mereka hanya beralih perhatian. Selain peningkatan penjagaan, orang-orang Jati Anom telah bangkit dengan cepat untuk menyambut hari baru yang akan datang tak lama lagi.

Di dalam selimut kabut yang turun dari Merapi, Agung Sedayu beserta orang-orang lainnya masih berada di beranda. Percakapan mereka semakin dalam.

“Kebakaran ini bukan sebuah kebetulan,” ucap Untara yang telah kembali ke tempat duduknya.

Sabungsari dan Ki Widura saling bertukar pandang, sementara Agung Sedayu masih memandang lantai di bawahnya. Keheningan masih belum beranjak dari beranda sedangkan Untara telah mengucap kata.

Untara kembali memecah keheningan, katanya, “Saya rasa kita tidak perlu lagi menunda dengan saling menunggu satu sama lain untuk menyampaikan pendapat.”

Agung Sedayu mengerutkan kening, sejenak ia memejamkan mata, kemudian berkata, “Perkelahian yang terjadi di badan sungai tentu bukan sebuah peristiwa yang kebetulan terjadi. Menurut saya, itu adalah petunjuk bahwa mereka memang telah mendekati Jati Anom.”

“Agung Sedayu, apakah engkau setuju jika aku katakan bahwa pertikaian di antara putra Panembahan Senapati semakin runcing?” Untara lurus menatap wajah adiknya.

“Sebenarnya itu bukan wilayah saya untuk menyatakan pendapat, Kakang. Adalah kewajiban kita bersama untuk menjaga keamanan dan ketenteraman Mataram,” jawab Agung Sedayu. “Meski begitu saya juga tidak ingin mengatakan Raden Atmandaru adalah orang yang berhak atas kekuasaan di Mataram.”

“Engkau adalah orang yang sering diliputi keraguan, lalu bagaimana engkau dapat berkata seperti itu?” tanya Ki Widura dengan penasaran. Ia mendapat laporan yang sama dengan yang dikatakan Agung Sedayu. Namun Ki Widura belum mempunyai dugaan seperti pendapat Untara.

“Paman, sejujurnya saya telah mendengar dari petugas sandi pasukan khusus mengenai pergerakan yang diawali dari Pedukuhan Dawang. Namun kami belum mempunyai waktu yang cukup untuk meninjau atau membahasnya seperti yang biasa kami lakukan. Mereka terlalu cepat, tetapi saya sadar bahwa itu bukan alasan yang dapat membenarkan bahwa sesungguhnya kita memang terlambat.”

“Seperti apakah laporan dari petugasmu, Agung Sedayu?” Pertanyaan Untara terdengar seperti sabetan benda tajam yang menggores jantung Agung Sedayu. Saat itu ia merasa sulit membedakan kedudukan Untara sebagai seorang tumenggung atau sebagai kakaknya. Namun keadaan telah menyadarkan Agung Sedayu bahwa pertanyaan kakaknya telah menempatkan Untara sebagai seorang tumenggung. Namun Agung Sedayu merasa membutuhkan waktu sejenak.

“Ya. Saya akan menguraikan laporan dengan gamblang walau nantinya akan memunculkan dua pendapat yang berbeda. Raden Atmandaru atau yang dikenal sebagai Panembahan Tanpa Bayangan adalah orang yang sama dengan yang kita kenal sebagai Pangeran Ranapati. Sejumlah pengamatan dan penyelidikan yang kami lakukan selalu bermuara pada satu sosok, pada satu orang saja dan selalu orang yang sama.

“Salah satu kelemahan kami pada saat melakukan pengamatan adalah kami tidak melihat pergerakan yang sebenarnya mengalir sangat deras di bawah telapak kaki Raden Atmandaru. Sungguh, para petugas kami tidak dapat mengetahui jika sebenarnya ada sekumpulan orang dalam jumlah cukup besar, mungkin segelar sepapan, yang telah siap mengangkat senjata untuk menggantikan Panembahan Hanykrawati.”

Mendengar penjelasan Agung Sedayu, Untara mengusap dagunya lalu katanya, “Aku tidak atau belum dapat membenarkan kesimpulanmu. Karena satu hal telah mengangguku, maka aku ingin bertanya padamu, bagaimana engkau dapat melonggarkan ikatan dengan Mataram?”

“Sesuatu yang tidak mungkin dapat saya lakukan adalah melepas ikatan itu, Kakang. Mungkin saya dapat dinilai telah melakukan kecerobohan, mungkin itu benar. Tetapi..”

“Engkau menemui pilihan sulit jika itu menyangkut kitab dari Kiai Gringsing?” sahut Ki Widura sebelum Agung Sedayu menuntaskan jawabannya.

“Benar.”

“Ataukah karena karunia yang telah bersemayam di dalam Sekar Mirah?” Untara menambahkan.

Seperti orang yang tengah menerima tuduhan-tuduhan dalam sebuah pengadilan, Agung Sedayu merasa tidak begitu nyaman dengan lontaran pertanyaan yang mengarah padanya. Tetapi ia bukan orang yang bersalah walau orang akan menganggapnya telah ceroboh. Tetapi bukankah aku juga mempunyai keterbatasan? pikir Agung Sedayu.

“Paman, Kakang dan engkau, Sabungsari. Saya tidak akan mencoba menjelaskan itu semua karena saya pikir jika keterangan-keterangan dari petugas sandi telah dikumpulkan maka segalanya akan menjadi benderang,” ucap Agung Sedayu setelah menarik napas dalam-dalam.

Ketiga orang itu mengangguk setuju. Namun Sabungsari menjadi serba salah karena ia berpikir telah berada dalam waktu yang keliru. Ia tidak dapat menahan hatinya saat menyaksikan orang yang dikaguminya seakan menjadi pesakitan. Walaupun begitu, ia percaya bahwa Agung Sedayu akan melewati malam di beranda dengan cara yang istimewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *