Ada siang, ada malam. Ada tayub, ada perempuan, dan Swandaru tidak pernah pura-pura kebal. Pedukuhan kecil itu tiba-tiba terasa begitu hidup. Di setiap lorong, beranda rumah, gardu jaga dan banyak tem...
Lingkaran pertarungan kembali terbentuk. Mereka saling menekan, melibat dan melindas penuh keyakinan. Cambuk meliuk, selendang membelit. Dentuman halus berulang-ulang menggedor bagian dalam dan pusat ...
Swandaru Geni. Nama yang mulai kerap disebut-sebut di Tanah Perdikan mengambil jurusan ke utara sejak malam pembunuhan Sekar Mirah dan Ki Demang Sangkal Putung dapat digagalkan. Dia sama sekali tidak ...
Lamat-lamat dari jarak yang tidak diketahui, Pandan Wangi mendengar suara gemuruh —dan dia tahu itu berasal dari tanah longsor dan banjir bah. Sejenak dia memandang Kinasih yang tampak kepayahan karen...
Dua petarung yang berilmu sangat tinggi itu kemudian bergeser setengah lingkaran. Menghentak tenaga cadangan. Berbalas serangan secara beruntun seperti kilat patah: kiri–kanan–atas. Setiap sambaran me...
Udara di lembah tak bernama itu telah mati, hanya menyisakan dingin yang menggigit tulang. Kabut lebih rapat dan menutup jarak pandang hingga kurang dari tujuh atau enam langkah saja. Tidak ada cahay...
Perkelahian Nyi Kirana memanjat lebih tinggi, tapi Ki Jaranggi tidak lagi dapat bersabar meladeninya. Karena itu, Ki Jaranggi tidak lagi menunggu benturan demi benturan untuk mengerahkan segenap ilmun...
Tumbangnya Ki Sambak Kaliangkrik Ki Sambak Kaliangkrik menarik napas pendek, mengatur ulang kuda-kuda. Waktu semakin menipis seiring dengan medan yang semakin sempit. Pedang Ki Lurah Plaosan kembali m...
Lima senapati pendamping yang membayangi pergerakan Raden Atmandaru akhirnya tiba di mulut lorong di batas belakang pelataran utara perkemahan. Tempat ini merupakan titik awal dari yang biasa disebut ...








