Jejak di Balik Kabut

Jejak di Balik Kabut 11- Perkelahian Paksi Melawan Jaran Demung

Di halaman keduanya telah mulai berkelahi lagi. Orang yang bertubuh tinggi itu menyerang dengan garangnya. Kemarahannya telah mendorongnya untuk berkelahi dengan sungguh-sungguh melawan seorang anak muda. Tetapi ternyata bahwa Paksi tidak mengecewakan. Ia menyadari, bahwa lawannya tentu seorang yang berilmu. Menilik sikapnya serta senjata yang tergantung di lambungnya, menunjukkan bahwa orang itu adalah orang yang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan.

Dalam pada itu, perkelahian semakin lama menjadi semakin meningkat. Orang bertubuh tinggi tegap itu semakin meningkatkan ilmunya. Namun Paksi pun telah mengerahkan tenaga dan kemampuannya pula. Ketika tangan Paksi menjadi basah oleh keringat, maka serang-serangannya menjadi semakin mapan. Sekali-sekali serangannya mampu menembus pertahanan lawannya itu. Orang-orang yang ada di sekitar kedai itu telah bergeser menjauh, tetapi di tempat yang agak jauh, mereka memperhatikan perkelahian itu dengan saksama. Ternyata Paksi yang masih sangat muda itu mampu mempertahankan dirinya. Serangan-serangan lawannya semakin sulit untuk menyentuh Paksi yang berloncatan dengan tangkasnya. Orang yang bertubuh tinggi tegap dan berdada lebar itu menjadi semakin heran. Ia tidak mengira bahwa di tempat itu, tiba-tiba saja ia telah bertemu dengan seorang anak muda yang mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan semakin lama, Paksi justru semakin mendesaknya. Orang yang berwajah garang itu mengumpat kasar. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya ia berusaha untuk mengakhiri pertempuran. Tetapi ternyata ia tidak dapat melakukannya. Anak muda yang menginjak umur tujuh belas tahun itu, justru semakin mendesaknya, sehingga serangan-serangannya mulai menembus pertahanannya. Tubuhnya yang tinggi besar itu mulai goyah ketika serangan Paksi menyentuh dadanya. Ternyata orang yang bertubuh tinggi itu benar benar terdesak.

Meskipun ia bertempur sambil berteriak-teriak kasar, namun usahanya untuk mengalahkan Paksi tidak berhasil. Untuk menarik pedangnya, orang itu merasa ragu Anak muda itu tampaknya tidak bersenjata. Jika ia menarik pedangnya, orang-orang yang menyaksikannya akan menganggapnya pengecut, karena lawannya tidak bersenjata.

Namun dalam keadaan yang memaksa, maka orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Setelah tubuhnya memar di beberapa tempat, serta wajahnya mulai pengab oleh serangan-serangan Paksi,  maka orang itu telah meloncat mengambil jarak.

Pada saat Paksi berusaha memburunya, maka langkahnya terhenti. Ujung pedang lawannya tiba-tiba saja telah teracu ke arah dadanya.

“Anak tidak tahu diri,” geram orang itu. “Kau kira kau dapat memenangkan perkelahian ini. Pada saal aku tidak bersungguh-sungguh, kau justru memanfaatkan keadaan itu untuk menyakiti aku. Tetapi kau terlambai untuk minta ampun. Aku benar-benar sudah kehabisan kesabaran.”

Paksi bergeser surut, Ujung pedang itu tampak berkilat-kilat kehitam hilaman. Pedang Itu bukan pedang kebanyakan yang dibuat oleh pande besi betapa pun baiknya. Tetapi pedang itu dibuat khusus oleh seorang empu keris yang baik. Ketika orang itu menggerakkan pedangnya, maka tampak pamornya yang berkeredip kemerah-merahan. Ketika orang Itu maju selangkah, maka Paksi pun bergeser mundur.

“Jangan menyesali kesombonganmu,” geram orang itu.

Paksi benar-benar harus mempersiapkan dirinya. la sadar, bahwa ia akan mengalami kesulitan melawan orang bersenjata pedang itu. Paksi harus bertumpu pada kemampuannya bergerak cepat untuk mengatasi senjata lawannya itu.

