Sabuk Inten 1

Di pusat kotaraja Demak, pertemuan yang digelar oleh Raden Trenggana telah usai, dan kini ia duduk di sebuah ruang yang terletak di bagian dalam bangunan istana Demak. Ia memandang bergantian dua orang pejabat tinggi yang berada dihadapannya. Sesekali ia menarik napas panjang. Raden Trenggana bangkit berdiri lalu berkata, ”Bukankah sudah sepatutnya aku memberi hukuman pada mereka yang menentangku?”
Kedua orang itu sejenak bertukar pandang, lalu seseorang berpangkat tumenggung menjawab, ”Memang sudah sepantasnya, Kanjeng Sultan.”
Raden Trenggana menatap tajam wajah orang yang memberi jawaban. Kemudian ia bertanya, ”Apa alasanmu hingga dapat berkata pantas, Ki Tumenggung Wilaguna?”
“Kanjeng Sultan, sudah menjadi kewajiban bagi setiap adipati dan para petinggi di kadipaten yang menjadi bawahan Majapahit untuk tunduk pada Demak. Sedangkan Kanjeng Sultan sendiri adalah penerus kekuasaan Majapahit,” jawab Ki Tumenggung Wilaguna.
“Apakah kau tidak mempunyai alasan yang lain?” Raden Trenggana menatapnya dengan pandang mata menyelidik.
Ki Tumenggung Wilaguna diam sejenak, kemudian ia menjawab, ”Tentu saja karena mereka merasa lebih kuat dari Demak, Raden Trenggana.”
“Bagaimana mungkin mereka merasa lebih kuat dari Demak? Sementara pasukan Demak telah berhasil memaksa kadipaten wilayah timur tunduk. Atau kau mempunyai maksud lain dengan arti sebuah kekuatan?” Raden Trenggana mencoba mengendapkan perasaan yang bergejolak dalam dadanya. Karena ia tidak menyangka jika Ki Tumenggung Wilaguna dapat melihat sebuah sisi yang sama sekali belum ia pikirkan.
“Kekuatan itu adalah ketajaman nalar yang mereka miliki, Kanjeng Sultan,” berkata Ki Patih Kusumanegara yang berusia sama dengan Raden Fatah dan menjadi penasehatnya saat masih hidup.
“Aku merasa seperti orang yang tidak mampu berpikir dengan pendapat yang kalian utarakan. Seolah tunduknya beberapa kadipaten itu adalah bahan untuk menertawakan diriku,” berkata pemimpi9n Demak ini dengan geram.
“Maafkan kami, Raden Trenggana. Aku tidak bermaksud seperti itu karena aku menaruh kecurigaan pada mereka karena beberapa keadaan. Yang pertama adalah perlawanan mereka sama sekali tidak menunjukkan kekuatan mereka yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin Surabaya dapat ditundukkan dalam waktu tidak sampai satu hari? Kemudian setelah Surabaya menyatakan tunduk, mereka juga tidak mengirim utusan kemari atau meminta kita untuk menempatkan orang di sana,” berkata Ki Tumenggung Wilaguna. Lalu ia meneruskan lagi, ”Yang kedua adalah mereka juga tidak meminta pertimbangan-pertimbangan, atau memberi bahan keterangan pada Demak untuk menyusun langkah-langkah ke depan. Apalagi kita semua tahu bahwa orang-orang asing bermata biru telah banyak bertebaran di sepanjang pesisir utara.”

