Sejenak ia menghentikan ucapannya lalu memandang wajah-wajah keras di sekelilingnya. “Hutan jati, pategalan dan sawah yang subur, begitu pun perempuan, dan semua itu dapat dijadikan ladang yang menyen...
Seakan ada sepasang mata yang memandangku dengan wajah yang bergaris kebengisan. Lantas pemilik wajah itu berkata, “Masa mudamu yang terhimpun di Kalingan bukanlah sebuah waktu yang tergenang tanpa ar...
“Tuntaskan tanggung jawab kalian,” ucap lantang Arya Penangsang menantang. Nada suaranya terdengar lebih tajam daripada ujung keris Kyai Setan Kober. Ki Bejijong mendengarkan ancaman itu dengan kulit ...
Sesungguhnya, rancangan cerdas Ki Untara untuk menyampaikan berita antar pengintai sudah mumpuni sebagai penunjang keprajuritan, tetapi suramnya malam adalah penghalang terbesar untuk tetap dijalankan...
Pada senja ketika pasukan Raden Atmandaru bergerak mundur dari Karang Dawa, banyak pasang mata yang mengawasi dari balik rimbun semak yang dapat melindungi kuda dari pandangan mata. Beberapa kelompok ...
Aku tidak dapat melihat Gita Nervati dan Wong Awulung. Seandainya wajah mereka memperlihatkan perubahan, aku tidak akan tahu. “Apa artinya, Sang Hyang?” Wong Awulung bertanya padaku. Aku tidak ingin m...
Benar-benar mengejutkan! Ki Bejijong pun tidak menyangka bahwa Ki Maja Tamping mengubah tujuan serangannya. Dalam waktu itu, isyarat Ki Maja Tamping memang tidak dipahaminya sehingga Ki Bejijong menu...
Untuk beberapa waktu, Swandaru merenungkan kalimat demi kalimat Pangeran Purbaya. Pikirnya, memang tidak patut ia memandang Untara dengan rasa iri maupun benci. Swandaru tahu bahwa dirinya tidak mempu...
Raut wajah kebanyakan orang di dalam kedai terlihat muram. Sebagian menjadi pucat ketika berbenturan dengan tatap mata Arya Penangsang yang memancar seakan sedang menuntut balas dendam! Pandangan taja...




