Padepokan Witasem
Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat
Bab 3 Membidik

Membidik 59

Malam yang membuat sibuk sebagian besar penghuni Sangkal Putung telah dapat dilewati dengan ketegangan yang merambat setiap jengkal tanah kademangan subur itu. Meski demikian, kesibukan itu tidak menimbulkan suara riuh. Mereka begitu tenang di bawah arahan Agung Sedayu dan kepala pengawal.

Dalam waktu itu, Ki Jagabaya berkata, “Ki Rangga. Ki Swandaru yang tidak ada bersama kita saat ini, harus diakui, membuat Sangkal Putung kehilangan kekuatan terbesarnya. Saya tidak bermaksud meremehkan atau merendahkan Ki Rangga, tetapi memang ada perbedaan.”

“Benar, Ki Jagabaya. Kita tidak dapat mengingkari itu. Bagaimanapun juga, Swandaru adalah pemimpin kademangan ini. Bahkan tak berlebihan bila aku katakan Swandaru adalah jantung Sangkal Putung.”

Ki Jagabaya memandang tegang pada orang-orang yang sibuk memasang halang rintang di sudut-sudut jalan yang telah ditentukan oleh Agung Sedayu. “Tetapi dengan adanya Ki Rangga bersama kami, sesungguhnya lubang itu telah dapat ditutup. Ki Rangga pun telah mendapat tempat di hati orang-orang Sangkal Putung.”

Hingga fajar menjelang, Raden Atmandaru belum menunjukkan gelagat akan menyerang.

Matahari perlahan menanjak dinding langit tetapi belum ada pergerakan dari pengikut Raden Atmandaru.

“Mungkinkah Raden Atmandaru menunda serangannya, Ki Rangga?” tanya Ki Jagabaya yang berada di panggung pengawas bersama Agung Sedayu.

Agung Sedayu mengangguk-angguk, lalu katanya, “Kita tidak pernah tahu.”

Maka timbul keheranan pada Ki Jagabaya. Ia mencoba menekan resah yang melanda perasaannya, bersamaan dengan itu, ia masih belum mengerti dengan jawaban Agung Sedayu. Namun begitu, ia percaya bahwa senapati pasukan khusus Mataram ini tidak tergesa-gesa ketika merencanakan pertahanan mereka.

Sejumlah orang terlihat hilir mudik melewati gerbang banjar pedukuhan induk. Mereka adalah para pengawal kademangan yang bertugas sebagai penghubung dan pengamat batas wilayah. Laporan yang diterima oleh Agung Sedayu sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda pergerakan di luar wilayah kademangan.

“Mengherankan,” gumam Agung Sedayu sambil melangkah menuruni anak tangga gardu pengamat. Ki Jagabaya mengikutinya dari belakang dengan kegelisahan yang tidak ditampakannya di depan Agung Sedayu. Ketika mereka tiba di regol banjar, Agung Sedayu memperhatikan keadaan jalan dari ujung ke ujung. Dari kejauhan, ia tidak melihat sesuatu yang salah dari pekerjaan orang-orang Sangkal Putung. Bahkan diam-diam ia mengagumi pekerjaan mereka yang begitu rapi dan cermat membuat jarak antar rintangan.

“Tidakkah Ki Jagabaya merasakan kejanggalan?”

“Saya tidak mengerti maksud Ki Rangga.”

“Keramaian dan kepadatan jalan-jalan di sekitar Sangkal Putung telah berkurang. Memang tidak seperti biasanya. Kita tahu alasannya bahwa mereka mengikuti petunjuk dan pesan yang disampaikan oleh para penghubung.”

“Ya, seperti itulah laporan para pengawal.”

“Tetapi, mengapa perubahan ini tidak mengurangi kedatangan orang-orang asing?”

“Bukankah mereka tidak tahu tentang rencana penyerangan?”

“Namun mereka pasti melihat pohon-pohon yang diletakkan melintangi di jalan. Mereka tentu juga mendengar simpang-siur kasak kusuk yang dibicarakan orang secara terbuka. Pemeriksaan yang lebih ketat pun pasti dialami para pendatang.”

“Lantas apa rencana Ki Rangga?”

“Api.”

“Api?” Ki Jagabaya memandang wajah Agung Sedayu dengan rasa heran. Ia benar-benar tidak mengerti!

“Api.” Agung Sedayu menggerakkan badan, kini ia menghadap sepenuhnya pada Ki Jagabaya. “Tanah Perdikan mengalami dua kebakaran sebelum matahari berada di atas kepala. Sedangkan Jati Anom membara pada malam hari. Ki Jagabaya, mungkinkah mereka menyerang kademangan pada malam nanti?”

Pada saat senja turun menyapa lereng Merapi, perkemahan pengikut Raden Atmandaru tiba-tiba meningkat tajam. Puluhan orang berbaris dengan sikap tubuh menghadap ke wilayah Sangkal Putung. Sedangkan belasan orang terlihat meninggalkan pemukiman dengan kuda-kuda yang tegap berderap perlahan. Sementara, dalam jumlah lebih banyak, sebagian berpencaran dan menyebar seperti kerumunan semut yang mendadak membubarkan diri. Mereka seolah mencari tempat untuk menyelamatkan diri, padahal tidak! Mereka bergerak cepat menuju tempat-tempat yang telah ditentukan oleh Panembahan Tanpa Bayangan sebagai awal serangan.

Semangat membuncah dan meledak melalui raut wajah serta sorot mata pengikut Raden Atmandaru. Mungkin sebagian pengikut beranggapan bahwa senja itu adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki kehidupan mereka. Mungkin pula mereka berpikir bahwa waktu untuk bahagia telah tiba. Dan bukan tidak mungkin jika semua orang-orang Raden Atmandaru benar-benar menginginkan penggantian penguasa Mataram!

Related posts

Membidik 9

kibanjarasman

Membidik 8

kibanjarasman

Membidik 7

kibanjarasman

Membidik 61

kibanjarasman

Leave a Comment