Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 50

Percakapan lirih dalam waktu singkat terjadi di dalam kereta kuda.

“Engkau begitu muda, Sukra. Masih terlalu muda untuk kegiatan keprajuritan seperti ini, sedangkan engku sendiri bukan bagian dari laskar Mataram. Pekerjaan yang dapat menghilangkan nyawa setiap saat,” kata Ki Demang Brumbung.

“Ki Demang,” Sukra bersuara lirih namun tegas terdengar, “dulu, saya sering memasang pliridan. Banyak ikan yang terjebak di dalamnya, dan saya begitu senang setiap kali mendapati pliridan berisi penuh dengan ikan. Dan, sekarang, saya adalah ikan yang harus dapat membebaskan diri dari pliridan. Jika saya terbunuh, saya yakin tidak akan ada orang yang kecewa atau menyesal karena saya sedang menyelamatkan hidup seseorang. Dan jika saya hidup, saya diajari oleh Ki Lurah agar tetap tenang dalam segala keadaan.”

“Ki Lurah? Siapa yang engkau maksudkan?”

“Ki Lurah Agung Sedayu.”

“Bukankah beliau adalah seorang rangga?”

“Benar, tetapi beliau tetap seorang lurah bagi saya.”

“Oh, mengapa demikian?”

“Karena beliau menjadi prajurit untuk pertama kali dengan pangkat lurah dan diwisuda secara langsung oleh Panembahan Senapati. Jadi, saya pikir, inilah cara terbaik menghormati beliau.”

“Ah, aku mengerti, aku mengerti.”

Suasana senyap untuk sejenak.

“Sukra, barangkali akan muncul keinginan darimu untuk memikirkan kemungkinan menjadi prajurit. Aku pikir, tentu pengorbananmu sekarang akan menjadi pertimbangan Ki Patih atau Panembahan Hanykrawati. Mungkin engkau dapat mengikuti jejak Ki Rangga atau Glagah Putih.”

“Saya hanya ingin berpikir sederhana, Ki Demang. Begitu pesan Ki Lurah pada saya.”

“Bagaimana itu?”

“Agar saya tidak memanjangkan harapan atau angan. Ki Lurah mengatakan, melangkahlah pada setiap jalur yang terlihat, dan jangan membuat dugaan ketika jalan menjadi gelap. Meski saya belum mengerti seluruhnya, tetapi ya.. ya seperti itulah yang dimaksud Ki Lurah.”

“Seperti apa?” Ki Demang Brumbung mencoba memancing meski dalam hati, ia menahan geli dengan cara Sukra yang seolah enggan menjelaskan padanya.

“Seperti itu..Ki Demang pasti paham.”

“Hmm, baiklah, yang aku pahami adalah aku akan menjaga keadaan agar tetap tidak mengerti yang kau katakan.”

Mereka tersenyum simpul.

Sekejap kemudian, suara parau Ki Plaosan terdengar. Ia menghentikan laju kereta, namun demikian, setelah bertukar pandang, Sukra dan Ki Demang Brumbung tetap menempatkan diri di bawah jendela kereta.

Di luar kereta hanya terdengar teriak lantang serangga malam yang bersuka cita menyambut kelam.

Ki Plaosan bersikap tegak dan dalam kewaspadaan. Pendengarannya menangkap bunyi yang berlainan dengan derap hewan berkaki empat. Ia memilih menunggu dan dalam hatinya, ia berharap Sukra dan Ki Demang Brumbung tidak menanyakan sesuatu padanya.

Sebaris orang pada sisi kanan sedang merunduk di balik jajar pepohonan dan tanaman perdu. Senjata telah telanjang dan sikap tubuh mereka menghadap lurus pada kereta kuda. Namun suasana temaram tidak dapat menyembunyikan kilau senjata mereka dari ujung mata Ki Plaosan.

“Apakah memang ada sekumpulan lelaki jantan sedang menunggu seseorang di tempat ini?” Ki Plaosan berseru lantang, kemudian menunggu jawaban.

Salah seorang dari mereka memandang arah kereta kuda dengan wajah tegang. Pikirnya,  mengapa mereka tidak diizinkan meloloskan senjata? Sejauh itu, mereka masih mengira di dalam kereta adalah Ki Patih Mandaraka yang nyaris tiada tandingan. Dan orang itu harus dibunuh tanpa senjata? Pikiran itu membuatnya semakin gelisah. Sementara ia dan kawan-kawannya – serba sedikit — mengetahui kemampuan Ki Patih Mandaraka, maka udara tiba-tiba mendadak berubah menjadi lebih dingin ketika menyentuh kulit mereka.

