“Apakah itu belum terlambat? Beberapa nama sudah dimunculkan, bahkan sejak hari pertama keberangkatan Paman Trenggana. Kurang ajar, hanya itu yang dapat muncul dalam pikiran ketika mendengar kabar itu,” sahut Arya Penangsang. “Tapi, ada benarnya. Kita tidak dapat juga diam ketika beberapa nama dimunculkan sebagai pengganti Paman Trenggana. Itu bukan kebetulan dan juga bukan pemaksaan. Semua itu adalah kewajaran.”
“Kewajaran dengan berbagai bungkus untuk menyamarkan tujuan,” desah Pangeran Parikesit.
“Saya sadar bahwa sesuatu yang sangat tidak pantas ketika kita berada di sini untuk membicarakan peralihan tahta,” ucap Arya Penangsang. “Tapi, ketika saya masuk kotaraja, saya melihat orang yang terlibat dalam usaha pembunuhan Kakang Hadiwijaya. Terus terang, itu sangat menganggu karena potensi yang tersimpan bukan sesuatu yang dapat dianggap baik.”
Pangeran Parikesit tetap memandang ke bawah, menimbang setiap lapisan persoalan tanpa tergesa.
“Sebenarnya…,” kata Pangeran Parikesit. Tiba-tiba dia ingin menarik ucapan itu.
Suasana menjadi hening sesaat.
“Bagaimana, Eyang? Apakah di balik kata ‘sebenarnya’ itu sesuatu yang menggantung dan sedang menunggu diturunkan?” tanya Arya Penangsang.
“Mari kita anggap sebab kematian itu adalah ketidaksengajaan yang tidak didorong oleh keinginan lain, musibah adalah titik sepakat. Tapi jika itu sengaja, dapatkah kita memperkirakan orang yang menjadi penggerak? Surabaya tidak mempunyai kepentingan. Begitu pula kadipaten lainnya,” kata Pangeran Parikesit. “Jadi, sebenarnya menurutku, Raden Trenggana telah diincar dalam waktu yang tidak terjangkau oleh kita semua. Bisa mulai dari setahun lalu, lima tahun atau? Entahlah. Tapi, pada akhirnya, Raden Trenggana gugur sebagai sasaran dari dua kekuatan berbeda yang barangkali tidak saling mengenal satu sama lain. Kemungkinan selalu terbuka.”
Ki Getas Pendawa menatap lekat Arya Penangsang.
“Saya ingin perjelas, apakah itu artinya Raden Trenggana menjadi korban dari sebuah rencana besar? Gending Pamungkas dan Danupati tidak dapat memberi keterangan. Segalanya berlangsung sangat cepat,” sahut Arya Penangsang pelan.
“Kita tidak dapat mengatakan sebuah rencana besar, karena musibah sudah menjadi kenyataan pahit sekarang. Sejujurnya, kita tidak dapat atau belum dapat menjatuhkan dugaan pada orang tertentu. Ki Tumenggung Luru Sumpil adalah kisah yang patut dikenang sebelum Raden Fatah mendapat tuduhan sebagai anak durhaka,” ucap Pangeran Parikesit tiba-tiba dengan nada tajam.
“Wafatnya Prabu Brawijaya, siapakah yang mendapatkan manfaat? Pertanyaan yang sama, siapa yang memetik hasil panen dengan kematian Raden Trenggana?” lanjut Pangeran Parikesit.
Ruang temaram itu menahan segala kemungkinan agar tidak berubah menjadi kesimpulan yang ceroboh. Pertemuan mereka bukan sekadar bagian dari menyambut jenazah yang belum tiba, tapi menakar Demak yang tampak rapuh karena gesekan.
Ki Getas Pendawa berdiri tanpa bergerak, menjaga jarak dari pusat pembicaraan. Pikirannya tertuju pada keseimbangan yang rapuh antara kepentingan lama dan tuntutan baru. Dia menguji permukaan, ucapnya, “Raden Mukmin menjadi orang paling kuat dari silsilah.”
Pangeran Parikesit memejamkan mata ketika mendengar nama disebut. Demikian pula Arya Penangsang.
“Dua lainnya adalah perempuan. Demak belum mempunyai akar untuk menangani perbedaan ini. Retna Kencana dan Ratu Mas Cempaka sama-sama kuat bila mereka memaksakan kehendak agar suaminya menjadi pengganti Angger Trenggana. Maka saya pikir, Raden Mukmin tetap menjadi yang terkuat melalui silsilah maupun dukungan kerabat,” lanjut Ki Getas Pendawa sambil melirik Arya Penangsang.
Kembali hening. Kembali sunyi.
Keheningan yang dapat mendorong keputusan dibentuk tanpa perlu diucapkan. Kesunyian yang dapat menjebak seseorang ketika gelap mata.
Namun kekosongan tidak boleh dibiarkan berlama-lama duduk tenang di singgasana. Walau demikian, mereka sepakat tanpa terucap; setiap keputusan akan membawa akibat, bukan hanya bagi istana untuk saat ini, tetapi juga bagi Demak pada masa mendatang.
