Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 21

“Kadang aku merasa bahwa persiapan kita dapat dikatakan masih kurang. Hingga malam ini sepertinya bantuan dari Jati Anom maupun Mataram tidak akan datang,” sahut seorang pengawal.

“Bila kita merasa kurang, maka seperti itu pula nantinya yang akan kita jumpai di medan perang,” kata ketua regu. Ia menambahkan kemudian, “Yang dapat kita lakukan sejauh ini adalah menyusun kerja sama dan menumbuhkan kepercayaan pada masing-masing kelompok. Aku kira hanya itu yang akan menjadi jalan keluar terbaik.”

Para pengawal lain pun mengangguk setuju. Mereka sedang melakukan suatu upaya agar dapat keluar dari jerat bahaya yang sudah menekan jiwani untuk beberapa lama.

Menjelang terbit matahari, segenap persiapan Gondang Wates hampir mencapai batas akhir. Pandan  Wangi terlihat sibuk memberi pesan pada petugas penghubung yang masih berlalu lalang di jalan-jalan dan lorong-lorong pedukuhan. Sejumlah perubahan tak luput ia katakan pada para penghubung. Siasat yang dikirim Agung Sedayu melalui Kinasih telah diketahui oleh Pangeran Purbaya. Dan sepertinya tidak ada keberatan dari putra Panembahan Senapati atas masukan tidak langsung dari Agung Sedayu.

loading...

“Selanjutnya kita dapat berharap bahwa Glagah Putih akan muncul tepat pada waktu yang diharapkan,” kata Pangeran Purbaya pada Pandan Wangi pada saat mereka berada di banjar pedukuhan mengawasi persiapan pegawal.

“Mudah-mudahan demikian, Pangeran,” ucap Pandan Wangi lirih. Dalam hatinya, Pandan Wangi berharap dapat bertemu dengan Glagah Putih untuk membincangkan gagasan yang mungkin ada di dalam benak sepupu Agung Sedayu itu. Namun, Glagah Putih agaknya sedang berada dalam keadaan berbunga-bunga seperti orang-orang yang sedang menunggu kelahiran anak Agung Sedayu. Walau harapannya tidak terpenuhi, Pandan Wangi dapat memaklumi suasana batin Glagah Putih. “Bagaimanapun, itu adalah keadaan yang wajar. Tidak hanya Glagah Putih, aku pun akan menemui Sekar Mirah bila tidak terikat dengan tanggung jawab dalam kedaan yang genting seperti ini,” kata Pandan wangi pada hatinya.

Sebelum cahaya matahari menyentuh puncak Merapi, kelompok-kelompok pengawal pedukuhan merayap lalu menempati kedudukan yang telah ditentukan oleh Pandan Wangi. Barangkali para pengawal pun sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengungkap segenap ganjalan yang membebani mereka selama ini. Dan, bisa jadi, sebagian dari mereka sedang menenangkan diri tanpa membayangkan yang akan terjadi dalam pertempuran yang segera meletus. Tentu itu adalah benturan yang sangat keras. Marah, jengkel atau mungkin ada juga rasa dendam atau sakit hati karena ancaman terbuka yang dilakukan para pengikut Raden Atmandaru seperti menempatkan rakyat kademangan  pada kedudukan yang rendah. Maka dapat dibayangkannya gelora yang menyala dalam hati para pengawal pedukuhan. Sungguh, ini akan menjadi akibat yang mengerikan bagi pasukan Raden Atmandaru di pertempuran. Beberapa ketua regu dan bebahu pedukuhan seolah menjanjikan itu pada orang-orang Gondang Wates.

Di luar perbatasan Gondang Wates, gelar pasukan Raden Atmandaru semakin mendekati wilayah pedukuhan. Mereka merayap dengan senyap. Hanya derit roda-roda kayu yang membawa alat pelontar yang sekali-kali memecah udara di atas pategalan dan sawah-sawah yang diterabas. Mereka tidak memperhitungkan kemungkinan adanya serangan yang muncul dari samping gelar. Ketika kemungkinan itu ditanyakan oleh Ki Astaman, Ki Sor Dondong menjawab, “Di sisi kiri kita adalah sebatang sungai yang beraliran deras. Kecil kemungkinan pemimpin Sangkal Putung akan mendahului serangan dari arah itu, kecuali Untara telah berada di tengah-tengah mereka.”

“Mengapa kita tidak membagi perhatian atas kemungkinan yang Kiai sebutkan?”

“Karena aku tidak yakin Untara akan mengirim pasukan. Kiai, bukankah kita telah memutus jalur Jati Anom dengan pengawasan-pengawasan yang sangat ketat? Aku kira Untara juga tidak akan gegabah membiarkan Jati Anom dengan setengah kekuatan. Jati Anom terbakar justru pada saat mereka berhimpun penuh. Lantas, sekarang, apakah Untara akan membiarkan api membakar Jati Anom lagi? Percayalah, ia tidak sebodoh itu.”

“Benar,” ucap Ki Astaman lirih. Sebenarnya ia mengkhawatirkan adanya serangan dari bagian-bagian yang luput atau diabaikan oleh Ki Sor Dondong.