“Ataukah memang ada sekumpulan lelaki pengecut di tlatah Mataram? Bila ada, keluarlah. Aku akan mengajarkan cara agar menjadi lelaki tangguh,” seru Ki Plaosan dengan sudut mata lekat menatap bagian kanan kereta kuda. Meski demikian, tanpa diketahuinya, sebenarnya  gema suara Ki Plaosan menambah ketegangan di sekelompok orang yang berada di samping kiri kereta kuda, mereka adalah para pengintai yang belum memegang senjata.

Sebelumnya, mereka telah resah karena harus menghadapi Ki Patih Mandaraka tanpa berpegang senjata, kini, mereka dikatakan sebagai pengecut oleh seorang kusir kuda. Tentu ucapan itu benar-benar menusuk perasaan dan sungguh-sungguh melecehkan mereka. Bagaimana seorang kusir dapat menghina lelaki bersenjata dan telah menerima latihan-latihan keprajuritan? Tak sedikit di antara mereka yang menahan gemetar marah. “Apa yang sedang dipikirkan oleh Ki Panji Secamerti?” bertanya seorang pengintai dalam hatinya.

Parau burung gagak menambahkan ketegangan. Gelap semakin mencengkeram lorong sempit yang membelah hutan kecil yang seolah menjadi benteng alam dari sisi luar Kutagede.

“Apakah rubah tua itu yang berada di dalam kereta? Atau siapakah yang dijadikannya sebagai umpan? Tua bangka licik!” geram hati Ki Panji Secamerti, salah seorang perwira yang percaya pada seruan Raden Atmandaru. Ia memimpin dua puluh lima orang yang tersebar pada dua sisi kereta kuda untuk melanjutkan usaha membunuh Ki Patih Mandaraka. Perintah itu sampai padanya ketika sekelompok orang menerima laporan tentang kegagalan pembunuhan di Slumpring. Menyadari ketajaman lidah kusir kereta, Ki Panji Secamurti berharap dalam hatinya agar Ki Manikmaya, orang yang dipercaya untuk memimpin serangan dari arah kiri, tidak terpancing serangan kata kusir kuda. Ki Panji Secamurti tidak berani gegabah dengan membidik dada kusir kereta dengan anak panah. Jika ia melakukan itu, maka mudah bagi Ki Patih untuk mengetahui kedudukan prajurit pemanah, lalu pupuslah rencana mereka sebelum menggapai puncaknya.

“Sangat menarik. Ada dua kelompok prajurit dan mereka, bila sanggup, bertahan pada ucapan kusir itu, sudah tentu…ini pertarungan batin yang melelahkan. Dan, memang benar, hanya pengecut yang akan menampakkan diri,” gumam guru Kinasih dari tempat yang sulit dijangkau oleh mereka yang sama-sama dilanda ketegangan hebat.

“Aku harap apa yang aku pikirkan itu salah. Orang Mataram berwatak pemberani jika ia sudah melepaskan sarung senjata. Namun kenyataannya di tempat ini justru bertolak belakang dengan ucapan-ucapan orang tua di masa lalu. Aku merasa, aku sedang menunggu barisan perawan yang akan muncul dari tanggul tanpa sehelai benang. Mereka begitu malu-malu meski sebagian payudara tersembul keluar. Aku pikir, memang seperti itulah lelaki yang sedang menghitung waktu untuk bertemu denganku.” Ki Plaosan menderaikan tawa begitu keras. Ia sungguh-sungguh bermaksud agar para pengintai terpancing keluar, lalu Ki Demang Brumbung dan Sukra dapat memanah mereka. “Setidaknya, aku dapat mendahului mereka dalam menyerang,” pikir Ki Plaosan.

Sunyi dan sunyi saja yang menanggapi gema suara Ki Palosan.

Tidak ada seorang pun yang bergerak. Tak juga Sukra meski sekedar menggerakkan kepala. Mereka semua membeku dan hanya sinar mata yang menyala dalam genggam perasaan yang tidak berhenti berguncang.

“Tidak mungkin ada kesalahan dalam pengetrapan siasat ini,” desis Ki Manikmaya yang dipercaya dapat menghadang laju gerakan Ki Patih Mandaraka meski bertarung seorang diri. Ia memandang orang-orang di sekitarnya yang bertelanjang tangan. “Tanpa senjata sendiri adalah siasat khusus. Ini sangat menarik. Raden Atmandaru benar-benar cerdik dan mungkin lawan yang seimbang bagi Ki Juru Martani.”

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment