Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 63 – Pertarungan Sengit Pandan Wangi dan Ki Ramapati

Sebelumnya, Ki Malawi menganggap Sukra adalah pengawal biasa yang mencari jalan keluar untuk meluapkan kemarahan. Hanya saja Sukra memberi kenyataan yang bertolak belakang dengan dugaannya. Sukra – yang berkembang melalui jalan yang unik – ternyata dapat mempertahankan keseimbangan hingga Ki Malawi pun menggandakan tekanan. Tapi Sukra kembali mengejutkannya! Peningkatan tekanan Ki Malawi pun masih juga dapat diatasi anak muda itu melalui kerja keras dan semangat yang luar biasa. Namun sebelum dia membuat keputusan penting, Ki Malawi mendapatkan gangguan baru dari Sayoga.

Sungguh, tak mudah bagi orang itu – Ki Malawi – menyikat dua pemuda yang menghadangnya dengan gagah berani. Suntikan tenaga ajaib dari Ki Patih Mandaraka serta sentuhan Nyi Banyak Patra seakan dapat mengubah Sukra dalam semalam. Perkelahian itu pun segera menarik perhatian orang-orang yang semula menduga bahwa mereka berdua akan terpelanting lalu tumbang selamanya. Perkiraan yang benar-benar meleset jauh setelah menyaksikan betapa dua anak muda itu bertarung habis-habisan.

Ketiadaan orang yang menjadi lawan bagi Dharmana – karena Ki Malawi tertahan oleh Sukra dan Sayoga – membuat barisan sayap yang dipimpin Ki Malawi menjadi tak terkendali. Beberapa orang menyebut-nyebut nama yang menjadi senapati pendamping. Ketika nama itu sampai pada pendengarannya, Pandan Wangi pun terkejut. Seketika dia melompat surut sambil memandang musuhnya dengan pandangan heran. “Ki Ramapati?” desis Pandan Wangi mengulang nama itu.

Ki Ramapati tersenyum tipis, lantas bertanya, “Apakah nama itu cukup berarti bagimu, Nyi Sanak?”

Pandan Wangi menggeleng tapi kemudian menjawab, “Aku hanya tidak dapat menalar alasanmu ketika memutuskan untuk bergabung dengan pemberontak. Memang selalu ada yang kurang dan selamanya pun begitu. Tapi aku pikir hanya kau sendirilah yang tahu kebenarannya.”

Ki Ramapati mendengus.

Pandan Wangi melanjutkan ucapannya, “Apakah kau akan kembali ke barisanmu atau tetap berkelahi denganku? Yang pasti, aku tidak ingin memaksamu bertahan lebih lama demi perkelahian ini.”

Kalimat yang benar-benar menusuk telinga Ki Ramapati! Itu adalah hinaan sekaligus tantangan yang dikatakan terbuka oleh seorang perempuan. Bagaimana dia dapat menghindarinya? Kegeraman Ki Ramapati pun bergumpal-gumpal memenuhi rongga dadanya. Gebrakan selanjutnya pun menjadi lebih hebat dari sebelum namanya diudarakan oleh orang-orang. Kini, dia tak lagi peduli dengan kekacauan sayapnya. Harga diri dan kemampuannya sebagai rangga menjadi pertaruhan besar!

Benturan hebat antar dua orang berkepandaian tinggi itu kembali mengguncang gelanggang untuk kedua kali. Banyak orang yang tidak dapat melihat wujud utuh Ki Ramapati yang berkelebat sangat cepat. Begitu  cepat dan saking cepatnya hingga Pandan Wangi pun tak sempat untuk mundur walau selangkah! Namun keadaan itu bukan berarti Pandan Wangi tidak bersiap menerima serangan. Meski sulit tapi pengalaman dan kemampuan Pandan Wangi sudah tidak dapat disamakan dengan belasan tahun yang lalu. Maka yang dilakukan oleh putri Ki Gede Menoreh adalah menyambut serangan dengan cara yang tak kalah hebat!

Gulungan pedang kembar tampak berkilau diiringi suara mendesing menjadi gambaran betapa tinggi ilmu yang dikuasai oleh Pandan Wangi. Serangan balasan yang menggiriskan! Ki Ramapati dapat merasakan ketajaman ilmu Pandan Wangi dari udara yang terbelah. Mantan prajurit Mataram itu tidak lantas menarik serangan, tapi memutar pedang, mengarahkan pada lambung musuhnya, menebas datar, menyilang ke atas dengan segenap tenaga serta kecepatan penuh.

Sekejap mata kemudian, mereka saling serang, saling memutari, membelit lalu menyengat dengan lambaran kekuatan yang sangat hebat. Dentang senjata mengeluarkan nada yang tinggi hingga terasa seperti menusuk telinga. Bunga-bunga api kerap terlihat memercik setiap senjata beradu.

Ki Ramapati tidak tampak tertegun dengan kehebatan Pandan Wangi, demikian pula sebaliknya. Mereka berdua seolah sudah sama menyadari kedalaman ilmu masing-masing.

