Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 60

Ketenangan Agung Sedayu mulai terusik. Sekalipun ia yaki pada kemampuan pengawal kademangan yang lebih mengenal medan, tetapi lawan yang dihadapinya benar-benar berbeda! Kakang Panji dan Panembahan Senapati pun masih mendasarkan gelar perang pada siasat-siasat kuno dengan pengembangan yang bersifat khusus. Tetapi Raden Atmandaru telah memperlihatkan bahwa siasatnya tidak akan dapat diduga. Agung Sedayu telah menyaksikan latihan perang lawannya ketika dalam perjalanan menuju Sangkal Putung. Ditambah kekacauan di pasar induk Tanah Perdikan Menoreh serta Jati Anom, maka sewajarnya Agung Sedayu harus berpikir lebih keras!

Dalam waktu itu, ketika senja semakin rapat dengan kelam, para pengawal kademangan telah siap bergerak. Seandainya musuh mereka datang mendekati batas wilayah, maka mereka akan membuat kubangan darah di Sangkal Putung.

Senja nyaris berlalu ketika persiapan pengawal kademangan telah tuntas. Tetapi melalui petugas penghubung yang masih melaporkan padanya, Agung Sedayu sigap mengatasi gelisah yang mulai melanda para pengawal.

“Air?” sahut seorang kepala pengawal. Ia telah mendapat perintah untuk menyiapkan kantung-kantung berisi air di tempat-tempat yang telah diputuskan Agung Sedayu. Perintah yang sama segera menyebar dan memenuhi benak kepala pengawal dengan banyak pertanyaan.

Malam menyapa dengan ketipisan gelap saat para pengawal dan anak-anak muda memindahkan orang-orang lemah ke tempat yang agak jauh dari kademangan. Para perempuan dan anak-anak berbaris rapi  menuju arah ibukota. Mereka akan berhenti di sebuah tanah la[ang yang, menurut perkiraan Agung Sedayu, akan dilalui oleh bala bantuan dari Mataram. Sangkal Putung diliputi kesibukan yang luar biasa. Perintah terakhir yang datang dari Agung Sedayu, sungguh, mengacaukan perasaan para pengawal. Banyak dari mereka yang berpikir,  bahwa, kali ini, Agung Sedayu telah membuat keputusan di luar nalar.

“Apakah besok malam masih ada kunang-kunang, Nyi?” bertanya seorang anak kecil yang bergandeng tangan dengan ibunya.

“Entahlah, Ngger. Nyai tidak tahu.”

Belasan atau mungkin puluhan rombongan melangkah keluar dari pedukuhan yang berbeda. Tempat pengungsian bagi masing-masing rombongan telah ditetapkan Agung Sedayu. Tidak banyak orang yang berbicara, mereka lebih memilih untuk memperhatikan nasib masing-masing. Bagaimana mungkin mereka dipaksa oleh Agung Sedayu untuk meninggalkan pedukuhan walau untuk sementara waktu? Sebagian orang bertanya-tanya mengenai itu, tetapi tidak ada orang yang mampu menjawab.

“Esok pagi mungkin tidak ada lagi tanaman yang tersisa di sawah ini,” kata seorang lelaki setengah baya pada rekan seperjalanannya.

“Yah, kita tidak tahu apa yang terjadi esok,” jawab kawannya sambil menatap tanaman padi yang mulai menguning.

Sekelompok perempuan berjalan dengan isak tangis, sekali-kali mereka melempar pandang jauh ke belakang. “Bila pengawal pedukuhan dan Ki Rangga tidak dapat menahan serangan musuh, mungkin kita tidak akan dapat melihat kembali rumah peninggalan bapak,” ucap seorang perempuan renta yang melangkah dengan kaki diseret.

“Sudahlah, Nyi. Kita berdoa pada Yang Maha Agung agar memberi kemenangan pada Ki Rangga.” Seorang wanita lebih muda dan kelihatannya sedang mengandung berusaha menenangkan ibunya. Lantas ia berkata, “Semoga Mataram tidak datang terlambat.”

Sementara itu, di tempat yang berbeda, di setiap pedukuhan, terlihat pengawal terus menerus melakukan penjagaan keliling. Setiap kali mereka membuang pandangan, maka yang terlihat hanya gelap dan kelam. Mereka sadar bahwa di balik kegelapan, kelompok pemangsa tengah mengintai dan menunggu kelengahan mereka. Para pengawal kademangan yang berusia agak muda terlihat berusaha meredakan ketegangan dengan sedikit permainan senjata. Dalam waktu itu, debar jantung terasa lebih kuat memukul rongga dada.

“Aku masih belum dapat mengerti perintah Ki Rangga yang terakhir kalinya,” kata seorang peronda.

“Kakang, kita tidak dituntut untuk mengerti sebuah perintah. Kita adalah pengawal. Dan cukup bagi kita untuk mengemban perintah hingga tuntas dengan sebaik mungkin.” Para pengawal manggut-manggut ketika mendengar ucapan seseorang yang sepertinya dituakan oleh kelompoknya.

“Aku seorang prajurit,” timpal seseorang yang berusia sepantaran dengan Swandaru. “Aku berada di Sangkal Putung untuk mengunjungi kerabatku yang sakit. Dan, penting aku katakan pada kalian semua, aku pernah menjadi orang yang berada di bawah perintah Ki Rangga ketika perang di Madiun. Pada waktu itu, Ki Rangga adalah orang yang cermat membuat perhitungan. Maka aku pikir, dengan sedikit resah seperti kalian semua, keputusan Ki Rangga bukan untuk menghancurkan Sangkal Putung. Bukan pula rencana yang merugikan kita dan mereka semua.”

“Lalu apa? Meski Agung Sedayu tidak pernah mengalami kekalahan pada banyak perang yang diikutinya, tetapi setiap orang pasti mempunyai batasan. Mungkin saja, kali ini, Sangkal Putung akan menjadi tempatnya terbenam.” Seorang pengawal bertubuh kekar tiba-tiba bangkit lalu berkata seperti itu dengan suara lantang.

“Diam!” bentak prajurit Mataram.

Related posts

Membidik 9

kibanjarasman

Membidik 8

kibanjarasman

Membidik 7

kibanjarasman

Membidik 61

kibanjarasman

Leave a Comment