Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 70

Langit mulai memenuhi dirinya dengan taburan bintang yang masih malu-malu menampakkan cahaya. Sukra tiba di pendapa dan Ki Patih  beserta dua orang lain terlihat sedang berbincang sungguh-sunguh. Dalam waktu itu, Sukra mamandang mereka bertiga dengan rasa heran. Apakah Pangeran Purbaya belum datang? Ki Patih Mandaraka yang mengetahui kedatangan Sukra pun melambaikan tangan agar Sukra mendekat. Wajah Ki Patih terlihat penuh bunga ketika berkata, “Apakah engkau sedang mencari Pangeran?”

“Saya, Ki Patih.”

Ki Patih menunjuk seseorang. Orang tersebut berdiri, menjabat tangan Sukra sambil berkata, “Nama saya adalah Ki Ketapang Madu. Namun nama itu adalah pemberian dari kebanyakan orang di Gondang Wates.”

Sukra mengerutkan kening. Ia tidak mengenal wajah orang itu, tetapi suaranya. Ya, suara yang pernah ia dengar dan ia merasa kenal.

Sebelum Sukra menggetarkan bibir, Ki Ketapang Madu melanjutkan ucapan, “Tetapi engkau mengenalku sebagai Pangeran Purbaya.” Sungguh, penyamaran yang sempurna! Pangeran Purbaya membentuk wajahnya menjadi bulat dengan rambut panjang yang terikat. Sepintas, tubuh Pangeran Purbaya sedikit lebih gempal dibandingkan aslinya.

“Oh!” Sukra ternganga. Selain terkejut, ia juga sangat kagum karena benar-benar sulit mencari paras dan bentuk tubuh yang asli dari Pangeran Purbaya. Sejenak kemudian, sambil memandang Ki Patih Mandaraka, ia bertanya, “Apakah saya juga akan mengambil rupa yang lain?”

“Tentu saja, Anakku,” jawab Ki Patih lalu memerintahkan dua orang petugas sandi untuk mengubah tampilan Sukra. Butuh waktu sedikit lama untuk pekerjaan itu.

Malam pun tiba di gerbang Kepatihan. Sukra telah penuh berwujud orang lain. Paras wajah yang leioh tua dari penyamaran Pangeran Purbaya. Sesaat Pangeran Purbaya memandang Sukra dari bawah ke atas, lalu katanya, “Kita akan membawa satu cikar yang ditarik kuda beban. Engkau adalah orang tua yang tetap berada di atasnya hingga perintahku selanjutnya.”

“Saya, Pangeran.”

Di depan Ki Patih Mandaraka dan Nyi Ageng Banyak Patra, Pangeran Purbaya serta Sukra menderap kuda menuju Sangkal Putung. Permukaan jalan samar terlihat karena penerangan oncor yang dinyalakan penduduk sepanjang jalan utama. Selepas batas kotaraja, jalanan sedikit menanjak dan semakin gelap. Meski demikian, Pangeran Purbaya tidak terlihat kesulitan menapaki jalan selangkah demi selangkah kuda. Pangeran Purbaya kemudian mengambil belokan kiri setelah simpang tiga. Itu bukan jalan yang biasa dilalui orang-orang. Mereka berjalan beriringan depan dan belakang. Angin malam bertiup kencang. Sejenak Pangeran Purbaya mendongakkan kepala lalu bertanya dalam hati, “Apakah hujan akan turun malam ini?” Lalu ia memutar pandangan ke sekitar tetapi tidak ada bayangan atau gerakan yang tidak wajar yang terlihat olehnya.

Separuh malam telah melayang di atas mereka, dan Sukra sama sekali tidak bersuara sepanjang waktu itu. Apa yang dapat ia bincangkan dengan Pangeran Purbaya? pikir Sukra. Di tengah selubung kelam kegelapan yang benar-benar membutakan pandangan, Sukra benar-benar tidak menemukan kerlip cahaya dari rumah-rumah penduduk. Itu jika ada, katanya membatin. Mereka telah menempuh puluhan langkah hingga tiba di deretan pohon yang seolah-olah menjadi dinding tangkis angin. Pepohonan banyak bergerak dan berderak karena hembusan angin yang cukup kencang.  Sebenarnya Sukra ingin bertanya pada Pangeran Purbaya, mengapa mereka mengambil jalan yang sulit dan gelap? Namun, Sukra mempunyai pikiran tajam, lalu pertanyaan itu dijawabnya sendiri ; untuk menghindari pertemuan yang tidak perlu dengan orang lain. Tak sengaja ia bergumam, “Betapa bodohnya aku.”

“Apa yang kau katakan, Sukra?”

“Tidak ada, tidak ada, Pangeran,” jawab Sukra dengan berbisik.

Lalu, tidak ada lagi suara bergetar di antara mereka sampai ayam hutan berkokok pertama kali.

Pangeran Purbaya menarik kekang kuda lalu berhenti. Ia menebar penglihatan, mengamati keadaan sekitar. Lalu pada Sukra, ia bertanya, “Bagaimana bila kita berhenti di tempat ini?”

Pandangan Sukra sudah tentu jauh lebih terbatas dibandingkan Pangeran Purbaya. Lantas ia melompat turun, memeriksa sekeliling. Tak lama kemudian jawabnya, “Saya tidak menemui sesuatu yang aneh, Pangeran. Hanya saja, ada jalan setapak yang sepertinya tersambung di sisi sebelah sana.” Sukra menunjuk pada sebuah arah.