Memang benar yang dikatakan oleh Ki Sor Dondong bahwa Jati Anom tidak dapat mengirim prajurit untuk memperkuat pertahanan Gondang Wates. Tetapi ia melupakan Agung Sedayu yang menguasai gambar wilayah Kademangan Sangkal Putung yang terpahat sangat baik dalam benaknya.

Pandan Wangi begitu cerdas menerjemahkan pesan Agung Sedayu yang tergambar di atas rontal. Setiap tanda, meski tidak ada keterangan, dapat dibacanya dengan baik. Di hadapan Pangeran Purbaya, Pandan Wangi lancar mengurai satu demi satu pesan Agung Sedayu. Dua atau tiga kelompok kecil telah dikirim oleh Pandan Wangi untuk menempati bagian yang diragukan oleh Ki Sor Dondong. Para pengawal yang tergabung dalam barisan pemukul sayap berangkat dengan kepercayaan diri tinggi. Pangeran Purbaya berpesan sebelumnya, “Kalian tidak akan kalah atau mati sia-sia di tangan mereka untuk serangan yang megejutkan itu. Meski jumlah mereka lebih banyak dan berkemampuan lebih baik daripada kalian, percayalah, kalian akan sanggup mengatasi kesulitan di medan perang. Ketaatan kalian pada rancangan ini akan membawa akibat yang baik, yaitu kemenangan.”

Pertempuran pecah!

Serangan pertama muncul dari arah yang diabaikan Ki Sor Dondong. Meski jumlah pengawal jauh lebih sedikit dan terlihat tidak berarti dibandingkan jumlah lawan, tetapi kekacauan mulai terjadi! Tampak dari pola serangan yang memperlihatkan ketajaman nalar dan pengalaman tempur Pangeran Purbaya. Kelompok-kelompok tersebut menyerang bagian luar gelar Supit Urang yang diperagakan oleh pasukan Ki Sor Dondong. Mereka telah menunggu di tempat itu dengan cara meratakan tubuh pada permukaan tanah. Terlepas dari bentuk gelar yang dirancang lawan, perintah Pangeran Purbaya hanya satu : serang bagian terluar lalu mundur. Maka pada waktu kelompok pertama melakukan serangan pertama, kelompok kedua bersiap diri lalu menghentak ketika aba-aba mundur dari kelompok pertama terdengar. Begitu pula yang dilakukan oleh kelompok ketiga.

Dalam waktu itu, pasukan Raden Atmandaru disergap bimbang ketika lawan mereka bergerak mundur. Sewaktu pemimpin sayap memutuskan untuk mengejar, kelompok kedua pengawal pedukuhan bangkit menyerbu sisi lain dari sayap Supit Urang. Kekacauan pun bekelanjutan!

Seorang penghubung melaporkan serangan itu pada Ki Sor Dondong.

“Apa mereka dapat dihentikan?”

“Saya tidak dapat memperkirakan persisnya. Mereka segera mundur pada saat orang-orang kita melawan. Tetapi, di tempat lain, mereka juga menyerang dengan cara yang sama kemudian mundur. Apakah Kiai ada perintah untuk mengejar?”

Ki Sor Dondong menggeleng, kemudian berkata, “Itu gangguan kecil untuk mengalihkan perhatian kita. Katakan, mereka harus tetap berada di tempat semula. Semua orang dilarang meninggalkan kedudukannya.”

“Baik, Kiai.” Penghubung itu kemudian menghilang di balik barisan pasukan yang masih tetap merayap lambat.

Sukra dapat melihat pertempuran kecil yang berlangsung singkat itu. Sesaat kemudian ia berpikir, mungkin sebaiknya ia merusak gelar dari sayap atau setidaknya meniru bentuk serangan. “Bagus,” bisik Sukra dalam hati, “itu dapat menjadi contoh. Sekarang, aku tinggal menunggu untuk menentukan sasaran.”

Sementara itu, Sabungsari – yang bertugas mengawasi Watu Sumping – telah menerima pesan Pandan Wangi yang dikirim berantai.  Sambil berharap Glagah Putih segera mengakhiri pertemuannya dengan Sekar Mirah, Sabungsari sudah membuat kesimpulan bahwa pertempuran sesaat lagi akan terjadi. Kabar kedatangan Glagah Putih di rumah Ki Demang Sangkal Putung telah didengarnya secara diam-diam dari penjaga regol. Walau keinginan untuk bertemu itu ada, Sabungsari dapat menundanya. Api perang akan merambat dan meluas bila ia tidak cepat bergerak melaksanakan perintah panglima perang Sangkal Putung, Pandan Wangi. Maka sejumlah pengawal pun dikumpulkannya lalu memberi mereka perintah serta pesan dari Pangeran Purbaya dan Pandan Wangi. Sejurus kemudian, Sabungsari bersama sekelompok pengawal menyisir jalan setapak yang menghubungkan pekarangan-pekarangan, mengambil jalan pintas dari sisi utara untuk mencapai Gondang Wates. Ia akan membawa pasukannya tepat berada di belakang pasukan penyerang Gondang Wates di seberang sungai.

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 91

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 90

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 89

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 88

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 87

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.