Sejenak kemudian, maka orang bertubuh tinggi besai itu benar-benar telah menyerangnya. Pedangnya berputaran dengan cepat. Sekali-sekali terjulur kearah dadanya. Namun kemudian terayun mendatar menebas kearah leher. Paksi benar-benar harus bergerak cepat. Gerak pedang yang berputaran itu seakan-akan selalu memburunya ke mana ia pergi. Meskipun demikian, Paksi masih mampu memberikan perlawanan yang berarti. Ketika pedang itu terayun deras, Paksi justru meloncat maju. Dengan cepat kakinya telah menghantam pergelangan tangan lawannya yang sedang terayun itu. Hampir saja pedang itu terlepas dari tangannya.

Namun dengan genggaman tangan yang kuat, orang itu masih sempat menyelamatkannya. Tetapi ketika perhatian orang itu tertuju pada pedangnya, Paksi telah berputar sambil mengayunkan kakinya tepat mengenai dada orang itu. Orang itu terdorong selangkah surut. Keseimbangannya pun tiba-tiba telah terguncang, sehingga orang itu jatuh berguling. Namun ketika Paksi meloncat memburunya, sebuah sabetan pedang yang deras hampir saja memutuskan kakinya.

Dengan sekuat tenaga Paksi meloncat surut menjauhi lawannya, sehingga pedang itu tidak dapat menggapainya. Tetapi untuk selanjutnya, Paksi telah terdesak. Orang yang marah itu benar-benar tidak lagi mengekang diri. Matanya yang membara memancarkan kemarahan yang tidak terkendali. Ternyata ilmu pedang orang yang bertubuh tinggi tegap itu sangat baik. Dengan berbagai macam gerak yang rumit, Paksi menjadi semakin kesulitan menghadapinya.

Namun pada saat yang paling gawat, seorang tua berjanggut putih dengan wajah yang berkeriput melangkah mendekati arena perkelahian itu. Orang itu berjalan terbungkuk-bungkuk bertelekan pada sebatang tongkat kayu yang agak panjang. Kayu yang tampaknya dipotong begitu saja dari dahannya dan dikeringkun. tetapi karena sepotong kayu itu sudah menjadi kehitam-hitaman. Orang tua itu mengenakan caping bambu yang lebar, sebagaimana dipakai oleh para petani yang bekerja di sawah untuk mengurangi sengatan panas matahari. Wajah orang tua itu tidak saja berkeriput. Tetapi semacam penyakit kulit telah mengotori wajahnya. Daging-daging yang tumbuh di keningnya hampir menutupi sebelah matanya. Juga di bawah telinga kirinya.

Paksi dan orang bertubuh tinggi itu memang tertarik melihat kehadirannya, sehingga perkelahian itu telah terhenti sesaat. Adalah di luar sadar, bahwa kedua orang itu telah berloncatan mengambil jarak. Sekilas Paksi teringat kepada orang yang lelah menyerangnya di malam hari ketika ia berjalan jalan keluar padukuhan yang dibayangi ketakutan karena hantu-hantuan itu, dan yang telah menyerangnya pula di kuburan pada saat terjadi pertempuran antara orang-orang padukuhan dengan para pengikut Kebo Lorog. Orang itu juga cacat di wajahnya. Tetapi cacat di wajah orang itu tidak sama sebagaimana cacat di wajah orang tua yang berjalan terbungkuk-bungkuk dan mengenakan caping bambu itu.

Orang tua itu terbatuk-batuk sehingga langkahnya berhenti. Tetapi setelah batuknya reda, maka orang itu tertawa tertahan-tahan. Dengan nada suara seorang yang telah lanjut umurnya orang itu berkata “Perkelahian yang tidak adil. Kau, yang dipanggil orang Jaran Demung dan ditakuti banyak orang, harus berkelahi melawan anak-anak dengan mempergunakan senjatamu yang mengerikan itu, sementara lawanmu tidak bersenjata.”

“Setan. Kau tahu namaku? Siapa kau?”

“Aku pengemis yang setiap hari berkeliaran di pasar sebelah. Kau tidak pernah memperhatikan aku tetapi aku dapat mengenalimu sebagaimana banyak orang mengenalmu, meskipun kau lebih terkenal di daerah utara.”