Di sekitar pertarungan itu, baik pasukan pemberontak maupun pengawal kademangan dan prajurit Mataram, seluruhnya tidak ada yang berani mendekat. Angin tajam yang terpancar keluar dari ujung pedang Pandan Wangi mampu merobek kulit mereka meski masih berjarak lima atau tujuh langkah. Jika tenaga cadangannya saja mampu menjangkau sejauh itu, bagaimana kalau mereka tersentuh langsung ujung pedangnya? Perasaan mereka pun dilanda kengerian yang cukup hebat. Akibatnya adalah pada pertempuran dua kubu itu seolah sedang terjadi penurunan ketegangan. Setiap orang merasa harus dapat menjaga diri dari hamburan ilmu tinggi yang terlontar dari dua orang itu.

Kunjungi lapak kami dalam jaringan.

Hamburan asap masih tampak memenuhi Watu Sumping. Pandangan yang terbatas dan napas yang terganggu ebenar-benar membuat banyak orang menderita. Namun demikian, pertarungan Pandan Wangi dan Ki Ramapati  masih berlangsung sengit. Mereka berdua seakan tidak terusik dengan keadaan itu. Putaran pedang yang sangat hebat serta lambaran tenaga cadangan mereka seakan menjadi benteng yang tak tampak mata. Lingkar perkelahian mereka bersih dari gempuran asap!

Didahului dengan lompatan panjang, Ki Ramapati datang menggebrak dengan segenap kekuatan. Pedang terjulur tapi menghadap belakang.

Apakah Ki Ramapati sengaja bunuh diri dengan menyodorkan batang lehernya?

Pandan Wangi paham itu dapat dianggap sebagai tipuan karena sabetan yang bakal datang pasti dapat memecahkan dinding karang! Sepasang kakinya masih terbuka. Pandan Wangi tidak berencana untuk mengelak atau menangkis serangan itu. Dengan perhitungan cermat, Pandan Wangi melompat pendek ke samping, lalu menikam lambung lawannya dengan terjangan yang tak kalah hebat!

Tidak ada waktu untuk mengubah arah! Ki Ramapati cepat mengayunkan pedang, memotong lintasan senjata lawan. Ini adalah kesempatan yang sangat baik, pikiran itu berjalan dengan sendirinya kemudian diikuti dengan gerakan indah untuk menutup serangan Pandan Wangi sekaligus menyerang balik!

Serangan balasan yang luar biasa!

Pandan Wangi menerima serangan Ki Ramapati dengan cara merendahkan diri, kemudian pedangnya berayun ke atas. Dua senjata pun berbenturan. Dua tenaga cadangan yang berlawanan aliran dan tujuan pun saling menggempur. Sekejap kemudian, mereka bergumul saling serang dan membelit dengan putaran senjata yang sulit dinalar. Mereka sama-sama meloncat tinggi dengan tumpuan sebelah kaki. Tapi pertarungan tidak berarti berhenti melainkan menjadi semakin seru. Ketika mereka mendarat, perkelahian masih sanggup menggetarkan hati!

Orang-orang di sekitar mereka, yang menyaksikan pertarungan itu, memandang dengan penuh kekaguman. Bahkan perkelahian dua orang hebat itu seakan mampu menghentikan pertempuran pasukan yang mereka pimpin. Betapa tidak? Gemuruh angin yang keluar dari tenaga cadangan telah terdengar oleh telinga. Begitu pula dentang senjata serta bermacam-macam bunyi, yang bersumber dari pertarungan itu, lebih ramai dan dahsyat dibandingkan puluhan orang yang beradu senjata di sekitar mereka!

Ki Garu Wesi dan Ki Sonokeling berulang-ulang menarik napas panjang sambil bergantian memandang sisi pertempuran Agung Sedayu – yang belum tiba pada akhir perkelahian pada waktu itu. Dalam benak mereka berdua sudah muncul satu pendapat yang nyaris sama :

Sejak pertama kali dia melihat Pandan Wangi berada di sisi yang sama, Ki Ramapati sudah mempersiapkan diri dengan segenap kesadaran bahwa lawannya tidak akan mudah ditundukkan. Setiap kali serangannya gagal, dia pun tidak merasa kecewa atau marah. Namun ketika Pandan Wangi belum memperlihatkan  kemunduran atau tanda- tanda kelelahan, Ki Ramapati bersikap makin waspada dan berhati-hati. Hanya saja, keputusannya itu seolah menjadi keputusan yang salah!

Ketinggian tingkat tenaga cadangan Pandan Wangi mengalami peningkatan yang tajam. Pikirnya, untuk membuka pertahanan lawan maka tidak cukup dengan menggunakan bagian yang tajam. Dia tanpa ragu memukul lawan dengan sisi pedang yang lebar. Maka saat terbuka peluang, Pandan Wangi menyerang musuhnya sambil sedikit memutar pedang lalu bagian yang lebar pun menyabet lengan Ki Ramapati. Ki Ramapati yang menduga serangan Pandan Wangi tetap mengandalkan sisi tajam pun terperdaya. Tapi dia tak punya waktu untuk mengelak karena kecepatan telah menempati kedudukan sebagai penentu. Maka tangan Ki Ramapati pun bergetar lalu dia melompat surut. Tetapi sebelum dirinya bersiap dengan serangan balasan, Pandan Wangi berkelebat mengejarnya. Tidak ada pilihan bagi Ki Ramapati selain berlompatan menghindar ke samping, bergulingan, lalu memaksa diri untuk menyerang balik, menerkam dengan tebasan pedang mengarah bagian lambung Pandan Wangi.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 111 – Getar RIndu; Untuk Agung Sedayu?

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 1 – Keinginan Agung Sedayu yang Tak Terungkap

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 83 – Bara yang Belum Padam

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.