Raden Trenggana memandangnya tajam. Ia menghela napas. “Aku harus mengakui pendapat kalian ada benarnya. Sehingga aku pun merasa benar dengan keputusan ini. Keputusan untuk kembali memaksa Blambangan dan Panarukan mengakui dan tunduk kepada Demak,” ia berkata dengan nada tinggi, sejenak Raden Trenggana mengendapkan perasaan lalu berkata, ”Namun begitu, aku harus mempunyai bahan-bahan untuk dapat memaksa mereka sepenuhnya menyerahkan diri pada Demak.”
Ki Patih Kusumanegara saling pandang dengan Ki Tumenggung Wilaguna, kemudian Ki Patih berkata, ”Saya dapat mengirim orang ke Jepara untuk meminta mereka lebih cepat mempersiapkan kapal-kapal yang akan membawa kita menuju Panarukan.”
“Apakah kita perlu untuk meminta bantuan pada Cirebon?” bertanya Ki Tumenggung Wilaguna.
“Tidak. Aku tidak ingin melibatkan Cirebon dalam pertempuran kali ini,” Raden Trenggana dengan tegas memberi jawaban.
“Lalu apa jawaban yang akan Kanjeng Sultan berikan apabila Cirebon bertanya tentang keadaan yang berkembang?” Ki Patih bertanya dengan kening berkerut.
“Paman Patih, aku akan katakan pada mereka bahwa ini semua adalah urusan keluarga yang belum terselesaikan, dan aku yakin mereka akan memahaminya. Karena memang itulah yang menjadi kenyataan jika para adipati di wilayah timur adalah saudara muda Demak,” Raden Trenggana berhenti sejenak. Dengan sedikit rasa geram ia berdesis, ”Dan sudah sepantasnya seorang saudara tua memberi hukuman pada mereka.”
Untuk beberapa lama kemudian ketiga orang itu menyusun langkah-langkah yang perlu dilakukan setelah laporan dari para petugas sandi dan penghubung di setiap kadipaten telah terkumpul. Pembicaraan itu berlangsung hingga lewat tengah malam, sesekali Raden Trenggana bertanya untuk menguji siasat yang diajukan kedua bawahannya itu. Paman Arya Penangsang ini agaknya benar-benar tidak ingin mengalami kekalahan dalam perjalanan menuju Panarukan ini. Ia tidak ingin peristiwa yang membuatnya malu itu kembali terulang. Pendapat Ki Patih Kusumanegara dan Ki Tumenggung Wilaguna yang diutarakan pada awal pembicaraan benar-benar membuka wawasannya tentang siasat baru yang belum pernah ia temui.

“Saya kira sebaiknya Anda mengundang Adipati Pajang untuk dapat urun rembug tentang rencana ini. Setidaknya kehadiran Adipati Pajang dapat menambah wawasan dan kemampuan yang telah ada di dalam Demak,” Ki Patih Kusumanegara memberi usulan. Ki Tumenggung Wilaguna mengganggukkan kepala menyetujui usulan Ki Patih yang sudah berusia lanjut itu.
“Baiklah Paman. Aku terima usul Anda. Dan secepatnya aku akan mengirim utusan ke Pajang. Kita lanjutkan pembicaraan ini setelah aku mendapat laporan terbaru dari kemampuan para prajurit dan persiapan di Jepara,” pungkas Raden Trenggana menutup pertemuan.

Sepeninggal Ki Patih Kusumanegara dan Ki Tumenggung Wilaguna, Raden Trenggana memanggil pemimpin yang secara khusus membawahi para petugas sandi, Ki Tumenggung Suradilaga. Sejenak kemudian seorang lelaki yang bermata tajam dan berusia sama dengannya telah berdiri di hadapannya.
“Sebelum aku mengatakan apa yang akan menjadi tanggung jawabmu, katakan apa yang kau ketahui mengenai keadaan menuju Pajang, Ki Tumenggung Suradilaga,” berkata Raden Trenggana.

Ki Suradilaga sejenak mengatur diri, kemudian ia menjawab, ”Jalan-jalan dan keadaan di sekitarnya tidak berbahaya. Itu adalah keterangan dari petugas sandi yang saya kumpulkan.” Ia berhenti sejenak. Lalu berkata selanjutnya, ”Meskipun para petugas sandi menyampaikan seperti itu, saya belum sepenuhnya dapat meyakini kebenaran keterangan mereka.”
“Apa yang terjadi dalam pasukan sandi yang kau pimpin?”
“Tidak ada, Raden.”
“Lalu mengapa kau berkata tidak dapat meyakini kebenaran keterangan-keterangan dari petugasmu?” dahi Raden Trenggana berkerut. Ia mengubah letak duduknya lalu berkata, ”Baiklah. Kita letakkan keraguanmu itu dalam lingkup yang lebih luas supaya aku dapat mengerti dari sudut pandang yang lain.”

Ki Tumenggung Suradilaga menarik napas dalam-dalam. Kemudian katanya, ”Memang seperti itulah yang mereka katakan pada saya. Dan sebagai pemimpin mereka, saya harus menerima laporan mereka. Tetapi, saya juga mempunyai cara lain yang dapat dijadikan sebagai pembanding setiap laporan yang tiba di depan saya.”

Raden Trenggana menangkap keraguan yang terpancar dari wajah lawan bicaranya. Ia merenung sejenak kemudian berkata, ”Ki Tumenggung, tidak ada salahnya bila kau katakan apa yang menjadi sebab keraguanmu. Dan aku yakin akan ada jalan keluar bila kau juga mengatakan laporan yang kau anggap sebagai pembanding.” Ia menarik napas panjang. Dengan mata lurus menatap wajah Ki Suradilaga, Raden Trenggana berkata lagi dengan tegas, ”Aku tidak meragukan kesetiaanmu. Atau mungkin justru kau telah mendapat keterangan yang lebih penting?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *