Hujan turun di wilayah penjagaan Ki Lurah Sora Sareh, sebuah hutan kecil di depan Dusun Benda. Tanah gelap menyerap air, daun-daun basah menahan bunyi. Kali Tinalah sedikit lebih berisik dari biasanya...
Kepatihan masih basah ketika pagi baru menyapa. Hujan sepertinya turun merata di banyak tempat dengan nada yang sama. Di dalam ruang tengah, Ki Patih Mandaraka duduk dengan tatap mata sareh. Ketenanga...
Hari ini, hari kedelapan yang berjalan pelan karena hujan. Di antara suara air, dengus napas, dan bisik yang setengah disesali, Tidak ada pengumuman yang memberikan jawaban. Hanya kebisingan yang tumb...
Siang itu suasana pendapa Keraton tidak begitu ramai. Langkah para abdi dan punggawa seakan tertahan. Percakapan di antara mereka cepat diredam air yang turun tanpa jeda. Di dalam, ruang pertemuan ter...
Benturan itu meledak tanpa suara. Fajar di Menoreh tidak membawa terang, hanya mengubah hitam menjadi abu-abu yang lebam. Di jalur setapak yang melilit pinggang bukit, kabut menggantung rendah, menyam...
Bondan dan Siwagati serta seorang lagi terlihat berlari di bawah remang cahaya menuju tempat Resi Gajahyana. Seketika sekelebat bayangan memotong jalur mereka dari belakang rumah. Bayangan yang tiba-t...
Menjelang senja hari delapan sejak kedatangannya, cahaya di jalan utama sudah kehilangan warna. Bangunan di belakang Agung Sedayu masih menyisakan bayang pintu ketika tubuhnya melesat ke depan. Tidak ...
Riak di Gerbang Istana Dia bangun ketika embun masih menggantung di daun pisang, saat rumah-rumah di pedukuhan induk masih terkatup dan ayam baru sekali berkokok. Tubuhnya tua, tetapi geraknya tidak g...
Agung Sedayu Memahat Luka Sekar Mirah duduk beranda bangunan mungil yang terletak di belakang bangunan inuk kediaman Ki Demang Sangkal Putung. Di hadapannya, Kyai Bagaswara menata kata-kata seperti or...









