Padepokan Witasem
Bab 3 Membidik

Membidik 61

“Tidak! Bila aku diam maka kebenaran akan terbungkam selamanya,” tukas lelaki bertubuh kekar. “Prajurit, apakah Ki Rangga benar-benar telah menjadi sosok tak terkalahkan?”

“Ki Ranubaya,”kata prajurit Mataram dengan nada rendah, “Ki Rangga bukanlah orang yang tidak tertandingi. Kita tahu bahwa Kiai Gringsing pun pasti pernah mengalami kekalahan. Tetapi itu bukan masalah yang kita hadapi sekarang.”

“Engkau pandai berkelit, Ki Sanak.” Ki Ranubaya setapak maju.

Orang-orang di sekitar mereka menjadi tegang. Bisa jadi pertikaian tidak dapat terelakkan, pikir sebagian pengawal kademangan.

“Aku tidak ingin berbantahan denganmu. Engkau bukanlah musuh yang akan aku hadapi di medan pertempuran,” kata prajurit Mataram itu sambil menarik napas menenangkan diri agar tidak terpancing dari pertengkaran mulut.

“Ki Sarwaguna.” Tatap mata tajam Ki Ranubaya serasa merobek jantung orang yang dipanggilnya dengan kasar. “Engkau sengaja menghindar agar kelemahan kademangan dapat tertutup rapat.”

“Kelemahan? Apa maksud Ki Ranubaya?” Orang-orang bangkit berdiri dengan wajah tak percaya.

“Bukankah kita tidak melihat Ki Swandaru berada di tengah-tengah kita sejak kepergian beliau ke Tanah Perdikan? Adakah kalian mendengar kabar pemimpin kita itu? Hah? Ada?” Satu demi satu wajah pengawal beradu pandang dengan Ki Ranubaya. Seolah mendapat dorongan dari angin sejuk yang menuruni lembah Menoreh, Ki Ranubaya meneruskan ucapannya, “Ki Sanak sekalian. Sangkal Putung bukanlah Tanah Perdikan yang berulang-ulang terjadi bentrokan di antara mereka. Kita mendengar usaha Ki Argajaya dan Prastawa, Ki Kapat Argajalu dan dua anaknya mencabik Tanah Perdikan. Adakah di antara kalian yang mengingkari pemberontakan itu? Kita tidak mengalami itu di sini, di tanah Sangkal Putung ini. Tetapi, apakah benar ada orang-orang yang hendak menyerang Sangkal Putung? Bagaimana bila itu hanya rencana Ki Rangga belaka?”

Ki Sarwaguna ingin melemparkan tombak tepat pada jantung Ki Ranubaya ketika ia mendengar kata-kata yang menusuk hatinya. Sebagai seorang prajurit yang telah melewati banyak peperangan, Ki Sarwaguna mencoba menempatkan diri sesuai sikap Ki Ranubaya. Ia berkata, “Benar, benar, benar. Benar yang kau katakan itu, Ki Ranubaya. Aku tidak melihatnya sendiri. Kita semua bergerak di bawah satu perintah Ki Rangga. Kita percaya pada Ki Rangga Agung Sedayu. Lalu, adakah yang salah dengan kepercayaan itu?”

“Justru itulah, justru itulah yang menjadi akar permasalahan kita kali ini, Ki Sarwaguna. Tidak akan ada orang yang membantah kepribadian Ki Rangga. Beliau adalah orang kepercayaan Panembahan Senapati, bahkan penguasa Mataram sekarang ini pun masih meletakkan keyakinan tinggi padanya. Tetapi apakah kita tahu isi hati seseorang setelah sekian lama berjauhan dengan Sangkal Putung?”

“Engkau mencurigai Ki Rangga menyingkirkan KI Swandaru? Mereka adalah saudara seperguruan, Ki Ranubaya. Sangat tidak mungkin Ki Rangga melempar Ki Swandaru keluar dari kademangan ini. Andaikata benar, bagaimana Ki Rangga berhadapan wajah dengan Panembahan Hanykrawati dan Ki Patih Mandaraka?”

“Mudah.” Ki Ranubaya menyeringai tajam. “Bukankah tidak ada orang yang tahu keberadaan Ki Swandaru? Bukankah mudah bagi Ki Rangga untuk mengatakan bahwa Ki Swandaru telah terbunuh dan jasadnya tenggelam di Kali Progo?”

“Tuduhan yang sebenarnya jauh dari akal sehat, walaupun dapat dinalar bila kita menggunakan urutan waktu.” Ki Sarwaguna menyapukan pandangan ke sekelilingnya, kemudian berkata, “Aku tidak menutup kemungkinan bahwa Ki Rangga akan kalah dalam pertempuran kali ini. Berlandaskan pemikiran Ki Ranubaya, aku juga tidak menolak gagasan bahwa Ki Rangga sedang berupaya mematikan perkembangan Ki Swandaru. Ada satu hal yang aku akan tanyakan pada kalian, seandainya benar Ki Swandaru mati di tangan Ki Rangga, dengan apa kita dapat membuktikannya?”

“Kita hanya dapat menunggu dan menunggu. Serangan dari pengikut Raen Atmandaru bisa jadi memang ada. Dan mungkin juga pada waktu yang tidak kita ketahui, Ki Swandaru akan muncul secara tiba-tiba. Semua itu adalah mungkin.” Sambil berusaha menenangkan diri, Ki Ranubaya berucap seperti itu.

Suasana hening menyergap lingkaran para peronda dan pengawal kademangan. Bahkan Ki Ranubaya seolah-olah tidak lagi melihat celah dari kata-kata Ki Sarwaguna. Meskipun ia masih bergusar hati, pertanyaan Ki Sarwaguna benar-benar sulit untuk dijawab. Maka keheningan pun berjalan leluasa dan lebih lama di tempat itu.Tidak ada lagi perbantahan ketika setiap orang kembali didera resah menunggu kebenaran. Benarkah Sangkal Putung akan diserang? Benarkah Agung Sedayu membunuh Swandaru seperti kecurigaan Ki Ranubaya?

“Jangan ada orang yang melaporkan kecurigaan Ki Ranubaya pada Ki Rangga. Dan tidak boleh ada seorang pun yang membicarakan ini pada orang lain. Kalian semua harus bungkam.” Ki Sarwaguna mengucapkan perintah dengan ketegasan seorang lurah prajurit dan orang-orang mengangguk setuju. Dalam waktu itu, Ki Ranubaya melihatnya dengan tatap mata mencibir.

Related posts

Leave a Comment