“Bicaramu menunjukkan bahwa kau bukan sekedar seorang pengemis. Sebut gelarmu.”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Setiap hari aku ada di sini. Kaulah yang jarang sekali datang ke tempat ini.”

“Seorang pengemis ditempat ini tidak akan mengenali gelarku dan apalagi kegiatanku di daerah utara.”

“Aku tahu, bahwa kau akan melacak kegagalan para pengikut Kebo Lorog. Kenapa kau tidak mencari Kebo Lorog saja dan memilih menantangnya atau bergabung dengan Kebo edan itu.”

“Sebut namamu!”orang itu hampir berteriak.

Tetapi orang tua itu berkata “Aku tidak akan mengganggumu. Tetapi aku ingin perkelahian yang adil. Biarlah anak muda ini mempergunakan tongkatku….Mungkin akan ada sedikit keseimbangan.”

“Setan. Berikan seribu macam senjata kepadanya.”

“Jaran Demung. Aku tahu bahwa kau seorang yang memiliki ilmu pedang yang sulit dicari tandingnya. Tetapi aku ingin melihat, apakah kau dapat mengalahkan anak muda itu atau tidak. Aku akan meminjamkan tongkatku. Hanya meminjamkan tongkatku. Jika ia terpaksa mati di tanganmu setelah ia meminjam tongkatku, itu adalah salah sendiri. Tetapi jika kau yang mati, itu juga salahmu sendiri.” 

Orang yang disebut Jaran Demung itu memandang pengemis itu dengan tajamnya. Sementara itu, Paksi seakan-akan di luar sadar telah menggenggam tongkat kayu yang berwarna kehitam-hitaman itu. Baru kemudian Paksi sadar ketika orang yang menyebut dirinya pengemis dengan mengenakan caping yang besar agak menutup wajahnya itu berkata, “Nah, anak muda. Hidup matimu tergantung kepada kemampuanmu mempertahankan diri.  Lawanmu benar-benar berniat membunuhmu, karena ia adalah Jaran Demung. Seorang yang terbiasa bertualang. Tidak ada orang yang berani menolak keinginannya. Jika ia ingin membunuh, maka ia, akan membunuh.”

Paksi memegang tongkat kayu itu dengan eratnya. Ia tahu bagaimana harus mempergunakannya, karena ia pernah ditempa oleh gurunya. Tetapi Paksi memang agak merasa heran. Tongkat kayu itu terasa agak lebih berat dari kayu kebanyakan dari jenis apapun yang pernah dikenalnya. Apalagi setelah menjadi kering. Namun Paksi tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mengenali tongkatnya itu.

Orang yang disebut Jaran Demung itu telah melangkah mendekatinya sambil berkata, “Aku akan membantainya, pengemis tua. Setelah anak ini, maka aku akan membuat perhitungan dengan kau sendiri, karena aku tidak percaya, bahwa kau benar-benar pengemis. Atau jika kau memang mengemis, maka itu adalah karena kau seorang pemalas atau pengecut, karena kau tentu memiliki kemampuan.”

Orang yang mengaku pengemis itu tidak menjawab. Yang terdengar adalah suara tertawanya yang panjang.

Dalam pada itu, ketika Jaran Demung menjulurkan ujung pedangnya, maka Paksi mulai memutar tongkatnya. Ia memang memerlukan waktu sekejap untuk mengenali senjatanya itu. Paksi berharap bahwa tongkat itu tidak segera patah terkena sabetan pedang lawannya yang tajam itu. Tetapi lebih dari itu, pedang itu berada di tangan orang yang berilmu tinggi. Dengan tongkat kayunya, maka Paksi sadar, bahwa ia tidak dapat menangkis serangan lawannya dengan langsung membentur ayunan pedangnya. Tetapi ia harus berusaha untuk mengelak dan menepis senjata lawannya agar tongkatnya tidak segera patah.

Jaran Demung yang marah itu pun segera mulai menyerang. Dengan ujung pedangnya ia mulai menggapai tubuh Paksi. Tetapi dengan tangkasnya Paksi bergeser. Bahkan kemudian Paksi pun mulai menyentuh pedang lawannya dengan tongkatnya. Paksi merasakan getar yang keras di telapak tangannya. Sentuhan tongkatnya rasa-rasanya bagaikan sentuhan logam yang keras.  Bukan sekedar sentuhan kayu.