“Apakah terlihat masih dilalui orang atau jarang dilewati orang?”

“Saya tidak begitu yakin tetapi menurut saya jalan setapak itu dilewati sampai tempat ini walau sekali dalam sepekan.”

“Baiklah. Aku ikuti pendapatmu dan aku kira tidak akan ada orang yang melewati tempat ini. Mari, kita harus segera beristirahat.”

Tanpa menurunkan barang-barang yang berada di atas cikar kecil, Sukra memilih tempat untuk meluruskan tulang punggung. Demikian pula dengan Pangeran Purbaya yang menambatkan kuda dengan ikatan sekedarnya, kemudian duduk bersandar pada sebatang pohon.

Kemampuan Sukra memang meningkat pesat dan jauh lebih baik daripada ketika ia datang ke Sangkal Putung bersama Sayoga. Mungkin belum lama mereka melenturkan urat dan otot, pendengaran Sukra menangkap suara dari telapak kaki yang berderap cepat. Menurut perkiraannya, itu mungkin lebih dari lima orang, dan mereka datang dari arah selatan. Sukra sigap menyiapkan dua anak panah dalam genggam tangan yang berbeda. Mula-mula ia ingin menarik perhatian Pangeran Purbaya, tetapi lelaki terhormat itu tampak telah bersiap dan memberi tanda agar Sukra menunggu perintah darinya.

Dua orang menerobos semak-semak, lalu bergulingan bersamaan dengan suara berdesing yang melintas di atas mereka. Panah? Sukra menebak dalam pikirannya.

Sejumlah orang susul menyusul datang dari belakang mereka. Sampai pada sebuah tanah datar yang tidak begitu lapang, mungkin seluas lima belas atau dua puluh kaki, mereka saling berhadapan! Tidak ada cahaya yang dapat membantu Sukra agar lebih jelas melihat rupa atau bentuk tubuh mereka. Sukra melihat ada lima atau enam orang sedang berusaha mengurung dua orang yang datang lebih dulu.

Salah seorang dari pengepung berteriak, “Tidak perlu lagi berlari, Ki Sanak. Kalian terkepung dan akan mati di sini!”

“Terlalu sering kalian ucapkan itu di pedukuhan kami,” kata seseorang yang berada di dalam kepungan dengan geram. “Tapi, nyatanya, kalian juga tak berkesempatan berumur lebih panjang!”

Orang pertama yang berteriak itu kemudian tertawa, lalu katanya, “Aku mengerti bahwa memang tidak ada salah seorang dari kami yang dapat lolos hingga Mataram. Begitu pula para pembawa pesan rahasia dari kalian. Berapa banyak orang yang mati?”

“Pikiranmu ternyata belum sepenuhnya buntu dengan timbunan batu. Maka, dengan demikian, buat apa kita berkelahi di tempat ini? Apakah aku sendiri dapat memastikan akan selamat sampai di kotaraja? Mampu menyentuh gerbang Kepatihan, itu sudah bagus,” kata orang yang lain lagi namun dengan nada yang begitu tenang.

“Sepertinya dua orang itu adalah orang-orang Sangkal Putung,” kata Sukra dalam hati.

“Bicara dengan kalimat itu? Terdengar seperti seorang perempuan rendah yang merayu lelaki jalang,” ucap seorang pengepung. “Katakan saja, beritahu kami, apa isi pesan Swandaru gemblung?”

“Ki Swandaru tidak berpesan apa-apa!”

“Tak ada pesan? Kau pikir kami begitu bodoh ketika melihat orang-orang menyelinap pergi dengan membawa senjata?”

“Ya, kalian memang bodoh.”

“Kami akan buktikan yang bodoh di antara kita. Sudahlah, untuk sementara waktu ini, engkau haru s mengakui bahwa ada pesan dari Swandaru gemblung untuk Ki Juru Martani atau Raden Mas Jolang. Tentu engkau merasa bersalah jika membuka pesan itu pada kami. Benar begitu? Tetapi, Ki Sanak, kita adalah dua orang yang bersedia berkelahi sampai mati di Sangkal Putung, maka engkau pun tahu dalam peperangan pasti ada pesan-pesan rahasia yang hilir mudik di bawah desing senjata dan hujan anak panah. Kenapa engkau mesti berdusta?”

“Cara bicaramu sudah menunjukkan kebodohan yang sebenarnya,” kata pengawal Sangkal Putung.

“Oh, begitukah? Baik, aku beritakan yang sebenarnya tentang Swandaru padamu. Kalian berdua harus tahu bahwa Swandaru adalah kaki tangan Panembahan Tanpa Bayangan yang sedang menyamar.”

“Menyamar? Tunjukkan buktinya!”

“Tidak perlu bukti jika kalian benar-benar cerdas menggunakan otak. Menurut kalian, ke mana dan di mana Swandaru gemblung selama beberapa hari sebelum ia menunjukkan diri di Gondang Wates? Pikirkan itu!”

Dua pengawal Sangkal Putung bertukar pandang. Sebagian isi kepala mereka setuju dengan ucapan pengikut Raden Atmandaru. Kekuatan jiwani pengawal Sangkal Putung sedang di bawah tekanan. Apakah mereka tetap menyimpan kebanggaan pada Swandaru dan menjaga kehormatan Sangkal Putung? Itu adalah pertanyaan yang menyergap keyakinan pengawal pada pemimpin mereka, Swandaru Geni.

 

Bersambung Bab 6 – Geger Alas Krapyak

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 69

kibanjarasman

Leave a Comment