Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 4 Tapak Ngliman

Tapak Ngliman 18

“Tidak, Jati! Aku tidak akan dapat sampai di punggung kuda. Katakan pada anakku agar selalu mencintai Menoreh.” Senyumnya mengembang. Sebulir embun merembes pelan dari pelupuknya. Ia berkata lagi, “Turunkan aku di sini. Letakkan senjata di tanganku dan ikat yang erat.”

Ken Banawa seolah tidak melihat peristiwa memilukan itu saat membantu seorang pengawal menaiki kuda. Selarik gores di hatinya bertambah dengan satu lagi kematian di depan matanya. Ia menarik napas panjang mencoba menenangkan diri meskipun tidak mengingkari keperihan selalu datang beserta kematian. Sekalipun itu adalah kematian seorang penjahat paling biadab. Lengan bajunya terangkat cepat mengusap embun yang akan merembes keluar dari pelupuk matanya.

Di belakang mereka datang berduyun-duyun gabungan pengawal pedukuhan dan murid-murid padepokan yang seluruhnya berjumlah lebih tiga puluh  orang. Mereka mengacungkan senjata dengan teriakan-teriakan ganas dan liar. Mereka sebelumnya berpencar di pelosok pedukuhan. Ketika gaung panah sendaren mengudara, mereka berlarian menuju banjar tanpa diperintah. Seakan-akan mereka telah paham betul yang sedang terjadi di banjar pedukuhan.

“Kakang Jalutama, segera tinggalkan tempat ini. Aku akan menemui mereka,” teriak Bondan.

loading...

“Tidak! Kau yang harus pergi dahulu, aku akan menyusul kalian,” jawab Jalutama tegas sambil menatap gerombolan dengan amarah di dadanya.

“Jika Kakang tetap di sini dengan luka-luka di punggung, para pengawal akan kembali turun bertempur denganmu. Itu artinya sama dengan Kakang membunuh diri sendiri dan para pengawal, sedangkan Kakang adalah pemimpin Tanah Menoreh,” jawab Bondan sambil menarik tangan Jalutama.

Tetapi Jalutama mengibaskan lengannya. Dengan pedang yang erat dalam genggamnya, ia memutar tubuh. Mengetahui sikap keras Jalutama, Ken Banawa bergegas mendekatinya lalu berkata, “Ngger, biarkan Bondan yang menghadang mereka.”

“Tidak, Paman. Ayah meletakkan nyawaku bersama-sama dengan penghormatan, dan aku akan bertahan bersama kehormatan itu.” Jalutama menolak tegas.

“Kau benar, Ngger. Tetapi hadiah-hadiah itu dapat kita rebut kembali kemudian kita bawa ke kotaraja,” kata Ken Banawa berdiri menghadap Jalutama.

Sementara Bondan melihat orang-orang semakin dekat, lantas bergeser setapak ke samping. “Pergilah!” Bondan berkata sambil memegang bahu Jalutama yang berusia sedikit lebih banyak darinya.

Ki Swandanu segera menyerahkan tali kuda pada Jalutama sambil berkata, “Marilah, Ngger. Sudah tidak ada lagi kesempatan untuk siang ini.”

Dengan kepala tertunduk, Jalutama memutar tubuhnya kemudian menerima tali kekang. Sesaat kemudian ia sudah berada di atas punggung kuda.

“Marilah, mereka bertiga akan baik-baik saja.” Jalutama menghentak kuda dengan bulir air mata deras menetes tak terbendung dari pelupuknya.

“Pergilah kalian ke barat. Aku akan memecah kekuatan mereka,” seru Ken Banawa lantas memutar kudanya kembali ke banjar pedukuhan.

Sentuhan lembut Ki Swandanu berhasil mencegah Jalutama yang juga akan berbalik arah mengikuti Ken Banawa. “Jangan, Ngger! Beliau pasti telah menghitung dengan matang. Mungkin beliau hanya sekedar menyibak kekuatan lawan lalu membawa sedikit mereka keluar dari banjar. Jika itu terjadi, dua orangmu akan dapat bertahan lebih lama,” jelas Ki Swandanu.

“Ki Swandanu benar. Dan keselamatan kita adalah karena darah dan nyawa mereka sebagai gantinya,” Jalutama berkata tanpa melepas tatapan mata ke banjar. Sementara Ki Swandanu dan Ki Hanggapati terdiam dengan menarik napas dalam-dalam. Mereka berdua tidak mengingkari kenyataan seperti yang dikatakan Jalutama, namun mereka tidak menampakkan betapa hati mereka tersayat-sayat sebilah belati.

“Sudahlah, Ngger. Tidak seorang pun dari kita yang menghendaki kekacauan ini terjadi. Kita semua telah menunaikan kepercayaan Ki Buyut sebaik-baiknya. Dan kita juga tidak akan dapat mencegah yang telah ditetapkan hari ini,” berkata Ki Sukarta dengan mata sembab menatap langit. Ia kemudian lebih dahulu melangkahkan kaki kudanya.

Demikianlah akhirnya Jalutama dan pengawal-pengawal Menoreh yang menderita luka-luka serta dua orang Pajang  memacu kuda meninggalkan banjar pedukuhan. Tidak satu pun dari mereka yang mampu menahan air mata mengalir. Mereka terpaksa membiarkan dua teman menanti ajal di bawah puncak Ngliman. Mereka menjadi saksi bahwa dua pengawal itu adalah lelaki dengan penilaian terbaik Tanah Menoreh.

“Seharusnya aku yang berada di banjar. Kang Sapto dan Juwari terlalu baik untuk ditinggalkan,” kata seorang pengawal yang kemudian berteriak keras melepaskan pilu dalam dadanya.

“Tenangkan dirimu. Kita semua harus kembali melihat ke dalam diri sendiri. Perjalanan ke Menoreh dan Pajang masih harus melewati tiga atau empat gunung lagi. Sementara mereka bertiga sedang menyongsong karma yang terbaik dengan membuka jalan bagi kita, ” Ki Hanggapati berkata. Ucapan Ki Hanggapati seakan-akan membuat orang-orang kembali sadar. Bahwa perjalanan menuju lereng Merapi masih sangat jauh. Sementara mereka harus dapat menghindar dari kejaran para perampas hadiah bagi Sri Jayanegara.

Sementara itu Ken Banawa kembali bertempur dari atas kuda. Dalam kendalinya, kuda itu menyambar-nyambar dengan terjangan hebat. Putaran pedang Ken Banawa telah melukai beberapa orang. Saat ia melihat kelonggaran terjadi pada barisan pengeroyoknya, ia segera memacu kuda menuju arah datang saat bersama Ki Swandanu. Beberapa orang segera melemparinya dengan berbagai senjata namun tak satu pun mampu menggapai punggung senapati wreda kebanggaan prajurit Majapahit itu. Putaran pedangnya meluruhkan senjata yang dilemparkan oleh orang-orang yang mengejarnya.

Wedaran Terkait

Tapak Ngliman 9

kibanjarasman

Tapak Ngliman 8

kibanjarasman

Tapak Ngliman 7

kibanjarasman

Tapak Ngliman 6

kibanjarasman

Tapak Ngliman 5

kibanjarasman

Tapak Ngliman 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.