Sentuhan itu juga mengejutkan Jaran Demung. Tangannya merasa seakan-akan pedangnya tidak sekedar menyentuh sepotong kayu kering. Tetapi pedangnya seakan-akan telah menyentuh sepotong besi. Karena itu, maka dugaannya bahwa orang yang menyebut dirinya pengemis itu sebenarnya adalah seorang yang berilmu. Jaran Demung memang berniat untuk menyelesaikan pengemis itu setelah anak muda yang telah berani menentang kemauannya itu.

Meskipun jalan di depan kedai itu menjadi sepi, tetapi sebenarnya beberapa pasang mata tengah memandangi perkelahian antara seorang yang bertubuh tinggi, besar dan berwajah garang melawan seorang yang masih sangat muda.

Sejenak kemudian, maka perkelahian itu menjadi semakin seru. Jaran Demung benar-benar telah mengerahkan kemampuannya untuk mengalahkan Paksi. Bagi Jaran Demung, membunuh orang bukan lagi satu masalah. Seandainya hal itu diketahui oleh para bebahu padukuhan, ia sama sekali tidak menghiraukannya. Ia yakin bahwa tidak seorangpun bebahu padukuhan yang akan berani menangkapnya. Bahkan sekelompok bebahu tidak akan berani mengerahkan orang-orang padukuhan. Seandainya mereka dapat mengalahnya karena ia hanya seorang diri, namun padukuhan itu dalam waktu kurang dari sepekan akan menjadi abu. Tetapi tongkat kayu yang berwarna kehitam-hitaman ditangan anak muda itu menjadi garang. Paksi bukan saja berusaha menangkis dengan menepis pedang lawannya, tetapi tongkat itu sudah mulai menyerangnya pula. Tongkat yang baru saja terayun mendatar menghalau serangan pedangnya, dengan cepat telah berputar dan mematuk ke-arah dadanya.

“Anak iblis, “geram Jaran Demung. Umpatan itu justru merupakan isyarat bagi Paksi, bahwa lawannya mulai mengalami kesulitan. Karena itu, maka Paksipun menjadi semakin mantap. Anak muda itu telah mengerahkan kemampuannya. Tongkatnya berputaran semakin cepat. Paksi justru terkejut, ketika serangan lawannya yang datang dengan cepat dan tiba-tiba tidak dapat dihindarinya. Ia tidak pula mendapat kesempatan untuk menepis serangan itu menyamping, sehingga memaksa Paksi untuk membentur ayunan pedang lawannya itu.

Paksi memang menjadi berdebar-debar. Jika tongkat itu patah, maka pengemis itu akan marah kepadanya. Bahkan mungkin perlawanannya atas ilmu pedang lawannya menjadi kacau meskipun seandainya ia masih tetap dapat mempergunakan kedua potongan tongkat itu sebagai senjatanya. Tetapi ternyata dalam benturan yang terjadi, tongkat itu tidak patah. Bahkan dalam benturan itu, Jaran Demung telah terdorong selangkah surut, meskipun Paksi sendiri terdorong surut pula.

Sejenak Paksi sempat memperhatikan tongkat kayunya yang tampaknya tidak lebih dari sebuah dahan yang dipotong langsung dari batangnya dan kemudian dikeringkannya. Tetapi ternyata tongkat itu memiliki kekuatan yang besar. Namun dalam kesempatan yang pendek itu, Paksi tidak sempat mengamati tongkatnya lebih lama. Ia tidak sempat mengetahui, apakah yang menyebabkan tongkat yang dipinjamnya itu demikian kokohnya. Dalam pada itu, Jaran Demung telah meloncat menyerangnya pula. Namun Paksi pun telah siap untuk mempertahankan dirinya. Bahkan Paksi menjadi lebih mantap, karena ia tidak perlu ragu-ragu membenturkan senjatanya dengan senjata lawannya.

Kisah Terkait

Jejak di Balik Kabut 9 – Cincin Bermata Tiga Batu Akik

kibanjarasman

Jejak di Balik Kabut 2

kibanjarasman

Jejak di Balik Kabut 6 – Usaha Menghentikan Keranda Terbang

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.