Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 10 Lamun Parastra Ing Pungkasan

Lamun Parastra Ing Pungkasan 27

Gagak Panji mengangkat sepasang tangannya. Ketika orang-orang telah didekap sunyi, Gagak Panji berkata kemudian, “Mungkin malam ini adalah malam yang tidak dapat memenuhi harapan sebagian orang. Di hadapan Anda sekalian, saya tidak dapat mengatakan segala yang terjadi di atas kapal perang milik Raden Trenggana.” Lantas murid Mpu Badandan itu berpaling pada Hyang Menak Gudra, lalu katanya, “Saya ingin Hyang Menak menggelar pertemuan khusus dengan beberapa senapati, termasuk duta-duta yang berasal dari kadipaten penyanggah Blambangan.”

Hyang Menak memandang heran, namun ia tidak terlihat terkejut. Kematangannya membaca perkembangan dapat menuntunnya lebih jauh dalam kebijaksanaan. “Seperti yang engkau inginkan, Gagak Panji,” ucap Hyang Menak. Pemimpin Blambangan itu lantas memutar tubuh, menghadapkan wajah penuh pada kerumunan prajurit, katanya, “Berbarislah kalian!” Hyang Menak lantas memanggil sejumlah pemimpin prajurit agar mendekat padanya. Suara Hyang Menak begitu pelan dan hanya dapat didengar oleh para pemimpin yang melingkarinya. “Gagak Panji akan bicara di depan kalian. Sesaat lagi, maka aku minta kalian membuat persiapan untuk itu tanpa mengabaikan penjagaan yang sudah semestinya.”

“Kami, Sang Hyang,” sahut para senapat serempak tanpa bertanya tentang alasan yang memang mustahil akan disebutkan oleh Hyang Menak Gudra.

Waktu mengapung dan terasa cukup singkat ketika persiapan sudah dinyatakan selesai.

loading...

“Saya mendapatkan pesan khusus dari Eyang Pangeran Tawang Balun. Maka, atas pesan atau perintah itulah, saya berada di hadapan Saudara-saudara sekalian untuk mengatakan sesuatu… yang barangkali… benar-benar di luar dugaan atau perkiraan kita semua,” kata Gagak Panji mengawali pertemuan. “Saya dapat selamat dan terlihat segar bugar bukan karena telah memenangkan perang tanding. Raden Trenggana pun tidak kalah dalam pertarungan itu. Namun, kami juga tidak benar-benar berada dalam kedudukan yang seimbang. Eyang Tawang Balun menghentikan perkelahian kami dengan cara yang luar biasa dan sulit dimengerti, tetapi kita tidak sedang membahas ketinggian ilmu beliau di kemah ini. Satu hal penting adalah mengalahkan Demak itu sama saja dengan menciptakan musuh baru yang mempunyai kekuatan yang setara dengannya. Bahkan mungkin lebih dahsyat dengan semangat yang lebih hebat.

“Mpu Badandan, Hyang Menak dan Tuan-tuan Senapati pemberani sekalian. Mengakui kekalahan bukan hal yang memalukan. Namun, Blambangan sama sekali belum dikalahkan oleh Demak. Puluhan atau ratusan kapal perang mereka yang memenuhi garis pantai sama tidak memengaruhi ketahanan kita. Sejauh ini, Demak belum dapat memukul pertahanan kita. Mereka juga belum sanggup menginjakkan kaki di pantai ini. Kita melihat gelar pasukan dan kekuatan mereka selama beberapa hari belakangan, tetapi itu bukan sesuatu yang menakutkan.”

Seorang senapati bangkit berdiri tetapi Mpu Badandan memintanya agar kembali duduk lalu mendengarkan Gagak Panji.

“Saudara-saudara sekalian. Atas wewenang yang dikuasakan Hyang Menak pada saya sebagai panglima tertinggi Blambangan, saya minta agar sekalian Saudara mengadakan pembicaraan untuk memilih wakil yang akan kami undang berembug untuk sebuah kata, damai,” ucap Gagak Panji dengan nada tinggi dan tegas. Suara gaduh segera terdengar. Gagak Panji menimpal selanjutnya, “Damai adalah jawaban untuk mengatasi kegentingan di perairan kita. Meski bukan satu-satunya jalan keluar, tetapi kita akan sulit menjawab pertanyaan para nelayan yang masih belum dapat melaut. Kita bersikap kejam pada para pedagang yang menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan nelayan. Mungkin, dan kita dapat berharap bahwa nantinya Blambangan mampu menunjukkan cara meraih kemenangan melalui perjuangan yang luar biasa. Tuan Senapati sekalian, Demak telah mengirim pula prajurit yang berjalan kaki dan berkuda melalui jalur darat, tapi bagaimana keadaan mereka sekarang? Apakah sanggup menembus baris rintang yang kita pasang di lereng Tengger atau kaki Arjuna? Apakah ada laporan sandi?”

Pertanyaan Gagak Panji terkesan biasa saja, meski sebenarnya ada yang mendalam di balik ucapannya. Wilayah-wilayah di sisi barat Blambangan tidak dapat dikatakan telah takluk atau tunduk pada Demak. Mereka yang mendiami daerah yang disebutkan Gagak Panji adalah orang-orang yang berani dengan kemampuan tempur dan semangat yang luar biasa. Tentu tidak mudah bagi Demak membuat mereka takluk di hadapannya. Namun para senpati tidak memberi jawaban atas pertanyaan itu. Para pemimpin perang Blambangan paham bahwa sebagian wilayah telah menggeser sebagian prajuritnya ke wilayah perbatasan Blambangan, lalu menyusun pertahanan yang tersamar dari lereng Penanggungan hingga Gunung Raung. Sepanjang waktu pertempuran laut berlangsung, para senapati Blambangan belum menerima kabar tentang jatuhnya sebuah wilayah ke tangan angkatan perang Demak.

“Yang ditanyakan Gagak Panji tidak sepenuhnya salah, tetapi aku juga tidak dapat membenarkan setiap jawaban yang muncul dari kalian,” kata Pangeran Tawang Balun yang mendadak muncul di tengah-tengah pertemuan.

Kehadiran orang yang cenderung memilih jalan sebagai pertapa atau peziarah ini sedikit mendatangkan harapan bagi sebagian orang yang cenderung setuju dengan Gagak Panji. Mereka membagi pemikiran dalam dua pertimbangan. Namun untuk selanjutnya, mereka lebih memilih pendapat-pendapat yang mungkin akan diungkapkan oleh Gagak Panji, Mpu Badandan, Hyang Menak Gudra ataupun Pangeran Tawang Balun sendiri.

Wedaran Terkait

Lamun Parastra Ing Pungkasan 9

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 8

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 7

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 6

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 5

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.