Bab 2 Sabuk Inten Di pusat kotaraja Demak, pertemuan yang digelar oleh Raden Trenggana telah usai, dan kini ia duduk di sebuah ruang yang terletak di bagian dalam bangunan istana Demak. Ia mema...
“Supaya ia dapat mengatakan kejadian hari ini pada orang yang lebih tinggi darinya. Dan supaya mereka tahu jika Lasem tidak berdiri sendiri. Ia tentu mendengar jika aku adalah rangga dari Jipang. Satu...
Sebersit keinginan untuk membantu prajurit Ki Tumenggung Badra Lodaya sempat menghampiri hatinya, tetapi keraguan segera menyergapnya. Sebenarnya Gagak Panji dapat mengabaikan kata hatinya, namun ia ...
“Tidak perlu! Kau ambil kantung di sisi kiri lambung kuda. Ki Tumenggung Arya Dipa telah menyiapkan untukmu.” Gagak Panji menarik napas dalam-dalam, kemudian ia bangkit mendekati batas air laut. “Aku ...
Kue itu..Merah..Kenyal..Orang kata dia lengket dan dari ketan.. Tapi dia tak peduli.. Kamu ingat bahwa separuh masa kau goncang sampan dengan alunan kata.. Kau urai setiap gulungan ombak dengan hangat...
Pangeran Trenggana lantang berkata, "Demak telah kehilangan wibawa dan kedaulatannya saat banyak wilayah di daerah timur melepaskan diri....
Kematian Raden Kikin tentu saja di luar perkiraan dan tidak sesuai dengan harapan kita semua. Meski begitu, aku ingin kita dapat menahan diri....
Kue itu.. Merah.. Kenyal.. Orang kata dia lengket dan dari ketan.. Tapi ia tak peduli.. Kamu ingat bahwa separuh masa kau goncang sampan dengan alunan kata.. Kau urai setiap gulungan ombak dengan hang...
Berkuda.. Melampaui ilalang setengah tebasan parang.. Gelepar panji berkibar.. Bukan pasukan berkuda Ki Wisanggeni yang datang dengan getar.. Sesambut ujung tombak membuka singkap udara.. Derap kuda b...