Melalui tatap mata, Pangeran Parikesit seperti sedang bicara banyak pada Arya Penangsang yang duduk bersandar sambil memandang tajam permukaan meja.
Arya Penangsang, putra Pangeran Sekar Seda ing Lepen, menyadari bahwa ingatan dan pendapat orang lain yang terpecaya tidak dapat berdiri sendiri. Menggelar pengadilan untuk mengadili seorang raja, apakah mungkin? Demak seluruhnya berada dalam genggaman raja. Dia harus melupakan itu, menepikan semua yang terkait lalu berdiri tegak lurus.
Merangkai kembali serpihan yang dilihatnya ketika masuk kotaraja, itu seperti sedang membangun dasar pemikiran bahwa masa depan sedang disusun oleh tangan-tangan yang bekerja dalam senyap.
Kata Arya Penangsang kemudian, “Ancaman yang tidak hadir dalam bentuk kekerasan akan datang melalui pergeseran pengaruh. Dan itu sangat sulit dibuktikan.”
“Belasan tahun bukan pekerjaan mudah menghadirkan bukti maupun saksi. Apalagi kita hampir sepakat otak pembunuhan adalah Raden Pragola,” kata Pangeran Parikesit. “Masa lalu membayang jalan gelap. Kita punya beban darah.“
Ki Getas Pendawa menghela napas cukup panjang – sesuatu yang sangat jarang dilakukannya, lalu mendesis, “Beban darah, siapa yang sanggup menanggungnya?”
Pagi berikutnya.
Arya Penangsang memperhatikan beberapa sudut bangunan yang mengitari istana Raden Trenggana. Berjalan di sampingnya adalah Pangeran Benawa. Mereka berdua tampak menikmati waktu yang jarang sekali terjadi. Dalam waktu itu, kesibukan kotaraja seolah tidak memperlihatkan perubahan yang menarik perhatian.
“Apakah Kakek seda karena sakit,Paman?”
“Apakah Kakek ditusuk orang, Paman?”
“Apakah Kakek itu orang jahat,Paman?”
Arya Penangsang berusaha sangat keras untuk mengalihkan perhatian Pangeran Benawa tapi kecerdasan putra Adipati Pajang itu tampak di atas rata-rata. Kejujuran tidak selalu menjadi jalan terbaik, pikir Adipati Jipang waktu itu.
Bukan kisah heroik dengan akhir bersih, Penaklukan Panarukan memperlihatkan bagaimana wilayah ditaklukkan melalui langkah-langkah yang sunyi dan berisiko. Setiap keberhasilan menyisakan persoalan baru, dan setiap keputusan membawa akibat yang harus ditanggung jauh setelah perang usai.

Akhirnya, Raden Trenggana Tiba
Pelabuhan masih tertimpa cahaya senja yang muram ketika jenazah Raden Trenggana diturunkan dari kapal. Tandu kayu bergerak perlahan, diiringi langkah prajurit yang serempak namun tertahan. Setiap orang sadar bahwa keadaan terus berputar. Tidak ada yang abadi, dan senja itu menjadi saksi akhir dari sebuah masa.
Arya Penangsang berdiri tenang dengan wajah sedikit tunduk tapi pandangannya menyapu setiap bagian pelabuhan. Berdiri di sampingnya adalah Pangeran Benawa dengan pundak kecil dirangkul Ki Getas Pendawa. Kedalaman duka mereka tentu berbeda dengan rasa duka prajurit dari segala tingkatan. Berlainan pula dengan wajah-wajah yang berduka pura-pura. Tapi adakah yang tahu persis yang mereka pikirkan?
Harapan baik dilantunkan, pendek dan tertib. Tidak ada pekik, tidak ada ratapan. Upacara berjalan rapi dan tenang. Jenazah bergerak menuju istana di antara iring-iringan orang berjumlah banyak.
Arya Penangsang menatap lurus ke arah laut dengan pikiran jenazah itu bukan hanya tubuh seorang raja, melainkan beban yang akan berpindah tangan. Ki Getas Pendawa tahu, kesunyian ini lebih berat daripada teriakan.
Pangeran Benawa terpaku memandang semua kegiatan.
“Marilah, kita berjalan di belakang rombongan besar,” ajak Ki Getas Pendawa.
Arya Penangsang mengangguk, lalu berkata pada Pangeran Benawa, “Apakah Pangeran memilih tetap berada di sini?”
Pangeran Benawa menggeleng kecil. Suaranya bergetar di ujung lidah, “Tidak, saya ingin bersama Kakek.”
Dua orang dewasa di sampingnya lantas mengangguk, menawarkan padanya untuk naik ke punggung kuda.
Lagi-lagi, Pangeran Benawa menggeleng. “Tidak, saya jalan kaki saja.”
“Istana cukup jauh, Pangeran,” ucap lembut Arya Penangsang.
“Masih lebih jauh padepokan ke lereng Merbabu,” sahut pendek Pangeran Benwa.
“Baiklah, kita berjalan kaki saja,” tutup Ki Getas Pendawa lalu meminta seorang prajurit agar menuntuk kuda di dekat mereka bertiga.
